Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 74


__ADS_3

"Bagaimana mungkin Asyifa tidak memikirkan kak Rafa. Semua yang terjadi bukan hal yang mudah dan apa yang terjadi tidak semuanya benar. Ada banyak fitnah dan ini akan berpengaruh untuk banyak hal," ucap Asyifa dengan lembut membuat Rafa tidak bisa mengatakan apa-apa. Wanita di dekatnya ini memang sangat sempurna dan berhati malaikat. Ya mungkin Rafa menanamkan itu di hatinya.


"Jangan khawatir Asyifa. Aku akan membersihkan berita ini dan akan menghadapi apapun. Ini masalah yang aku cari sendiri dan aku akan menyelesaikan sendiri," ucap Rafa meyakinkan Asyifa.


"Asyifa berdoa semoga masalah ini benar-benar selesai," ucap Asyifa. Rafa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu kak Rafa Asyifa ingin tanya sesuatu pada kak Rafa!" ucap Asyifa.


"Tanyakanlah," sahut Rafa.


"Hubungan kak Rafa dengan Miranda. Apa benar-benar sudah tidak ada lagi?" tanya Asyifa dengan hati-hati. Dia masih takut jika Rafa tersinggung dan nanti bisa marah.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya," jawab Rafa dengan jujur apa adanya.


"Asyifa boleh tau alasannya?" tanya Asyifa yang ingin tau.


"Aku mengetahui bagaimana Miranda sebenarnya selama ini. Dia menghiyanati ku di saat aku memperjuangkannya. Saat di hotel aku memergokinya bersama Pria lain dan aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Karena semua perjuangan ku sudah sia-sia," jelas Rafa yang baru menceritakan hal itu pada Asyifa.


"Apa itu artinya. Jika kak Rafa tidak memergokinya di hotel saat itu. Apa sampai sekarang kak Rafa masih berhubungan dengannya?" tanya Asyifa yang sebenarnya penjelasan Rafa sedikit sesak bagi Asyifa.


"Maksud kamu?" tanya Rafa.


"Tadinya Asyifa tidak ingin tau apa yang terjadi. Tetapi Asyifa penasaran dan Asyifa hanya berharap. Jawaban kak Rafa hanya singkat. Atau paling tidak hanya memberi alasan karena hubungan itu salah, karena kak Rafa terikat pernikahan. Namun ternyata tidak. Hanya karena kak Rafa memergokinya dan jika tidak sampai sekarang kak Rafa pasti masih bersamanya," ucap Asyifa yang tampak kecewa.


"Asyifa!" lirih Rafa.


"Dan itu juga yang membuat kak Rafa malam itu dan hari-hari yang ada di sana. Hanya sebagai pelarian untuk menenangkan hati kak Rafa karena di kecewakan seorang wanita," ucap Asyifa yang menunjukkan rasa kecewanya.

__ADS_1


"Asyifa!" lirih Rafa yang sepertinya merasa bersalah dengan jawabannya yang membuat Asyifa sedih.


Asyifa meraih tangan Rafa dengan meletakkan tangan itu tepat di dadanya dan menatap dalam-dalam suaminya.


"Apa kak Rafa tau bagaimana perasaan Asyifa saat mendengar jawaban itu. Ada rasa sakit di dalam sini yang Asyifa tidak tau kenapa harus sesakit itu. Dan ternyata rasa sakit itu karena Asyifa menyadari. Jika kak Rafa belakang ini berubah hanya hanya karena itu. Apa kak Rafa sekarang sedang bergejolak dengan banyak perbandingan Antara Asyifa dan juga Miranda. Di mana belakang ini kak Rafa sangat berubah hanya karena hal itu," ucap Asyifa dengan air matanya yang keluar.


"Kamu salah paham Asyifa," sahut Rafa.


"Sakit sekali rasanya saat suami kita sedang bercerita dengan wajah penuh kekecewaan. Hanya karena penghiyanatan kekasihnya. Lalu bagaimana jika tidak ada penghiyanatan. Apa kak Rafa akan terus bersamanya tanpa memikirkan perasaan dan pernikahan kita. Asyifa tidak tau harus bahagia atau tidak dengan hubungan kak Rafa dengan Miranda," lanjut Asyifa yang merasa sangat menyedihkan di depan Rafa.


