
Rafa yang mendapat ujian dari sang pencipta hanya bisa pasrah dengan penyakit yang di alaminya. Namun Rafa adalah manusia. Pasti tidak mudah menerima semuanya. Marah atas apa yang terjadi itu sangat wajar penuh kekecewaan dan di ungkapkan dalam keluhan dengan tangisan. Bukannya Rafa cengeng. Tetapi itu hanya mengeluarkan semua apa yang di rasakannya.
Di dalam mobil pria tampan yang duduk di kursi pengemudi itu menagis dengan bersandar di jok mobil dan melihat ponselnya. Melihat wallpaper foto sang istri yang tersenyum begitu menyejukkan hati.
Semakin sedih rasanya Rafa kala melihat senyum sang istri dan sangat takut jika Rafa tidak akan melihat senyum di wajah sang istrinya lagi.
"Asyifa kamu adalah kebahagiaan yang di kirim untukku. Aku begitu angkuh yang ketika memilikimu. Aku begitu angkuh dengan mendapatkan cinta dari mu dan aku merasa tuhan tidak akan pernah membuat hidupku tidak bahagia dengan kehadiranmu. Lagi-lagi aku tidak pernah bersyukur sampai akhirnya tuhan memberiku ujian ini dan aku sakit Asyifa. Banyak kemungkinan aku tidak akan bisa melihatmu lagi Asyifa," ucap Rafa yang terus meneteskan air mata melihat foto sang istri.
"Apa yang harus aku lakukan Asyifa? Saat seperti ini aku sangat membutuhkan dukungan mu, kata-kata semangat yang keluar dari mulutmu. Tapi aku tidak ingin kamu justru sedih dan hanya memikirkanku. Jika kamu tau semua ini," ucap Rafa dengan penuh kebingungan. Karena semuanya serba salah.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.
Tiba-tiba ponsel yang di pegangnya itu berdering. Istriku itu kontak yang menelponnya. Membuat Rafa menyeka air matanya dan membuang napasnya perlahan kedepan.
"Assalamualaikum kak Rafa," sapa Asyifa ketika Rafa sudah mengangkat panggilan masuk itu.
"Walaikum salam sayang," jawab Rafa yang berusaha agar suaranya terlihat biasa. Agar Asyifa tidak tau bahwa dia sedang menangis.
"Kak Rafa sedang di mana?" tanya Asyifa
"Di mobil sayang," jawab Rafa.
"Kak Rafa baik-baik aja?" tanya Asyifa. Terdengar suara Asyifa terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja sayang. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Rafa
"Perasaan Asyifa tidak tenang. Asyifa takut kak Rafa kenapa-kenapa," jawab Asyifa dengan jujur.
"Sayang aku tidak apa-apa. Aku baik-baik aja. Kamu jangan Khawatir ya," ucap Rafa yang pasti bohong.
"Lalu kenapa suara kak Rafa kedengarannya tidak baik?" tanya Asyifa yang ada saja yang di ketahuinya.
"Tidak bagaimana sayang. Itu hanya pemikiran kamu saja. Aku sayang jelas baik-baik aja," jawab Rafa yang berusaha untuk meyakinkan sang istri.
"Alhamdulillah kalau begitu. Asyifa lega mendengarnya," sahut Asyifa.
"Iya sayang. Aku juga mau pulang. Kamu mau sesuatu nanti biar aku belikan?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Hmmm apa ya. Oh Asyifa tiba-tiba pengen bubur Candil. Kak Rafa mau membelikannya?" tanya Asyifa.
"Pasti sayang," sahut Rafa yang tidak masalah.
"Ya sudah kak Rafa. Asyifa tunggu di rumah ya. Asyifa sekarang lega bisa menelpon kak Rafa. Jadi perasaan Asyifa sekarang sudah tidak gelisah lagi," ucap Asyifa.
"Iya sayang. Kamu tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi. Karena aku baik-baik saja," ucap Rafa yang terus meyakinkan sang istri.
"Alhamdulillah. Ya sudah kak Rafa. Asyifa tutup telponnya dulu ya. Assalamualaikum," ucap Asyifa berpamitan pada suaminya.
"Walaikum salam," jawab Rafa yang mematikan panggilan telpon itu.
"Maafkan aku Asyifa. Aku tidak bermaksud membuat kamu cemas. Hanya saja aku ingin kamu tidak memikirkan ku. Jadi maafkan aku Asyifa," batin Rafa yang merasa bersalah karena membohongi istrinya. Namun Rafa tidak punya pilihan lain.
*********
Kediaman Dokter Rendy.
Hari ini Rachel bermain lagi di rumah Azka. Ya katanya untuk mengerjakan tugas. Sepertinya Rachel sudah sangat nyaman berkunjung ke rumah Azka. Karena dia merasa mendapatkan keluarga baru dan apa lagi Rania sangat welcome pada Rachel dan begitu ramah. Jadi bagaimana Rachel tidak nyaman berada di sana.
"Tante!" sapa Rachel.
