Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 210.


__ADS_3

Asyifa terus bercerita kepada suaminya yang menceritakan perasaannya pada suaminya. Tanpa Asyifa sadari dengan apa yang terjadi pada Rafa. Tetapi Asyifa yang merasa tidak di respon tiba-tiba berhenti bercerita.


"Kak Rafa sudah tidur?" tanya Asyifa yang tidak mendapatkan respon apa-apa dan Asyifa langsung mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi Asyifa.


Betapa terkejutnya Asyifa saat melihat Rafa yang sudah memejamkan matanya dengan wajahnya yang pucat dan mengalir darah dari hidungnya.


"Kak Rafa!" pekik Asyifa dengan wajahnya paniknya dan langsung duduk dengan memegang ke-2 pipi Rafa dan mengusap darah di hidung Rafa dengan tangganya.


"Kak Rafa bangun! kak Rafa. Apa yang terjadi kak Rafa. Bangun kak Rafa. Kak Rafa bangun!" teriak Asyifa suara bergetar saat melihat kondisi suaminya. Asyifa hanya bisa menangis membangunkan suaminya dengan menepuk-nepuk pipi suaminya dan terus berteriak memanggil nama Rafa.


"Kak Rafa......" teriak Asyifa dengan suara yang kuat yang memeluk Rafa dengan membangunkan Rafa dengan penuh kepanikan.


**********


Zee, Abian, Ardi, Shania, Shofia dan Xander sedang berada di ruang tamu yang sedang berbincang-bincang dalam pembahasan yang tidak tau juga apa yang mereka bahas. Namun dari wajah-wajah semua orang yang ada di ruang tamu itu terlihat sangat sendu. Dan juga ada beberapa di antara mereka yang memegang kepala mereka yang tampaknya penuh dengan pemikiran yang tidak dapat di mengerti.


"Jika keadaan Rafa seperti ini. Seharusnya kita menyuruhnya pulang dan kita harus tau perkembangan sakitnya seperti apa," ucap Shofia yang mencemaskan Rafa putra satu-satunya.


"Papa juga memikirkan hal itu mah. Tetapi seperti yang Dokter Rendy katakan. Sepertinya Rafa sengaja ingin pergi untu menghabiskan banyak waktu untuk bersama Asyifa," sahut Xander.


"Tapi kita juga tidak bisa membiarkan Rafa spele dengan keadaannya. Walau dia akan operasi. Tetapi juga semua punya prosedurnya dan ini hanya akan semakin membahayakan Rafa saja," sahut Shania.


"Shania Dokter Rendy sudah menjelaskan kepada kita semua bagaimana konsukuensinya dan dia juga sudah mengatakan dengan tegas. Bahwa dia juga sudah membujuk Rafa untuk melakukan perawatan menjelang operasi. Namun Rafa memilih untuk bersama Asyifa. Jadi Rafa pasti tau dan punya firasat dalam dirinya mana yang harus di dahulukannya dan tidak ingin menyesal karena tidak menghabiskan waktu bersama Asyifa," ucap Ardi dalam penegasannya.


"Apa maksud kak Ardi. Apa kak Rafa seakan tau operasi itu tidak akan berhasil. Makanya dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan kak Asyifa?" tanya Zee dengan perasaannya semakin tidak enak.


"Zee kamu jangan berprasangka buruk dulu," sahut Abian.


"Tetapi dari kata-kata kak Ardi seakan membenarkan hal itu. Makanya Zee bertanya-tanya," sahut Zee dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Sebaiknya kita telpon saja Rafa dan kita bicara padanya. Kita membujuknya agar pulang," sahut Ardi.


"Iya kita sebaiknya mencobanya dan semoga saja ada hasilnya," sahut Xander.


"Biar Shania yang telpon," sahut Shania yang langsung mengambil ponselnya dan ingin menghubungi adiknya.

__ADS_1


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.


Namun ponsel lain berdering yang ternyata ponsel Shofia dan Shofia langsung melihat panggilan masuk itu.


"Asyifa sedang menelpon," sahut Shofia yang langsung mengangkat panggilan telpon dari menantunya.


"Assalamualaikum Asyifa," sapa Shofia yang berusaha untuk tenang.


"Mah, mah," sahut Asyifa yang menangis terisak-isak membuat Shofia kaget dan bahkan mendengar suara berisik.


"Asyifa kamu kenapa? dan kamu di mana? kenapa ribut sekali dan terdengar ada suara sirene?" tanya Shofia panik dan bahkan sampai berdiri yang lain juga penasaran dan ikut juga panik.


"Ada apa mah?" tanya Shania. Shofia geleng-geleng yang memang tidak tau apa yang terjadi.


"Asyifa kamu dengar mama tidak sayang. Kamu di mana sayang! Asyifa ada apa?" tanya Shofia lagi.


"Mah kak Rafa, kak Rafa," sahut Asyifa yang sengugukan dalam tangisannya dengan sesak napas.


