
"Assalamualaikum!" sapa Rafa yang memasuki kamar.
"Walaikum salam," sahut Asyifa yang sedang beres-beres tempat tidur, "kak Rafa sudah pulang?" tanya Asyifa yang menghampiri suaminya dan mencium punggung tangan suaminya, "tumben kak Rafa sore-sore sudah pulang?" tanya Asyifa heran. Rafa langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Bagaimana tidak mau pulang. Jika di pikiranku hanya ada kamu. Jadi bawaannya harus pulang cepat-cepat, karena sangat merindukan mu," jawab Rafa yang membuat Asyifa tersenyum mendengarnya.
"Benarkah seperti itu?" tanya Asyifa yang melonggarkan pelukannya dan melihat suaminya itu.
"Apa ada kebohongan di wajahku?" tanya Rafa dengan alisnya yang terangkat.
Asyifa menggeleng sembari tersenyum dengan berjinjit dan langsung mencium pipi suaminya dengan lembut, "mau makan tidak tadi Asyifa sudah memasak?" tanya Asyifa dengan lembut.
"Masak apa?" tanya Rafa.
"Makanan kesukaan kak Rafa," jawab Asyifa.
"Baiklah kalau begitu. Kita makan berdua ya," sahut Rafa.
"Oke. Asyifa siapkan dulu ya," ucap Asyifa.
"Makannya di teras kamar ya," ucap Rafa.
"Baiklah tapi kak Rafa bantu Asyifa ya," ucap Asyifa.
"Pasti sayang," sahut Rafa dengan memegang ke-2 pipi Asyifa dan kembali mencium kening Asyifa. Setelah itu Asyifa pergi terlebih dahulu keluar dari kamar dan Rafa bersih-bersih dulu sebelum membantu istrinya untuk membawa makanan yang akan mereka nikmati di teras kamar.
*********
Lucky, Vanya, Zee dan Abian sedang menikmati makan bersama. Akhirnya orang tua Abian tiba di jakarta dan mereka langsung makan. Tetapi makan di luar dengan mereka yang sama-sama saling mengobrol satu sama lain.
"Mah lain kali. Mama harus cobain makanan Zee ya," sahut Zee tiba-tiba.
"Bukannya kamu tidak bisa memasak Zee," sahut Lucky dengan nada becandaan yang membuat Abian dan Vanya tersenyum.
"Iya juga sih. Tapikan Zee mau belajar memasak. Apa mama dan papa lupa. Kalau Zee itu punya kakak ipar yang sempurna. Jadi kalau soal memasak itu bukan hal yang sulit. Nanti tinggal minta ajarin," sahut Zee.
__ADS_1
"Tidak usah Zee. Tidak bisa memasak bukan hal yang besar. Mama juga tidak bisa memasak dan mama sama seperti kamu waktu awal-awal tidak bisa memasak dan ingin belajar memasak karena baru-baru menikah. Tetapi tetap aja masakan mama tidak cocok di lidah papa Abian. Jadi ya sudah mama tidak melanjutkan misi belajar itu lagi," sahut Vanya.
"Lalu apa salahnya mah. Kalau Zee mau lebih berusaha kepadaku. Dari pada mama dulu yang usahanya tidak sepenuhnya untuk papa," sahut Abian.
"Papa setuju sama kamu Abian. Jadi kalau Zee lebih ingin semangat. Maka tidak ada salahnya sama sekali. Abian sangat beruntung punya istri yang mau berusaha," sahut Lucky yang memuji menantunya itu.
"Kalau begitu Zee minta suport mama dan papa dan juga kak Abian. Semoga kedepannya Zee bisa menjadi istri yang jauh lebih baik lagi dari pada sebelumnya," ucap Zee.
"Kalau masalah suport itu pasti Zee. Kamu jangan khawatir," sahut Vanya.
"Dan iya Zee makasih ya atas kebesaran hati kamu menerima kembali Abian dan keluarga kami," sahut Lucky.
"Sudahlah pah. Jangan membahas hal itu. Sekarang Zee sama kak Abian masih sama-sama belajar dalam memahami rumah tangga. Agar kedepannya jauh lebih baik dan sama-sama bisa mengatasi masalah dengan kepala dingin," ucap Zee yang membuat Abian tersenyum mendengarnya.
"Beruntung sekali ya Abian kamu memiliki istri yang sangat pintar seperti ini dan mau berusaha seperti ini," ucap Vanya.