"Asyifa tidak seperti itu!" Rafa berusaha menjelaskannya dengan lembut. Asyifa tersenyum dengan helaan napasnya dan kembali membalikkan tubuhnya yang dan membelakangi Rafa.


"Asyifa," lirih Rafa dengan memegang bahu Asyifa. Namun Asyifa menggeserkan tubuhnya yang seakan tidak mau di sentuh.


"Seharusnya Asyifa tidak menanyakan hal itu. Paling tidak Asyifa bisa hidup dalam permainan kak Rafa yang hanya di jadikan pelarian untuk penenang hati. Kalau tau seperti ini lebih baik tidak bertanya," ucap Asyifa.


"Asyifa!" lirih Rafa. Asyifa menarik selimut dan memejamkan matanya yang pasti air matanya keluar.


Rafa benar-benar salah menjawab sekarang istrinya tampak sedih. Padahal begitu banyak yang di lakukan Asyifa dan barusan Asyifa juga telah menutup aibnya. Menjaga harga dirinya di depan keluarga Asyifa. Bukannya berterima kasih Rafa malah menyaksikan air mata itu menetes dan semua itu karena kesalahannya.


***********


Mentari pagi kembali tiba. Asyifa dan Rafa masih berada di rumah orang tua Asyifa. Rafa baru bangun dari tidurnya dan dengan Rafa yang memijat kepalanya yang terasa berat. Rafa melihat ke sebelahnya dan di sana tidak ada Asyifa sama sekali.


Yang pastinya seperti biasa Asyifa pasti bangun pagi-pagi dan ternyata tidak membangunkan Rafa. Rafa menghela napasnya dan menyibakkan selimut. Lalu turun dari ranjang.


Krekkk.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan ternyata Asyifa yang memasuki kamar.


"Kak Rafa sudah bangun!" ucap Asyifa tanpa melihat Rafa yang langsung menuju tempat tidur dengan membersihkan tempat tidur. Sudah sangat jelas bagaimana sikap Asyifa yang masih marah terlihat ketus pada Rafa.


"Kak Rafa sebaiknya mandi. Asyifa sudah siapkan airnya. Ayah dan ibu juga menunggu di bawah untuk sarapan," ucap Asyifa lagi-lagi bicara tanpa melihat Rafa dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


"Baiklah!" sahut Rafa menghela napasnya. Asyifa tidak bicara lagi. Padahal Rafa masih ingin mendengar Asyifa bicara. Namun tidak Asyifa begitu ketus dan bahkan beberapa kali melewati seakan tidak menganggap ada Rafa di dalam kamar itu.


**********


Rafa sudah selesai mandi yang keluar dari kamar dengan menghina bathrobe. Di mana Rafa melihat ada pakaian yang tersusun rapi yang pasti di siapkan Asyifa. Namun Asyifa sendiri duduk di sofa yang ada di kamar itu yang terlihat fokus pada laptop dan tidak menegur Rafa sama sekali.


"Kamu sedang apa?" tanya Rafa yang basa-basi memulai obrolan.


"Hanya mengecek email yang masuk dari kampus Asyifa," jawab Asyifa.


"Memang ada hal penting?" tanya Rafa.


"Tidak juga," sahut Asyifa menutup telponnya.


"Kak Rafa sudah selesai mandi ayo cepat turun biar sarapan bersama," ucap Asyifa meletakkan laptopnya di tempatnya dan berdiri dari tempat duduknya.


"Di mana pakaian ku?" tanya Rafa saat melihat Asyifa hendak pergi.


"Bukannya ada di tempat tidur," jawab Asyifa. Rafa duduk di pinggir ranjang.


"Tolong ambilkan!" titah Rafa. Padahal dengan menjulurkan tangan pakaian itu bisa diambil Rafa sendiri. Namun sepertinya Rafa sengaja. Supaya Asyifa tidak kemana-mana dan Rafa mungkin ingin mencairkan suasana di antara mereka. Akibat perselisihan tadi malam.

__ADS_1


Asyifa menghela napasnya dan memilih mengambilnya dari pada protes yang memperpanjang urusan.


Bersambung


__ADS_2