Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 202


__ADS_3

Asyifa sedang memeriksa kandungannya bersama Dokter Rani. Dokter kandungannya. Asyifa berbaring di ranjang di rumah sakit dengan Dokter yang memeriksanya dengan memutarkan alat yang tidak tau apa itu di perut Asyifa dan mata Asyifa terus menengok ke arah monitor layar melihat pergerakan bayinya.


Bukan hanya Asyifa dan Dokter yang ada di ruangan itu. Ada juga Rafa yang akhirnya menemani Asyifa. Namun sejak tadi Asyifa diam saja dan bahkan tidak bicara pada suaminya. Dengan tangan Rafa yang terus memegang tangan Asyifa.


"Dokter apa anak kami baik-baik saja?" tanya Rafa.


"Alhamdulillah sangat baik pak Rafa. Bapak dan ibu bisa lihat, bayinya begitu aktif," jawab Dokter.


"Alhamdulilah ya Allah,"sahut Rafa, "sayang anak kita sangat aktif kamu menjaganya dengan sangat baik," ucap Rafa dengan mengelus-elus pipi Asyifa. Namun tanggapan Asyifa sangat datar dan tidak biasanya yang tidak mengeluarkan senyumnya.


Rafa sepertinya menyadari istrinya yang marah kepadanya dan Rafa hanya bisa pasrah dengan sikap sang istri.


"Bu Asyifa sudah selesai," ucap Dokter.


"Baik Dokter. Makasih ya Dokter," ucap Asyifa yang duduk dan Rafa pasti membantunya. Hanya saja Asyifa tidak butuh bantuan dan tetap duduk sendiri. Lagi-lagi istrinya menunjukkan rasa marahnya membuat Rafa jadi serba salah.


"Bu Asyifa jangan lupa terus minum vitaminnya agar pertumbuhan janinnya semakin sehat dan janinnya bisa semakin aktif," ucap Dokter memberi saran.


"Insyallah Dokter," jawab Asyifa.


"Tetapi tetap ya Bu Asyifa harus tetap jaga kandungannya. Harus hati-hati terus dan pak Rafa juga harus bantu istrinya untuk menjaga kandungannya agar bayinya tetap sehat," ucap Dokter lagi-lagi memberikan saran.


"Baik Dokter. Saya pasti akan menjaga istri saya dengan baik. Dokter makasih juga ya. Sudah selalu memberikan perawatan yang baik untuk istri saya," ucap Rafa.


"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai seorang Dokter," jawab Dokter.


"Ya sudah baiklah. Kalau begitu kamu pergi dulu ya Dokter," ucap Asyifa ingin buru-buru.


"Iya Bu Asyifa," sahut Dokter dengan tersenyum. Asyifa pun turun dari ranjang dan di bantu Rafa. Tapi Asyifa tampaknya tidak mau dan mengelakkan kontak fisik dari suaminya dan Asyifa pergi begitu saja setelah bersalaman dengan Dokter.


"Asyifa pasti sangat marah kepadaku," batin Rafa dengan menghela napasnya dan Rafa pun langsung menyusul Asyifa dengan cepat.


**********


"Sayang tunggu!" panggil Rafa saat ingin memasuki mobil yang pintunya di bukakan supir yang mengantar Asyifa ke rumah sakit.


"Sayang!" ucap Rafa memegang tangan Asyifa dan Asyifa melepaskannya.


"Ada apa kak Rafa. Asyifa mau pulang. Masih banyak yang Asyifa kerjakan," ucap Asyifa tanpa melihat suaminya.

__ADS_1


"Sayang aku di depanmu, bukan di sampingmu. Jadi kalau bicara lihat aku," ucap Rafa dengan lembut.


"Kak Rafa katakan saja mau apa. Asyifa mau pulang," sahut Rafa dengan ketus.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Rafa.


"Asyifa kemari bersama supir dan kak Rafa sedang meeting. Jadi biarkan Asyifa pulang dengan supir juga," ucap Asyifa dengan ketus yang menyindir suaminya.


"Kamu marah kepadaku?" tanya Rafa.


"Sudahlah kak Rafa. Asyifa harus pulang tadi mama nitip sesuatu dan Asyifa harus beli. Nanti mama menunggu Asyifa terlalu lama," ucap Asyifa yang tidak mau lama-lama bicara dengan suaminya.


"Jadi biarkan Asyifa pulang," ucap Asyifa lagi.


"Pulang bersamaku!" tegas Rafa.


"Mau pulang sendiri," sahut Asyifa menolak.


"Apa sekarang istriku ini sedang menolak keinginan suaminya. Apa ingin menjadi istri durhaka dan lebih memilih pulang bersama orang lain dari pada suaminya? kamu tidak takut kualat karena tidak mendengarkan kata suami sendiri?" tanya Rafa dengan alisnya yang terangkat.


Asyifa terdiam sejenak dan akhirnya pergi dari hadapan Rafa dan tidak memasuki mobil yang di setiri supir. Namun Asyifa menuju mobil Rafa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Kamu pulanglah. Aku akan mengantar Asyifa!" ucap Rafa pada supir tersebut.


