Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 228


__ADS_3

Asyifa dan keluarga Rafa akan pergi kerumah Willo untuk mengadakan acara syukuran kirim doa untuk almarhum Rudi kakek Asyifa.


Asyifa sudah siap-siap dengan menggunakan gamis pink yang senada dengan jilbabnya. Asyifa melihat dirinya di depan cermin dengan melihat perut buncitnya sembari mengelus-elus nya.


"Sedang apa sayang?" tanya Rafa yang tiba-tiba berdiri di belakang Asyifa.


"Asyifa sudah begitu gemuk," jawab Asyifa.


"Gemuk juga tetap cantik," sahut Rafa mengeluarkan pujian untuk istrinya itu.


"Kak Rafa bisa aja gombal nya," ucap Asyifa dengan sewot.


Rafa menghela napasnya dan memang ke-2 bahu istrinya dengan membalikkan tubuh istrinya menghadap dirinya.


"Siapa yang gombal. Memang sangat kenyataan istriku ini mau kurus atau gemuk. Dia itu tetap sangat cantik," ucap Rafa yang menegaskan dan memang itu kenyataannya.


"Benarkah?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah makasih untuk pujiannya. Kalau begitu sekarang berangkat yang lain sudah menunggu kita. Ayo buruan kak Rafa pakai sepatunya," ucap Asyifa.


"Tidak mau," jawab kak Rafa.


"Kak Rafa jangan seperti itu. Ayo cepat pakai. Nanti yang lain kesal loh nungguin kita berdua," ucap Asyifa.


"Biarin aja yang penting aku tidak mau," sahut Rafa mendadak manja.


"Sayang jangan seperti itu ayo cepat pakai sepatunya," tegas Asyifa yang sudah seperti menghadapi anak kecil.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Rafa yang mendengar ada satu kata yang kurang jelas.


"Ya pakai sepatu," jawab Asyifa menekankan.


"Bukan itu yang pertama tadi sebelum itu?" tanya Rafa.


"Apa memangnya?" tanya Asyifa heran.


"Sayang. Kamu memanggilku sayang. Aku tidak salah dengarkan," jawab Rafa yang samar-samar mendengar kata-kata istrinya.


"Kapan Asyifa mengatakannya perasaan tidak ada," sahut Asyifa.


"Jangan bohong aku dengar sendiri tadi. Kamu mengatakan hal itu memanggilku dengan sayang. Ayo katakan sekali lagi," ucap Rafa yang kesenangan dan ingin mendengarnya lagi.

__ADS_1


"Apa sih kak Rafa. Orang Asyifa tidak mengatakan apa-apa juga," sahut Asyifa mengelak.


"Jangan bohong. Aku tidak akan pergi ini sebelum kamu benar-benar mengulangi kata-kata itu," ucap Rafa dengan tegas.


Asyifa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dengan melihat suaminya yang menatapnya dengan ahlianya yang terangkat itu.


"Sayang," ucap Asyifa yang harus mengulangi kata-kata itu.


"Memanggilku dengan sayang dan tidak dengan sebutan kakak lagi?" tanya Rafa dengan alisnya yang terangkat.


"Itu hanya spontan dan pengulangannya karena kak Rafa yang memintanya," jawab Asyifa.


"Tetapi aku ingin kamu memanggilku terus dengan panggilan itu," ucap Rafa.


"Jangan kak Rafa, Asyifa malu," sahut Asyifa dengan manjanya.


"Kita sudah menikah dan itu panggilan sayang untuk kita berdua. Jadi kita harus memanggil panggilan itu satu sama lain. Panggilan sayang," tegas Rafa yang membuat Asyifa menghela napasnya.


"Baiklah tapi jangan di tempat umum ya dan hanya semau Asyifa saja kapan ingin melakukannya," ucap Asyifa membuat Rafa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan Asyifa yang tersenyum lebar dan Rafa langsung memeluk istrinya.


"Kenapa istriku ini semakin lama semakin menggemaskan," ucap Rafa yang begitu erat memeluk istrinya.


"Tetapi kak Rafa cinta kan?" tanya Asyifa.


************


Akhirnya semua keluarga berkumpul di kediaman Willo yang sedang melakukan pengajuan.


Ada Xander, Shofia, Ardi, Shania, Aqela,. Asyifa, Rafa, Zee, Abian, Rendy, Rania, Lulu, Dedi Rony, Willo Azka dan pasti Azka dan Rachel yang ikut dalam pengajian bersama tetangga-tetangga dan di pimpin ustadz.


