
"Jangan lihat-lihatan terus. Ayo kita sarapan," sahut Shofia yang menggoda menantu dan anaknya itu. Asyifa mendengarnya hanya malu dengan godaan dari mertuanya itu. Namun Rafa pasti kesal dengan hal itu.
"Hmmm kita sarapan bersama setelah ini kita ber-4 jalan-jalan," sahut Xander.
"Mau kemana lagi?" sahut Rafa yang langsung protes.
"Ini hari terakhir kita di sini. Jadi kita jalan-jalan hari ini untuk menghabiskan waktu kita di sini," ucap Xander.
"Aku capek. Aku mau istirahat saja," sahut Rafa yang langsung menolak.
"Rafa kamu ini benar-benar ya. Kamu itu di suruh ke bulan madu untuk liburan dan kamu ngapain aja bisa capek mengurus wanita itu hah!" sahut Shofia yang mulai kesal
"Mama terus saja mengungkit Miranda. Apa mama belum puas mempermalukannya kemarin," sahut Rafa.
"Lihatlah, ini, bisa-bisanya membela wanita itu di depan istrinya. Rafa jika kelakukan kamu masih seperti ini. Bukan hanya mempermalukannya di depan beberapa orang. Tetapi akan mempermalukannya di depan semua orang," sahut Shofia memberikan ancaman pada Rafa.
"Mama memang selalu saja mau suka-suka mama. Mama sadar tidak sih dengan apa yang mama lakukan itu sangat keterlakuan bisa tidak mah jangan melakukan hal itu," sahut Rafa.
"Sudah cukup!" sahut Xander mencegah keribuata, "kita sarapan dan setelah ini pergi. Tidak ada kata-kata tidak bisa, capek dan segalanya termasuk kamu yang banyak alasan," sahut Xander menegaskan.
Rafa hanya berdecak kesal yang pasti sangat tidak setuju dengan rencana jalan-jalan itu. Asyifa sejak tadi hanya diam saja. Lama-lama Asyifa juga akan mati Rasa. Jadi mau Rafa membela Miranda atau tidak mungkin Asyifa juga tidak akan perduli sama sekali.
*********
Setelah mereka sarapan, mereka akhirnya berjalan-jalan untuk menikmati kota indah Selandia Baru. Di mana Asyifa tidak pernah lupa membawa kameranya untuk mengambil setiap momen bersama keluarganya itu. Walau harus sabar-sabar menghadapi Rafa yang pasti tidak mau ikut-ikutan di foto dan harus ada perdebatan dengan Shofia dulu dan ujung-ujungnya Rafa juga yang kalah.
Banyak hal yang di lakukan mereka ber-4 dari jalan-jalan sampai memebeli oleh-oleh dan makan sudah beberapa kali yang memang harus menikmati banyak kuliner yang belum pernah mereka makan dan sangat asing di lidah mereka.
Sama dengan malam ini yang mereka berada di salah satu Restaurant, di mana Asyifa, Xander dan Shofia sedang duduk di salah satu meja dan ada dua pelayan yang menghidangkan makanan di meja mereka.
"Asyifa kamu panggil Rafa, kita makan bersama," sahut Xander.
"Baik pah," sahut Asyifa yang langsung berdiri dan mencari suaminya yang tadi katanya kebelakang. Karena jenuh dan ingin bersantai dari pada menunggu makanan yang begitu lama datangnya.
Asyifa pun menemukan Rafa. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Rafa yang berdiri di depan seorang wanita yang siapa lagi kalau bukan Miranda.
"Aku sangat terkejut Rafa dengan kata-kata mama kamu. Pertemuan pertama kami sungguh tidak berkesan," ucap Miranda yang ternyata protes dengan Rafa dengan masalah yang terjadi kemarin.
"Miranda kamu seharusnya bisa memahami mama," sahut Rafa.
"Apa yang kamu katakan Rafa. Aku sudah mengontrol diri semalam. Jika tidak ada Tante Rani aku sudah tidak membayangkan apa yang aku lakukan. Mama kamu sangat kelewatan dia mempermalukan, merendahkanku, membuatku seperti wanita tidak berati di depan Asyifa dan iya kamu juga ada di sana dan kamu malah diam yang tidak bisa bertindak sama sekali," ucap Miranda marah-marah.
