
Di meja makan di kediaman Rafa. Terlihat Xander, Shofia, Shania, Ardian dan ada Zee dan juga Abian yang sarapan bersama. Mungkin saja Abian menginap tadi malam di kamar Zee dan tidak tau apakah ada pembicaraan mereka lagi setelah kemarin malam bertengkar.
"Abian ini pertama kali kamu sarapan di rumah kami. Kamu jangan sungkan ya. Ayo sarapan yang banyak," ucap Shofia dengan ramah.
"Iya Tante," sahut Abian dengan datar-datar saja. Namun Zee tidak peduli kelihatannya yang hanya menunjukkan wajah bengisnya. Rafa yang tidak bergabung dalam sarapan tiba-tiba menghampiri meja makan.
"Asyifa di mana Rafa?" tanya Shania yang melihat Rafa turun sendirian.
"Lagi di kamar, Asyifa tidak enak badan," jawab Rafa.
"Asyifa sakit," sahut Shofia yang langsung panik. Bahkan Abian saja yang juga menunjukkan eksperesi yang khawatir yang di saksikan oleh Zee yang membuat Zee geleng-geleng.
"Dia dari tadi malam memang lagi tidak enak badan," jawab Rafa.
"Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Shofia.
"Kamu sudah telpon Dokter?" tanya Shania.
"Asyifa tidak mau di panggil Dokter. Tapi aku sudah menelpon Dokter Maya kok. Dan akan memeriksa Asyifa," jawab Rafa yang akhirnya memutuskan untuk menelpon Dokter. Walau istrinya tidak mau.
"Memang lebih baik seperti itu," sahut Xander.
"Ya sudah aku kembali kekamar, aku hanya mengambilkan Asyifa minum saja," ucap Rafa yang setelah selesai menuang air putih untuk istrinya.
"Ya sudah nanti akan membuatkan bubur dan susu untuknya," ucap Rafa Shofia iya mah.
"Sahut Rafa yang segera pergi. Namun Zee masih melirik ekspresi Abian yang kelihatan sangat khawatir.
"Semoga saja Asyifa tidak apa-apa," ucap Shofia yang hanya berharap yang terbaik untuk menantu kesayangannya itu.
"Aku dan Abian akan bercerai," tiba-tiba Zee mengeluarkan kata steatmennya yang mengejutkan semua orang bahkan Rafa yang belum terlalu jauh melangkah mendengar kata-kata Zee sampai membuat langkahnya terhenti.
Abian memejamkan matanya mendengar Zee yang mengatakan semua itu di depan semua orang.
"Zee!" tegur Abian dengan suara lirihan.
"Aku sudah memikirkannya dan akan berpisah darinya," tegas Zee yang memang benar-benar membuat semua orang kaget.
"Zee kamu ini bicara apa, kenapa tiba-tiba ingin bercerai. Kamu sama Abian baru saja menikah dan sudah bercerai ada apa sebenarnya dengan kalian," sahut Shofia yang benar-benar sangat kaget dengan pernyataan Zee.
"Justru pernikahan ini baru sebentar dan aku ingin mengakhirinya. Sebelum semakin lama yang akan membuat aku semakin seperti orang bodoh. Aku hanya ingin menyelamatkan hidupku," sahut Zee dengan menegaskan keputusannya yang tidak akan di ubahnya sama sekali.
__ADS_1
"Ada apa ini Zee kamu kenapa seperti ini. Apa alasan kamu ingin bercerai tiba-tiba?" tanya Shania.
"Tanyakan saja padanya," sahut Zee melihat kearah Abian dengan tatapan yang sangat penuh dengan kebencian, "aku sudah menyampaikan apa yang harus aku sampaikan dan aku akan mengurus sendiri perceraian ku dengan-nya," ucap Zee yang to the point dan langsung berdiri dari tempat duduk yang pergi meninggalkan meja makan tersebut.
"Zee!" panggil Xander.
Abian membuang napasnya perlahan kedepan dengan memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Jika Zee sudah mengatakan pada keluarganya. Itu artinya keputusannya sangat bulat dan tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi dengan keputusannya yang ingin berpisah dari Abian.
Keluarga Zee pasti heran dengan keputusannya Zee yang tiba-tiba yang sangat mengejutkan. Namun mereka juga seakan tiba berani bertanya pada Abian. Karena Abian juga terlihat sangat bingung dengan pernikahannya dan keputusan Zee yang ingin berpisah.
"Ya Allah musibah apa lagi ini. Ada apa lagi dengan rumah tangga anak-anak ku," batin Shofia yang pasti ikut berpikir berat dengan masalah baru dalam keluarganya.
**********
Dokter Maya memeriksa Asyifa yang kondisi Asyifa benar-benar sangat lemas.Sementara Rafa yang tadinya ingin berangkat kerja menunggu dulu istrinya di periksa baru bekerja.
"Bagaimana keadaannya Dokter? tanya Rafa.
"Bu Asyifa hanya kurang istirahat saja, dan cuacanya juga tidak bagus. Jadi perbanyak istirahat ya," jawab Dokter.
