
Ke-2nya yang berciuman dengan romantis dan sampai beberapa waktu yang akhirnya Rafa dan Asyifa yang saling melepas tautan bibit mereka dengan napas yang terengah-engah dan saling membuka mata dengan saling melihat.
"Apa tidak tidak takut. Jika tiba-tiba ada yang melihat kita?" tanya Rafa dengan napasnya yang masih terengah-engah.
"Kayaknya tidak ada orang di sini. Selain kita berdua," ucap Asyifa.
"Bagaimana jika ada yang melihat dari helikopter?" tanya Rafa.
"Tidak ada suara helikopter. Jadi semuanya aman terkendali," jawan Asyifa yang membuat Rafa mendengus dengan tersenyum yang tidak percaya dengan istrinya yang sekarang pemikirannya seperti.
"Jadi sangat aman tempat ini?" tanya Rafa.
"Kalau hanya untuk berciuman sangat aman," jawab Asyifa.
"Berarti masih boleh?" tanya Rafa dengan menaikkan alisnya. Asyifa mengangguk dengan tersenyum yang masalah jika harus lanjut berciuman dengan suaminya dan Rafa pun mendekatkan bibirnya kembali pada Asyifa untuk meraih bibir Asyifa.
Namun tiba-tiba turun hujan membuat mereka tidak jadi berciuman dan sama-sama melihat keatas. Dan bergegas berdiri mencari tempat perteduhan dan untuk ada pondok yang ada di sana.
Asyifa dan Rafa sama-sama tertawa saat mereka sudah berteduh. Mungkin merasa lucu dengan ciuman mereka yang gagal akibat hujan yang tiba-tiba turun.
"Sangat tidak mendukung. Namun hujan adalah Rahmat," ucap Asyifa.
"Kamu benar," sahut Rafa yang membuka jaketnya dan langsung memakaikan pada istrinya agar istrinya tidak kedinginan.
"Makasih kak Rafa," ucap Asyifa.
"Sama-sama sayang," ucap Rafa yang langsung memeluk Asyifa dan Asyifa pun memeluk erat suaminya.
"I love you," ucap Rafa di tengah pelukannya.
"I love you too," jawab Asyifa yang sudah tidak terlalu gengsi lagi dan pasti hal itu sangat membahagiakan bagi Rafa.
"Makasih Asyifa," ucap Rafa.
"Untuk?" tanya Asyifa heran.
"Untuk segalanya. Kehadiran kamu dan cinta kamu yang aku dapatkan. Makasih," ucap Rafa dengan tulus.
"Sama-sama kak Rafa," ucap Asyifa yang memeluk begitu erat suaminya.
***********
Ternyata Abian dan Zee juga terjebak hujan dan mereka baru tiba di rumah Abian dan sudah terkena hujan. Rumah Abian dulu rumah panggung.
"Ayo Zee pelan-pelan!" ucap Abian yang mempersilahkan Zee naik terlebih dahulu.
"Iya kak Abian," sahut Zee dengan menganggukan kepalanya.
Mereka berdua akhirnya masuk kedalam rumah dan bisa berteduh walau sudah sempat basah-basahan dengan Zee yang beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan dan mengusap-usap lengannya yang tampak ke-2 nya terlihat kedinginan. Dan Abian langsung menghidupkan lampu di rumah itu agar terang.
__ADS_1
"Maaf ya Zee gara-gara aku kamu jadi basah seperti ini," ucap Abian.
"Kenapa jadi kak Abian yang minta maaf, Zee juga tadi mau pergi kan. Jadi sama saja tidak pergi dengan kak Abian pun akan terkena hujan," ucap Zee.
"Iya juga sih," sahut Abian.
"Oh iya sebentar!" Abian langsung pergi yang membuat Zee bingung yang mana Rafa memasuki salah satu ruangan yang ada di sana dan sepertinya kamar dan tidak lama Abian keluar dari kamar tersebut dengan membawakan pakaian.
"Hanya ada bathrobe saja. Kamu ganti pakaian kamu. Nanti masuk angin," ucap Abian yang khawatir pada Zee.
"Tapi kak Abian bagaimana?" tanya Zee.
"Ada kok satu lagi, kamu jangan khawatir ganti saja pakaian kamu," sahut Abian.
"Oh ya sudah, Zee ganti dulu ya," ucap Zee. Abian mengangguk dan mengarahkan Zee menuju kamar untuk mengganti pakaiannya dengan bathrobe seadanya saja.
************
Masih di atas bukit di tempat Asyifa dan Rafa yang mana mereka berdua sekarang dengan Rafa yang memeluk Asyifa dari belakang yang mana mereka berdua sedang duduk bersama.
"Kamu kedinginan?" tanya Rafa.
"Bagaimana mau kedinginan. Kak Rafa memeluk Asyifa begitu erat. Jadi mana mungkin Asyifa kedinginan," jawab Asyifa dengan tersenyum yang membuat Rafa juga tersenyum dengan dan semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya.
