
Dari apa yang di katakan Asyifa sebelumnya membuat Syira yang berada di kamar duduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahnya dengan beberapa kali. Semua yang di katakan Syira pasti sampai keotaknya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka sedikit kuat membuat Syira melihat ke arah pintu kamar dan ternyata Dedi yang masuk. Dedi langsung menghampiri Syira dengan berdiri di depan Syira dan membuka satu persatu kancing kemejanya yang membuat Syira kaget.
"Dedi apa yang kamu lakukan?" tanya Syira panik.
"Bukannya kita sudah menikah dan seharunya kita melakukannya," jawab Dedi dengan suara beratnya yang terlihat emosi.
"Kamu tidak bisa melakukan itu kepadaku Dedi. Kita memang sah menikah. Tetapi perbuatan itu tidak bisa kita lakukan," sahut Syira yang terlihat panik dan berbicara dengan takut-takut.
"Kenapa? bukannya barusan aku menikahi mu dan sudah kewajibanmu untuk melayani suamimu," ucap Dedi dengan wajahnya yang memerah yang melepas pakaiannya membuat Syira memalingkan wajahnya ke samping.
"Kau tidak ingin melakukannya. Maka aku akan memaksamu. Jika kau pikir menikah denganku semudah itu maka semua itu salah," ucap Dedi.
"Kau tau hukum jika melakukan hal itu. Kau tidak bisa menyentuhku. Karena aku sedang hamil dan hamil..."
"Bukan anakku," sahut Dedi memotong pembicaraan Syira, " Itu yang kebenarannya bukan.Tetapi kau sudah mengarang cerita menuduhku dan membuatku adalah ayah dari bayi yang kau kandung dan anggap saja seperti itu. Jadi tidak ada yang salah jika kita melakukan hubungan suami istri," tegas Dedi.
Syira terdiam hanya penuh dengan tangisan saja.
"Ada apa Syira? bukan ini yang kau inginkan! kau menginjak semua ini terjadi," bentak Dedi membuat Syira terkejut dengan air matanya yang keluar.
Syira diam membuat Dedi mencengkram pipi Syira sampai wajah Syira bertatapan langsung dengan Dedi.
"Apa kau puas melakukan semua ini! apa kau puas sudah memanfaatkan ku dari hasil perbuatan kotormu. Kau menghindari bicara kepadaku agar semua niatmu untuk menutupi aib mu lancar dan sekarang semuanya sudah sesuai dengan keinginan mu. Kau sudah mendapatkan suami sesuai dengan ekspektasi mu dengan cara kotormu, kau wanita berpendidikan tetapi kelakukan mu seperti wanita yang tidak punya agama," bentak Dedi melepas kasar cengkramannya membuat tubuh Syira jatuh keranjang dengan terhempas kasar dan Syira pasti sudah menangis.
__ADS_1
"Jadi apa lagi. Apa yang kau tunggu Syira. Bukannya kau sangat menginginkan semua ini. Jadi hentikan tangisan air mata buayamu itu," tegas Abian dengan kemarahannya yang seperti dirasuki setan dan Dedi bahkan menindih tubuh Syira dengan telanjang dada dan mencengkram ke-2 lengan Syira yang sejajar dengan kepala Syira.
"Aku mohon Dedi jangan lakukan itu. Aku tidak ingin melakukan dosa semakin banyak. Apa yang kita lakukan hanya salah. Walau pernikahan kita sah. Tetapi ini tidak benar dan kamu tau itu," ucap Syira dengan air matanya yang mengalir deras dengan suaranya yang terisak.
"Iya aku tau itu dan aku tidak peduli dengan hal itu. Karena kau sendiri yang mengatakan aku ayah bayi itu dan kita sudah menikah secara sah," tegas Dedi dan Syira hanya berusaha menghentikan dengan tangisannya sampai Dedi melihat wajah wanita yang penuh dengan air mata.
"Kau tau aku begitu sangat membencimu Syira. Kau wanita yang sangat mengerti syariat, kau menutup dirimu dengan pakaian mu yang suci. Tapi pada nyatanya kau wanita kotor dan bukan hanya tubuhmu tapi hatimu sangat busuk?" maki Dedi dengan kata-kata kasarnya yang membuat mata Syira terpejam yang seolah pantas mendapatkan semua perkataan itu.
"Sangat hina diriku. Jika harus menyentuh wanita sepertimu," kejam Dedi yang langsung berdiri dari tubuh Syira. Mungkin bagi Dedi mengeluarkan kata-kata seperti itu sudah sedikit membuat amarahnya terluapkan dan Dedi tidak perduli Syira sakit hati atau tidak.
Syira hanya menangis dengan semua yang di telinganya dengan hatinya yang tertusuk, tersayat perih. Dedi mengambil pakaiannya dari lantai dan memakainya kembali
"Maafkan aku!" lirih Syira dengan suara pelannya membuat Dedi melihat kearah Syira yang masih tergelatak di atas ranjang.
"Berani sekali kau mengatakan hal itu. Kau pikir semudah mengampuni perbuatanmu. Kau sudah memfitnah ku Syira demi aib mu. Kau membuat ibu menangis dan semua orang seolah percaya dengan semua yang kau katakan dan sekarang kau meminta maaf setelah aku begitu hina, begitu buruk di mata semua orang," teriak Dedi yang semakin panas mendengar perkataan maaf dari Syira.
Syira duduk dan berdiri menghampiri Dedi.
