Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 67


__ADS_3

"Kak Rafa benar-benar ya," gumam Asyifa panik dengan memegang ke-2 pipinya yang di pastikan merah karena perbuatan Rafa yang mencium bibirnya. Asyifa langsung buru-buru memasuki rumah yang seperti anak kecil langsung lagi-lagi yang takut terlihat orang lain.


Padahal memang ada yang melihat Shani dan Ardi yang tidak sengaja melihat hal itu dan cukup supraise untuk mereka dari apa yang mereka lihat.


"Aku tidak menyangka hubungan mereka sudah sedekat itu," ucap Ardi.


"Mas sepertinya Rafa itu sudah mendapatkan asupan dari Asyifa. Jadi Rafa sudah sadar," ucap Shania.


"Asupan maksudnya?" tanya Ardi.


"Ihhh, kamu masa nggak ngerti sih. Mereka berdua itu betah banget menginap di hotel. Apa lagi kalau bukan mereka itu pasti sudah ehem-eheman. Ya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan," ucap Shania.


"Sok tau kamu," sahut Rafa.


"Bukan sok tau mas. Tapi lihat aja sekarang buktinya dan lihat perubahan wajah Rafa yang jauh lebih fresh dari biasanya," sahut Shania.


"Ya sudahlah kita doakan saja apa yang terbaik untuk mereka. Biarkan sajalah mereka seperti itu. Mereka suami istri dan tidak ada yang salah," sahut Ardi.


"Ya memang tidak ada yang salah," sahut Shani dengan tersenyum lebar.


"Ya sudah aku juga harus berangkat kerja," ucap Ardi pamitan dan Shania langsung mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati kerjanya dan semangat," ucap Shania.


"Iya sayang," sahut Ardi tersenyum dan langsung memasuki mobil.


*********


Rafa berada di kantornya di ruangan kerjanya dengan dokumen-dokumen yang di tandatanganinya dengan seorang wanita yang ada di depannya yang di pastikan sekretarisnya.


"Jadi maksudmu tuan Daulay membatalkan kontra dengan kita?" pekik Rafa saat Sekretarisnya itu menyampaikan kabar kurang sedap itu.


"Benar tuan. Dia punya alasan yang mencolok dan memilih untuk tidak melanjutkan kontrak dengan Perusahaan kita," jawab wanita itu dengan menunduk.


"Kenapa tiba-tiba seperti itu. Bukannya dia awalnya sudah setuju. Kenapa tiba-tiba berubah pikiran," ucap Rafa dengan kesal sembari memijat kepalanya yang terasa berat.


"Apa saya harus membuat jadwal pertemuan untuk membicarakan masalah ini kembali?" tanya Rafa wanita itu mencari solusi.


"Kamu atur jadwal. Saya akan bicara kepadanya dan semoga tuan Daulay berubah pikiran," ucap Rafa yang masih berharap.


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap wanita itu pamit. Rafa menganggukkan kepalanya.


"Ada saja yang menjadi masalah," umpat Rafa dengan kesal dengan memijat kepalanya yang terasa berat. Saat terkendala dengan masalah kontra Perusahaannya.


Rafa memijat kepalanya dan tiba-tiba melihat ke arah mejanya di samping laptopnya yang terdapat bekal makanan yang tadi di berikan Asyifa kepadanya dan Rafa langsung mengambil kotak makanan itu dan membukanya langsung.

__ADS_1


Tidak berpikir apa-apa Rafa langsung memakannya. Dan Rafa mengangguk-angguk yang ternyata makanan itu sangat cocok kelidahnya. Dari pada memikirkan tentang pekerjaan yang tidak ada siapnya. Lebih baik memakan makanan itu dan rasanya enak. Bahkan Rafa lupa jika makanan tadi dia sangat kesal dengan pekerjaan yang terbengkalai. Padahal belum waktunya makan siang.


********


Asyifa berada di dapur yang ikut membantu asisten rumah tangga yang menyiapkannya makan siang.


Ting.


Tiba-tiba Asyifa mendapatkan notifikasi pesan wa dari suaminya.


"Aku ada meeting dengan klienku nanti. Di Restaurant tidak jauh dari rumah. Mari makan siang bersama setelah aku meeting. Aku akan kirim alamatnya," tulis Rafa yang cukup mengejutkan Asyifa sampai membuat mata Asyifa terbelalak kaget mendapat pesan tersebut dari Rafa.


"Sungguh yang mengirim ini kak Rafa!" ucap Asyifa yang rasanya tidak percaya. Jika Rafa mengajaknya makan siang.


"Asyifa!" tegur Shofia heran dengan Asyifa terlihat panik.


"Mah," sahut Asyifa.


"Kamu kenapa?" tanya Shofia heran.


"Tidak mah, Asyifa tadi hanya di ajak kak Rafa makam siang dan Asyifa belum siap-siap makanya sedikit panik," jawab Asyifa yang kelihatan memang sangat gugup.


"Rafa mengajak kamu makan siang?" tanya Shofia yang pasti juga kaget.


"Iya mah benar," jawab Asyifa.


"Astagfirullah mah, jangan bicara seperti itu. Kak Rafa tidak melakukan apa-apa. Mama jangan berpikiran seperti itu," ucap Asyifa.


"Ya mama hanya heran saja," sahut Shofia yang memang tidak mudah percaya dengan Rafa.


"Mah, kak Rafa itu hanya mengajak makan siang, bukan mau mencelakai Asyifa. Jadi mama jangan berpikiran hal yang aneh-aneh," ucap Asyifa yang memang pikirannya pada Rafa tidak pernah yang buruk-buruk.


