Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 214


__ADS_3

SMA harapan Jaya.


"Rachel!" panggil Azka yang melihat Rachel yang memasuki kelas dan Rachel langsung menghentikan langkahnya ketikan di panggil Azka.


"Azka ada apa?" tanya Rachel.


"Pulang sekolah kamu kemana?" tanya Azka.


"Hmmm, kenapa memangnya? kita kan tidak ada tugas kelompok?" tanya Rachel yang sudah terbiasa mengerjakan tugas bersama Azka.


"Memang hanya harus tugas saja?" tanya Azka.


"Nggak juga sih. Kebetulan aku tidak kemana-mana memang kenapa?" tanya Rachel.


"Mau ikut kerumah sakit tidak bersamaku. Aku mau menjenguk kak Rafa dan jika kamu tidak keberatan kita bisa pergi bersama," ucap Azka mengajak Rachel.


"Ya amu sekali. Apa lagi aku juga lupa menanyakan keadaan kak Rafa kepada kamu. Jadi kalau kamu mau mengajaknya aku sangat mau kok," sahut Rachel yang begitu semangat membuat Azka tersenyum mendengarnya.


"Ya sudah pulang sekolah kita kerumah sakit ya," ucap Azka.


"Iya Azka. Makasih ya Azka sudah mengajakku," ucap Rachel yang sangat eksaitit yang di ajak Azka.


"Iya sama-sama. Aku yang senang karena kamu mau di ajak," sahut Azka yang membuat Azka tersenyum dan begitu juga dengan Rachel yang sama-sama tersenyum. Ke-2nya belakangan ini memang sangat dekat. Mungkin sering mengerjakan tugas bersama jadi tidak canggung satu sama lain. Mereka sama-sama dekat belakangan ini.


**********


Setelah pulang sekolah Azka dan Rachel pun menuju rumah sakit. Namun sebelumnya Azka dan Rachel mampir ke rumah sakit dulu untuk membeli buah-buahan untuk di bawa menjenguk Rafa.


"Kak Rafa suka buah apa kira-kira?" tanya Rachel.


"Aku tidak tau," jawab Azka.


Rachel mengkerutkan dahinya mendengar jawaban Azka.


"Kan kak Rafa kakak ipar kamu. Masa iya kamu tidak tau apa yang di sukainya?" ucap Rachel heran.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu dekat dengannya. Kita beda frekuensi dan makanya aku tidak tau dan tidak mau tau juga apa yang dia suka," ucap Rafa dengan jujur.


"Kamu ini," sahut Rachel geleng-geleng.


"Lagi pula bukannya kak Rafa itu pernah menjadi mantan calon kakak ipar kamu dan pasti kamu juga seharunya tau dong apa yang dia sukai," sahut Azka.


"Nggak usah nyindir deh," sahut Rachel.


"Nggak ada yang menyindir. Aku hanya mengingat saja," sahut Azka.


"Sudahlah kita cari buah yang biasa di makan saja," sahut Rachel malas berdebat dan mulai memasukkan buah apel kedalam keranjang yang di pegang Azka.


"Kak Rafa suka buah ini. Kamu mengingatnya juga ternyata," ucap Azka.


"Azka udah deh jangan mulai," kesal Rachel dengan Azka yang menggodanya. Azka jarang-jarang jahil pada Rachel. Namun sekali jahil mampu membuat Rachel bete dan Azka kelihatannya sangat senang melihat Rachel yang bete seperti itu.


Mereka pun kembali memilih-milih buah untuk di bawa untuk Rafa.


"Rachel!" tiba-tiba suara seorang wanita menegur Rachel membuat Rachel menoleh kebelakang ternyata 2 orang wanita yang dewasa.


"Kamu adiknya Miranda kan?" tanya salah seorang wanita itu.


"Dengar-dengar kakak kamu di penjara ya?" tanya salah satu wanita itu. Rachel hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu dan Azka heran dengan 2 orang yang tidak tau siapa itu.


"Ya ampun kasihan sekali ya. Aku juga dengar aset-aset Miranda mulai habis ya?" tangan wanita yang satunya dan Rachel tidak menjawabnya sepertinya 2 orang itu saingan dalam pekerjaan kakaknya makanya terlihat bicara tidak sopan dan terlihat sinis.


