
Malam ini akhirnya Asyifa dan Rafa barbeque berduaan di teras kamar mereka. Tadi sebelum kembali mereka membeli bahan-bahan yang akan di masak dan sekarang tinggal bakar-bakar bersama suaminya.
Rafa sudah siap-siap dengan dengan semua alat dan bahkan sudah mulai membakarnya dan Asyifa yang baru datang yang hanya menggunakan dress piyama panjang sampai ke lututnya tanpa menggunakan hijab dengan membawa ceret kaca dan 2 gelas.
"Asyifa sudah siapkan minumnya," ucap Asyifa.
"Oh iya benarkah, ayo bawa kemari," sahut Rafa Asyifa tersenyum dan mendekati suaminya yang sudah mulai melakukan acara masak memasak.
"Harum sekali aromanya," ucap Asyifa dengan menghirup asap pembakaran.
"Jangan berlebihan," sahut Rafa.
"Tidak berlebihan kak Rafa," jawab Asyifa yang tersenyum lebar.
"Ini sudah matang coba kamu cobain, apa riasanya seharum aromanya," ucap Rafa yang memberikan pada istrinya daging yang di bakarnya menggunakan sumpit dan pasti meniupnya terlebih dahulu sebelum memakannya.
"Pelan-pelan sayang masih panas sedikit," ucap Rafa. Asyifa mengangguk dan mulai memakannya.
"Enak?" tanya Rafa.
"Iya sangat enak," jawab Asyifa.
"Kamu coba lagi yang lain," ucap Rafa. Asyifa mengangguk.
Asyifa yang duduk di samping Rafa yang sejak tadi bakar-bakar membuat Asyifa tersenyum dan terus melihat suaminya. Usaha sang suami untuk memberinya kebahagiaan memang tidak main-main. Bagaimana Asyifa tidak menjadi istri yang paling bahagia.
Melihat sang suami berkeringat membuat Asyifa melap keringat yang ada di dahi suaminya, Rafa hanya tersenyum melihat perhatian kecil itu.
"Maklum Asyifa. Panas-panasan, jadi pasti sangat panas," ucap Rafa.
" Kak Rafa melakukannya untuk Asyifa dan bayi kita. Makasih kak Rafa sudah sangat baik pada Asyifa dan anak kita," ucap Asyifa.
"Itu peran suami dan peran calon ayah. Tidak perlu untuk berterima kasih," ucap Rafa.
"Iya kak Rafa," sahut Asyifa dengan mengangguk tersenyum pada Rafa.
"Nih coba lagi," ucap Rafa yang memberikan lagi pada Asyifa. Asyifa mengangguk dan lagi-lagi memakan apa yang di berikan.
__ADS_1
Asyifa memang bertugas untuk makan dan Rafa bertugas untuk memasak. Ya keduanya sama-sama punya peran masing-masing. Dan banyak cara yang di lakukan mereka untuk mempunyai waktu untuk berduaan. Mengingat Rafa juga sibuk dengan banyak pekerjaannya.
****************
Shofia, Xander, Shania dan Ardi sedang berada di ruang tamu yang seperti biasa hanya berbincang-bincang saja.
"Seperti bau daging di bakar," ucap Shofia yang mengendus-endus.
"Asyifa sama Rafa lagi barbeque di atas," jawab Shania yang tau apa yang di kerjakan adik dan asik iparnya itu.
"Tumben sekali mereka barbeque," ucap Xander.
"Ya ampun pah, palingan Asyifa lagi ngidam, itu udah biasa," sahut Shofia.
"Ya papa sangat senang dengan perubahan Rafa yang semakin lama semakin menjadi suami yang baik untuk Asyifa," ucap Xander.
"Bahkan Rafa sangat bucin pada Asyifa. Lihatlah apa-apa mereka itu selalu ingin berdua. Tidak Asyifa tidak Rafa sama-sama nempel seperti magnet. Ya harap maklumlah mereka berdua, benar-benar sangat lengket," ucap Shania.
"Itu karena kesabaran Asyifa menghadapi Rafa dan mama tidak salah pilih menantu," ucap Shofia.
"Iya mama benar. Padahal aku juga dulu sangat ragu saat mama menjodohkan Asyifa dengan Rafa. Ternyata rasa ragu itu tidak perlu di takutkan. Karena sampai sekarang pernikahan mereka Alhamdulillah semakin baik," sahut Shania.
"Iya sayang kamu benar," sahut Shania.
