
"Malah senyum-senyum. Kayaknya senang banget habis makan sama klien wanitanya," ucap Asyifa yang kesal dan bahkan pergi dari hadapan Rafa. Namun Rafa langsung menarik tangan Asyifa dan membuat Asyifa mendekati kepadanya dengan Asyifa yang menabrak dada Rafa dan Rafa mengkunci Asyifa di dalam dekapannya dengan tangan Rafa yang melingkar di pinggang Asyifa badan wajah mereka yang saling melihat.
"Sayang klien wanita yang makan bersamaku itu, sudah wanita paruh baya, sebaya dengan mama," jelas Rafa yang harus mendinginkan hati istrinya.
"Tetap aja kak Rafa mengajaknya ke sana. Itu artinya kak Rafa tidak konsisten dengan omongan kak Rafa. Memang tidak ada Restaurant lain apa," ucap Asyifa dengan wajahnya yang masih ketus.
"Hnmmmmm, bagaimana ya sayang, dia yang mengajak bertemu di sana," ucap Rafa yang terus menatap istrinya itu.
"Ya tetap aja, memang kak Rafa tidak bisa menolak?" sahut Asyifa.
"Ya namanya Restauran itu adalah miliknya," jawab Rafa dengan santai yang membuat Asyifa terkejut dan baru melihat ke arah suaminya.
"Jadi Restaurannya adalah milik klien kak Rafa?" tanya Asyifa memastikan. Rafa menganggukkan kepalanya.
"Dan usianya sebaya mama?" tanya Asyifa. Rafa mengangguk kembali.
"Kenapa tidak mengatakan sejak tadi," sahut Asyifa.
"Kan tadi sudah di kasih tau," sahut Rafa.
"Tapikan kak Rafa bicaranya setengah-setengah dan tidak lengkap," sahut Asyifa yang malah menyalahkan suaminya.
"Bagaimana mau berbicara dengan lengkap. Jika kamu sudah di penuhi dengan rasa cemburu," ucap Rafa dengan mencolek hidup Asyifa.
"Siapa yang cemburu. Asyifa kan hanya bertanya saja," sahut Asyifa mengelak.
"Jangan bohong sayang. Aku itu tau mana yang cemburu dan yang tidak. Dan wajah kamu ini tidak bisa bohong," ucap Rafa.
"Memang tidak boleh cemburu. Bukannya cemburu itu tandanya cinta?" tanya Asyifa.
"Iya juga sih, tandanya cinta. Kalau begitu ingin mendengar istriku mengucapkan kata cinta kepadaku dulu," ucap Rafa.
"Asyifa mencintai kak Rafa," ucap Asyifa yang tidak gengsian lagi.
"Aku juga mencintaimu," sahut Rafa membuat Asyifa tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kak Rafa sudah sholat, sudah makan, sekarang kak Rafa mandi, lalu istirahat. Kak Rafa pasti juga lelah. Walau pulangnya cepat," ucap Asyifa mengusap dada suaminya.
"Kalau aku tidak mau bagiamana?" tanya Rafa dengan matanya yang menatap nakal sang istri.
"Lalu maunya apa?" tanya Asyifa dengan dahinya mengkerut.
Rafa menatap Asyifa sebentar dan tiba-tiba menggendong Asyifa ala bridal style yang membuat Asyifa terkejut dengan apa yang di lakukan Rafa yang secara tiba-tiba.
"Kak Rafa!" pekik Asyifa.
"Aku maunya itu kamu," ucap Rafa yang langsung membawa Asyifa berbaring di ranjang dan membaringkan pelan istrinya dengan wajah mereka yang saling berhadapan dan sangat dekat dengan Rafa yang berada di atas tubuh Asyifa.
"Jika kamu seperti ini terus yang begitu cantik dan sangat cantik. Aku ingin cepat-cepat pulang," ucap Rafa yang mulai menggoda istrinya yang membuat Asyifa tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Kalau begitu Asyifa akan seperti ini terus. Supaya kak Rafa pulangnya jangan lama-lama," ucap Asyifa yang menantang kembali.
"Apa kamu yakin mau melakukannya setiap hari?" tanya Rafa dengan menaikkan 1 alisnya.
