
Asyifa dan Rafa yang sedang berada di dalam mobil yang mana mereka berdua yang habis jalan-jalan seharian.
"Kamu senang hati ini?" tanya Rafa dengan melihat sebentar ke arah istirnya.
"Iya Asyifa dan anak kita sangat senang. Makasih kak Rafa sudah ajak Asyifa jalan-jalan di pantai. Kata ibu untuk ibu hamil yang memasuki bulannya harus banyak jalan-jalan. Nanti proses persalinannya mudah," ucap Asyifa dengan tersenyum.
"Insyallah ya sayang. Semoga saja di permudahkan peroses persalinan kamu. Biar sesuai dengan keinginan kamu untuk melahirkan normal," ucap Rafa.
"Amin," sahut Asyifa. Rafa tersenyum yang mengelus-elus kepala istrinya. Namun saat mata Asyifa melihat ke luar jendela di bagian suaminya. Tiba-tiba ada Taxi yang menyalib mobil mereka.
"Kak Rafa bukannya itu Syira," ucap Asyifa yang melihat Syira yang duduk di bangku belakang dengan Syira yang sibuk menelpon.
"Iya itu Syira," jawab Rafa yang juga melihat Syira.
"Mau kemana dia?" tanya Asyifa yang melihat Taxi yang di tumpangi Syira membelok jalan yang terlihat sepi.
"Aku juga tidak tau sayang," jawab Rafa yang juga penasaran dengan Syira.
"Kak Rafa bagaimana kalau kita ikuti saja," ucap Asyifa yang tiba-tiba punya ide.
"Untuk apa?" tanya Rafa bingung.
"Asyifa punya perasaan yang tidak enak. Jadi apa salahnya kita ikuti," ucap Asyifa.
"Baiklah sayang," sahut Rafa yang menuruti kemauan istrinya yang mereka mengikuti Taxi tersebutlah.
Syira benar-benar sangat nekat untuk menemui pria asing ayah dari bayinya itu. Di mana Taxi yang di tumpangi Syira menuju jalanan yang sangat sepi yang tidak tau kemana Syira akan pergi.
Dengan tangan nya yang terus memegang ponsel dan baru selesai menelpon seseorang yang mungkin saja Pria yang menerornya.
Sampai akhirnya lama di perjalanan yang akhirnya Taxi yang membawa Syira berhenti di tempat yang sepi yang tidak ada kendaraan lewat yang berada di depan gedung tua.
Syira langsung keluar dari dalam Taxi setelah membayar ongkos Taxi nya. Syira melihat di sekelilingnya yang sama sekali tidak ada orang sangat, sepi dan gelap.
Namun di ujung sana ada seorang Pria yang berdiri membelakangi Syira yang memakai hodie hitam dengan penutup kepala. Syira menghela napasnya dan berjalan mendekati pria itu dengan wajahnya yang penuh takut-takut. Yang mungkin sudah tidak punya pilihan selain menemui Pria itu.
Sampai akhirnya Syira tiba di belakang pria itu yang berdiri dengan penuh rasa khawatir dengan tangan yang sama-sama saling bergetar.
"Kau membawa uangnya?" tanya Pria itu dengan suara beratnya yang membuat Syira kaget dengan kesulitan menelan salivanya.
"A_a_aku tidak punya uangnya," jawab Syira dengan terbata-bata.
"Apa katamu!" bentak Pria itu yang berbalik badan dan langsung memegang tangan Syira.
Orang itu kelihatan sangat sangar, berbadan tinggi tegap dengan sorot mata yang sangat tajam dan bagaimana tidak Syira tidak takut kepadanya.
"Ma_ma_maaf, aku_aku_aku tidak punya uang," jawan Syira dengan bibirnya yang bergetar.
"Kalau begitu aku akan mengirim kepada keluargamu," ucap pria itu dengan ancaman.
"Aku mohon jangan lakukan itu!" cegah Syira.
"Kau tidak bisa memberiku uang dan aku harus lakukan itu," sahut Pria itu.
"Jangan aku mohon, jangan! Jangan! Aku pasti akan memberimu uang, aku janji dalam Minggu ini aku akan mentransfer uang itu. Aku janji," ucap Syira yang memberikan tempo
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memberimu 1 kesempatan lagi dan jika kau tidak menepati janjimu maka aku tidak akan memberimu toleransi lagi," ucap Pria itu.
"Iya, aku pasti akan menepati janji," ucap Syira yang berusaha meyakinkan pria itu.
"Tetapi agar kedatanganmu tidak sia-sia. Jadi tidak ada salahnya kita bersenang-senang aku juga merindukan tubuhmu yang indah itu," ucap pria itu dengan seriangi nakal di wajahnya yang menatap jahat tubuh Syira.
Syira langsung geleng-geleng kepala yang tidak ingin melakukan hal itu.
"Tidak, jangan lakukan itu!" tolak Syira.
"Jangan membantah ikut denganku!" paksa pria itu tanpa ampunan yang menarik paksa Syira memasuki gedung tua itu.
"Tidak! Aku mohon lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Syira yang memberontak saat dirinya di paksa dengan di seret.
Mobil Rafa berhenti di tempat itu dan melihat Syira yang di paksa Pria yang tidak di kenali itu membuat Rafa dan Asyifa kaget dan buru-buru langsung keluar dari mobil.
"Woi," bentak Rafa membuat Pria itu terkejut dan melihat ke arah suara bentakan itu.
"Rafa, Asyifa," lirih Syira yang kaget dengan melihat kehadiran Rafa dan Asyifa.
