
Syiria berada di dalam di kamarnya yang duduk di meja Rias dengan melihat wajahnya di cermin. Napasnya naik turun yang menatap dirinya di cermin yang entah mengapa Syira merasa dia begitu jijik dengan dirinya sendiri.
"Aku memang sangat menjijikkan. Tetapi aku tidak punya pilihan lain. Hanya kamu yang bisa membantuku Dedi. Aku tidak tau siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas bayi ini. Papa bisa membunuhku. Jika tau apa yang terjadi sebenarnya dan aku tidak punya seseorang yang mampu membantuku. Hanya kamu Dedi. Hanya kamu yang bisa membantuku untuk menyelesaikan semua masalah ini,"
"Aku tau kamu pasti sangat membenciku. Aku tau kamu begitu marah padaku. Aku telah melibatkan mu dalam hal ini. Aku tau itu dan aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Maafkan aku Dedi. Ini hanya sampai pernikahan saja," ucap Syira yang air matanya keluar dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
Sebenarnya dari hatinya yang paling dalam tidak ingin melibatkan Dedi dengan apa yang terjadi kepadanya. Namun Syira tidak punya pilihan lain. Itu pilihan terakhirnya dan mau tidak mau harus di lakukannya. Karena tidak ada jalan lag.
********
Dedi berdiri di depan jendela dengan ke-2 tangannya yang di masukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya yang terlihat dingin yang hanya melihat ke luar dengan pemikirannya yang pasti tidak tenang.
Kesepakatan untuk menikah dengan Syira sudah di setujui dua keluarga yang bersangkutan dan bahkan tanggal pernikahannya sudah di tentukan.
Dedi tidak bersalah dan dia juga tidak di beri kesempatan untuk menjelaskan dan membuktikan jika di tidak bersalah. Jadi jelas pikiran Dedi sekarang mampet dengan banyaknya yang terjadi dalam hidupnya.
Dia hanya menghela napas berat yang mencoba untuk tenang dan menerima semua cobaan ini.
toko-tok-tok-tok.
Pintu kamarnya di ketuk dan tanpa di suruh masuk. Pintu itu sudah di buka dan menampilkan Lulu yang memasuki kamar yang membawa lipatan pakaian.
"Ini kak pakaian kakak untuk besok pagi. Untuk acara lamaran untuk Syira," ucap Lulu yang meletakkan pakaian itu di atas tempat tidur.
Dedi tidak merespon apa-apa. Lulu pun menghampiri Dedi dengan memeluk Dedi pelukan yang memberikan ketenangan untuk Dedi.
"Aku tau apa yang kakak rasakan. Tetapi semua ini adalah ujian yang terberat untuk keluarga kita dan juga kakak. Mungkin ada hikmah di balik semua ini. Aku sangat yakin rencana tuhan sangat indah kak. Hanya tinggal menunggu waktunya saja kak," ucap Lulu yang mencoba untuk menghibur kakaknya agar tidak sedih dengan apa yang telah di alami kakaknya.
"Aku sudah lelah Lulu harus berpikir atau berpendapat apa. Tidak ada jalan yang terbaik dan tidak ada petunjuk dan nyatanya besok aku akan melamar Syira dan pernikahan kami juga semakin dekat," ucap Dedi yang pasrah dengan alur yang sudah di tentukan kepadanya.
Lulu melepas pelukannya dengan memegang ke-2 tangan sang kakak, "tapi kak atas petunjuk Allah dan kekuasaan Allah. Kebenaran pasti akan berpihak pada kakak. Jika kakak memang tidak bersalah percayalah. Allah akan menunjukkan kebenaran itu," ucap Lulu yang masih berharap kebenaran berpihak pada kakaknya.
__ADS_1
"Tetapi semua itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada harapan Lulu," ucap Dedi dengan yakin.
"Walaupun tidak ada harapan dan semuanya berjalan begitu saja. Tetapi percayalah pasti ada hikmahnya. Kita serahkan kepada Allah ya," ucap Lulu yang mencoba menyemangati kakaknya.
"Iya. Lalu bagaimana dengan kamu. Apa kamu mpercayai kakak?" tanya Dedi.
"Lulu percaya pada kakak," jawab Lulu.
