Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 186


__ADS_3

Dedi masih menunggu di depan rumah Abian yang bersandar pada mobilnya dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.


"Kenapa Zee belum turun juga," gumam Abian melihat ke arah atas rumah Abian dan melihat tiba-tiba lampu di bagian atas mati. Abian hanya melihat dengan ekspresi yang tidak terbaca sama sekali dengan menghela napasnya kedepan.


"Aku coba menelponnya dia jadi ikut pulang bersama ku apa tidak," ucap Dedi yang langsung menelpon Zee.


Ponsel Zee bergetar di atas meja yang sama sekali tidak di angkat siapa-siapa. Yang mana Zee dan Abian yang masih berada di atas tempat tidur dengan posisi yang sama seperti semula. Abian yang menindih Zee berciuman di atas ranjang. Awalnya ciuman itu terlihat sangat memaksa dan penuh penolakan dari Zee.


Namun lama-kelamaan Zee pasrah dan tidak bisa melakukan apa-apa dan menerima ciuman itu dari Abian dan semakin lama semakin panas dan ponsel yang berdering sejak tadi akan di biarkan begitu saja dan tidak akan membuat Abian berhenti sama sekali.


********


Mentari pagi kembali tiba. Ternyata Dedi masih menunggu Zee di dalam mobil di depan rumah Abian. Tidak tau apa yang membuatnya tetap menunggu Zee sampai dia ketiduran di pagi yang begitu cerah dengan angin sepoi-sepoi yang membuat tidur akan semakin nyenyak.


Lain dengan Zee dan Abian yang masih berada di dalam kamar. Kamar yang menjadi saksi hubungan pasangan suami istri yang hampir bercerai itu. Kamar yang awalnya begitu rapi terlihat berantakan.


Bukan hanya koper yang jatuh di dekat pintu kamar. Tetapi juga pakaian Abian dan Zee yang berserakan di lantai yang di lempar sembarangan tempat. Sementara di atas tempat tidur terlihat Zee yang sudah bangun dengan berbaring miring yang hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Sementara Abian yang berada di sampingnya yang terlihat Abian bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada. Memperlihatkan wajah penuh penyesalannya dengan beberapa kali menghembuskan napas beratnya.


Dari apa yang di lihat di dalam kamar itu sangat jelas terjadi hubungan di antara mereka tadi malam dan pasti Abian menyesal karena terkesan memaksa Zee dan pasti membuat Zee semakin sakit.


Abian membuang napasnya perlahan kedepan lalu menoleh ke arah Zee yang tetap pada posisinya dan tidak mengatakan apa-apa sejak insiden itu terjadi.

__ADS_1


Abian pun mendekati Zee dan memeluk Zee dari belakang dengan erat pelukan yang menempelkan pipi Abian pada pipi Zee membuat Zee memejamkan matanya saat tubuhnya langsung merinding saat Abian menyentuhnya kembali.


"Maafkan aku," ucap Abian tepat di telinga Zee yang semakin memeluk erat Zee. Air mata Zee jatuh dari pelupuk matanya dan Abian bisa merasakan itu. Abian memegang tangan Zee dengan erat. Tangan bergetar dan sangat dingin yang berusaha untuk menghangatkannya.


"Ini kesalahan ku Zee. Aku tidak mengontrol diriku. Maafkan aku, seharusnya tidak memaksamu yang membuatmu semakin sakit," ucap Abian yang begitu lembut yang meminta maaf pada istrinya yang Abian sangat menyadari perbuatannya itu sangat keterlaluan.


"Kenapa memperlakukan ku seperti ini?" tanya Zee dengan suara tertahannya.


"Aku tidak ingin kita bercerai. Tidak seharusnya semua ini terjadi. Mungkin terlalu cepat untuk menikahimu dan seharusnya menikah dengan mu bukan dengan cara seperti itu. Tapi aku juga tidak tau Zee harus melakukan apa. Marah terhadap sikapmu membuatku harus menggunakan Syira untuk membuatmu merasa tersiksa. Namun aku menyadari apa yang aku sangat salah dan hanya membuat aku semakin menyakitimu. Aku menyesalnya dan sangat berusaha untuk bisa memperbaiki rumah tangga kita," jelas Abian dengan lembut dan tenang berbicara pada Zee dengan terus memeluk Zee.