"Aku mana mungkin bicara apa-apa. Kamu tau di sana juga ada papa," sahut Rafa.
"Memang kamu tidak mungkin melakukan apa-apa. Karena bagi kamu tidak berati dab kamj hanya tunduk pada wanita itu," sahut Miranda.
"Apa yang kamu bicarakan Miranda. Aku tidak mungkin tunduk pada Asyifa dan aku tidak sama sekali tidak menginginkan menikah dengannya dan iya aku sudah beberapa kali membujukmu untuk kita menikah. Tetapi apa. Kau memilih karirmu dan sekarang aku sudah menikah. Baru kau protes dengan semua sikap mama. Mulut ku sudah berbusa Miranda, beberapa kali aku menyuruhmu menemui mama dan bersikap baik mencuri hati mama dan jika kamu melakukannya semua ini tidak akan terjadi," tegas Rafa.
"Oke semua ini salahku, aku yang salah, dan aku juga salah membiarkan kamu menikah dengan wanita itu dan memberikan ruang padanya. Aku salah, aku mengakui kesalahanku. Aku memilih karir dari pada kamu. Baik Rafa. Jika kamu bisa menjamin hidupku dan semuanya. Aku akan meninggalkan semuanya dan kamu ceraikan istri kamu dan aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu dan juga keluarga kamu," ucap Miranda menegaskan dengan keputusan yang tiba-tiba saja terpikir olehnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Asyifa terkejut dan bahkan Rafa juga terkejut mendengar kata-kata Miranda.
"Apa yang kamu ucapkan Miranda?" tanya Rafa dengan menekan suaranya.
"Semuanya sudah jelas Rafa. Aku sangat mencintaimu Rafa dan aku yakin kamu masih mencintaiku. Pernikahan itu semuanya terpaksa dan sangat menyiksa kamu. Jadi aku akan menebus kesalaha ku kepada kamu. Aku akan meninggalkan semuanya dan akan menikah dengan kamu. Kamu bercerai dari Asyifa dan kita akan bersama," tegas Miranda dengan memegang ke-2 tangan Rafa dan Rafa diam mendengar kata-kata Miranda.
"Aku tau Rafa kamu pasti bilang. Kenapa harus sekarang, kenapa bukan kemarin. Tetapi Rafa tidak ada kata-kata terlambat. Semuanya belum terlambat. Aku hanya ingin membebaskan kamu dari wanita itu. Aku tidak ingin melihat kamu menderita dan aku yakin kamu pasti belum menyentuhnya. Kamu membencinya dan sangat mudah bagi kamu untuk menceraikannya," ucap Miranda yang membujuk Rafa.
"Ayolah Rafa, kita harus bersama. Aku mohon Rafa," bujuk Miranda yang ingin memeluk Rafa.
"Kak Rafa!" tegur Asyifa yang membuat Miranda tidak jadi memeluk Rafa dan Rafa langsung melihat kebelakangnya.
"Mama dan papa sudah menunggu untuk makan," ucap Asyifa dengan suara dinginnya.
Rafa melepaskan tangan Miranda dari tangannya, "aku pergi dulu. Nanti kita bicara lagi," sahut Rafa yang langsung pergi dari hadapan Miranda dan melewati Asyifa begitu saja.
Asyifa melihat Miranda sebentar. Lalu iya pun langsung pergi.
"Aku rasa kau mendengar semuanya," ucap Miranda yang membuat langkah Asyifa terhenti dan kembali melihat Miranda.
"Kau tau kan Asyifa Rafa hanya terpaksa menikah denganmu dan kau tau juga dan Rafa saling mencintai. Dan aku rasa tidak akan sulit bagiku untuk bercerai dari Rafa, karena pasti kau tidan akan mau menjadi orang ke-3 di dalam hubungan kami," ucap Miranda.