"Eh ada Rachel," sahut Rania berbalik badan melihat Rachel sebentar, "mau apa Rachel?" tanya Rania.
"Oh tidak Tante! saya tidak mau apa-apa kok. Hanya ingin ke dapur saja. Tante lagi sedang apa?" tanya Rachel.
"Oh ini lagi memasak sup buntut," jawab Rania.
"Boleh Rachel bantu? tanya Rachel, "tapi hanya membantu melihat saja. Soalnya Rachel juga tidak bisa memasak dan tidak mengerti bahan masakan," ucap Rachel dengan pelan yang sangat jujur.
Rania mendengarnya tersenyum, "tadinya Tante mau bilang tidak usah Rachel, jangan repot-repot. Tetapi sekarang Tante mau bilang. Kemarilah. Kamu boleh melihat Tante memasak dan bertanya apa yang ingin kamu tanya," sahut Rania.
"Serius Tante?" tanya Rachel yang tidak percaya.
"Iya. Ayo cepat kemari!" ajak Rania dan Rachel begitu semangat dan langsung menghampiri Rania.
"Kamu boleh mengaduk soup nya!" titah Rania.
__ADS_1
"Baik Tante," sahut Rachel yang begitu semangatnya dan Rania melanjutkan pekerjaan lain.
"Tante dari dulu sudah bisa memasak?" tanya Rachel basa-basi.
"Tidak juga. Memasak profesional tidak. Namun tau lah sedikit-sedikit bahan makanan yang pintar memasak itu Ayah Azka. Uhhhhh kalau masakan ayah Azka jangan di ragukan lagi sangat nikmat dan melebihi Restaurant bintang 5," jawab Rania yang pasti harus memuji suaminya dulu. Karena kalau tidak memuji rasanya tidak puas.
"Ya ampun keren sekali. Azka sangat beruntung mempunyai keluarga yang sangat hangat. Ibu ayahnya pintar memasak dan bagaimana Azka tidak betah di rumah dan tidak suka jajan di kantin. Karena masakan dari orang tuanya saja sangat melekat di tenggorokannya," sahut Rachel yang bertambah iri saja.
"Bukannya bagi setiap anak. Masakan seorang ibu itu tetap enak. Jadi kamu juga pasti merasa, jika masakan ibu kamu sangat enak," ucap Rania.
"Tidak Tante. Kalau Rachel sama sekali tidak pernah merasakan masakan ibu dan bahkan Rachel juga tidak tau bagaimana rasanya masakan ibu," ucap Rachel tiba-tiba yang membuat Rabia langsung melihat ke arah Rachel dan bahkan menghentikan pekerjaannya.
"Sejak kecil Rachel hanya tinggal bersama kak Miranda yang tinggal di desa kecil bersama nenek. Orang tua kita berdua sudah meninggal. Tidak tau juga sudah meninggal atau kemana. Tetapi intinya Rachel tidak pernah tau wajah mereka. Setelah umur Rachel 12 tahun. Dan makanya Rachel tidak pernah merasakan masakan seorang ibu itu seperti apa dan Rachel juga tidak tau bagaimana sih rasanya di sayang seorang wanita yang melahirkan kita," ucap Rachel yang berbicara begitu sedih dan sangat mendalami membuat Rania tersentuh dan mendekati Rachel dengan membelai rambut Rachel.
"Makasih ya Tante untuk masakan yang Tante berikan kepada Rachel. Agak lebay sedikit jika Rachel mengatakan Rachel seperti merasakan masakan seorang ibu," ucap Rachel tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca. Rania mengangguk-angguk dengan memegang pipi Rachel.
Rania pasti sangat simpatik dengan Rachel yang ternyata tidak sesempurna putranya.
"Kalau begitu kamu harus sering-sering datang kemari. Supaya masakan Tante melekat di tenggorokan kamu. Jadi kamu akan seperti Azka yang tidak akan mau makan di kantin," ucap Rania membuat Rachel tersenyum mendengarnya dengan menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk Rania.
Rania juga memeluk Rachel yang memberikan energi kasih sayang kepada Rachel.
"Ada hikmahnya Rachel pernah membantu Azka dengan begitu sekarang Rachel bisa merasakan masakan Tante dan di peluk Tante. Eh tidak Rachel yang terlalu lancang memeluk Tante," ucap Rachel yang begitu bahagia.
"Tidak apa-apa Rachel kalau mau memeluk Tante. Tante tidak masalah sama sekali," sahut Rania yang menyebarkan ketulusannya pada anak yatim piatu itu.
Tidak tau sejak kapan Azka ada di sana dan Azka tersenyum melihat kemanisan ibunya dan teman satu sekolahnya itu.
"Rachel!" tegur Azka membuat Rachel dan Rania saling melepas pelukan. Dan Azka memberi kode melalui matanya.
"Baiklah Azka. Tante Rachel kembali belajar dulu ya," ucap Rachel pamit.
"Iya sayang," jawab Rania mengangguk dan Rachel langsung pergi bersama Azka.
"Malang sekali nasib anak itu," gumam Rania.
Bersambung
__ADS_1