Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 46


__ADS_3

Sementara Asyifa yang kelihatannya sedang gelisah yang menunggu Rafa yang tidak belum pulang di mana sudah malam dan bahkan hujan deras yang membuat Asyifa khawatir.


"Asyifa!" tegur Rania menghampiri putrinya itu yang berdiri di depan pintu.


"Iya ibu," sahut Asyifa.


"Ayo duduk. Rafa sebentar lagi pasti datang. Mungkin saja dia menunggu hujan selesai dulu," ucap Rania yang sangat tau jika putrinya itu sangat khawatir pada Rafa.


"Baik ibu," sahut Asyifa. Namun baru melangkah Asyifa sudah mendengar mesin mobil dan Asyifa dengan cepat membuka pintu rumah dengan mengambil payung dan langsung keluar rumah untuk menjemput suaminya.


Rania hanya tersenyum melihat Asyifa yang sangat berinisiatif untuk menjemput Rafa agar Rafa tidak kehujanan.


Rafa keluar dari mobil dan langsung di payungi Asyifa. Rafa hanya menghela napas dan langsung keluar yang mengambil payung itu dari Asyifa dan dia yang memegangnya.


"Kita langsung pulang saja. Hujannya akan semakin deras nantinya,"


"Kalau begitu pamitan dulu pada Ayah dan Ibu," ucap Asyifa.


"Ayo!" ajak Rafa. Asyifa mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju rumah yang satu payung ber-2 bahkan dengan tangan Rafa merangkul Asyifa agar lebih dekat dengannya. Agar Asyifa tidak terkena hujan sama sekali.


Asyifa sepertinya merasa begitu hangat dengan perlakuan Rafa yang mungkin spontan bagi Rafa.


Asyifa dan Rafa sudah memasuki rumah dengan Asyifa yang menyimpan payung pada tempatnya, lalu melihat Rafa yang sedikit basah.


"Asyifa ambil andil sebentar!" ucap Asyifa. Rafa menahan tangannya.


"Tidak usah, kita langsung pamitan saja," sahut Rafa.


"Baiklah!" sahut Asyifa mengangguk yang mereka menghampiri ruang tamu dan di sana ada Rendy, Rania dan juga Azka.


"Ayah, ibu. Asyifa dan kak Rafa mau pulang!" ucap Asyifa berpamitan.


"Hujan-hujannan seperti ini," sahut Rendy.


"Besok saya ada pekerjaan. Jadi mau tidak mau harus pulang cepat," jawab Rafa.


"Tapi sangat bahaya Rafa menyetir hujan-hujan seperti ini. Kalian menginap saja malam ini di sini. Hujannya juga semakin deras," sahut Rania. Asyifa hanya diam. Semuanya hanya tergantung suaminya saja.


"Lagian percuma juga kakak. Tadi barusan ada teman Azka yang keluar dan tidak beda lewat. Gara-gara ada pohon besar tumbang dan malahan sampai sekarang macet. Jadi percuma juga untuk pulang," sahut Azka yang baru mendapatkan informasi tersebut.

__ADS_1


"Tuh dengar Rafa, jadi kalian menginap saja di sini. Kamu juga basah. Kamu ganti baju saja. Nanti kamu masuk angin," ucap Rania.


Rafa melihat ke arah Asyifa dan Asyifa menunduk yang dia pasti nanti akan di salahkan. Karena menunda-nunda pulang. Padahal dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya kebetulan saja hujan deras.


"Baiklah kalau begitu," sahut Rafa yang akhirnya mengalah membuat Rania dan Rendy tersenyum. Yang pastinya Asyifa juga tidak percaya Rafa mau menginap di rumahnya.


"Ya sudah Asyifa ayo bawa suami kamu istirahat, kamu siapkan air hangat untuknya dan untuk pakaian ganti Rafa. Nanti kamu ambil punya ayah," ucap Rania.


"Tidak usah repot-repot. Aku pakai ini saja," sahut Rafa menolak.


"Jangan mencari penyakit Rafa dengan tertidur dengan pakaian basah. Kamu harus jaga kesehatan kamu," ucap Rendy.


"Baiklah!" sahut Rafa yang begitu penurut kali ini. Asyifa hanya bisa tersenyum yang kelihatan sangat mudah bagi Asyifa bahagia.


"Ayo Asyifa ajak suami kamu," sahut Rania.


"Baik ibu," sahut Asyifa.


"Ayo kak!" ajak Asyifa. Rafa mengangguk saja dan mereka berdua pun menaiki anak tangga kekamar Asyifa.


"Rafa orangnya sangat dingin. Jadi agak sulit untuk berbaur," ucap Rendy.


"Kita doakan yang terbaik," sahut Rendy.