"Oh. Jadi karena itu kau menggunakan kesempatan itu. Kau marah karena aku tidak jadi menikahimu dan kau langsung menuduhku yang sudah menghamilimu," teriak Dedi.
"Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak tau harus melakukan apa. Aku mohon Dedi tolong jangan perlakukan ku seperti ini. Aku janji setelah anak ini lahir kita akan berpisah aku tidak akan menuntut apa-apa darimu," ucap Syira.
"Wanita sakit jiwa," sahut Dedi menekan suaranya, "Sudah kuduga ini yang kau rencanakan. Kau membuat drama sendiri dengan melibatkan kan ku. Semua sesuai dengan apa yang kau atur. Aku tidak tau Syira apa dosaku sampai aku harus bertemu dengan wanita seperti mu. Wanita yang dari penampilannya begitu sangat alim, sangat taat ibadah. Tetapi ternyata selain menjadi orang ke-3 dalam rumah tangga orang lain dia juga seorang pezinah dan tukang fitnah dan sekarang wanita ini yang sok suci ini menolak untuk di sentuh dengan alasan katanya hamil dan itu sama saja haram. Apa kau tidak malu dengan mengatakan haram. Kau Berkaca Syira dan lihat siapa dirimu," ucap Dedi menekan suaranya dengan menunjuk tepat di wajah Syira yang mengeluarkan semua makiannya pada Syira.
"Hina aku dengan sesukamu Dedi. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku tau apa yang aku lakukan merugikan dirimu. Tapi aku berani melakukan ini karena pada awalnya kau juga yang menawarkan diri untuk menikah denganku," ucap Syira membela dirinya.
Mendengarnya Dedi berdecak kesal dengan mengusap kasar mulutnya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku tidak menawarkan diri. Karena melihat wanita yang sok suci ini hampir bunuh diri. Aku tidak tau apa jangan-jangan waktu itu aku juga sedang di jebak oleh tipu maksiatmu dan sampai membuatku simpatik kepadamu," ucap Dedi dengan sinis.
"Lalu sekarang kenapa tidak melakukan Syira. Alangkah baiknya kalau bunuh diri dan jangan menjadi beban dalam hidupku," ucap Dedi yang penuh tawaran.
"Kau mau bunuh diri. Biar aku membantumu," sahut Dedi yang melihat ada pisau dan langsung mengambilnya.
"Ayo akhir hidupmu, tidak akan ada yang mencegahmu," desak Dedi memberikan dengan paksa pisau itu pada Syira.
"Kenapa diam saja lakukan!" bentak Dedi yang memaksa Syira dan Syira menolak sampai pisau itu terjatuh kelantai.
"Kau sudah membuatku gila Syira!" teriak Dedi, "semua yang kau lakukan mengahancurkan hidupku dan kau juga tau akibat dari perbuatanmu. Kau benar-benar wanita yang sangat jahat, sangat picik. Kau yang berzina dengan orang lain dan aku yang menjadi tumbalnya dan katamu apa sampai anak itu lahir," ucap Dedi menjeda omongannya.
"Dengar Risya!" teriak Dedy menggoyangkan ke-2 bahu Risya, "tidak semudah yang kau pikirkan. Kau sudah membuatku hidup seperti di neraka dan maka kau akan merasakannya. Orang yang sangat hina seperti mu pantas mendapatkannya dan kau akan mati perlahan-lahan dengan semua perbuatan yang kau ciptakan sendiri," tegas Dedi yang menjatuhkan kasar Syira kembali ke atas ranjang.
"Kau akan menderita di tanganku," tegas Dedi yang langsung pergi meninggalkan Syira dan Syira hanya menangis terisak-isak di atas tempat tidur.
Akibat perbuatannya sendiri dia harus menerima semua konsekuensinya dan hinaan juga harus di terimanya. Karena semua itu adalah keinginannya dan Dedi juga tidak akan membiarkan Syira hidup tenang.
Syira hanya bisa menangis dengan senggugukan di dalam kamarnya yang memeluk tubuhnya yang mana Syira yang terbaring miring dengan seperti bayi di dalam kandungan yang menangis senggugukan.
"Maafkan aku, maafkan aku atas kebodohan yang aku lakukan. Aku benar-benar minta maaf, benci aku dengan sesuka mu, aku pantas mendapatkannya, benci aku dengan semaumu aku pantas Dedi mendapatkan semua itu," batin Syira dengan tangisannya.
Sementara Dedi yang keluar dari kamar yang memelih untuk menenangkan dirinya di taman belakang di kolam renang dengan wajahnya yang masih memerah dengan penuh kemarahan yang begitu besar.
"Sial!" umpat Dedi dengan emosi. Kau benar-benar menghancurkan hidupku Syira. Kau itu sungguh wanita yang sangat jahat Syira. Kau itu picik," maki Dedi. Tidak cukup memakai Syira di depan Syira. Dedi juga memakainya, menghina Syira di belakang Syira. Diamnya dia selama ini cukup dan meluapkan kemarahannya pada Syira hal yang wajar.
"Kau akan menyesal Syira karena sudah bermain-main denganku. Kau pikir semua sesuai dengan apa yang kau bayangkan. Aku akan membuatmu jera Syira. Kau akan menderita Syira," batin Dedi dengan mengepal tangannya yang begitu penuh dendam pada wanita yang baru saja di nikahinya itu.
__ADS_1
Seperti yang di katakannya. Awalnya dia menyukai Syira. Namun dengan semua yang di lakukan Syira tidak ada yang bisa di sukainya dan yang adanya dia begitu jijik kepada Syira dan sekarang sangat membenci Syira.
Bersambung