"Kalau begitu aku tidak akan melepas pelukan ini," ucap Rafa.
"Mau sampai kapan?" tanya Asyifa.
"Iya deh," sahut Asyifa.
"Oh iya Asyifa. Apa anak kita juga kedinginan?" tanya Rafa.
"Asyifa tidak tau coba kak Rafa tanya," jawab Asyifa.
"Baiklah aku akan menanyakan kepadanya. Apa dia kedinginan atau tidak?" tanya Rafa yang langsung mengelus-elus perut Asyifa.
"Sayang apa kamu kedinginan di dalam sana?" tanya Rafa. Asyifa tidak menjawab dan tidak seperti biasanya yang pasti mau menirukan suara bayi.
"Kata anak kita cukup peluk ibunya dengan erat. Maka dia tidak akan kedinginan," ucap Rafa.
"Kalau begitu peluk Asyifa dan jangan lepaskan," ucap Asyifa.
"Itu pasti Asyifa," sahut Rafa dengan tersenyum dan memeluk erat Asyifa.
************
Sementara di tempat Abian dan Zee yang mana Abian sudah mengganti pakaiannya dengan bathrobe yang ada di rumahnya dan tidak lama Zee juga datang yang juga menggunakan bathrobe dan Zee tampak gugup harus menggunakan pakaian yang bisa di katakan sangat minim itu di depan Abian yang Zee tau orangnya seperti apa.
Abian melihat kebelakang dan melihat Zee yang sudah selesai mengganti pakaian.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai?" tanya Abian.
"Iya kak," sahut Zee.
"Maaf ya Zee hanya bisa memberikan pakaian itu," ucap Abian.
"Tidak apa-apa kak Abian ini sudah jauh lebih baik dari pada tidak ada sama sekali," jawab Zee.
"Iya, dari pada kamu masuk angin," sahut Abian. Zee mengangguk dengan tersenyum dan Zee melihat ke semua arah yang ada di ruangan itu.
"Ini rumah kak Abian?" tanya Zee yang mulai berjalan melihat-lihat rumah Abian.
"Iya aku kecil di sini," jawab Abian.
"Sangat rapi dan bersih. Kak Abian mengatakan berantakan. Di pikiran Zee rumah kak Abian seperti gudang. Ternyata tidak sangat rapi," ucap Zee yang memang rumah Abian terlihat rapi dan bersih.
"Ada asisten rumah tangga yang datang setiap seminggu sekali membersihkannya," jawab Abian.
"Oh begitu. Berati memang rumah ini kosong?" tanya Zee.
"Iya memang kosong. Kadang mama dan papa ya kalau ada waktu saja datang kemari. Karena seperti kamu lihat semua barang-barang masih lengkap dan foto-foto masa kecil masih ada semuanya," ucap Abian.
Zee memang sedang melihat foto-foto yang menempel di dingding dan juga tersusun di atas meja yang memang sangat banyak. Foto-foto Abian kecil dan bahkan ada saat remaja.
"Maklumlah Zee orang mama dan papa lebih sering tinggal di luar Negri. Pulang ke Jakarta saja sudah syukur. Jadi kalau ke desa ini ya pulang kalau benar-benar waktu kosong," ucap Abian.
"Hmmm, begitu rupanya," sahut Zee dengan menganggukkan kepalanya dan masih fokus melihat foto-foto.
Namun tiba-tiba Zee melihat foto Pria dan wanita yang bersamaan. Foto saat remaja.
"Ini kak Abian?" tanya Zee yang menunjukkan bingkai foto kecil itu pada Abian.
"Iya benar, itu aku saat lulus SMA," jawab Abian.
"Wanita ini siapa?" tanya Zee.
"Syira!" jawab Abian dengan lancar dan raut wajah Zee langsung terlihat datar.
"Sangat dekat. Apa kak Abian dan dia satu sekolah?" tanya Zee penasaran.
"Saat SMA iya kita satu sekolah dan lulus bersamaan dan kita berdua berfoto bersama dan menyimpan di sini. Kebetulan lagi liburan di desa dan masih banyak foto-foto aku dan Syira," jawab Abian dengan lancar bicara tanpa memperdulikan perasan Zee yang merasa sesak mendengarnya.
"Kak Abian sudah kenal lama dengannya?" tanya Zee yang begitu penasaran dan tidak tau kenapa dia harus tau jawabannya.
"Sudah Zee, aku dan Syira sudah mengenal sejak kecil dan bahkan kita juga dijodohkan oleh orang tua kita dan rencana pernikahan kita juga sedang di bicarakan," jawab Abian yang membuat Zee terkejut dengan matanya yang terbuka lebar tangannya yang bergetar mendengarnya.
Prang
Tiba-tiba foto yang di pegangnya jatuh kelantai dan langsung retak yang pasti Abian juga terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung