Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 213


__ADS_3

Asyifa di ijinkan untuk pertama kali melihat suaminya yang sudah siuman. Asyifa memasuki kamar itu dengan melangkah pelan mendekati suaminya dengan air matanya yang langsung menetes. Namun langsung di sekanya. Karena tidak ingin suaminya sakit khawatir kepadanya.


Asyifa langsung duduk di samping Rafa dengan memegang tangan Rafa meletakkan di pipinya dan Asyifa benar-benar sedang menahan tangisnya.


"Kak Rafa apa yang sakit?" tanya Asyifa dengan suara tertahan yang tidak ingin banyak bicara yang takut air matanya keluar. Rafa menjawabnya dengan kepala menggeleng pelan yang merasa dia tidak apa-apa sama sekali.


"Ja_ jangan nangis," ucap Rafa dengan terbata-bata yang sangat sulit bicara.


Asyifa langsung menggelengkan kepalanya.denban cepat, "tidak, siapa yang nangis, Asyifa tidak nangis kok," sahut Asyifa bohong yang padahal begitu terisak dan Rafa dengan pelan memegang pipi istrinya yang itu mata Asyifa langsung jatuh kembali.


Rafa mendekat kan kepala Asyifa untuk dekat dengan dengannya dan akhirnya dahi mereka saling menyentuh dengan tatapan mata mereka yang saling bertemu.


"Aku mencintaimu Asyifa," ucap Rafa dengan air matanya yang menetes. Mungkin bagi Rafa kesempatan bicara yang di terimanya lebih baik mengucapkan cinta pada istrinya dari pada berkata hal lain.


Asyifa mengangguk pelan dan langsung memeluk suaminya yang masih terbaring dengan kondisi parah.


"Asyifa juga sangat mencintai kak Rafa. Makasih sudah bangun kembali. Makasih kak Rafa sudah membuat Asyifa kembali mendengar suara kak Rafa. Asyifa sangat mencintai kak Rafa. Terima kasih banyak kak Rafa," ucap Asyifa dengan menangis sengugukan yang sengugukan yang memeluk erat tubuh suaminya.


Rafa juga memeluk erat dengan mengelus-elus kepala istrinya itu mereka tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya saling memeluk erat yang lebih ingin melepas kerinduan dari pada berbicara satu sama lain.


Di luar di depan pintu Rendy dan Rania melihat hal itu. Dengan Rendy yang merangkul istrinya yang juga menangis di dada bidangnya.


"Ini yang kamu rasakan pastinya saat aku pernah terbaring di rumah sakit dan penuh dengan kesakitan dan kamu pasti sangat takut kehilanganku buka?" tanya Rania yang pernah berada di posisi Rafa dan putrinya berada di posisi suaminya.


"Putri kita wanita yang sangat kuat. Dia akan bisa melewati semua ini. Kita berdoa saja yang terbaik dan kita serahkan kepada sang pencipta semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu percaya kepadaku. Aku juga akan berusaha untuk kesembuhan Rafa," ucap Rendy yang memberikan semangat untuk putrinya.


"Tapi aku takut sayang. Aku takut putri kita kenapa-napa. Apa lagi dia sedang mengandung," sahut Rania.


"Tidak sayang dia tidak akan kenapa-napa. Dia sangat kuat. Kita harus berdoa yang terbaik untuk Asyifa," sahut Rendy.


"Kamu benar Rania. Dulu sekuat-kuatnya aku. Kau juga sangat takut dengan kamu yang terbaring melawan kanker dan pasti rasa ketakutan itu ada pada Asyifa. Ya Allah hambah tau engkau begitu menyayangi putri kami sehingga tidak henti-hentinya kau memberinya cobaan. Namun kali ini aku sangat memohon kepadamu jangan ambil seseorang yang sangat di cintainya. Dia memang kuat. Tapi aku yakin dia sebenarnya sangat lemah. Angkat penyakit menantuku ya Allah. Berikan kesembuhan kepada menantuku," batin Rendy yang meneteskan air matanya melihat Asyifa yang terpukul dalam sakit suaminya.


**********

__ADS_1


Asyifa dan Rafa berada di atas tempat tidur rumah sakit dengan Rafa yang memeluk Asyifa berada di dada bidangnya dan beberapa kali mencium pucuk kepala istrinya.


"Ayah bilang, operasi kak Rafa akan di laksanakan lusa. Namun sangat banyak resikonya," ucap Asyifa yang harus memberitahu suaminya tentang hal itu.


"Aku tau itu Asyifa sebelumnya ayah dan aku pernah membahas hal itu," jawab Rafa.


"Lalu bagaimana kak Rafa. Apa kak Rafa akan tetap menjalankan operasi?" tanya Asyifa.


"Iya sayang. Aku akan tetap menjalankannya. Tetap aku ingin menundanya," ucap Rafa tiba-tiba membuat Asyifa heran dengan mengangkat kepalanya melihat ke arah Rafa.


"Maksud kak Rafa apa? kenapa ingin menundanya?" tanya Asyifa heran.


"Sayang kamu itu lagi hamil dan aku ingin menemani kamu sampai kamu melahirkan," jawab Rafa.


"Kak Rafa itu terlalu lama. Kandungan Asyifa baru saja memasuki 6 bulan dan tidak mungkin kak Rafa menunda selama itu," ucap Asyifa yang semakin khawatir kepada suaminya.


"Aku ingin kamu tidak sendirian dalam mengurus kandungan kamu," ucap Rafa mencium kening Asyifa.


"Jangan kak Rafa. Kak Rafa tidak boleh mengambil resiko seberat itu. Nanti akan semakin bahaya dan Asyifa tidak mau kak Rafa sampai kenapa-kenapa. Jadi jangan lakukan itu," ucap Asyifa dengan wajah paniknya.


