
Hanya tinggal Rafa dan Azka yang ada di ruangan Rafa. Tidak tau juga yang lainnya entah kemana.
"Kak Rafa itu apa-apa sih, seharusnya kak Rafa tidak bicara seperti itu. Kak Rafa itu kerjaannya buat malu aja," ucap Azka yang sekarang meluapkan kemarahannya pada Rafa.
"Kamu itu kalau marah tambah tampan aja. Bagaimana Rachel tidak semakin nyaman dengan kamu," sahut Rafa yang menggoda lagi.
"Tuh mulai lagi kan. Udahlah kak Rafa jangan aneh-aneh deh," sahut Azka kesal.
"Azka tapi apa yang aku katakan itu kepada kamu memang tidak benar apa. Hey Azka dari wajah kamu sangat terlihat kamu itu fall in love pada Rachel. Hey dari kamu yang membantu Rachel soal biaya sekolahnya dan lain-lainnya sudah ketahuan kamu itu suka padanya," ucap Rafa.
Mendengar perkataan kakak iparnya membuat Azka geleng-geleng. Memang tidak bisa kakak iparnya itu benar-benar sangat menyebalkan yang hanya terus-menerus menggodanya.
"Azka sudahlah kamu itu nggak usah mengelak. Lagian tidak ada yang salah juga dengan perasaan kamu. Anak-anak remaja seperti kamu itu wajar suka-sukaan. Hmmm tapi tidak tau sih kalau Asyifa bakal kasih izin tidak ya adiknya pacaran," goda Rafa.
"Udah ya kak Rafa. Kak Rafa itu lagi sakit. Jadi jangan menyebalkan seperti itu. Mending kak Rafa fokus pada kesehatan kak Rafa. Dari pada mengurusiku," sahut Azka kesal dengan Rafa.
"Uhhhh, padahal mau bantuin supaya dapat izin Asyifa. Eh tau-taunya malah di larang. Ya sudah kalau tidak mau berarti jangan di bantuin," sahut Rafa.
"Terserah," ucap Azka kesal. Rafa menyinggirkan senyumnya yang suka mengganggu adik iparnya itu.
************
Tidak lama bagi Azka dan Rachel menjenguk Rafa. Setelah itu Rachel dan Azka langsung keluar dari rumah sakit tersebut. Namun karena godaan Rafa tadinya. Jadinya mereka ber-2 terlihat canggung dan sejak tadi malah tidak ada mengobrol sama sekali.
"Rachel, aku minta maaf ya soal kejadian tadi," ucap Azka yang merasa tidak enak.
"Kejadian apa?" tanya Rachel.
"Soal di dalam tadi. Kamu pasti tidak nyaman dengan perkataan kak Rafa. Aku minta maaf ya soal itu," ucap Azka dengan gugup bahkan membuang napasnya perlahan kedepan.
"Tidak apa-apa kok Azka. Aku tau itu hanya becandaan. Jadi tidak apa-apa sama sekali," ucap Rachel yang tidak masalah.
"Kak Rafa memang sangat suka seperti itu. Dia selalu saja mempermalukan ku. Ya dia memang sangat menyebalkan," ucap Azka dengan wajah kesalnya.
"Kamu bilang tidak terlalu akrab dengannya. Tetapi aku lihat kalian berdua itu seperti teman dekat," ucap Azka.
__ADS_1
"Dekat apaan. Dia itu selalu mencari cela untuk mempermalukan ku," ucap Azka dengan raut wajah kesalnya.
"Iya-iya kamu itu langsung kesal seperti itu," sahut Rachel.
"Ya sudah sekarang ayo kita pulang," sahut Azka.
"Kamu akan mengantarku pulang?" tanya Rachel.
"Jika tidak aku, memang ada yang akan mengantarkan kamu?" tanya Azka.
"Ya aku bisa pulang sendiri," sahut Rachel.
"Aku mengajakmu kemari dan aku juga harus mengantarmu pulang," ucap Azka.
"Oke-oke," sahut Rachel tersenyum.
"Ayo pulang!" ajak Azka. Rachel menganggukkan kepalanya dan Azka yang ingin membukakan pintu mobil untuk Rachel yang kebetulan Rachel juga ingin membuka pintu mobil sampai akhirnya tangan mereka saling bertimpa di pintu mobil dengan mereka ber-2 saling melihat sampai beberapa detik dan sampai akhirnya mereka sama-sama tersadar dan saling melepas tangan mereka.
