Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 68


__ADS_3

"Tuan Rafa seperti yang saya katakan. Bekerja sama dengan Perusahaan tuan Rafa suatu kehormatan untuk saya. Jadi kita bisa bicarakan ini lagi. Namun harus dari awal dengan lokasi yang berbeda yang tidak mengganggu apapun," ucap Daulay.


Membuat Rafa sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi, "apa itu artinya kontrak kita tidak batal?" tanya Rafa ingin memperjelas semuanya.


"Iya kontrak kita tidak batal. Biar Sekretaris saya yang akan mengurus sisanya nanti. Jadi tuan Rafa jangan khawatir. Semoga proyek yang kita jalankan bisa terlaksana dengan baik," ucap Daulay.


"Tuan Daulay. Saya benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Terima kasih tuan sudah memberi saya kesempatan," ucap Rafa yang benar-benar bahagia.


"Saya juga berterima kasih karena mendapat banyak kesempatan juga," sahut Daulay.


Asyifa yang tidak tau apa-apa hanya tersenyum. Ya dia tidak tau apa yang di bicarakan suaminya, membahas apa dia benar-benar tidak tau. Namun dia juga tersenyum karena sepertinya pembahasan itu hal yang bahagia.


Apa lagi Rafa sampai menoleh ke arah Asyifa. Dengan Rafa tersenyum penuh arti yang Asyifa tidak paham dengan senyuman manis suaminya yang tidak pernah di lihatnya itu. Mungkin Rafa menyadari jika semua ini karena Asyifa. Karena tadi adalah keputusan yang bulat dari Daulay. Namun karena hanya mengenal Asyifa jadi berubah dengan cepat.


*********


Asyifa dan Rafa melanjutkan makan siang bersama di Restaurant yang sama. Tuan Daulay sendiri sudah pulang karena memang ada urusan pekerjaan dan juga tidak mau mengganggu makan siang 2 orang itu.


"Kamu pesan lagi makananya," ucap Rafa.


"Ini sudah cukup kak Rafa. Dari tadi kak Rafa terus menyuruh Asyifa, makan ini dan itu. Lagian ini juga sudah cukup dan iya kak Rafa terlihat sangat happy sekali," ucap Asyifa.


"Kamu benar, aku memang sangat bahagia. Makanya aku meneraktirmu," sahut Rafa.


"Oh iya. Bahagia karena apa. Apa karena kerja sama tadi?" tebak Asyifa.


"Iya itu benar, tuan Daulay dan aku melakukan kerja sama sebelum kita menikah, kita membangun Apartemen di lokasi yang kalau kami ingat di masjid saat kamu hampir di tabrak. Kita sudah sepakat dengan perancanaan dan bahkan persiapan sudah mencapai 10 persen. Namun tadi Sekretarisku mengabari tuan Daulay membatalkan kontraknya dan jelas aku kecewa dan mengajaknya bertemu berbicara dengan kepala dingin. Dan ternyata tidak ada hasilnya karena alasan tuan Daulay sangat masuk akal dia hanya tidak ingin apa yang di kerjakannya menggangu ibadah dan tetap akan membatalkan kerja sama itu,"


"Aku tidak bisa memaksanya. Karena alasan itu sangat tepat. Namun tidak di sangka tuan Daulay dengan mudah mengubah keputusannya dan sangat cepat mengambil solusi dengan kamu yang tetap bekerja sama. Jadi bagaimana mungkin aku tidak bahagia," jelas Rafa dengan wajahnya yang berbicara menunjukkan kebahagiaan tersebut.


"Alhamdulillah kalau begitu. Asyifa turut senang mendengarnya dan mungkin ini memang rezeki kak Rafa. Karena rezeki tidak pernah salah orang," sahut Asyifa.


"Dan iya Asyifa aku harus mengakui ini semua karena mu," sahut Rafa yang tidak gengsi untuk mengatakan hal itu.