"Ya semoga saja benar," sahut Shofia.


"Ya sudah mah kalau begitu Asyifa kekamar dulu. Asyifa mau siap-siap dulu. Nanti kak Rafa. Jadi nungguin Asyifa lama-lama," ucap Asyifa.


"Iya kamu bersiap-siap lah," sahut Shofia. Asyifa mengangguk dan langsung pergi kekamarnya yang menghentikan acara masak-memasaknya.


"Aku juga berharap. Rafa tidak akan melakukan apa-apa. Ya semoga saja Rafa dan Asyifa hubungannya baik-baik saja," batin Shofia yang tidak pernah berdoa untuk hal itu.


**********


Sekretaris Rafa Yuli membuat janji untuk menemui kliennya yang membatalkan kontra dengan Rafa di salah satu Restaurant dan Rafa sudah menemui kliennya tersebut yang mengobrol dengan serius dengan klien tersebut.


"Tuan Daulay jujur saya begitu kecewa dengan apa yang tuan Danu lakukan. Kenapa tiba-tiba membatalkan kontrak ini?" tanya Davin dengan wajah terkejutnya.

__ADS_1


"Maaf tuan Rafa jika hal ini membuat tuan Rafa merasa kecewa. Namun saya melakukan semua ini. Karena suatu hal yang memang terjadi di mana saya merasa kurang strategis jika harus membangun Apartemen di dekat masjid yang mungkin bisa mengganggu tempat ibadah tersebut," jelas tuan Daulay memberikan alasannya.


"Tetapi tuan Daulay. Bukannya kita sudah membicarakan semua ini," sahut Rafa.


"Mohon maaf tuan Rafa. Bukannya saya tidak percaya dengan tuan Rafa. Tetapi saya hanya mencegah hal buruk yang terjadi. Karena semua rezeki yang kita dapatkan dari sang maha kuasa. Jadi saya juga takut nanti jika kita membuat ribut dalam pembangunan apartemen yang bisa mengganggu ibadah orang lain," ucap tuan Daulay dengan sopan dan Rafa seolah tidak tau harus bicara apa lagi.


Marah pun tidak bisa. Karena pria paruh baya di hadapannya itu terlihat sangat ramah dan apa yang di katakannya sangat benar. Namun kecewa pasti dengan proyek besar Rafa yang harus batal karena penempatan tidak strategis.


Asyifa sesuai dengan waktu dan tempat yang di berikan Rafa kepadanya. Di mana Asyifa langsung menghampiri Restaurant yang ternyata sama dengan Rafa dan kliennya.


"Di mana kak Rafa," batin Asyifa mencari-cari suaminya sampai akhirnya menemukannya.


"Itu dia kak Rafa," batin Asyifa yang langsung menghampiri Rafa.


"Kak Rafa!" sapa Asyifa di tengah diamnya Daulay dan Rafa.


"Asyifa," sahut Rafa berdiri.


"Asyifa!" sahut Daulay tiba-tiba yang mengenali Asyifa.


"Pak Daulay," sahut Asyifa dengan menyatukan ke-2 tangannya untuk menyapa Pria yang kelihatannya di kenalnya.


"Kalian saling mengenal?" tanya Rafa yang cukup heran.


"Iya kak Rafa, kebetulan Pak Daulay ini salah satu guru Asyifa saat kuliah di Mekkah," jawab Asyifa yang dengan senangnya bertemu dengan gurunya.


"Lalu kalian," sahut Daulay.


"Asyifa istri saya," sahut Rafa yang sekarang mulai begitu bangga memperkenalkan istrinya kepada siapapun.


"Masyallah jadi tuan Rafa ini suaminya Asyifa," sahut Daulay yang cukup terkejut. Asyifa mengangguk-angguk.


"Bapak tidak percaya Asyifa. Kamu menikah dengan tuan Rafa pembisnis hebat ini," puji Daulay.


Asyifa hanya mengangguk saja. Ya suaminya memang cukup di kenal pengusaha hebat.


"Bapak bisa aja. Oh iya kenapa bapak ada di sini?" tanya Asyifa.


"Kebetulan kami sedang meeting, membicarakan masalah pekerjaan," jawab Daulay. Daulay melihat Rafa. Wajah Rafa tampak datar yang mungkin tidak bersemangat karena proyeknya yang batal.


"Hmmm, kita duduk dulu tuan Rafa," sahut Daulay. Rafa mengangguk dan menarik kursi untuk di duduki istrinya.


"Makasih kak Rafa," sahut Asyifa tersenyum. Rafa hanya mengangguk dan duduk di samping istrinya.


"Hmmm, begini tuan Rafa, saya itu sangat senang sekali jika harus bekerja sama dengan tuan Rafa dan jujur saya saya sangat menggaumi kamu anak muda yang hebat pengusaha hebat. Namun kesempatan kita untuk bekerja sama harus terhalang karena suatu hal yang memang tidak bisa kita lanjutkan. Tapi jika di beri kesempatan. Bagaimana jika kita membicarakan kembali masalah proyek ini. Namun di tempat yang berbeda yang tidak mengganggu kegiatan orang lain," ucap Daulay yang dengan cepat mengubah keputusannya dengan solusi yang menurutnya bisa di terima.

__ADS_1


"Maksud tuan!" Rafa jelas-jelas terkejut mendengar hal itu. Seperti ada peluang yang di dapatkannya dan membuat ada sedikit semangat untuknya.


Bersambung


__ADS_2