Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 106


__ADS_3

Rafa berdiri di depan jendela dengan menatap kota Mekkah yang indah dengan ke-2 tangannya berada di saku celananya dengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya.


"Kak Rafa!" tiba-tiba suara lembut itu terdengar membuat Rafa langsung perlahan membalikkan tubuhnya untuk melihat wanita yang memanggilnya.


Di mana Asyifa yang menunduk dengan penampilannya yang cantik dan sangat terbuka. Asyifa hanya menggunakan piyama yang cukup seksi dengan panjang sepahanya dan hanya dengan lengan 1 jari dengan berbahan licin yang berwarna merah, dengan rambutnya yang di gerai panjang yang membuat Asyifa tampil sangat cantik.


Tubuh mulus putihnya hampir semuanya terlihat di mata Rafa. Dia memang orang yang paling beruntung untuk hal itu yang telah bisa melihat dan mendapatkan Asyifa.


Asyifa hanya menunduk dengan ke-2 tangannya yang saling mengatup yang saling berpegangan kuat yang menunjukkan betapa dek-dekannya dirinya saat berdampingan dengan suaminya.


"Asyifa!" lirih Rafa yang tersenyum mendekati Asyifa sehingga berdiri di depan Asyifa.


Rafa memegang dagu Asyifa dengan mengangkat dagu Asyifa sampai wajah Asyifa sejajar dengan wajah Rafa. Wajah yang memerah yang di lihat Asyifa yang membuat jantung Asyifa berdebar dengan kencang saat di tatap sang suami dengan tatapan intens.


Rafa langsung mencium lembut kening Asyifa membuat Asyifa memejamkan matanya. Namun saat Rafa ingin mencium pipi Asyifa. Asyifa tiba-tiba menahan Rafa membuat Rafa yang wajahnya sudah miring langsung melihat Asyifa dengan penuh tanya.


"Benarkan kak Rafa kalau di tempat ini memang tidak terlihat siapa-siapa?" tanya Asyifa dengan keraguannya.


"Aku mana mungkin berbohong Asyifa. Aku juga tidak ingin ada yang melihat kamu seperti ini," jawab Rafa memang benar apa adanya.


"Asyifa kamu sangat cantik malam ini!" puji Rafa dengan membelai rambut Asyifa membuat Asyifa tersenyum tipis dengan pujian sang suami. Rafa pun mencium lembut pipi Asyifa yang merah merona.


Dan langsung mencium bibir Asyifa yang sudah di pastikan menjadi langganannya dalam hal apapun. Asyifa tidak menolak atau banyak protes lagi. Asyifa hanya menerima pasrah ciuman suaminya yang semakin lama semakin dalam dengan ke-2 tangan Rafa yang memegang pipi Asyifa dengan memajukan wajah Asyifa agar semakin bisa mencium lebih dalam lagi sang istri.


Tidak tau kapan Rafa dan Asyifa sudah berpindah di atas ranjang dengan Rafa yang berada di atas tubuh Asyifa tanpa melepas ciumannya dengan tangan Rafa yang perlahan-lahan membuka kancing kemejanya sehingga terbuka sempurna. Lalu langsung membuangnya ke sembarang tempat di mana tubuh Rafa yang sudah polos.


Asyifa tidak bisa melihat tubuh polos itu karena matanya yang terpejam yang terlalu menikmati sentuhan demi sentuhan yang di berikan suaminya yang membuat Asyifa hanyut dalam sentuhan cinta.


Rafa meraih tangan Asyifa dan meletakkan telapak tangan Asyifa di dadanya meraba dada Rafa dan langsung membuat Asyifa membuka matanya perlahan yang ternyata tubuhnya dan suaminya sudah polos dan tidak tau kapan itu terjadi.


Namun Asyifa kembali memejamkan matanya, karena lebih baik untuk tetap memejamkan mata untuk menikmati segala surga dunia yang telah di berikan suaminya kepadanya.

__ADS_1


Percintaan panas yang berlanjut yang di iringi dengan suara kenikmatan yang tidak tertahankan, yang merasakan surga yang indah di mana Asyifa merasa sangat sempurna menjadi seorang istri. Seorang wanita yang menjadi istri. Karena sesungguhnya istri yang sempurna adalah istri yang bisa melayani suaminya dan Asyifa sangat bahagia yang bisa memberikan kebahagiaan pada suaminya.


Mungkin masih sakit. Namun Asyifa tidak merasa terlalu lagi. Lagian rasa sakit itu terbalas dengan kebahagiaan dan kehangatan di rahimnya yang di rasakannya saat ribuan benih di tanam di rahimnya.


