
"Ini kak Rafa," ucap Asyifa yang langsung memberikan pada Rafa. Rafa mengambilnya dan Asyifa langsung pergi. Namun Rafa menarik tangannya membuat Asyifa jatuh kepangkuan Rafa membuat Asyifa kaget dengan matanya yang terbuka lebar yang benar-benar di tahan Rafa di dalam pangkuannya.
"Kak Rafa, lepas!" berontak Asyifa dengan suara pelan yang merasa gugup berada di pangkuan itu. Namun tag tidak membiarkan Asyifa pergi dengan Rafa membelai-belai pipi Asyifa membuat Asyifa semakin gugup dengan jantungnya yang berdebar dengan kencang.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa.
"Kamu masih marah?" tanya Rafa dengan menatap Asyifa. Namun wajah Asyifa entah kemana-mana yang tidak ingin melakukan kontak mata dengan Asyifa.
"Ma_ma_ marah kenapa?" tanya Asyifa dengan gugup.
"Tadi malam, sepertinya kata-kata ku membuatmu marah dan sampai sekarang begitu ketus kepadaku," ucap Rafa yang terus menatap Kayra yang penuh dengan kegelisahan.
"Tidak. Siapa yang marah," sahut Asyifa mengelak. Rafa memegang dagu Asyifa dengan mensejajarkankan wajah Asyifa padanya agar mata indah itu bisa menatap dirinya.
"Suamimu ada di depanmu. Maka lihat suamimu bukan melihat yang lain," ucap Rafa dengan lembut. Posisi itu semakin membuat Asyifa gugup apalagi mata Rafa begitu intens menatapnya.
"Asyifa, aku tidak tau jika apa yang aku katakan tadi malam membuat kamu marah," ucap Rafa.
"Lalu apa kak Rafa peduli jika Asyifa marah atau tidak?" tanya Asyifa yang butuh jawaban itu.
"Aku sangat peduli dan rasanya ada yang aneh. Jika kamu bersikap dingin kepadaku," ucap Rafa yang memang rasanya tidak enak kalau di cueki.
"Jangan marah lagi. Aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Aku benar-benar menegaskan pada kamu. Aku tidak ada hubungan dengan Miranda dan iya kamu bukanlah pelarian dan bukannya dengan apa yang aku lihat itu merupak petunjuk jika Allah masih menolongku dengan melihat sisi buruk Miranda secepatnya dan aku meninggalkan hal itu dan dari semua itu bukannya hubungan kita saat ini adalah hikmah dari kejadian itu," ucap Rafa dengan bijak yang berusahalah menjelaskan pada Asyifa. Agar Asyifa tidak salah paham lagi.
"Apa itu artinya kak Rafa menyesali semua yang terjadi selama ini?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.
"Dan aku sangat berharap kamu tidak akan marah lagi. Bukannya dengan kamu yang tidak mengatakan apa-apa pada keluargamu. Itu adalah kesempatan untukku," ucap Rafa.
"Maafkan Asyifa," ucap Asyifa menunduk.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf?" tanya Rafa heran.
"Seharusnya tadi malam Asyifa tidak bersikap seperti itu. Asyifa tidak menghargai kejujuran kak Rafa dan bahkan Asyifa menanggapinya dengan hal yang negatif yang seharusnya Asyifa harus berpikiran seperti kak Rafa. Di mana Asyifa seharusnya memikirkan dari sisi lain bukan malah berpikiran buruk dan benar kata kak Rafa seharusnya ada hikmah yang di ambil," ucap Asyifa yang malah merasa bersalah pada suaminya.
Rafa terdiam mendengar kata-kata Asyifa. Dia yang salah tetapi Asyifa malah sangat mudah untuk minta maaf. Rafa kembali di tampar dengan kenyataan. Wanita yang selama ini yang di sakitnya itu begitu baik dan tulus. anugrah untuk merasakan dan melihat semua itu benar-benar di cabut sampai dia tidak bisa melihat hal itu.