"Kasian banget ya. Namanya juga itu kualat. Makanya Miranda itu jangan sombong dan sekarang merasakan perbuatannya dan pasti kalian sudah jatuh miskin ya," ejek wanita yang satunya.


"Oh aku tau jangan-jangan kamu adiknya pasti sekarang kesulitan makanya sedang open BO ya," ucap wanita itu dengan keji membuat Azka kaget mendengarnya dan Rachel hanya mengepal tangannya dengan penghinaan itu.


"Nggak jauh-jauh dari kakak kamu yang suka jual diri untuk dapat job banyak sama dengan kamu yang masih sekolah yang juga harus meneruskan tabiat buruk kakak kamu. Pelanggan ke berapa dia?" sahut wanita itu lagi yang semakin jahat mulutnya menghina Rachel membuat mata Rachel berkaca-kaca.


"Maaf kalian ini siapa ya," sahut Azka yang tidak bisa tinggal diam, "apa hal kalian men-judge seseorang dengan hina tanpa ada kebenarannya," ucap Azka yang tidak terima dengan temannya yang mendapat perlakuan buruk itu.


"Kamu itu hanya pelanggannya saja. Jangan sok puitis dalam memebelanya nggak pantes," ucap wanita itu.

__ADS_1


"Jaga bicara anda. Jika anda mengeluarkan statemen seperti itu lagi kepada Rachel. Maka saya akan telpon pengacara keluarga kami untuk membawa masalah ini ke hukum. Karena kalian sudah melakukan penagihan dan kalian pasti paham pasal apa yang berlaku untuk orang seperti kalian," tegas Arga yang tidak bisa diam dan pasang bada untuk Rachel.


Ke-2 orang itu saling melihat dan tampak takut dengan wajah pucat mendengar perkataan dari bocah SMA seperti Azka.


"Masih ingin melanjutkan perkataan kalian. Jika masih ingin melanjutkannya maka tunggulah aku akan menghubungi pengacara keluarga kami," tegas Azka.


"Sudahlah jangan bawa-bawa hukum. Kita itu hanya bercanda jangan serius-serius amat orang tidak ada apa-apa juga kok. Ya sudah kami pergi," sahut wanita itu yang takut dan memilih lebih baik pergi


"Tunggu dulu!" panggilan Azka tidak jadi membuat langkah mereka berlanjut.


"Ada apa?" tanya wanita yang satunya.


"Minta maaf teman saya dan tarik kata-kata kalian itu," tegas Azka dengan sangat berani.


"Azka tidak perlu," sahut Rachel.


"Tidak Rachel. Ini pelajaran untuk mereka agar lain kali tidak menilai seseorang dari luarnya saja," tegas Azka.


"Ayo cepat minta maaf. Jangan diam terus," tegas Azka.


"Kami minta maaf Rachel. Kami tidak ada maksud mengatakannya kepada kamu dan menghina kamu. Maafkan kami," ucap 2 wanita itu secara bergantian.


"Pergilah dari sini dan jangan pernah mengganguku," sahut Rachel.


2 wanita itu langsung pergi cepat-cepat yang memang takut dengan Azka.


"Kamu tidak apa-apa kan Rachel?" tanya Azka.


"Tidak apa-apa Azka. Aku sudah biasa mendapatkan hal seperti itu ya begitulah kalau orang-orang sudah tak siapa kita maka pandangannya juga akan seperti itu dan itu bukan pertama kalinya bagiku," ucap Rachel yang mencoba kuat.


"Lain kali jangan biarkan orang-orang mengatai kamu seperti itu. Aku baru mengenalmu tapi aku yakin kamu bukan seperti itu," ucap Azka.


"Makasih Arga kamu selalu baik kepadaku," ucap Rachel.


"Sama-sama. Kita lanjut?" tanya Azka.

__ADS_1


Rachel menganggukkan kepalanya dan mereka melanjutkan untuk memilih buah-buahan dari pada memikirkan hal yang tidak penting.


Bersambung


__ADS_2