"Karena Asyifa," sahut Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.


"Kenapa bisa karena Asyifa?" tanya Asyifa heran.


"Dia mengenalmu dan selang berapa detik dia mengubah keputusannya," jawab Rafa.


"Apa beliau menyukai Asyifa," sahut Asyifa.


Rafa mengkerutkan dahinya mendengar kata-kata Asyifa.


"Apa maksudmu?" tanya Rafa heran.


"Setiap Pria yang berbicara pada Asyifa, mendekati Asyifa, kak Rafa pasti berpikiran jika mereka menyukai Asyifa. Sama seperti pak Daulay, beliau guru Asyifa. Dan kak Rafa bilang beliau mengubah keputusannya karena mengenal dekat Asyifa. Bukannya pikirannya kak Rafa langsung mengarah pada hal itu," ucap Asyifa dengan sindiran untuk Rafa membuat Rafa menghela napasnya.


"Siapa juga yang memikirkan hal itu. Jangan selalu berpikiran buruk," ucap Rafa mulai kesal.


"Maaf kak Rafa, Asyifa hanya bercanda," sahut Asyifa.


"Kau bisa bercanda seperti itu. Karena kau merasa paling cantik dan banyak yang menyukaimu," sahut Rafa yang menunjukkan kecemburuannya.


"Memang bukannya Asyifa itu cantik ya," sahut Asyifa dengan percaya dirinya.


"Percaya diri sekali," desis Rafa. Membuat Asyifa tersenyum saja dengan Rafa yang sepertinya mau diajak bercanda-canda kecil dengannya. Ya supaya terkesan manis acara makan siang mereka.


"Hmmm, karena ini merupakan proyek yang besar dan aku merasa kamu berjasa dalam hal ini. Kamu bisa meminta hadiah padaku," sahut Rafa sembari makan dan tidak melihat Asyifa sama sekali.

__ADS_1


Rafa masih terlihat cool saat menawarkan Asyifa hadiah. Ya gengsi-gengsi manis. Namun Asyifa mendengarnya tersenyum dengan datarnya wajah suaminya yang begitu gengsi.


"Jangan senyum-senyum. Aku bisa berubah pikiran nanti," sahut Rafa dengan ketus.


"Hmmm, kak Rafa Asyifa tidak ingin meminta hadiah apa-apa dari kak Rafa. Namun jika kak Rafa memberikan kesempatan untuk Asyifa.. Asyifa ingin meminta sesuatu," ucap Asyifa.


"Jangan yang aneh-aneh. Katakan. Jika aneh aku tidak akan menyetujuinya," sahut Rafa.


"Bulan depan Asyifa akan wisuda di Mekkah. Asyifa hanya minta kak Rafa untuk menemaninya Asyifa wisuda," ucap Asyifa dengan permintaannya yang begitu standart.


Rafa terlihat diam yang tidak langsung menuruti apa yang di inginkan Asyifa.


"Aku akan lihat jadwal ku nanti. Jika bertabrakan. Maka aku tidak bisa," jawab Rafa yang memberikan peluang yang membuat Asyifa tersenyum lebar mendengarnya.


"Asyifa sangat berharap kak Rafa bisa menemani Asyifa," sahut Asyifa dengan harapannya yang besar.


"Kita lihat nanti. Jangan senang dulu," sahut Rafa.


Mungkin tidak ada maksud untuk menolak. Namun Rafa juga orang yang sangat sibuk dan takut tidak bisa karena jadwal yang padat dan lebih baik tidak memberi harapan apa-apa pada Asyifa. Dan Rafa juga sepertinya tidak ingin Asyifa kecewa. Makanya tidak memberi harapan apa-apa.