"Maaf, sepengatahuan ku dan wawasan yang aku pelajari. Pernikahan itu bukan sebuah permainan yang menikah dan bercerai untuk menyikai atau tidak menyukai bukan dasar dari sebuah pernikahan. Tetapi orang-orang yang menikah hanya untuk ibadah dan di jalankan untuk ibada. Jika teman 2 kelas bisa saling menyukai padahal hanya bertemu selama 8 jama dalam sehari dan dalam seminggu libur 1 hari atau 2 hari. Lalu bagaimana dengan suami istri yang berjanji di hadapan Allah dalam ikatan pernikaha yang bertemu setiap hari. Di setiap ruang pasti ada tempat untuk duduk dan bertemu yang satu kamar dan berbagi ranjang. Jadi sangat mustahil jika lama kelamaan tidak akan saling menyukai," ucap Asyifa dengan bijak dan tenang saat bicara dengan Miranda membuat Miranda begitu kesal dengan tangannya yang terkepal.
"Kamu berhap Rafa akan jatuh cinta padamu iya," sahut Miranda tersenyum dengan meremehkan Asyifa.
Miranda semakin emosi dengan matanya yang menatap tajam Asyifa.
"Aku adalah seorang istri dan tugas seorang istri untuk menjaga rumah tangganya dan tidaj ada kaitannya dengan masalah yang terjadi dan maaf kamu tidak akan memahami kondisi ini. Karena kamu belum menikah dan Allah belum memberikan anugrah perasaan, kebijakan kepada kamu. Jadi kamu tidak akan memahaminya," sahut Asyifa dengan tenang.
"Berani sekali kau menceramahiku. Kau dengar Asyifa. Kau jangan bermimpi Rafa akan menghakimi, melihatmu dan menyentuhmu sangat membuatnya jijik, seharusnya kau sadar dengan posisimu," ucap Miranda dengan kesalnya.
"Bagaimana mungkin seorang suami akan jijik dengan wanita yang sudah di ikatnya dengan pernikahan. Hal itu sangat aneh. Tetapi mungkin kamu harus berkaca. Apa kamu tidak jijik dengan diri kamu yang menyentuh pria yang bukan muhrim kamu dan bahkan dia suami dari wanita di hadapanku. Jadi kata jijik itu harus kamu tempat kan pada tempatnya," tegas Asyifa.
"Kau benar-benar kurang ajar," maki Miranda yang menggebu-gebu emosinya karena kata-kata Asyifa yang sangat berani.
"Maaf jika kata-kata ku membuat kamu marah. Terakhir aku mengatakan. Bukan aku yang menjadi orang ke-3 di antara kalian. Tetapi kamu lah yang menjadi orang ke-3 di pernikahan kami. Aku minta maaf sama sekali untuk kata-kata kamu dan baiklah aku permisi," ucap Asyifa tersenyum dengan ramah dan langsung pergi dari hadapan Miranda yang penuh debgab emosi.
"Argggg!" teriak Miranda dengan penuh kemarahan karena perkataan Asyifa.
"Kau pikir siapa dirimu Asyifa. Lihat saja aku pasti akan membalasmu. Jangan harap Rafa akan jatuh cinta kepadamu. Kau jangan bermimpi hal itu sangat mustahil. Dia hanya mencintaiku bukan dirimu," teriak Miranda yang tidak bisa mengendalikan dirinya dan marah-marah pada Asyifa
"Arggh!" Miranda mengusap wajahnya dengan kasar, menyibak rambutnya kebelakang dan penuh kekesalan dengan apa yang telah terjadi.
************
Setelah berbicara dengan Miranda, akhirnya Asyifa kembali ke meja mereka untuk menikmati makan bersama suami dan mertuanya.
"Asyifa ayo duduk. Kamu kenapa lama sekali?" tanya Shofia.
__ADS_1
"Maaf mah harus membuat mama dan papa menunggu. Asyifa tadi berbicara dulu dengab seseorang," jawab Asyifa yang sudah duduk tepat di depan Rafa.
"Bicara dengan siapa?" tanya Shofia penasaran.
Rafa langsung melihat Asyifa yang juga penasaran dan di pikiran Rafa pasti Miranda.