"Andai mama juga seperti itu. Mungkin aku bisa lebih semangat untuk mengungkapkan apa yang terjadi," ucap Dedi.
"Mama juga pasti percaya pada kakak. Hanya saja situasi yang di hadapinya tidak mudah. Jadi kakak jangan merasa bersedih lagi ya," ucap Lulu.
"Iya," sahut Dedi yang berpelukan kembali dengan adiknya. Dedi sedikit merasa tenang mendapatkan suport sistem dari sang adik yang selalu memberikannya dukungan.
***********
Pagi-pagi Rafa dan Asyifa sudah siap-siap dengan rapi-rapi yang sepertinya ingin pergi. Asyifa tampil sangat cantik seperti biasanya yang menggunakan gamis pink yang senada dengan jilbabnya dan Rafa juga tampan menggunakan jasnya.
"Kita doakan saja. Kau juga mengharapkan hal yang sama," sahut Rafa.
"Asyifa berdoa semoga kak Dedi bisa bersabar dan berserah diri kepada Allah atas musibah yang di hadapinya ini," ucap Asyifa.
"Amin," sahut Rafa.
"Ya sudah kak Rafa sudah selesai?" tanya Asyifa.
"Sudah sayang. Ayo kita pergi!" ajak Rafa.
"Iya kak Rafa," sahut Asyifa yang langsung keluar dari kamar mereka.
*********
__ADS_1
Hari ini keluarga Dedi akan melamar Syira. Mereka datang kerumah Syira untuk mengikuti proses lamaran. Hanya keluarga Asyifa saja dan sementara keluarga Rafa tidak ikut. Hanya Rafa saja perwakilannya. Abian dan Zee pun tidak ikut.
Rendy, Rania, Willo, Dedi, Lulu, Rony, Asyifa, Rafa dan Azka yang datang kerumah itu untuk melamar Syira.
Mereka di sambut dengan baik di persilahkan duduk dan di jamu dengan makan makanan. Di rumah Syira sendiri juga tidak ramai hanya ada beberapa keluarga saja yang datang tidak Syira dan keluarga intinya saja yang ada. Acaranya memang tidak perlu harus mengundang banyak orang.
Lama menunggu akhirnya Syira pun keluar dari persembunyiannya dengan 2 orang wanita yang mbawanya dan mendudukkannya di samping ke-2 orangtuanya yang berhadapan dengan keluarga Dedi.
Seperti biasa Syira tidak akan berani menatap Dedi dan jangan tanya bagaimana tatapan Syira kepada Dedi. Menatap dengan tajam yang dulu penuh simpatik dan sekarang penuh dengan kebencian.
"Kita mulai saja acaranya. Syira sudah berada di sini," ucap Danu.
"Baiklah. Kita langsung saja untuk mempersingkat waktu," sahut Rendy, "saya Rendy wali dari keluarga Dedi yang bertujuan untuk meminang putri dari pak Danu untuk di nikahi keponakan saya Dedi," ucap Rendy dalam pembicaraannya.
"Kami membawakan beberapa seserahan untuk putri bapak," ucap Rendy.
Asyifa, Lulu berdiri dari tempat duduk mereka dan memeberikan seserahan itu pada keluarga Syira.
"Mohon di terima," ucap Rendy.
"Kami menerima seserahan ini," jawab Danu.
"Alhamdulillah kalau begitu kami sangat bahagia mendengarnya dan semoga keluarga kita akan seterusnya terjalin silaturahmi dan semoga rencana pernikahan ini perlancar," Icao Rendy dengan bijak.
"Amin. Kita doakan saja yang terbaik," sahut Danu.
Rendy mengangguk dan kembali duduk. Syira tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dedi yang ternyata Dedi masih melihatnya dan membuat mereka saling menatap.
"Aku tau kau akan membenciku. Tetapi ini hanya sebentar Dedi. Aku tidak akan membuatmu menanggung semuanya," batin Syira.
"Rasa sukaku benar-benar hilang karena wanita seperti mu. Kau benar-benar mengacaukan hidupku Syira. Kau pikir jalan pernikahan yang kau ambil yang terbaik. Jangan salah ini hanya akan membuatmu dalam masalah," batin Dedi mengepal tangannya yang sudah begitu membenci Syira. Padahal awalnya dia menyukai Syira.
__ADS_1
Bersambung