Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode


__ADS_3

Asyifa dan suaminya makan malam bersama dengan ayah, ibu Asyifa dan juga adik Asyifa. Azka.


"Rafa apa semenjak hamil Asyifa ini suka minta yang aneh-aneh?" tanya Rania sembari mengunyah makananya.


"Jangan di tanya Bu. Semua yang di mintanya memang aneh," sahut Rafa dengan tersenyum melihat kearah istri.


"Asyifa kamu ini jangan merepotkan suami kamu. Kasihan dia," ucap Rania.


"Tidak apa-apa kok. Saya suka kok menuruti kemauannya walau kadang-kadang itu sangat menyebalkan," ucap Rafa dengan jujur.


"Kamu ini ya Asyifa merepotkan suami kamu aja. Maaf ya Rafa sudah membuat kamu repot. Kalau kamu tidak bisa memenuhi keinginan Asyifa. Tidak apa-apa kamu minta bantu sama ibu. Insyallah ibu bisa membantu," sahut Rania.


"Tidak usah ibu sejauh ini saya masih bisa mengatasi Asyifa kok," sahut Rafa.


"Sayang namanya juga Asyifa hamil muda. Kamu juga bukannya seperti itu hah! sewaktu hamil permintaannya aneh-aneh dan sekarang putri kita juga melakukan hal yang sama," ucap Rendy yang memihak pada Asyifa.


"Iya ibu lagi pula ini kan bukan keinginan Asyifa. Ini keinginan bayinya," sahut Asyifa dengan wajahnya yang cemberut.


"Tuh kamu dengar sayang. Cucu kita yang menginginkannya," sahut Rendy.


"Iya-iya. Tapi Asyifa. Tidak boleh terlalu merepotkan suami kamu ya," ucap Rania.


"Iya ibu," sahut Asyifa.


"Oh iya ibu mengenai ibu dulu hamil Asyifa. Kira-kira ibu ngidam apa ya?" tanya Rafa.


"Sebenarnya tidak terlalu sulit, tidak ada juga yang pesefik, rata-rata semuanya sama seperti ibu hamil muda lainnya," sahut Rania.


"Tapi ibu Rania ibu sangat mandiri waktu mengidam Asyifa. Ya terkadang dia sudah meminta apa yang di inginkannya dan jadinya mandiri sekali," sahut Rendy.


"Berarti ibu sewaktu hamil Asyifa tidak suka manja dengan ayah?" tanya Asyifa.


"Tidak terlalu Asyifa. Lagian saat ibu hamil kamu. Ibu lebih banyak berjuang, karena kamu tau sendiri. Saat kamu di rahim ibu ibu mengalami kanker dan kita berdua sama-sama lebih ingin kuat dan bertahan hidup. Jadi masa-masa ngidam ibu tidak terlalu banyak. Karena lebih sering kita kerumah sakit untuk mengecek kondisi kamu," ucap Rania dengan matanya berkaca-kaca.


Rania jelas mengingat bagaimana dia berusaha melahirkan Asyifa untuk memberikan keturunan pada suaminya dan saat itu Rania juga mengalami koma.


"Makasih ya ibu sudah melahirkan Asyifa. Sudah berjuang untuk Asyifa. Pasti Allah akan memberikan ibu surga atas semua perjuangan ibu," ucap Asyifa bang tidak kalah matanya berkaca-kaca.


"Sama-sama sayang. Kamu juga akan menjadi seorang ibu dan juga akan berjuang," sahut Rania.

__ADS_1


"Hmmm, pantesan Asyifa lahir secantik dan sebaik ini ternyata di lahirkan dari rahim wanita yang sangat hebat dan penuh perjuangan. Makasih ibu sudah melahirkan Asyifa, sehingga saya bisa menjadi suaminya dan merasakan kehangatan saat bersamanya," ucap Rafa yang tampak begitu tulus bicara yang pasti sangat bahagia.


"Sama-sama Rafa. Kamu jaga Asyifa dengan baik ya," ucap Rania.


"Itu pasti," sahut Rafa tersenyum melihat Asyifa dan Asyifa juga tersenyum kepada Rafa


"Apa kak Miranda punya adik!" senyum Asyifa dan Rafa seketika hilang ketika Azka malah menanyakan hal yang di luar tema membuat orang-orang yang ada di meja makan melihat serius ke arah Azka dengan penuh tanya.


"Azka kenapa tiba-tiba membahas orang lain?" tanya Rania.