Rafa memegang kembali dagu Asyifa, mengangkatnya sehingga wajah mereka kembali saling bertemu dengan sangat berdekatan. Bahkan Rafa menautkan bibirnya pada Asyifa membuat Asyifa memejamkan matanya kala mendapat ciuman tiba-tiba yang sebentar dari suaminya dan Rafa melepasnya dengan menatap Asyifa dalam-dalam lalu mencium kening Asyifa.
"Aku akan berusaha Asyifa untuk memperbaiki segalanya. Aku manusia biasa yang tak luput dari dosa dan kesalahan dan aku menyadari semua kesalahan ku padamu dan aku akan semampuku untuk memperbaikinya," ucap Rafa.
Asyifa tersenyum mendengarnya. Hatinya begitu tersentuh kalah mendengar perkataan suaminya yang sangat tulus yang pasti semua ini tidak mudah di ucapkan Rafa. Namun dengan Rafa yang mengatakan akan memperbaiki semuanya sudah membuat Asyifa begitu bahagia.
**************
Rafa sedang berolahraga di sekitar komplek perumahan Asyifa. Biasa lari-lari pagi setelah tadi sudah berbaikan dengan Asyifa dan Asyifa tidak marah lagi.
Seperti biasa. Kalau Rafa berolahraga tidak akan jauh-jauh dari Azka yang juga berolahraga dan bahkan berlari di samping Rafa dengan lari santai yang sejajar.
"Apa aku ada bertanya?" Azka kembali bertanya.
"Kau kalau sudah menghampiri ku pasti ada yang ingin kau katakan. Apa kau ingin memperingatiku lagi atau memberi ancaman?" tanya Rafa yang seakan tau apa yang di inginkan adik iparnya itu. Karena memang Azka tidak pernah menyukai Rafa.
"Ya. Tadinya aku ingin menghajar kak Rafa. Namun lagi-lagi kakak ku selalu saja membela kak Rafa dan aku tidak bisa melakukan apa-apa," ucap Azka sinis.
Rafa menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Azka.
"Apa itu suatu penyesalan bagimu?" tanya Rafa.
"Iya. Seperti yang sering aku katakan. Aku tidak akan membiarkan ada yang menyakiti kakakku," ucap Azka dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Apa aku sangat menyeramkan Azka?" tanya Rafa.
"Iya bukan hanya menyeramkan bahkan sangat menakutkan," ucap Azka yang jujur apa adanya yang menunjukka ketidak sukaannya pada Rafa.
Apa lagi dengan kejadian yang barusan saja terjadi. Azka merasa ingin menghajar Rafa, memberi Rafa pelajaran. Namun tidak bisa di lakukannya.
"Azka, kak Rafa!" tegur Asyifa yang tiba-tiba datang yang membuat 2 orang saling menatap dengan penuh saling menantang itu sama-sama mengalihkan tatapan mereka dan melihat Asyifa.
"Kalian kenapa?" tanya Asyifa yang merasa ada yang tidak beres di antara ke-2nya.
"Tidak apa-apa kak!" jawab Azka.
"Kak Rafa ayo sarapan. Asyifa sudah menyiapkan sarapan untuk kak Rafa," ucap Asyifa.
"Aku mau berenang sebentar. Jadi bawakan saja ke kolam renang," ucap Rafa.
"Aku juga ingin berenang. Bagaimana kalau kita adu kebolehan," sahut Azka menantang Rafa.
"Azka!" tegur Asyifa.
"Baiklah aku terima tantangan mu. Aku dengar-dengar adik iparku atlet renang. Jadi tidak ada salahnya aku ingin melihat langsung keahlianmu," ucap Rafa yang tidak masalah.
"Aku tunggu!" sahut Azka yang berlari terlebih dahulu. Rafa hanya mendengus dengan tersenyum. Adik iparnya itu memang sangat berbeda.
"Kak Rafa," ucap Asyifa yang malah panik.
"Tidak ada apa-apa. Ayo bawa santapannya me kolam renang," ucap Rafa memegang bahu Asyifa. Asyifa hanya mengangguk saja.
"Azka kamu selalu saja membuat kakak khawatir," batin Asyifa.
__ADS_1
Tampaknya perang dingin di antara adik dan suaminya belum berakhir dan Asyifa sangat takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Atau malah membuat Rafa marah.
Bersambung.