"Dengan seseorang yang mengajak Asyifa untuk bicara," sahut Asyifa dengan tersenyum menjawabnya. Namun Rafa terus melihat Asyifa yang merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Asyifa.
"Ya sudah sekarang ayo kita makan. Nanti keburu dingin," sahut Xander.
"Baik pah," sahut Asyifa yang tersenyum dan langsung menikmati makanan itu. Namun dia saling melihat dengan Rafa yang man Rafa masih terus melihatnya dan sangat penasaran dengan kata-kata Asyifa.
"Rafa jangan melamun! Ayo makan!" sahut Shofia
Rafa mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan kak Rafa dan aku tidak akan mudah tergoyah dengan apapun," batin Asyifa yang harus menyiapkan mental, kekuatan dan banyak hal setelah ini.
***********
Setelah selesai melakukan aktifasi di luar seharian. Asyifa dan yang lainnya kembali ke penginapan dan sekarang Asyifa di dalam kamarnya yang sedang menyusun pakaiannya yang memasukkan kedalam kopernya yang mana mereka besok akan pulang ke Jakarta.
Ceklek.
Rafa memasuki kamar dengan memegang handphonnya dan langsung melihat ke arah Asyifa.
"Apa yang kamu katakan kepada Miranda?" tanya Rafa yang sepertinya baru mendaoat aduan dari Miranda.
"Sangat banyak," jawab Asyifa tanpa melihat Rafa dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Aku serius. Apa yang kau bicarakan, sampai membuatnya seperti itu," sahut Rafa mulai marah.
"Membuatnya seperti apa?" tanya Asyifa.
"Jangan bertanya lagi. Jawab pertanyaan ku!" bentak Rafa. Asyifa menghela napasnya dan langsung melihat kearah Rafa.
"Yang aku katakan sangat banyak dan dikatakannya tidak banyak. Aku tidak mengingat jelas apa yang di katakannya yang aku ingat dia menyuruhku untuk menyerah dalam pernikahan ini yang artinya kita berpisah dan selebihnya aku tidak ingat apa yang di katakannya dan yang aku katakan aku juga tidak mengingat begitu detai dan yang aku ingat aku mengatakan kepadanya. Walaupun kamu membenciku. Tetapi aku bisa menyuapimu. Jadi sangat mustahil aku tidak membencimu dan kamu pasti akan menyukaiku," sahut Asyifa membuat Rafa mendengarnya terdiam dengan menelan salivanya yang menatap Asyifa dengan penuh artinya.
"Aku hanya mengatakan kepadanya. Pernikahan itu bukan permainan dan orang yang menikah bukan saling jatuh cinta baru menikah. Jujur dalam usiaku yang hampir 20 tahun aku sama sekali tidak mengerti apa itu cinta, suka dengan lawan jenis atau apapun. Tetapi setelah menikah aku baru merasakan semuanya. Jadi yang intinya aku hanya mengatakan kepadanya jika teman satu kelas saja bisa saling jatuh cinta. Jadi bagaimana jika teman 1 kamar," lanjut Asyifa yang membuat Rafa terdiam dan tidak tau harus bicara apa.
"Terserah kamu mau seperti apa kepadanya. Mau melakukan apa. Ini atau itu kepadannya. Masih berhubungan atau tidak. Aku tidak akan mengurusinya. Aku hanya mengurusi pernikahanku dan bertahan bukan berarti bodoh. Yang bodoh itu orang yang melenceng dan iya bertahan juga ada batasnya," tegas Asyifa yang cukup bicara dengan Rafa dan Asyifa langsung keluar dari kamar itu.
Namun langkanya terhenti ketika saat membuka pintu yang sepertinya masih ada yang ingin di katakannya.
"Kamu jauh lebih dewasa di bandingkan aku. Jadi jangan buat aku menjadi orang yang lebih dewasa dan menunjukkan sifat kekanak-kanakan kamu," ucap Asyifa dan langsung pergi membuat Rafa mendengus kasar yang sangat terkejut mendengar hal itu.
"Apa yang di bicarakannya. Kenapa sekarang dia semakin berani bicara," batin Rafa dengan kesal.
Bersambung
__ADS_1