"Kak Rafa kenapa masih keras kepala saja sampai saat ini. Kak Rafa apa tidak pernah memikirkan Asyifa yang sangat khawatir pada kak Rafa. Tetapi kak Rafa malah keras kepala dan tidak peduli pada Asyifa," ucap Asyifa yang marah dengan Rafa.


"Maafkan aku sayang," sahut Rafa yang langsung memeluk istrinya, "kamu benar aku memang tidak pernah mendengarkan kamu. Kamu selalu menyuruh untuk tidak terlalu banyak bekerja dan itu pun tidak aku dengarkan, makan tidak teratur dan sekarang semuanya terjadi seperti ini. Maafkan aku sayang ini memang kesalahanku," ucap Rafa yang merasa bersalah.


"Kalau begitu kak Rafa jangan hanya meminta maaf saja. Tetapi kali ini Asyifa minta untuk kak Rafa mendengarkan Asyifa," ucap Asyifa yang harus tegas pada suaminya.


"Baiklah sayang aku akan mendengarkan kamu," sahut Rafa yang harus mengalah untuk istrinya.


"Jadi bagaimana apa kak Rafa akan operasi atau tidak?" tanya Asyifa yang ingin kepastian.


"Sebelumnya aku pasti akan membahas dengan ayah untuk yang terbaik," ucap Rafa.


"Kak Rafa harus mendengarkan ayah ya," ucap Asyifa.

__ADS_1


"Pasti Asyifa. Kamu jangan khawatir. Aku akan mendengarkan apa yang ayah katakan," ucap Rafa.


"Kak Rafa mau Asyifa katakan sesuatu tidak?" tanya Asyifa.


"Memang kamu ingin cerita apa?" tanya Rafa.


"Tapi kak Rafa janji harus mendengarkan Asyifa dan jangan seperti kemarin kak Rafa dia dan malah tertidur dan baru bangun tadi," ucap Asyifa mengingatkan hal pertama kali melihat suaminya tidak sadarkan diri.


"Kamu pasti ketakutan ya dengan hal itu?" tanya Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya.


"Asyifa sangat takut kak Rafa. Jadi kak Rafa dengarkan Asyifa ya dan jangan buat Asyifa melihat hal itu lagi," ucap Asyifa.


"Baiklah sayang kalau begitu ayo ceritakan kepadaku apa yang ingin kamu katakan?" tanya Rafa.


"Kak Rafa saat kak Rafa tidak sadarkan diri Asyifa sangat khawatir dan penuh ketakutan pada kak Rafa. Astaga tidak bisa melakukan dan hanya bisa menangis melihat kak Rafa yang terbaring dan tidak bergerak sama sekali," ucap Asyifa yang menceritakan rasa takutnya dan Rafa hanya mendengarkannya sembari mengelus-elus pucuk kepala istrinya .


"Tidak ada orang. Asyifa bingung dan hanya meminta tolong pada orang-orang yang mendengarkan teriakan Asyifa. Tapi lupa kita berada di mana dan akhirnya dalam kebingungan Asyifa Asyifa menelpon bantuan dan Alhamdulillah datang. Asyifa juga takut menelpon orangtua kak Rafa. Asyifa gemetar dan sulit bicara. Alhamdulillah Asyifa bisa melewatinya dan mama papa, ayah dan ibu dan yang lainnya tau dan Asyifa merasa tidak sendirian lagi,"


"Namun dengan kak Rafa yang masih belum siuman membuat Asyifa tetap takut dan Asyifa berdoa pada Allah dengan ke Ikhlasan. Asyifa hanya meminta jika kak Rafa masih di ijinkan untuk bersama Asyifa makan bangunkan kak Rafa dan jika tidak Asyifa ikhlas jika Allah lebih mengungkapkan kak Rafa," lanjut Asyifa dalam ceritanya yang sudah melihat suaminya dengan memegang pipi suaminya.


"Asyifa baru menyadari selama ini. Jika semuanya hanya milik Allah, baik itu manusia dan yang lainnya dan Asyifa juga sadar jika kak Rafa juga adalah milik Allah dan keikhlasan kita akan membawa anugrah dan doa Asyifa terjawab karena Ikhlasnya Asyifa atas kehendak yang di berikan pada Asyifa," ucap Asyifa dengan matanya berkaca-kaca.


"Kamu istri yang sangat sempurna Asyifa. Dan melihat dan mendengar kata-kata kamu membuatku lega yang artinya aku tidak akan takut jika aku akan pergi dari mu lebih awal. Karena aku yakin semuanya hanya menunggu waktu kematian akan datang dan tidak tau siapa yang terlebih dahulu. Namun jika aku makan aku akan menunggu istriku yang cantik ini di surga nanti seperti keinginan kamu yang ingin kita bersama-sama di surga Allah. Keinginan kamu dalam tujuan pernikahan kita," ucap Rafa dengan air matanya yang menetes.


Asyifa mengeluarkan senyum yang juga meneteskan air mata. Namun masih menyeka air mata suaminya.


"Makasih kak Rafa sudah mendengar cerita Asyifa dan kak Rafa tidak tertidur sama sekali. Makasih untuk semua itu," ucap Asyifa yang tersenyum.


Rafa menghela napasnya perlahan kedepan dan mencium kening istrinya dengan lembut.


"Aku sangat mencintaimu Asyifa. Maaf atas ketidak sempurnaan ku menjadi seorang istri maag Asyifa," ucap Rafa dalam ucapannya yang lembut kepada istrinya.


"Asyifa juga yang tidak sempurna kak Rafa," sahut Asyifa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2