"Aku kehilangan pikiran, tidak bisa mengendalikan diriku. Saat kamu tidak mengubah keputusan mu. Kesalahan ku memang sangat besar Zee. Tetapi apa aku tidak pantas untuk mendapatkan 1 kesempatan dari mu," ucap Abian.


"Kau itu sangat jahat," sahut Zee yang hanya mengatakan kata singkat itu.


"Jangan pernah ingin bercerai dariku dan talak yang aku jatuhkan sudah batal," ucap Abian mencium lembut pucuk kepala Zee dan membuat Zee hanya diam dengan kembali memejamkan matanya sebentar.


"Aku buatkan sarapan untukmu sebentar. Kamu mandilah!" ucap Abian melepas pelukannya dari Zee dan Abian langsing menuruni ranjang dan mengambil pakaiannya yang ada di lantai dan langsung memakainya. Zee hanya diam saja yang hanya mendengarkan suara pintu yang tertutup yang sepertinya Abian keluar dari kamar.


Zee yang tetap pada posisinya menghela napasnya dengan menyeka air matanya.


"Apa mungkin ini sudah takdirku," batin Zee.


Tidak dapat berpikir jernih. Tetapi pada kenyataannya perpisahannya dengan Abian sudah tidak berati lagi. Karena talak yang di jatuhkan Abian sudah batal dengan cara berhubungan dengan istrinya dan itu yang pertama kali mereka lakukan.

__ADS_1


Hal itu juga pasti membuat Zee sangat sedih, karena tindakan Abian yang memaksa dirinya. Namun apa daya yang bisa di lakukan Abian hanya itu saja.


************


Sementara di kediaman Athar. Athar yang sedang siap-siap ingin kekantor yang sedang memakai dasi di depan cermin dan Asyifa baru memasuki kamar dengan membawakan segelas kopi yang menjadi favorite suaminya.


"Ini kak Rafa," ucap Asyifa berdiri di depan suaminya dan Rafa langsung mengambilnya dan langsung meminumnya.


"Zee sudah pulang?" tanya Rafa selesai minum memberikan kembali kepada istrinya.


"Belum kak Rafa. Kayaknya Zee menginap di rumah kak Abian. Ya Asyifa berharap mereka bisa bicara baik-baik," jawab Asyifa.


"Aku juga mengharapkan hal yang sama. Kita doakan saja," sahut Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya.


"Oh iya sayang, aku nanti pulangnya agak larut ya. Soalnya aku ada meeting ke Bandung dan tidak tau mau selesai jam berapa," ucap Rafa yang mengatakan terlebih dahulu pada istrinya.


"Kak Rafa beberapa hari ini sering pulang di atas jam 9. Sudah begitu sampai rumah bukannya istirahat malah kerja lagi sampai larut malam dan bahkan Asyifa pernah lihat sampai jam 2 pagi. Kak Rafa harus memikirkan kesehatan juga jangan kerja terlalu berlebihan," ucap Asyifa yang mengeluh pada suaminya. Rafa tersenyum dengan memegang kedua bahu istrinya.


"Maaf ya, aku membuatmu khawatir. Hanya saja ada proyek bersatu bersamaan pengusahaan Luar Negri. Makanya beberapa hari ini aku terlalu sibuk. Lagian ini juga rezeki anak kita bukan," ucap Rafa.


"Tapi kalau kesehatan kak Rafa terganggu itu sama saja," ucap Asyifa.


"Iya sayang aku paham, aku minta maaf. Tapi aku janji akan memperhatikan kesehatan ku," ucap Rafa yang meyakinkan istrinya. Asyifa hanya menghela napas. Dia memang sangat mengenal suaminya yang lebih perduli dengan pekerjaan dan sampai lalai dalam kesehatannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2