"Jadi tidak ada hal yang serius?" tanya Rafa khawatir.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Rafa merasa lega. Asyifa juga merasa lega.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi ya, ingat ya Bu Asyifa. Jaga kesehatan dan jangan malas untuk minum vitamin," ucap Rafa mengingatkan.
"Baik Dokter. Makasih ya Dokter," sahut Asyifa.
"Sama-sama, saya permisi ya," sahut Dokter yang langsung pergi dan Rafa menganggukan kepalanya. Setelah kepergian Dokter Rafa menaiki ranjang dan mendekati sang istri dengan mengelus-elus rambut Asyifa dan mencium kening Asyifa.
"Asyifa sudah mengatakan. Asyifa tidak apa-apa. Kak Rafa masih aja memanggil Dokter. Kasian Dokteranya jadi sangat merepotkan," ucap Asyifa.
"Asyifa bagi kamu, kamu tidak apa. Tetapi aku tidak bisa melihat kamu seperti itu dan itu tugas Dokter," jawab Rafa. Asyifa hanya menghela pasnya saja.
" Kak Rafa mau kekantor?" tanya Asyifa melihat suaminya yang sudah rapi dan pasti tujuan suaminya ingin kekantor.
"Iya sayang, aku mau berangkat kerja," jawab Rafa
"Yahhhhh," sahut Asyifa yang tiba-tiba tidak bersemangat dan tampak sangat lemas membuat Rafa mengkerutkan dahinya.
"Ada apa sayang?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Kata Dokter Asyifa tidak apa dan padahal Asyifa mau...." Asyifa ragu melanjutkan kata-katanya.
"Mau apa?" tanya Rafa penasaran.
"Tapi sudahlah kak Rafa sudah mau kekantor kok," sahut Asyifa yang tiba-tiba sangat manyun.
"Hey, sayang kenapa tidak mengatakannya? ayo katakan kamu mau apa?" tanya Rafa. Asyifa menghela napasnya dan mendekat mulutnya pada telinga Rafa.
Entah apa yang di katakan Asyifa membuat Rafa mendengus dengan senyuman. Namun setelah mengatakan hal itu wajah Asyifa malah memerah dan terlihat malu apa lagi di tatap dengan alis terangkat oleh Rafa.
Rafa pun menuruni ranjang membuat Asyifa mengkerutkan dahinya saat suaminya itu berjalan menuju pintu.
"Kak Rafa benar-benar mau kekantor?" tanya Asyifa yang tampak kecewa dengan suaminya yang mengecewakannya.
"Mau mengunci pintu. Tadi katanya mama mau mengantarkan sarapan. Sangat tidak baik kita tidak mengunci pintu. Kalau masuk tiba-tiba bagaimana," jawab Rafa yang mengunci pintu membuat Asyifa tersenyum salah tingkah.
Dan apa lagi Rafa yang kembali melangkah mendekati tempat tidur dengan membuka jasnya dan melonggarkan dasinya membuat Asyifa semakin malu dengan tingkahnya sendiri dan Rafa menaiki kembali ranjang dengan membawa Asyifa kedalam pelukannya.
"Semakin lama istriku ini semakin nakal," bisik Rafa dengan lembut.
"Siapa yang nakal, memang salah jika Asyifa menginginkan bermesraan dengan suami Asyifa sendiri?" tanya Asyifa yang saling menatap dengan Rafa yang mana keduanya saling berhadapan dengan lengan Rafa menjadi bantal Asyifa.
"Tidak salah, justru aku sangat bahagia, dengan gengsi kamu yang semakin punah," sahut Rafa membuat Asyifa tersenyum dengan memegang pipi suaminya dan Rafa mencium keningnya dengan lembutnya.
"Mau sampai jam berapa hari ini?" tanya Rafa dengan menggoda Asyifa.
"Pokoknya kak Rafa tidak boleh kemana-mana hari ini. Harus terus bersama Asyifa di sini," ucap Asyifa mengeluarkan mode manjanya.
"Kamu yakin?" tanya Rafa. Asyifa dengan percaya diri mengangguk.
"Memang tidak akan kelelahan?" tanya Rafa dengan alis yang terangkat.
"Untuk suami Asyifa. Untuk mendapatkan pahala tidak ada boleh mengeluh lelah. Karena kewajiban itu pahala yang paling terbesar," ucap Asyifa dengan lembut yang tangannya sekarang berani-beraninya membuka dengan lembut kancing kemeja Rafa.
Rafa pasti tidak percaya dengan istrinya yang semakin lama semakin membuatnya bahagia dengan tingkah polos Asyifa yang menggemaskan.
Rafa yang jika di pancing tidak akan menghilangkan kesempatan itu yang sekarang mendekatkan bibirnya pada Asyifa dan berciuman dengan istrinya yang membuat mata Asyifa terpejam.
Rafa lebih memilih untuk bersama Asyifa berduaan di dalam kamar, dia atas ranjang dengan keromantisan dari pada harus kekantor dan lagian Asyifa yang meminta semua itu.
Bersambung.
__ADS_1