**********


Mentari pagi kembali tiba. Tidak tau jam berapa ini namun cahaya matahari sudah sangat cerah dengan Asyifa yang masih berada di pelukan Rafa. Sepertinya Asyifa sangat kelelahan sampai kesiangan bangun dan mungkin saja melakukannya tidak hanya sekali sampai Asyifa terlihat sangat kelelahan.


Rafa sudah bangun dengan wajah Rafa yang terus memandangi wajah cantik istrinya yang tertidur seperti bayi yang membuat Rafa tersenyum dan tangannya akan sangat gatal jika tidak membelai pipi Asyifa.


Sangat bangga rasanya menjadi Rafa yang memiliki Asyifa. Rafa mencium lembut pipi Asyifa dan mampu membuat Asyifa langsung terbangun dengan membuka matanya perlahan.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa. Rafa tersenyum saat bertatap muka dengan Rafa.


"Apa ini sudah sangat siang?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.


"Lalu kak Rafa bangun jam berapa?" tanya Asyifa.


"Kak Rafa tidak membangunkan Asyifa. Asyifa jadi ketinggalan sholat subuh," jawab Asyifa.


Rafa tersenyum dengan membelai lembut pipi Asyifa, "maafkan aku. Aku juga baru bangun," jawab Rafa dengan lembut.


"Ya sudahlah kak Rafa tidak apa-apa," ucap Asyifa dengan tersenyum tipis.


"Kamu marah?" tanya Rafa. Asyifa langsung menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih ya Asyifa untuk malam ini. Aku benar-benar sangat bahagia," ucap Rafa yang tidak bisa membohongi hatinya.


Asyifa menganggukkan kepalanya. Bukan hanya Rafa yang bahagia. Namun dia juga merasa begitu sangat bahagia. Rafa kembali mencium pipi Asyifa dengan lembut dan kembali bertatapan dengan Asyifa.


"Kak Rafa bukannya kita akan pulang!" ucap Asyifa.

__ADS_1


"Kita akan pulang nanti siang," jawab Rafa.


"Hmmm kalau begitu Asyifa mau mandi dulu," ucap Asyifa.


"Bagaimanapun jika mandi bersama," ucap Asyifa. Asyifa menggelengkan kepalanya yang tidak ingin mandi bersama dengan suaminya.


"Kenapa?" tanya Rafa dengan menaikkan 1 alisnya.


"Asyifa malu," jawab Asyifa.


"Kenapa harus malu. Bukanya kita berdua sudah saling melihat satu sama lain jadi apa yang harus di malukan," ucap Rafa.


"Kak Rafa jangan bicara seperti itu," sahut Asyifa bertambah malu dan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dan Rafa langsung menyinggirkan tangan itu dari wajah Asyifa namun Asyifa menahannya yang membuat Rafa tersenyum dan memaksa Asyifa. Namun Asyifa juga tetap menahan tangannya membuat Rafa bergerak sendiri yang langsung menggelitiki Asyifa.


"Kak Rafa geli, kak Rafa!" keluh Asyifa dengan menggeliat karena Rafa yang menggelitikinya.


Rafa sepertinya tidak peduli dengan keluhan sang istri dan terus menggelitiki istrinya sampai akhirnya Rafa berhenti menggelitiki Asyifa ketika sudah berada di atas tubuh Asyifa yang kembali menindih Asyifa dengan mereka yang saing menatap dan napas yang naik turun.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa.


Rafa tersenyum yang mengecup bibir Asyifa kembali dan saling menatap kembali dengan Rafa dengan tatapan yang dalam dan sama-sama saling dek-dekan dengan napas yang masih naik turun.


"Aku ingin mendapatkan ciuman darimu," ucap Rafa dengan suara seraknya.


Asyifa mengangkat kepalanya dan mencium pipi Rafa yang membuat Rafa tersenyum.


"Di sini juga!" tunjuk Rafa untuk pipi yang satunya dan Asyifa pun menurutinya yang menciumnya kembali. Bukan Rafa namanya jika tidak ketagihan dan menunjuk bibirnya. Asyifa menghela napasnya dan mengecup bibir suaminya. Asyifa semakin lama semakin tidak terduga.


"Dan aku menginginkan mu lagi," ucap Rafa yang membuat mata Asyifa melotot dan tidak sempat protes Rafa sudah membungkam mulutnya dengan ciuman dan Asyifa hanya pasrah saja menerima semuanya.


Ya bisa di pastikan ke-2nya akan kembali berperang dan Asyifa tidak akan bisa menolak hal itu. Karena itu sudah menjadi keinginan suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2