"Baik tuan," sahut supir tersebut yang langsung memasuki mobil dan Rafa menyusul istrinya yang ngambek. Tetapi masih untung Asyifa mau pulang bersama Rafa. Memang begitulah sulitnya menjadi istri yang Sholeha yang sangat takut kualat dari suaminya. Takut durhaka jadi kalau ngambek pun tidak bisa suka-suka


"Masuklah sayang," ucap Rafa dengan lembut yang membukakan pintu mobil. Dengan ketus Asyifa pun memasuki mobil dan Rafa menyusul dengan duduk di kursi pengemudi.


Rafa menoleh kesampingnya dan melihat Asyifa yang wajahnya di tekuk yang cemberut dengan melihat lurus kedepan.


"Ayo cepat jalan. Katanya mau pulang," ucap Asyifa dengan kesal. Namun Rafa tetap tidak mau jalan dan malah melihat Asyifa terus.


"Isssss kak Rafa jalan. Asyifa nanti pulang sama supir nih," rengek Asyifa dengan kesalnya pada suaminya itu.


"Maafkan aku Asyifa," ucap Rafa dengan lembut.


"Kita pulang. Jangan malah membahas hal lain," ucap Asyifa dengan kesal.


"Kita tidak akan pulang sebelum aku mendengar maaf dan melihat senyum istriku," ucap Rafa. Asyifa diam saja dengan wajahnya yang tetap konsisten dengan ngambeknya.

__ADS_1


"Sayang!" tegur Rafa.


"Kak Rafa kenapa bohongi Asyifa. Katanya ada meeting dengan klien sampai-sampai tidak bisa menemani Asyifa untuk cek kandungan. Kak Rafa kan sudah janji mau menemani Asyifa. Tetapi malah bohong pada Asyifa dan Asyifa lihat kak Rafa malah ada di rumah sakit. Apa coba maksudnya?" tanya Rafa dengan kesal yang mengeluarkan rasa kesalnya pada suaminya.


"Maaf sayang aku tidak bermaksud," ucap Rafa merasa bersalah.


"Bagaimana mungkin tidak bermaksud. Kak Rafa jelas udah bohong pada Asyifa," ucap Asyifa.


Rafa mendekati istrinya dengan memegang pipi Asyifa, "maafkan aku. Aku akan menerima hukuman apapun atas kesalahan yang sudah membuat istriku kecewa," ucap Rafa dengan lembut.


"Kalau begitu jujur pada Asyifa. Apa yang kak Rafa sembunyikan dari Asyifa?" tanya Asyifa langsung to the point. Rafa terdiam mendengarnya.


"Kenapa diam? kak Rafa tidak mau jujur pada Asyifa," sahut Asyifa dengan kesal pada suaminya itu.


"Asyifa tidak ada yang di sembunyikan. Jadi tidak ada yang harus di katakan," ucap Rafa yang masih saja berbohong dan tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak Rafa periksa apa pada ayah. Ini berarti sudah yang ke-2 kali Asyifa tidak tau dan atau selama ini kak Rafa sering periksa dan Asyifa tidak tau apa-apa?" tanya Asyifa dengan dugaannya yang berbicara menatap suaminya. Apa kah ada kebohongan atau tidak.


"Tetap tidak mau menjawab. Berarti kak Rafa bohong pada Asyifa dan pasti ada yang di sembunyikan dari Asyifa," ucap Asyifa yang melepas tangannya dari Rafa. Namun Rafa kembali memegangnya dan bahkan memegang ke-2 tangan istrinya itu dengan menatap Asyifa dalam-dalam.


"Apa kamu tidak mempercayai ku?" tanya Rafa.


"Kak Rafa jangan bertanya dan sementara jawaban Asyifa tidak di jawab," ucap Asyifa dengan tegas.


"Sayang aku sudah mengatakan tidak menyembunyikan apa-apa. Kenapa tidak percaya. Aku hanya memeriksa kesehatan rutin seperti biasanya dan aku tidak tidak memberitahu kamu itu karena hal itu biasa dan tidak ada yang perlu di beritahu. Jadi tidak ada hal lain sayang," ucap Rafa dengan penjelasan untuk meyakinkan istrinya.


"Tapi Asyifa merasa kak Rafa sedang menyembunyikan sesuatu dari Asyifa," ucap Asyifa yang sangat yakin dengan hatinya.


"Tetapi tidak ada yang aku sembunyikan," sahut Rafa yang tetap konsisten dengan kebohongannya. Asyifa terdiam dengan penuh keraguannya.


"Sayang percayalah kepadaku. Jika ada sesuatu aku pasti akan mengatakannya. Tetapi ibu memang tidak ada apa-apa. Jadi apa yang mau di ceritakan," ucap Rafa yang berusaha meyakinkan Asyifa.


"Kak Rafa tidak bohongkan?" tanya Asyifa memastikan. Rafa menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk istrinya.


"Maaf sudah membuat kamu kecewa. Tetapi sungguh aku tidak berbohong Asyifa," ucap Rafa. Asyifa diam saja antara percaya atau tidak pada suaminya.


"Maafkan aku Asyifa. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu marah, kecewa dan aku juga tidak bermaksud untuk berbohong. Namun ini semua demi kebaikan kamu," batin Rafa yang sebenarnya sangat menyesal melakukannya pada istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2