"Sial kau, menjebakku!" umpat pria itu yang menuduh Syira.
"Jadi kau menjebakku!" teriak pria itu yang mencengkram kuat lengan Syira.
"Tidak! Aku tidak melakukannya," jawab Syira yang apa adanya dan pria itu melihat Rafa yang berlari menghampiri Syira.
"Lepaskan dia!" bentak Rafa.
"Siapa kalian?" tanya Pria itu.
"Jadi mau sok jadi pahlawan di sini. Maaf tidak akan bisa," jawab Pria yang ternyata tidak takut dengan Rafa. Pria itu mendorong Syira sampai Syira terjatuh.
"Syira!" teriak Asyifa yang langsung menghampiri Syira yang terduduk di atas tanah.
"Kamu tidak apa-apa Syira?" tanya Asyifa yang membantu Syira untuk berdiri.
"Tidak Asyifa aku tidak apa-apa. Dia orang yang aku ceritakan kepadamu," ucap Syira yang menunjuk pria itu yang sekarang sudah berkelahi dengan Rafa.
"Astagfirullah," lirih Asyifa yang akhirnya bisa menangkap orang tersebut.
Rafa dan Pria itu terus berkelahi dan Rafa pasti tidak akan membebaskan Pria itu yang di pikiran Rafa. Pasti dia yang meneror Syira selama ini.
Sampai akhirnya perkelahian yang terjadi membuat Rafa dan pria itu sama-sama terluka. Karena sama-sama hebat. Tetapi akhirnya Pria itu tersungkur dengan telentang yang berhasil di lumpuhkan Rafa.
"Ternyata hanya segini kemampuanmu," ejek Rafa dengan melap darah di ujung bibirnya dengan jarinya yang berjalan menuju pria yang sudah terduduk yang memegang perutnya.
Saat beberapa langkah tiba-tiba Pria itu mengeluarkan ponselnya dengan mengangkat ke atas.
"Kau berani menjebakku. Maka aku tidak akan main-main yang akan langsung mengirim foto-foto ini!" ancam Pria itu yang membuat Asyifa, Rafa dan Syira terkejut termasuk Syira dengan debaran jantungnya yang pasti tidak terkontrol dan langsung panik.
"Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu!" sahut Syira.
"Asyifa, foto-foto ku ada bersamanya, dia akan menyebarkannya," ucap Syira panik.
"Kak Rafa bagaimana ini?" tanya Asyifa yang juga panik.
__ADS_1
"Jika kau berani melakukannya aku akan membunuhmu!" ancam Rafa dengan sentakan.
"Tidak masalah bagiku. Aku ingin melihat tindakan apa yang akan kalian lakukan. Ini penghiyanatan dan harus di balas penghiyanatan," ucap Pria itu dengan sinis.
"Jangan! Jangan lakukan itu! Aku mohon," sahut Syira.
"Kau sudah memerasnya dan kau ingin menyebarkannya!" teriak Rafa.
"Tapi aku ingin melihat pengaruhnya," sahut Pria itu dengan seriangi nakal di wajahnya dan terlihat yang menekan sesuatu di ponselnya di pastikan yang akan mengirim foto-foto itu pada Group yang sudah di buatnya sebelumnya.
Asyifa, Syira dan Rafa melihat dengan panik yang tidak bisa mencegah Pria itu dan mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Tidak!" ucap Syira dengan menangis.
Namun tiba-tiba sebuah tangan mengambil ponsel itu yang membuat semua kaget di tempat itu.
Dan ternyata itu adalah Dedi yang datang dengan tiba-tiba dan mengambil ponsel itu.
"Dedi,"
"Kak Dedi!"
"Siapa kau!" teriak Pria itu.
"Pengecut, pecundang!" umpat Dedi yang melayangkan satu pukulan ke wajah Pria itu.
Asyifa dan Rafa sama-sama menghela napas yang mana mereka lega dengan Dedi berhasil merebut handphone itu. Namun tidak dengan Syira yang pasti ini akhir dari segalanya.
Tidak lama Dedi memukul Pria itu. Para polisi datang.
"Bawa dia pak!" titah Dedi.
Polisi langsung menangkap pria itu dengan tangan yang di borgol di belakang.
"Lepas! Lepas!" pria itu memberontak saat di seret menuju mobil tahanan.
"Terima kasih pak Dedi untuk kerja samanya," ucap Pak polisi.
"Sama-sama pak," sahut Dedi.
"Kami permisi! Mari pak Rafa," sahut polisi tersebut.
"Makasih pak untuk bantuannya," sahut Rafa.
Polisi tersebut langsung pergi dan Rafa menghampiri Dedi dengan menepuk bahu Dedi.
"Kamu datang tepat waktu," ucap Rafa Dedi mengangguk dan tangannya masih memegang ponsel itu.
Dan langsung melihat ke arah Syira yang 7 meter darinya yang bersama Asyifa. Syira sudah pasrah dengan semuanya yang pasti Dedi tau semuanya. Asyifa merangkul bahu Syira dengan mengusap-usap pundak Syira.
"Ini sudah ketentuan dari Allah. Kita serahkan semua kepada-nya. Dia yang tau apa yang terbaik," ucap Asyifa yang mencoba untuk menenagkan Syira yang pasti ketakutan.
Namun Syira mengangguk dengan air matanya yang terus jatuh yang berusaha pasrah dan selanjutnya menyerahkan pada penciptanya dan semua ini adalah resiko dari perbuatannya.
Bersambung
__ADS_1