Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 34


__ADS_3

"Berani kau Asyifa membuatku sangat tidak berarti di depan orang lain. Apa kau sudah merasa paling hebat," batin Rafa yang sudah menahan diri agar tidak murka di depan orang lain.


"Kurang ajar kenapa Om Lucky dan Tante Vanya selalu memujinya seakan-akan aku tidak tidak di anggap," batin Miranda yang dadanya sudah kembang kempis.


"Ehemmm Om, mengenai masalah saya yang akan menjadi BA dalam Fashion Om bagaimana?" tanya Miranda yang mengalihkan pembicaraan. Karena kupingnya sudah panas.


"Istri Om ada di depan kamu Miranda. Bisa ditanyakan langsung Miranda," sahut Lucky.


"Masalah itu ya. Nanti kalau kami ke Jakarta kita bahas ya Miranda. Hmmm tapi kamu bisa tanya-tanya Asyifa bagaimana nanti kelanjutannya, semoga memang cocok dan kita bisa kerja sama. Asyifa mohon bantu Tante ya," ucap Vanya yang langsung mempercayakan pada Asyifa mengenai Miranda.


"Insyaallah Tante," sahut Asyifa dengan tersenyum.


"Kurang ajar kenapa juga harus dengan wanita ini. Apa hebatnya coba. Rencanaku berantakan. Aku pikir wanita ini adalah wanita kampungan. Tetapi siapa sangka dia bahkan lebih kenal dekat dengan keluarga Om Lucky dan sejak tadi hanya Asyifa yang di bahas dan aku tidak di pedulikan," batin Miranda yang hanya bisa mengumpat dengan penuh kekesalan.


"Asyifa apa S-2 kamu sudah selesai?" tanya Lucky.


"Tinggal wisuda saja Om, tesis dan yang lainnya sudah selesai," jawab Asyifa.


"Nak Rafa sendiri bagaimana. Apa pendidikannya lancar?" tanya Lucky.


"Saya sudah menyelesaikan gelar master saya di Harvard," sahut Rafa yang punya kesempatan meninggikan dirinya. Dia sudah mendapat gelar master dan Asyifa masih S-2. Jadi Rafa bisa sedikit sombong dan tidak terlalu rendah dari Asyifa.


"Alhamdulillah kalau begitu. Asyifa sendiri bagaimana. Apa akan mengikuti jejak suaminya?" tanya Vanya.


"Untuk pendidikan sendiri Asyifa tidak pernah berhenti dan akan mengejar terus. Tetapi sekarang Asyifa sudah menikah dan harus melalui izin suami," jawab Asyifa dengan santai yang sangat menghormati Rafa. Dia masih memerlukan ijin Rafa. Walau Rafa tidak menganggapnya.


"Bagus jika kau sadar diri. Jangan harap aku akan mengijinkanmu," batin Rafa yang kelihatan tidak ingin lebih rendah dari Asyifa. Atau Asyifa berada di atasnya.


"Itu memang penting Asyifa. Tetapi Alhamdulillah kamu ini sudah sangat luar biasa masih 20 tahun sudah mendapat gelar S-2. Tante yakin nak Rafa sendiri pasti menyelesaikan S-2nya di usia 25 tahun," sahut Vanya yang memang itu kenyataan dan kembali lagi Rafa tidak ada apa-apa ha di bandingkan Asyifa. Jadi Asyifa juga yang menang dari pada Rafa.


Rafa hanya bisa mengumpat penuh kekesalan dengan tangan terkepal.


"Miranda kamu juga walau sibuk di sempatkan untuk melanjutkan pendidikan," sahut Lucky yang memberi saran Miranda di depan Asyifa.

__ADS_1


"Iya Oma," sahut Miranda tersenyum kaku.


Harga diri Miranda sudah di injak-injak. Sadar Miranda. Asyifa bukan tandinganmu.


Mereka kembali melanjutkan makan dengan ngobrol-ngobrol sedikit dan pasti Lucky dan Vanya hanya mengajak Asyifa bicara. Banyak bertanya yang semakin membuat Rafa dan Miranda kepanasan sendiri.


Rafa baru taukan bukan hanya mamanya yang memuji Asyifa yang memang gadis sempurna. Tetapi orang lain juga dan sekarang kuping Rafa dan Miranda sudah entah seperti apa.


*******


Setelah makan selesai. Akhirnya Lucky dan Vanya mengantarkan Asyifa, Miranda dan Rafa keluar rumah.