"Maaf," ucap Azka yang mendadak canggung.
"Tidak apa-apa," sahut Rachel yang juga gugup dan Azka pun mempersilahkan Rachel untuk masuk terlebih dahulu kedalam mobil dan dengan gugup dengan helaan napas yang juga masih kedalam mobil dan Azka juga menyusul masuk kedalam mobil.
"Iya mau kemana lagi memengangnya?" tanya Rachel.
"Ya tidak tau mau kemana. Siapa tau kamu mau pergi kemana gitu," sahut Azka yang sepertinya masih ingin berpergian bersama dengan Rachel.
"Tapi kamu memang tidak sibuk?" tanya Rachel.
"Besok bukannya hari Minggu. Jadi kita tidak ada tugas sekolah kan," sahut Azka.
"Iya sih. Tapi bagaimana kalau besok aja. Bukannya besok hari Minggu," sahut Rachel yang malah tawar menawar.
"Boleh juga," sahut Azka yang tidak masalah sama sekali dan ke-2nya malah sama-sama tersenyum gemes. Ya memang ada-ada saja yang mereka senyumi. Sepertinya Rafa benar kalau adik iparnya butuh lagi fall in love.
********
__ADS_1
Asyifa dan Rafa sedang jalan-jalan keluar dengan Rafa yang mendorong kursi roda suaminya.
"Kita duduk di sana kak?" tanya Asyifa.
"Boleh sayang," sahut Rafa. Asyifa mengangguk tersenyum dan langsung mendorong kursi roda suaminya ke dekat taman-taman bunga.
Rafa yang duduk di kursi roda dengan Asyifa yang duduk di depan Rafa di salah satu bangku yang ada di sana.
Rafa tersenyum dengan memegang tangan istrinya.
"Sayang kamu tau tidak kalau Azka tadi marah kepadaku," ucap Rafa.
"Bagaimana tidak marah. Kak Rafa menggodanya seperti itu di depan Rachel. Jadi jelas dia marah," sahut Asyifa.
"Aku hanya ingin melihat wajahnya kesal dan lagian apa yang aku katakan tidak salah sama sekali. Karena memang pada kenyataannya dia itu suka sama Rachel," ucap Rafa.
"Kak Rafa mau Azka menyukai Rachel atau tidak kak Rafa tidak perlu jahil kepadanya kan kasihan dia kak Rafa. Rachel juga jadinya tidak nyaman kan," ucap Asyifa.
"Iya-iya sayang. Namanya juga gemes dengan Azka yang jatuh cinta," ucap Rafa.
Asyifa hanya geleng-geleng saja dengan perkataan suaminya itu.
"Oh iya sayang kalau Azka misalnya tiba-tiba pacaran sama Rachel. Kamu setuju atau tidak?" tanya Rafa.
"Kak Rafa kenapa sampai bahas ke sana sih. Azka juga masih sekolah. Apaan ngurus masalah cinta-cintaan. Nggak penting kak Rafa," ucap Asyifa.
"Sayang tapi kan Azka anak muda yang normal dan bukannya itu wajar-wajar saja," sahut Rafa.
"Asyifa tidak mau mencampuri urusan Azka. Dia mau menyukai Rachel atau tidak mau pacaran dengan Rachel atau tidak yang penting Azka fokus dulu dengan sekolahnya dan lagian juga Azka pasti tau apa yang harus di lakukannya," ucap Asyifa dengan bijak.
"Istriku yang cantik ini. Kenapa pintar sekali sih hah! sangat pintar dan sangat baik. Selain jadi istri yang sangat baik juga menjadi kakak yang sangat baik dan begitu bijak," ucap Rafa dengan tersenyum kepada isterinya dengan memegang ke-2 tangannya.
"Jangan terlalu memuji Asyifa. Nanti kuping Asyifa jadi lebar," ucap Asyifa.
"Aku itu memuji berdasarkan kenyataan sayang," sahut Rafa.
__ADS_1
"Iya-iya deh kak Rafa," sahut Asyifa.
Bersambung.