
1 hari menjadi seorang menantu Asyifa yang berada di rumah orang lain merasa asing belum lagi dengan kisah pernikahannya yang baru 2 hari menjadi istri Rafa. Namun air matanya sudah keluar banyak. Jarang menangis sekalinya menangis saat merasakan impian dalam pernikahannya.
Asyifa berada di dapur yang terlihat melakukan sesuatu yang sepertinya beraktivitas dalam memasak.
"Asyifa!" tegur Shofia mendapati Asyifa yang memasak sesuatu.
"Mah," sahut Asyifa.
"Sedang apa?" tanya Shofia.
"Asyifa hanya membuat bubur. Tidak apa-apa kan mah, kalau Asyifa meminjam dapur mama dan memakai bahan-bahan mama. Asyifa minta izin karena sudah lancang," ucap Asyifa yang merasa tidak enak.
"Kamu ini aneh sekali. Masa iya hanya hal itu saja harus permisi pada mama. Kamu sudah tinggal di rumah ini yang akrtinya semua yang ada di dalam rumah ini juga hak kamu dan bisa kamu gunakan," ucap Shofia tersenyum begitu tulus pada Asyifa.
"Ya Allah mama Rafa begitu baik, berbicara sangat lembut. Lalu kenapa Rafa tidak seperti itu. Kenapa Rafa begitu kasar bicara dan tatapan matanya begitu membenciku," batin Asyifa yang mengingat perbuatan Rafa.
"Asyifa ada apa?" tegur Shofia.
"Tidak apa-apa kok mah," sahut Asyifa tersenyum tipis.
Shofia meraih ke-2 tangan Asyifa dan menatap Asyifa dengan intens.
"Kalau ada masalah kamu bilang ya sama mama. Kalau ada yang tidak kamu sukai kamu bilang sama mama dan keluarga ini. Asyifa kamu dan Rafa belum saling mengenal. Mama minta maaf jika terkadang sifat Rafa membuat kamu kaget. Itu karena kamu dan Rafa masih belum saling dekat. Jadi jangan menyerah ya dalam pernikahan kamu. Mama memilih kamu sebagai menantu untuk memberikan kamu kebahagian. Jadi bantu mama ya untuk kebahagiaan itu pada Rafa," ucap Shofia dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Iya mah. Mama benar Asyifa baru menjadi istri kak Rafa dan Asyifa belum saling mengenal dengannya. Jadi kalau terjadi salah paham di antara kami itu hal yang biasa, mungkin Asyifa akan belajar lagi untuk memahaminya dan Asyifa janji akan menjaga rumah tangga Asyifa dengan semestinya," ucap Asyifa dengan tersenyum ketulusan.
"Mama sangat mempercayai kamu. Orang tua kamu benar-benar sangat berhasil mendidik kamu," ucap Shofia. Asyifa mengangguk-angguk denga tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah kamu lanjutkan memasaknya. Mama mau ke apotik sebentar," ucap Shofia.
"Mama mau ngapain?" tanya Asyifa.
"Mau menebus obat mama," jawab Shofia.
"Biar Asyifa aja yang pergi mah," sahut Asyifa mengambil alih.
"Tidak Asyifa tidak apa-apa. Kamu jangan repot-repot," sahut Shofia.
"Tidak kok mah, Asyifa kebetulan sebentar sudah selesai memasak dan Asyifa bisa pergi membeli obat mama. Jadi tidak apa-apa," ucap Asyifa dengan tersenyum.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Shofia. Asyifa mengangguk-angguk dengan senyumannya yang lebar.
"Kamu memang anak baik," ucap Shofia semakin membanggakan menantunya yang sudahlah cantik, Sholeha sangat baik lagi.
Shofia memang beruntung mendapatkan menantu seperti Asyifa. Lalu apa Asyifa beruntung menikah dengan Rafa.
Setelah menebus obat mamanya di apotik, Asyifa berada di dalam mobil yang menyetir sendirian. Mobil yang di pakainya mobil Shofia. Karena memang mobil Asyifa berada di rumahnya.
Suara azand terdengar di telinga Asyifa membuat Asyifa memberhentikan mobilnya di depan masjid yang berada di pinggir jalan yang kebetulan sudah waktunya sholat zhuhur Asyifa mampir untuk sholat.
Asyifa keluar dari mobil dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelah itu Asyifa langsung menunaikan ibadah sholat seperti biasanya dengan jamaah lainnya.
Setelah selesai sholat tidak lupa Asyifa berdoa kepada sang penciptanya.
"Ya Allah hamba tidak mengerti apakah hambah pantas untuk mengeluh dengan pernikahan hamba yang baru 2 hari. Ya Allah hambah berserah diri kepadamu atas semua kehendakmu. Hambah tau apa yang terjadi adalah ketentuan darimu.
__ADS_1
"Hamba meminta untuk di jadikan wanita yang lebih kuat lagi. Kesabaran yang lebih banyak lagi. Serta kiranya suami hamba bisa menerima hamba dan tidak marah-marah lagi. Kiranya ada jalan untuk kami ber-2 saling bicara. Karena tujuan dalam pernikahan ini hanya untuk sampai ke Jannah mu. Surga yang hambah inginkan," batin Asyifa berdoa dengan air matanya yang menetes.
Hanya sang ilahi tempatnya mengadu, menceritakan apa yang di alaminya dalam pernikahannya yang masih hitungan hari. Hena merah di tangannya yang masih ada.
Asyifa mengusap wajahnya setelah selesai sholat. Dia merasa begitu Lea karena sudah mengadu pada Tuhannya. Hatinya merasa jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Selesai sholat Asyifa memeberskan mukenahnnya. Dan berjalan keluar dari mesjid tersebut. Namun ternyata di salah satu ruangan ada kumpulan ibu-ibu pengajian yang mendengarkan ceramah ustad membuat Asyifa menghentikan langkah kakinya.
"Dalam rumah tangga pasti ada pertengkaran. Ada masalah. Mau pun dari suaminya, atau istrinya. Kita sebagai istri harus banyak-banyak bersabar. Karena Allah sedang menguji kesabaran kita dalam menjadi seorang istri. Ujian seorang istri sangat berat. Tetapi Allah akan menjadikannya wanita mulia jika berhasil dalam melewati banyaknya ujian yang di berikan kepadanya.
"Wahai para wanita yang sedang di penuh rasa gelisah, kelelahan dalam menghadapi suami yang seperti ini seperti itu. Kalian adalah wanita pilihan. Jangan menyerah, Jangan mengeluh dan jangan suka menceritakan aib suamimu pada keluargamu. Pada siapapun. Karena dosa besar yang engkau dapatlan.
"Jika dia salah simpan aib itu dan jangan di umbar-umbar tugas istri hanya menegur dan memberi masukannya. Bukan berarti sok pintar. Kalian wanita-wanita hebat calon penghuni surga,"
" Ya Allah. Kenapa aku harus mengeluh dengan keadaan ku. Aku baru menikah 2 hari. Namun sudah merasa ingin menyerah dan mengakhiri segalanya. Lalu bagaimana wanita di luaran sana yang mungkin bertahun-tahun, belasan tahun bahkan puluhan. Mereka masih bertahan. Asyifa pernikahan yang kau impikan hanya untuk mendapat surga bukan duniawi semata. Lalu kenapa harus mengeluhkan semua keadaan ini. Allah ada bersamamu dan dia tidak akan memberikan mu cobaan di luar batas kemampuanmu," batin Asyifa yang sekarang sadar jika apa yang di alaminya tidak ada apa-apa dengan apa yang di alami orang-orang yang di pastikan jauh lebih parah.
Asyifa mengusap dadanya dengan hembusan napasnya perlahan ke depan. Lalu Asyifa meninggalkan tempat itu. Sangat banyak di dapatkannya pelajaran dari sepenggal ceramah ustad itu.
Ternyata di Masjid yang sama terlihat Rafa dengan 3 orang Pria yang berpakaian rapi yang berada di halaman masjid yang dekat dengan parkiran.
"Jadi tuan Rafa proyek kita akan di dirikan di sebrang mesjid ini. Jadi strateginya sangat pas," ucap salah seorang Pria.
"Apa itu tidak akan mengganggu Masjid ini?" tanya Rafa yang nantinya tidak mau ada uruasan yang lain kebelakang.
"Tidak akan ada tuan. Kami sudah mengatur semuanya," sahut salah seorang Pria yang satunya.
"Baguslah kalau begitu," sahut Rafa.
__ADS_1
Tidak lama Asyifa keluar dari Masjid tersebut dan kebetulan Rafa juga melihat ke arah Masjid yang akhirnya membuat mereka saling melihat dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Bersambung