"Mama benar aku sangat beruntung," sahut Abian yang memegang tangan Zee yang berada di atas meja yang membuat Zee tersenyum. Suaminya semakin lama semakin sweet dan bagaimana dia tidak sangat bahagia.
"Kita kembali lanjutkan makannya," ucap Lucky. Mereka mengangguk dan kembali melanjutkan makan mereka dengan Abian dan Zee yang sama-sama tersenyum yang seperti sangat bahagia sekali. Namanya juga pengantin baru jadi sangat wajar. Jika ke-2nya begitu bahagia.
Dia pasti merasa seharusnya dia yang ada di sana. Lalu kenapa bukan dia yang ada di sana. Kenapa harus Zee yang menempati tempatnya.
"Apa kau tidak suka melihat mereka bersama?" tiba-tiba ada yang bertanya pada Syira membuat Syira menoleh kesebelahnya dan ternyata suara pria itu adalah suara Dedi.
"Kau!" lirih Syira, "apa yang kau lakukan di sini?" tanya Syira.
"Ini tempat umum bukan. Jadi seharusnya tidak menjadi pertanyaan kenapa aku harus ada di sini," jawab Dedi.
"Kau mengikuti ku?" tanya Syira membuat Dedi tertawa kecil.
"Hey Syira untuk apa aku mengikutimu. Aku seperti tidak punya pekerjaan saja," sahut Dedi gelang-gelang.
"Kau memang tidak ada pekerjaan dan seharusnya tidak mencampuri urusanku," ucap Syira yang langsung pergi dari hadapan Dedi.
"Syira tunggu!" panggil Dedi yang mengejar Syira keluar dari Restauran.
__ADS_1
Zee yang makan tiba-tiba melihat ke arah pintu yang seperti melihat sesuatu.
"Ada apa Zee?" tanya Abian yang melihat sang istri tampak bengong.
"Tidak kak tidak apa-apa. Sepertinya tadi Zee melihat seseorang yang Zee kenal di sana," jawab Zee.
"Tidak ada siapa-siapa sama sekali," sahut Abian.
"Iya Zee hanya salah lihat saja," jawab Zee.
"Ya sudah kamu makan lagi," ucap Abian. Zee menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
***********
Kebahagiaan juga di rasakan Asyifa dan juga Rafa yang mereka sedang menikmati makan di sore hari dengan romantis. Ya ada saja cara supaya ke-2nya terlihat sangat romantis dan penuh dengan kedekatan yang makan saling bergantian menyuapi dengan candaan sedikit yang mencairkan suasana di antara ke-2nya.
"Asyifa sangat suka dengan kak Rafa yang pulang lebih awal," ucap Rafa dengan tersenyum pada suaminya.
"Sama Asyifa aku sangat bahagia. Bahkan begitu bahagia," sahut Rafa yang makan dengan terus menatap sang istri.
"Oh iya kak Rafa tadi siang Asyifa kerumah ibu dan ayah kebetulan makan siang di rumah. Ayah bilang kak Rafa ke rumah sakit untuk periksa. Memang kak Rafa kenapa?" tanya Asyifa tiba-tiba yang membuat Rafa terdiam dan yang tadinya ingin minum malah tidak jadi dan melihat ke arah istrinya yang menunggu jawabannya.
"Oh itu tidak ada apa-apa?" jawab Rafa dengan bohong.
"Lalu periksa apa?" tanya Asyifa yang pasti kepo dengan urusan sang suami.
"Hanya kesehatan biasa saja. Kan belakangan ini aku sering lelah dan hanya periksa biasa saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Atau hal yang serius," ucap Rafa dengan apa adanya.
"Sungguh hanya seperti itu?" tanya Asyifa yang ragu dengan jawaban sang suami.
"Benar sayang. Lagian ayah juga tidak mengatakan apa-apakan. Jadi itu artinya memang tidak ada apa-apa. Kau hanya cek kesehatan dan semua baik-baik saja. Kamu jangan Khawatir," ucap Rafa yang mencoba untuk meyakinkan sang istri.
"Baiklah semoga kak Rafa memang tidak kenapa-kenapa!" ucap Asyifa yang berusahalah untuk berpikir positif dan Rafa mengangguk tersenyum. Dia juga sebenarnya sangat cemas masalah dirinya. Namun kalau dia cemas bagaimana dengan istrinya. Jadi dia harus tenang dulu.
"Ayo makan lagi," ucap Rafa. Asyifa mengangguk dan kembali menyuapi suaminya.
__ADS_1
Bersambung