Azka tidak mengeluarkan pendapatnya. Dia tidak tau harus berpendapat apa. Tetapi menurutnya rumah tangga kakaknya tidak baik-baik saja.


**********


Rafa berada di kamar Asyifa yang sekarang Rafa membuka satu persatu kancing kemejanya untuk mengganti pakaiannya dengan kaos yang di siapkan Asyifa dan Asyifa tidak ada di kamar sama sekali.


Ceklek.


Asyifa membuka pintu kamar dengan membawa segelas teh hangat dan Asyifa terkejut melihat Rafa melepas pakainya membuat Asyifa langsung mengalihkan pandangannya dengan menunduk yang sepertinya tidak biasa baginya penampilkan tubuh polos Pria.


Rafa hanya melihat Asyifa dengan mendengus kasar dengan tersenyum tipis dan terus melanjutkan pekerjaannya. Tidak ada yang di ucapkannya dan terus memakai pakaiannya dan Asyifa masih berdiri tetap di depannya yang terlihat gugup yang merasa seharusnya tidak harus masuk kedalam.


"Kau mau sampai kapan berdiri terus di sana?" tanya Rafa membuat yang sudah mengganti pakaiannya dengan kaos. Dengan ragu Asyifa mengangkat kepalanya dan lega dengan Rafa yang sudah selesai mengganti pakaiannya.


Asyifa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu langsung mendekati Rafa berdiri di depan Rafa.

__ADS_1


"Ini kak tehnya," ucap Asyifa.


Rafa langsung mengambilnya dan meneguknya langsung. Setelah itu Rafa mengembalikan pada Asyifa dan Rafa langsung menaiki ranjang. Dia tidak banyak cerita saat ini. Bahkan tidak menyalahkan Asyifa karena harus menginap di rumah orangtuanya.


"Kak Rafa tidak mau makan?" tanya Asyifa.


"Tidak usah, aku mau tidur. Jadi jangan mengganggu tidurku," sahut Rafa dengan suara datar menarik selimut dan langsung berbaring miring yang sepertinya memang dirinya sangat lelah dan harus beristirahat.


"Baiklah!" sahut Asyifa yang tidak mau mencari gara-gara dengan Rafa. Karena Rafa sudah anteng saat ini.


Asyifa pun langsung keluar dari kamar yang mana baru jam 9 malam. Asyifa masih ingin mengobrol dengan keluarganya. Karena tidak banyak kesempatan baginya untuk bertemu. Dia juga tidak mau mengganggu Rafa.


***********


Malam hari semakin larut. Rafa tiba-tiba terbangun dengan membuka matanya perlahan. Rafa duduk dan melihat ke sekitar kamar. Namun tidak ada Asyifa di sana.


"Di mana dia?" batin Rafa bertanya-tanya. Rafa melihat jam di ponselnya.


Sudah pukul 12 malam dan Rafa merasa sudah tertidur begitu lama. Tetapi baru beberapa jam saja. Rafa melihat ke arah jendela dan masih hujan deras.


Rafa menghela napasnya dan menyibak selimut dari tubuhnya. Lalu langsung turun dari ranjang.


Rafa kelihatannya bingung mau ngapain, dia sudah sempat tertidur darinya dan bangunnya nanggung dan sekarang matanya sudah tidak mau tidur lagi dan membuatnya kebingungan harus apa.


Rafa pun memilih untuk duduk di Sofa yang ada di kamar itu yang menghadap televisi. Rafa pun memilih untuk menonton untuk menghilangkan rasa kejenuhannya.


Rafa membuka laci yang ada di lemari televisi yang mana Rafa mencari-cari VCD yang bisa di tonton. Rafa hanya mengambil sembarangan saja dan langsung memasangnya lalu mencari posisi ternyaman untuk duduk yang melihat apa yang di tontonnya. Ketika Rafa menekan remote tombol play.


Yang pertama muncul seorang anak kecil perempuan yang sangat lucu dengan berlari- dengan rambut panjangnya. Berlari sembari meniup gelembung sabun dan banyak balon-balon yang keluar.


..."Asyifa pelan-pelan nanti kamu jatuh!" ucap Ratih nenek Asyifa yang mengejar-ngejar Asyifa. Ternyata anak kecil yang manis itu adalah Asyifa....


..."Iya nenek. Maaf kan Asyifa," sahut Asyifa yang langsung berhenti dan Ratih berlutut di depan Asyifa, mensejajarkan dirinya dengan Asyifa....


..."Maafkan Asyifa nenek. Seharusnya nenek tidak mengejar Asyifa. Nanti nenek capek," sahut Asyifa yang begitu lucunya bicara....


Jika kalian ingin tau seperti apa lucunya Asyifa saat kecil. Bisa flassback baca novel tertulis dalam Imamku di episode-episode akhir ceritanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2