"Asyifa kamu akan pulang bersama suami kamu apa mau Tante antar saja?" tanya Vanya. Karena tadi dia yang menjemput Asyifa.


"Dia akan pulang bersama kami," sahut Rafa dengan dingin.


" Hmmm, baiklah kalau begitu," sahut Vanny.


Asyifa sendiri jadi diam. Bagaimana mungkin dia 1 mobil dengan 2 orang itu dan tadi 2 orang itu tampak kesetanan dan apa yang di lakukan 2 orang itu nanti di mobil. Ya Asyifa takut aja tiba-tiba. Namun dia berusaha untuk tenang.


"Iya Miranda. Terima kasih ya atas kunjungan kamu," sahut Vanya. Miranda tersenyum. Asyifa dan Rafa juga berpamitan.


"Oh iya ini Asyifa. Tante ada hadiah untuk kamu," Vanya tidak lupa memberikan paper bag untuk Asyifa yang tidak tau apa isinya yang membuat Asyifa tersenyum.


"Makasih Tante sudah merepotkan," ucap Asyifa.


"Tidak ada yang merepotkan. Jangan berlebihan, kamu sering-sering ya mengunjungi Tante bersama Rafa," sahut Vanya.


"Semoga nanti mengunjunginya sudah bersama anak kecil," seloroh Lucky. Asyifa hanya tersenyum mendengarnya.


"Kalau begitu Asyifa pamit. Assalamualaikum," ucap Asyifa.


"Walaikum salam," sahut Vanya dan Lucky bersamaan.

__ADS_1


Asyifa membuka pintu mobil di bagian belakang. Namun Rafa menggeserkannya dan akhirnya Asyifa duduk di depan dan melihat hal itu membuat Miranda kesal. Tetapi tidak mungkin marah-marah masih ada Vanya dan Lucky di sana.


***********


Mereka sudah berada di perjalanan yang sudah 3 menit dari kediaman pasangan suami istri yang menjamu mereka.


"Rafa kau tidak akan diam ajakan wanita yang di sampingmu itu sudah merendahkan kita," sahut Miranda yang saatnya mengeluarkan amarahnya. Asyifa di samping Rafa hanya diam dengan membaca Alquran kecil. Anggap saja Radio rusak yang bicara dan tidak peduli sama sekali.


"Heh istri paksaan apa kau sudah merasa hebat dengan mereka memujimu di depan kami," ucap Miranda dengan kesalnya.


"Sekarang kau diam. Apa kau tidak menganggap kami ada di sini. Heh wanita kampungan," Miranda semakin emosi dengan Asyifa yang tidak mempedulikannya.


"Rafa kenapa kau diam saja!"sentak Miranda.


"Berhentikan mobilnya!"titah Miranda.


"Untuk apa?" tanya Rafa.


"Bukandia yang ada di depan. Tetapi seharusnya aku. Jadi berhentikan mobilnya," ucap Miranda. Rafa terlihat tidak bisa melakukannya.


"Rafa kau tidak mendengarku!"teriak Miranda. Membuat Rafa merem mendadak.


"Miranda kau itu mengagetkanku!" sahut Rafa kesal.


"Turun kau!" tegas Miranda. Asyifa tetap diam.


"Wanita sialan!" geram Miranda yang ingin menarik jilbab Asyifa dan Rafa menghentikan tangan Miranda sebelum Miranda melakukan itu.


"Cukup Miranda! Aku menahan diri sejak tadi untuk wanita ini. Karena masih di jalan. Jadi jangan melakukan kebodohan di sini,"ucap Rafa yang sepertinya masih punya hati sedikit.


"Argh!" umpat Miranda kesal dan melepas tangannya dari Rafa.


"Sial. Kita di permalukan Rafa dan kau masih diam. Apa yang kau tunggu. Aku tidak bisa membiarkan semua ini. Dia sengaja melakukannya untuk membuat kita tidak ada harga dirinya," ucap Miranda dengan suaranya yang tertekan.

__ADS_1


Rafa melihat kearah Asyifa yang masih tetap pada aktivitasnya, "apa yang kau lakukan Asyifa. Apa kau sengaja melakukan semua ini. Kau sengaja menunjukan semua keahlianmu untuk merendahkanku di depan mereka," ucap Rafa dengan suaranya masih rendah yang menyetir sambil melihat Asyifa di sampingnya yang sibuk dengan dunianya sendiri.


Bersambung


__ADS_2