
"Alhamdulillah jika memang tidak ada permasalahan untuk pernikahan kalian berdua. Keluarga kami sangat berterima kasih dengan kebijakan kamu Abian," sahut Xander yang merasa lega.
"Zee kamu sendiri bagaimana Zee. Apa kamu keberatan atau bermasalah dengan pernikahan kamu dan Abian?" tanya Vanya yang sejak tadi tidak mendengar tanggapan Zee.
Zee melihat ke orang-orang yang ada di sekitarnya dan juga melihat Abian yang sama sekali tidak melihat dirinya.
"Apa kamu keberatan Zee?" tanya Shofia.
"Semuanya sudah terlanjur dan tidak ada yang bisa berubah," jawab Zee yang lagi-lagi membuat napas mereka kembali lega.
"Tapi Abian, Zee ini masih kuliah. Apa permasalah itu tidak akan memberatkan apa-apa? dan masalah pernikahan juga Zee pasti tidak tau apa-apa. Karena Zee ini juga anaknya manja dan Tante takut kalian berdua tidak bisa menyatukanya diri kalian," ucap Shofia yang harus terang-terangan mengatakan bagaimana putrinya. Karena dia juga tidak mau orang lain akan kecewa.
"Kamu harus tau Abian, Zee bangunnya juga suka siang, malas kuliah, tidak bisa memasak dan mengurus rumah apa lagi. Karena Zee kamar saja tidak bisa di urusnya. Jadi untuk menjadi seorang istri Zee ini masih sangat jauh," ucap Shofia begitu jujurnya.
"Mama apa-apaan sih bikin malu aja. Apa harus mama menceritakan semuanya. Kalau begitu orang tuanya kak Abian juga tidak akan suka padaku," batin Zee yang bingung wajahnya yang akan di taruh di mana.
"Mama, semua itu perlu belajar dan jika menjadi istri Zee akan belajar pelan-pelan. Asyifa juga dulu seperti itu," sahut Asyifa yang paling membantu Zee dari rasa malu.
"Benar kata Asyifa mbak. Tidak ada masalah untuk hal itu dan Zee bisa belajar dan lagian yang paling penting adalah Abian yang bisa membimbing Zee dengan baik," sahut Vanya yang kelihatannya santai mendengarkan kekurangan dari menantunya itu.
"Saya sebagai suaminya yang akan menuntun Zee dan itu sudah kewajiban saya dan iya Zee juga akan tinggal bersama sama saya," sahut Abian yang membuat Zee terkejut dengan melihat Abian serius.
"Apa maksud kak Abian?" tanya Zee.
"Kita sudah menikah dan seharunya tinggal bersama bukan," ucap Abian.
"Zee Tante dan Om ada rumah di Jakarta dan kami berdua ini lebih sering menghabiskan waktu di New Zealand ketimbang di Indonesia. Jadi kamu sama Abian bisa menempati rumah itu. Jangan khawatir ada juga pekerja di rumah itu. Jadi sama saja seperti biasa. Meski menjadi istri tidak harus kamu melayani keperluan Abian. Kamu bisa melakukan apa yang bisa kamu lakukan dan ingat jangan memaksakan diri," ucap Vanya.
"Mungkin karena Zee putri kami yang terakhir. Jadi dia sangat kaget. Jika sangat cepat berpisah dari orang tuanya. Jadi untuk beberapa hari ini alangkah baiknya Abian kamu tinggal di rumah kami dulu sampai Zee siap untuk tinggal bersama kamu di tempat lain," sahut Xander yang mengambil solusi.
"Tidak masalah Abian, Zee masih sangat muda, dia wajar seperti itu. Kamu tinggallah bersama keluarganya untuk sementara waktu saja," sahut Lucky yang setuju.
"Maaf tapi saya tidak bisa. Saya datang kemari membawa orang tua saya yang pasti untuk menjemput Zee dan jika masih belum siap. Lalu untuk apa adanya penyesuaian," sahut Abian dengan tegas yang membuat semuanya terdiam dengan saling melihat yang pasti sama-sama bingung dengan apa yang harus di lakukan mereka.
Zee juga pasti berat jika harus tinggal bersama Abian.
__ADS_1
"Zee kamu istriku dan sudah seharusnya kamu mengikuti suamimu dan bukan malah ada kata-kata tidak siap," ucap Abian menegaskan membuat Zee menelan salivanya yang terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
*********
Keputusan akhirnya di putuskan dan Zee pun tinggal bersama Abian. Hari di mana Abian membawa orang tuanya. Haru itu juga tanpa ada senggang waktu Zee keluar dari rumah orang tuanya dan ikut kerumah Abian dan barusan saja Asyifa dan Rafa mengantarkan adiknya kerumah suaminya.