**********


Setelah Rafa dan Asyifa selesai makan siang dan untuk pertama kalinya Rafa yang tumben-tumbennya membawa Asyifa ke kantornya. Asyifa cukup canggung. Karena sejak tadi berjalan berdampingan dengan suaminya menuju ruangan suaminya.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka pasti bertanya-tanya siapa Asyifa. Namun sepertinya ada juga yang tau dan orang-orang yang baru pertama kali melihat Asyifa sudah begitu senang. Aura positif Asyifa dengan kecantikannya menunjukkan Asyifa itu wanita yang baik dan langsung di sukai semua orang yang terdengar berbisik-bisik dengan mengagumi Asyifa baik wanita dan apalagi Pria.


Asyifa juga tidak kalah ramahnya yang membalas sapaan itu dengan tersenyum lebar. Bagaimana orang-orang tidak semakin menyukai Asyifa.


"Cantik sekali istrinya tuan Rafa,"


"Apa itu istrinya?"


"Ya ampun ternyata benar ya. Orang yang hebat itu tidak akan memilih istri sembarangan,"


"Iya sih, mereka sangat cocok. Sangat serasi. Wajahnya mirip lagi,"


Terdengar cuitan-cuitan positif dari keduanya yang membuat Asyifa mendengarnya sebenarnya tidak nyaman. Ya dia tidak pernah nyaman mau di bicarakan di depan atau di belakang.


"Ayo!" ajak Rafa memasuki lift. Asyifa mengangguk dan mereka sudah berada di dalam lift yang kebetulan hanya berdua saja.


"Kak Rafa Asyifa sangat gugup ikut ke kantor kak Rafa," ucap Asyifa.


"Bukannya kau ingin sendiri ke kantorku. Lalu kenapa gugup. Apa kau juga tuli. Jelas-jelas mereka semua mengagumi mu. Padahal mereka belum mengenalmu. Jadi jangan pura-pura tidak bahagia," cicit Rafa.


"Apa sih kak Rafa. Siapa juga yang pura-pura tidak bahagia. Jika mereka semua mengagumi Asyifa tanpa mengenal Asyifa. Lalu bagaimana dengan kak Rafa kapan akan kagum pada Asyifa. Padahal sangat mengenal Asyifa," sahut Asyifa menoleh kearah Rafa. Asyifa memang semakin berani memberikan pertanyaan menohok untuk Rafa.


"Aku belum terlalu mengenalmu," jawab Rafa dengan datar.


"Bukannya kita sudah menikah lebih 3 bulan. Masa iya kak Rafa belum mengenal Asyifa," ucap Asyifa dan Rafa hanya diam yang tidak punya jawaban untuk menanggapi perkataan Asyifa.


Ting.


Pintu lift terbuka.


"Ayo keluar!" ajak Rafa yang keluar terlebih dahulu. Asyifa menghela napas dengan mengangguk yang langsung menyusul Rafa. Rafa langsung membawa Asyifa ke ruangannya.


Begitu sampai di ruangan Rafa. Asyifa melihat-lihat isi ruangan tersebut dengan kepalanya yang berkeliling melihat isi ruangan kerja suaminya itu. Sama dengan ruangan kerja pada umumnya penuh dengan dokumen-dokumen. Terdapat meja kerja dan ada Sofa yang untuk bersantai atau untuk tamu yang datang dan lain sebagainya.


Rafa juga orangnya sangat Rapi dan ruangan itu tertata begitu Rafi dan pasti sangat bersih.

__ADS_1


"Duduklah! jangan berdiri saja!" pinta Rafa. Asyifa mengangguk dan duduk di Sofa dengan kepalanya yang masih berkeliling. Sementara Rafa duduk di meja kerjanya.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku, setelah itu baru kita pulang. Kau yang meminta untuk datang kemari. Jadi tunggu aku sampai selesai bekerja," ucap Rafa yang mulai membuka laptopnya.


"Baiklah kak Rafa," sahut Asyifa yang melihat ada majalah di atas meja dan langsung membukanya untuk menghilangkan kejenuhannya.


"Kalau mau minum kau bisa minta sama OB," sahut Rafa.