"Kita doakan yang terbaik untuk pernikahan mereka dan pasti Zee dan Abian juga sudah menikah semoga saja mereka juga nanti bisa seperti Rafa dan Asyifa," ucap Xander dengan penuh garapannya.
"Itu pasti pah, kita doakan saja yang terbaik. Aku melihat Abian anak baik dan pasti Abian akan menjadi imam yang baik untuk Zee seperti apa yang di katakannya pada kita kemarin," sahut Ardi.
"Iya kita doakan saja. Tidak menyangkal semua anak mama sudah menikah," ucap Shofia yang pasti sangat lega sebagai seorang ibu.
"Mama!" tiba-tiba Aqela dengan wajah mengantuknya menuruni anak tangga.
"Aqqela sayang ada apa?" tanya Shania.
"Aqela tidak bisa tidur," jawab Aqela.
"Ya sudah sayang jangan rewel seperti itu. Biar mama temani ya," sahut Shania, "sayang aku kekamar duluan ya," ucap Shania yang berdiri dari tempat duduknya. Ardi suaminya menganggukkan kepalanya dan Shania langsung menghampiri putrinya.
__ADS_1
"Ayo tidur sama mama," ucap Shania. Aqela mengangguk dan langsung pergi kembali kelakar bersama dengan mamanya.
*********
Sementara di kediaman Abian. Yang hanya ada Abian dan Zee yang tinggal di rumah itu. Orang tua Abian kembali ke New Zeland. Karena ada urusan mendadak yang seharusnya tidak kembali saat ini. Namun mereka juga hanya pergi sebentar. Zee dan Abian harus tinggal serumah dengan beberapa pelayan yang membantu di rumah tersebut.
Yang sekarang Zee sedang menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
Krekkkk.
Abian memasuki kamar membuat Zee melihat ke arah Abian yang mana Abian terlihat mengambil selimut dari dalam lemari di sampingnya dan Abian langsung pergi begitu saja.
"Kak Abian mau kemana?" tanya Zee yang heran dengan Abian yang membawa selimut dan ingin keluar dari kamar.
"Di kamar tamu tidak ada selimut. Aku hanya mengambil selimut," jawab Abian.
"Untuk apa?" tanya Zee.
"Untuk di pakai," jawab Abian.
"Ya aku tau. Maksudnya kenapa kak Abian membawa selimut ke kamar tamu. Apa kak Abian mau tidur di sana?" tanya Zee yang menduga-duga.
"Iya aku ingin tidur di kamar tamu. Kamu istirahatlah," ucap Abian yang melanjutkan langkahnya ingin pergi.
"Kak Abian bukannya sudah menikah?" tanya Zee membuat langkah Abian terhenti. Namun tidak membalikkan tubuhnya, "kita sudah menikah kak Abian. Lalu kenapa kak Abian harus tidur di kamar tamu. Kenapa tidak tidur di sini?" tanya Zee yang merasa aneh dengan kelakukan Abian.
"Tidak mudah untuk memulai semuanya Zee," jawab Abian dengan singkat dan langsung pergi membuat Zee heran dengan dahinya yang mengkerut.
"Sikapnya berubah setelah dia menikahiku. Seolah-olah menyalahkan ku atas apa yang terjadi, sebelumnya dia begitu hangat, sangat mudah cemas, khawatir dan peduli kepadaku. Namu berubah ketika aku menjadi istrinya. Dia menjadi orang yang sangat dingin dan bahkan sekarang tidak tidur sekamar denganku. Aku tidak tau apa yang membuat kak Abian seperti orang asing yang menjauhiku," batin Zee dengan hembusan napas beratnya atas perlakuan suaminya yang seperti tidak menganggapnya istri.
Pernikahan Zee dan Abian tidak semulus seperti pernikahan pada umumnya. Bahkan satu hari pernikahan mereka berdua bahkan pisah kamar.
Abian di kamar tamu dan Zee di kamar yang di siapkan orang tua Abian untuk mereka berdua. Apa mungkin Abian memang tidak akan bisa menjalani pernikahan itu. Jika tidak bisa seharusnya mengatakannya. Atau tidak perlu menikahi Zee.
Ya itu yang di pikirkan Abian yang berbaring di atas tempat tidur dengan kedua tangannya berada di bawah kepalanya dengan menatap langit-langit kamar tersebut. Wajahnya sudah menjelaskan beban pikiran yang tidak main-main.
Sama dengan Zee yang juga sendirian tidur di kamar yang juga berpikir berat dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Bersambung