Sebagai kakak pasti berat bagi Rafa membiarkan adiknya tinggal bersama pria yang baru menikahinya. Sangat terbukti Rafa yang sejak tadi menyetir terlihat murung yang mempunyai banyak beban pikiran.
"Kak Rafa," tegur Asyifa memegang tangan suaminya.
"Hmmm," Asyifa menjawab dengan deheman saja.
"Kak Rafa baik-baik aja?" tanya Asyifa.
"Hanya kepikiran Zee saja. Aku tidak tau apa dia bisa menghadapi kehidupannya yang baru atau tidak," jawab Rafa dengan jujur.
"Asyifa yakin Zee pasti bisa dan tadi Asyifa sudah mengatakan pada Zee kalau ada apa-apa langsung kabari Asyifa. Jadi kak Rafa tidak perlu khawatir. Karena Asyifa yakin Zee akan baik-baik saja," ucap Asyifa.
"Iya aku harus percaya. Jika Zee akan baik-baik saja. Aku hanya sedikit khawatir Asyifa. Karena pernikahan mereka yang seperti itu," ucap Rafa.
"Kita tidak tau kak Abian. Bagaimana jodoh itu memberi takdir dan mungkin ini jodohnya. Jalannya mungkin seperti ini. Tetapi ini pasti sudah yang terbaik. Allah sudah membuat skenarionya dan Asyifa yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap Asyifa yang berbicara sangat lembut yang membuat Rafa merasa tenang.
"Jadi kak Rafa sudah tenang?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Asyifa boleh minta sesuatu tidak?" tanya Asyifa.
"Apa itu. Kamu tumben sekali meminta sampai membuatku kaget," ucap Rafa.
"Tidak banyak kok," ucap Asyifa.
"Baiklah katakan apa yang kamu mau?" tanya Abian.
"Asyifa tiba-tiba ingin barbeque," jawab Asyifa.
"Hanya itu?" tanya Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah. Tetapi jangan banyak-banyak ya. Soalnya makan daging banyak nanti takutnya baby nya kenapa-kenapa," ucap Rafa dengan khawatir.
"Iya kak Rafa," jawab Asyifa yang pasti sudah tau.
"Kalau begitu kita cari Restaurantnya sekarang," ucap Rafa.
"Kita beli bahannya saja. Sialnya Asyifa barbeque nya di teras kamar, sembari melihat bintang yang indah dan hanya berdua dengan kak Rafa," ucap Asyifa.
"Hanya berdua saja?" tanya Rafa memastikan. Asyifa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah sayang kalau begitu. Aku akan menuruti apa yang kamu mau," ucap Rafa.
"Kak Rafa tidak konsisten. Terkadang manggil Asyifa, terkadang manggil sayang," ucap Asyifa. Membuat Rafa tersenyum.
"Jadi mau di panggil apa?" tanya Rafa.
"Ya jangan beda, kalau sayang ya sayang, kalau nama ya nama," ucap Asyifa.
"Baiklah, aku panggil saja sayang. Kamu suka?" tanya Rafa.
"Asyifa suka sangat indah dan manis. Tetapi kak Rafa manggil sayangnya hanya kita berdua saja ya. Jangan kalau ada orang lain panggil Asyifa sayang," ucap Asyifa.
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Asyifa malu," ucap Asyifa yang membuat Rafa bertambah gemas dengan istrinya itu.
"Kenapa harus malu. Kita kan suami istri dan banyak kok suami istri yang saling memanggil seperti itu," ucap Rafa.
"Tetapi tetap aja Asyifa malu," jawab Asyifa.
"Baiklah sayang aku hanya memanggil panggilan cinta itu. Saat kita berdua saja," ucap Rafa membuat Asyifa mengangguk-angguk dengan tersenyum.
"Makasih kak Rafa," ucap Asyifa.
"Sama-sama sayang," sahut Rafa yang memberikan pipinya pada Asyifa dan Asyifa yang mengerti langsung mencium pipi Rafa. Namun Rafa jahil dengan mengarahkan bibirnya yang akhirnya Asyifa mengecup bibit suaminya.
__ADS_1
"Kak Rafa lagi nyetir, fokus," ucap Asyifa mengingatkan. Rafa hanya tersenyum saja dengan manjanya istrinya yang membuatnya bahagia.
Bersambung