"Iya nanti Asyifa minta," jawab Asyifa. Rafa mengangguk dan kembali fokus pada laptopnya.


Rafa yang bekerja fokus di mejanya. Namun Asyifa tampaknya tidak mau diam dan melihat-lihat ruangan itu sembari tangannya yang gatal kalau tidak memegang apa yang di temukannya termasuk-termasuk buku-buku yang membuatnya penasaran dan langsung di bacanya.


Mata Asyifa melihat ke arah meja Rafa yang melihat bekal yang tadi di buatkannya untuk suaminya yang sudah kosong membuat Asyifa tersenyum. Lalu menghampiri Rafa yang berdiri di samping Rafa.


"Kak Rafa menghabiskan makanannya?" tanya Asyifa membuat Rafa melihat ke arah bekal tersebut.


"Aku membuangnya," sahut Rafa menjawab dengan ketus melihat kearah Asyifa dan wajah Asyifa tampak mengkerut dengan perkataan Rafa.


"Kenapa di buang?" tanya Asyifa yang tampak kecewa.


"Lalu kau percaya aku membuangnya," sahut Rafa.


"Tadi kak Rafa bilang," sahut Asyifa.


"Asyifa kau itu aneh-aneh aja. Apa menurutmu aku membuangnya. Makannya di buat untuk di makan. Bukan di buang," ucap Rafa. Asyifa tersenyum mendengarnya.


"Malah tersenyum," desis Rafa kesal.


"Makasih kak Rafa sudah memakan masakan Asyifa," ucap Asyifa.


"Hmmmm," Rafa berdehem menjawabnya. Membuat Asyifa tersenyum kembali.


"Kak Rafa lagi buat grafik ya?" tanya Asyifa melihat kearah laptop Asyifa.


"Iya," jawab Rafa dengan datar dan matanya fokus kembali kelaptopnya.


"Kenapa tidak menggunakan ini saja," sahut Asyifa tiba-tiba membungkukkankan tubuhnya di samping Rafa yang melihat fokus pada laptop Rafa bahkan sampai mengambil alih apa yang di kerjakan Rafa.


"Ini bukannya lebih menarik?" tanya Asyifa yang seolah sangat paham.


"Kau mengerti masalah bisnis?" tanya Rafa.


"Sedikit, dulu Asyifa kan pernah kuliah di Milan. Jadi tau-tau sedikit," jawab Asyifa.


"Sebenernya kau itu kuliah di mana saja. Banyak sekali tempatnya, Milan, Mekkah, Australia. Sebenarnya apa yang kau katakan itu benar atau tidak," sahut Rafa.


"Ya benar lah kak Rafa masa iya Asyifa bohong," sahut Asyifa.


"Sombong sekali," sahut Rafa kesal dengan menyandarkan tubuhnya di kepala kursi sembari memijatnya dan malah membiarkan Asyifa memegang pekerjaannya.


Mungkin Rafa juga lelah dan Asyifa tampaknya mengerti makanya Rafa percaya-percaya aja dengan Asyifa.


"Pinggang mu bisa patah jika seperti itu. Ambil tempat dudukmu!" titah Rafa.


Asyifa mengangguk dan langsung mengambil tempat duduknya di samping Rafa. Sepertinya Rafa mengijinkan dan mempercayai Asyifa melanjutkan pekerjaannya dan Asyifa yang memang bosan mau ngapain dengan senang hati mengerjakan pekerjaan itu dengan serius.


Sementara Rafa yang bersandar di tempat duduknya malah memejamkan matanya. Dia tidak tidur. Hanya beristirahat saja sejenak dan pekerjaannya tampaknya akan baik-baik saja di tangani Asyifa. Dia tidak menyuruh Asyifa melakukannya. Namun Asyifa meminta sendiri kepadanya.


Asyifa juga begitu cekat mengerjakannya yang mungkin sudah pernah di pelajari nya dan sangat paham dengan pekerjaan itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2