"Yang Asyifa lakukan halal, tidak dosa dan mendapat pahala dan membuat suami Asyifa bahagia. Lalu kenapa tidak yakin. Jika semuanya menjadikan kebahagian," jawab Asyifa dengan tersenyum tulus. Rafa tersenyum lebar mendengarnya dan mencium kening istrinya dengan lembut dan ciuman itu juga langsung turun ke bibir Asyifa dengan Asyifa yang memejamkan matanya.
Baru saja memulai ciuman itu. Tiba-tiba Rafa melepasnya dan membuat Asyifa heran dan membuka matanya dan Rafa malah duduk.
"Kak Rafa kenapa?" tanya Asyifa khawatir.
"Tenggorakanku gatal," jawab Rafa yang memegang lehernya yang memang sangat gatal sampai dia batuk-batuk.
"Kak Rafa memang makan apa tadi, kok sampai batuk?" tanya Asyifa yang jadi khawatir.
"Tidak makan apa-apa sayang. Kamu jangan khawatir, cuaca memang sedang tidak baik, makanya aku ikutan radang," jawab Rafa.
" Ya sudah mau Asyifa buatkan teh jahe tidak?" tanya Asyifa.
"Tidak usah. Aku minum obat batuk saja. Nanti juga sembuh," ucap Rafa yang tidak mau merepotkan istrinya.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Zee.
__ADS_1
"Sayang sekali. Kita tidak jadi. Padahal aku juga ingin, tapi aku tidak mau kamu ikutan radang karena ke egoisan ku," ucap Rafa mengusap lembut pipi istrinya.
"Ya sudah tidak apa-apa kak Rafa. Lagian masih banyak hari esok. Tapi sebenarnya Asyifa tidak masalah kan hanya batuk saja. Masa iya Asyifa langsung ketularan," sahut Asyifa.
"Tidak sayang. Kamu itu juga lagi hamil dan aku tidak mau membuat ibu bayinya sakit dan nanti ananknya juga ikut sakit. Aku tidak mau melakukan hal itu. Aku lebih mementingkan kesehatan kamu," ucap Rafa.
"Ya sudah terserah kak Rafa saja. Kalau begitu biar Asyifa pijitin kak Rafa ya," ucap Asyifa yang ingin mengurangi rasa lelah suaminya.
"Tapi aku ganti baju sebentar ya," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya.
************
Sekarang Asyifa sedang memijat kepala suaminya dengan satuan yang bersilah kaki dan kepala Rafa berada di pangkuannya yang memejamkan matanya yang menikmati pijitan istrinya yang membuat lelahan menghilang.
"Kak Rafa tau tidak. Kalau Zee dan kak Abian tidak jadi berpisah," ucap Asyifa.
"Benarkah?" tanya Rafa membuka matanya dengan melihat istrinya yang ada di atas kepalanya.
"Benar kak Rafa. Asyifa juga tidak menyangka. Jika mereka berdua akhirnya tidak jadi berpisah, tadi pagi mereka datang kerumah dan mengatakan sendiri," ucap Asyifa dengan sedikit penjelasan.
"Syukurlah kalau begitu. Aku setuju dengan keputusan Zee dan semoga Abian bisa memperbaiki kesalahannya," sahut Rafa.
"Amin. Asyifa juga mengharapkan hal yang sama," sahut Asyifa dengan tersenyum dengan apa yang di katakan mamanya.
"Sepertinya istriku ini yang paling bahagia dengan rumah tangga Zee dan juga Abian," ucap Rafa.
"Bagaimana mungkin tidak bahagia dengan orang lain yang juga bahagia. Apalagi dengan kak Abian yang berhasil meluluhkan hati Zee," ucap Asyifa.
"Jadi bagaimana dengan aku. Apa aku berhasil meluluhkan hati istriku?" tanya Rafa.
"Iya. Kak Rafa juga laki-laki yang hebat yang berhasil membuat Asyifa juga luluh dengan kak Abian yang begitu baik. Dan bisa membuat Asyifa bahagia," ucap Asyifa.
"Tapi justru kamu yang sudah membuatku bahagia Asyifa. Dengan kamu yang memberikan aku kebahagiaan dan sebentar lagi kamu juga menjadikan aku sebagai ayah," ucap Rafa.
"Asyifa juga sebentar lagi akan menjadi ibu," sahut Asyifa.
__ADS_1
"Kita akan menjadi orang tua Asyifa," ucap Rafa. Asyifa mengangguk tersenyum.
Bersambung