Pengajian itu tampak hikmat dengan lantunan ayat Alquran dengan menyejukkan hati. Setelah melakukan pengajian ada juga jamuan makan malam yang di lakukan dengan rame-rame yang mereka semua duduk di atas ambal dan menikmati makanan yang ada.


Acara berjalan dengan lancar dan sampai acara di tutup dengan doa dan juga ada pembagian sedikit sedekah untuk orang-orang yang datang ikut dalam acara tersebut.


"Alhamdulillah acaranya selesai juga," ucap Willo yang merasa lega.


"Semoga saja papa dan mama di terima di sisi Allah dan bahagia di atas sana," ucap Rania dengan penuh harapan.


"Amin kita doakan saja kakek dan nenek," sahut Asyifa.


"Ya sudah kita juga belum sempat makan. Ayo makan sebaiknya," sahut Rendy.

__ADS_1


Yang lain mengangguk dan ingin mengambil dan mencicipi beberapa makanan yang mereka sediakan dan tadi belum sempat mereka makan.


"Dedi di mana kamu?" tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat lantang yang mengejutkan semua orang. Termasuk Dedi yang melihat langsung ke arah pintu.


"Om Danu!" lirih Abian yang melihat Danu yang pertama masuk dan di susul oleh sirinya Sahila dengan membawa Syira yang menarik Syira yang seperti menangis.


"Kenapa mereka ada di sini?" tanya Zee. Abian yang berdiri di sampingnya menggelengkan kepalanya.


Dan bukan hanya mereka yang kaget Dedi juga kaget, Willo dan semua orang kaget dengan kehadiran Danu seperti orang ingin melabrak.


"Ada apa ini. Kenapa kalian masuk dengan berteriak-teriak tanpa mengucapkan salam," sahut Willo yang terlihat tidak suka dengan cara yang kurang sopan itu.


"Iya pak Danu ada apa ini sebenarnya?" tanya Rendy yang juga sangat kaget.


"Kami ingin meminta pertanggung jawaban dari Pria bajingan itu!" tunjuk Danu pada Dedi yang membuat Dedi terkejut.


Asyifa dan Rafa saling melihat dengan wajah mereka yang heran dengan apa yang di maksud sama dengan Lulu dan Rony juga.


"Pertanggung jawaban apa lagi yang dinginkan mereka," batin Shofia yang merasa sudah lelah.


"Pertanggung jawaban. Pertanggung jawaban apa maksud anda?" tanya Willo dengan wajah seriusnya dan terlihat kaget-kaget.


"Pertanggung jawaban atas apa yang terjadi pada Syira di mana laki-laki berengsek itu sudah menodai putri kami dan tidak ingin bertanggung jawab," tegas Danu yang mengejutkan semua orang. Mungkin jantungan mendengar apa yang di katakan Danu.


Mata Dedi langsung melotot sampai mau keluar yang betapa terkejutnya mendengar hal itu. Willo sebagai ibunya juga begitu shock dengan langsung melihat ke arah Dedi.


"Apa maksudnya ini?" tanya Rania dengan suaranya yang sulit untuk di keluarkan.


"Tanyakan padanya apa yang di lakukannya pada putriku. Sekarang Syira sedang mengandung ananknya," tegas Danu.


"Benar putri kami sedang hamil dan putri kamu tidak mendapat pertanggung jawaban dan nekat ingin mengakhiri hidup dan jika saja kami tidak cepat datang kami sudah akan kehilangannya dan semua itu gara-gara dia," sahut Sahila dengan penuh kemarahan yang menunjuk Dedi yang masih penuh dengan keterkejutan.


"Dedi apa-apaan ini?" tanya Willo.


"Tidak mah, aku tidak melakukannya dan aku sudah mengatakan yang sebenarnya kepada mama dan juga Lulu, Rony Asyifa dan Rafa kalian sudah tau apa yang sebenarnya terjadi ini tidak benar ini fitnah," jelas Dedi yang melakukan pembelaan karena dia tidak bersalah.


"Kamu mana mungkin mau mengakuinya," teriak Dania yang mengepal tangannya yang semakin marah.


"Huhhhh, untuk aja bukan kak Abian yang di di libatkan," batin Zee yang sempat-sempatnya untung. Karena dia juga takut tiba-tiba suaminya lagi di suruh bertanggung jawab. Jadi Zee harus lega di tengah kepanikan Dedi yang menghadapi fitnah tersebut.


"Syira apa yang kau lakukan. Kamu jelaskan kebenarannya dan jangan melibatkan ku," tegas Dedi yang melihat ke arah Syira yang mana Syira hanya menunduk saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2