"Ada apa dengan Rafa Asyifa. Kenapa Rafa?" tanya Sahila semakin kaget.


"Apah Rafa tidak sadarkan diri," sahut Shofia yang tidak kalah terkejutnya dan bahkan hampir jatuh dan untung Abian cepat menahan tubuh mertuanya itu.


"Mah ada apa mah? apa yang terjadi? ada apa dengan Rafa?" tanya Shania.


Shofia tidak mampu menjawab dan tangisnya sudah pecah dengan ketakutan. Shania langsung mengambil handphone sang mama dan melanjutkan bicara dengan Asyifa.


"Asyifa ini kakak. Apa yang terjadi Asyifa. Ada apa dengan Rafa?" tanya Shania.


"Kak Rafa tidak sadarkan diri dan Asyifa sekarang menuju rumah sakit terdekat dari tempat ini," jawab Asyifa.


"Astagfirullah," lirih Shania yang juga sangat terkejut, "Asyifa kamu tenaga ya. Kamu jangan takut ya. Kamu akan segera ke sana. Kamu tenang ya," ucap Shania yang mencobanya untuk membuat Asyifa tentang. Padahal dirinya sendiri saja tidak bisa tenang.


"Iya kak," sahut Asyifa dan Shania pun langsung mematikan panggilan telpon tersebut.


"Ada kak Shania. Apa kak Rafa baik-baik aja?" tanya Zee yang tidak bisa tenang.

__ADS_1


"Rafa di bawa kerumah sakit dan Asyifa sepertinya sangat ketakutan. Sebaiknya kita kerumah sakit dan menemui Asyifa dia sangat butuh orang-orang untuk berada di sisinya," ucap Shania yang seakan tau apa yang di rasakan adik iparnya itu.


"Ya sudah kalau begitu kita sekarang jangan buang-buang waktu ayo kita pergi!" ajak Xander.


"Mama ikut atau di sini saja?" tanya Shania yang merasa kondisi sang mama tidak mungkin tidak ikut.


"Mana mungkin mama di sini. Mama harus tau kondisi Rafa seperti apa," sahut Shofia yang sejak tadi menangis.


"Ya sudah kalau begitu mah. Sekarang kita pergi menyusul Rafa dan semoga saja Rafa baik-baik saja," sahut Ardi yang lain mengangguk setuju dan mereka langsung bergegas dengan cepat untuk pergi menuju rumah sakit yang di beritahu Asyifa sebelumnya.


************


Sementara Asyifa yang berada di dalam mobil ambulan terus menangis dengan memegang tangan suaminya yang terbaring diam dengan selang pernapasan yang di berikan perawat sebagai pertolongan pertama.


"Kak Rafa harus kuat. Kak Rafa sudah janji pada Asyifa akan terus berada di dekat Asyifa. Jadi kak Rafa harus kuat ya. Kak Rafa tidak boleh pergi," ucap Asyifa dalam tangisnya yang sekarang sangat egois yang tidak ingin suaminya meninggalkannya sangat wajar Asyifa penuh dengan ketakutan seperti itu.


"Asyifa sayang sama kak Rafa dan kak Rafa tau itu. Asyifa mohon untuk kak Rafa untuk tetap bertahan ya," ucap Asyifa lagi dengan memegang pipi suaminya.


**********


Rumah sakit.


Rafa sedang di tangani Dokter yang di larikan kerumah sakit terdekat dari penginapan Rafa dan Asyifa sementara Asyifa sedang menunggu sendirian sendiri dengan perasaannya dan jantungnya yang pasti sangat dek-dekan dengan keadaan suaminya yang tidak tau bagaimana kondisinya di dalam sana.


"Ya Allah hambah mohon selamatkan suami hambah. Tolong berikan dia kesembuhan ya Allah. Angkat penyakit ini ya Allah," batin Asyifa yang sejak tadi hanya bisa berdoa kepada sang penciptanya.


"Asyifa!" panggil Shofia yang tiba-tiba datang bersama yang lainnya setelah melakukan perjalanan kurang lebih beberapa jam.


"Mah," sahut Asyifa yang langsung berdiri dan langsung memeluk erat Asyifa.


"Asyifa takut mah. Kak Rafa ada di dalam mah dan sejak tadi Dokter belum keluar. Asyifa takut," ucap Asyifa yang menangis sengugukan yang memeluk mertuanya dengan erat.


"Jangan takut Asyifa. Semauanya akan baik-baik saja. Kita semua ada di sini dan kita akan tetap berdoa untuk Rafa. Kamu jangan takut kamu tidak sendirian," ucap Shofia yang walau juga sangat hancur. Namun dia tetap berusaha untuk menenangkan menantunya di pastikan yang paling takut juga.


Yang lainnya juga sangat khawatir. Zee juga ikut menangis yang di tenangkan suaminya begitu juga dengan Shania, mereka hanya sama-sama saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2