"Kak Rafa. Kak Miranda adalah mantan kekasih kakak. Kakak pasti tau bukan kalau dia ada adik?" tanya Azka dengan serius melihat Rafa.


"Azka kamu bertanya seperti itu," sahut Asyifa heran dia juga takut jika suaminya nanti akan salah paham.


"Jawab saja kak Rafa?" tanya Azka yang menunggu jawaban.


"Iya Miranda memang punya adik perempuan. Namanya Rachel. Aku tidak terlalu mengenalnya. Namun setahuku dia masih sekolah, SMA kalau tidak salah," jawab Rafa yang benar-benar apa adanya.


"Jadi fiks Rachel adiknya kak Miranda. Dia kunci segalanya," batin Azka.


"Memang ada apa Azka kenapa tiba-tiba membahas Miranda?" tanya Rania.


"Azka kamu sedang tidak melakukan sesuatu kan?" tanya Asyifa jadi khawatir pada adiknya.


"Pasti melakukan sesuatu kak Asyifa yang pasti untuk memberikan kak Asyifa keadilan. Azka tidak takut melawan siapa. Termasuk dia. Dia sangat jahat dan Azka akan melawannya dan membuatnya mendapatkan hukuman yang setimpal yang sesuai dengan perbuatannya," ucap Azka dengan wajah seriusnya.


"Azka biarkan masalah ini menjadi urusan kakak. Kamu jangan ikut-ikutan. Kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Rania panik.


"Maaf kak. Tapi kali ini aku harus ikut," sahut Azka.


"Azka," lirih Asyifa.


"Asyifa tidak apa-apa. Jika jadi Azka. Jika posisi kamu Zee atau kak Shania aku juga akan melakukan hal yang sama. Kamu harus percaya pada Azka," ucap Rafa yang mendukung niat baik Azka.


"Tapi Ibu juga khawatir pada kamu Azka," sahut Rania yang menunjukkan Naluri sebagai seorang ibu.


"Sayang Azka itu juga sudah dewasa. Kamu tidak perlu khawatir," sahut Rendy yang juga memberikan peluang untuk Azka yang ikut turut membantu kakaknya.


"Asyifa hanya berharap masalah ini benar-benar cepat selesai," sahut Asyifa.

__ADS_1


"Kita semua mengharapkan hal yang sama Asyifa," sahut Rendy.


"Sudahlah jangan memikirkan hal itu saat makan, termasuk kamu sayang, kamu sekarang makan yang banyak ingat kamu sedang hamil dan jangan memikirkan apa," ucap Rafa mengusap lembut kepala Asyifa yang berbicara lembut lada istrinya.


Namun Asyifa sedikit tercengang karena sepertinya ada sesuatu yang di dengarnya yang sangat asing.


"Ayo sayang makan lagi," ucap Rafa lagi.


"Kak Rafa memanggil ku sayang," batin Asyifa yang benar-benar terkejut mendengarnya. Namun Rafa tampak kelihatan sangat santai saat berbicara. Tidak tau apakah Rafa sadar atau tidak dengan panggilan baru yang di lontarkannya pada istrinya.


******†**


Rafa sedang berdiri di depan lemari yang sedang mengkancing satu persatu piyama yang di gunakannya untuk tidur. Setelah selesai Rafa langsung membalikkan tubuhnya.


"Arghh!" Rafa terkejut saat Asyifa yang tidak tau sejak kapan berdiri di belakangan.


"Maaf kak Rafa," ucap Asyifa. Rafa mengatur napasnya yang naik turun dengan memegang dadanya.


"Asyifa jantungku hampir saja copot," ucap Rafa yang masih mengatur napasnya.


"Maaf kak Rafa Asyifa tidak bermaksud," ucap Asyifa yang merasa tidak enak.


"Kamu ngapain sih berdiri di situ hah?" tanya Rafa.


"Asyifa mau tanya sesuatu pada kak Rafa," ucap Asyifa.


"Tanya apa?" tanya Rafa.


"Hmmm, tadi pas di meja makan. Kak Rafa mengatakan sesuatu, 1 kata. Itu apa maksudnya ya. Kak Rafa keceplosan atau kata-kata itu sengaja?" tanya Asyifa dengan pelan.


"Kata. Kata yang mana?" tanya Rafa heran.


"Saat di meja makan tadi saat kita membahas masalah Miranda. Terus kak Rafa menyuruh Asyifa makan dan kak Rafa tidak memanggil Asyifa. Tapi memanggil dengan panggilan lain," ucap Asyifa yang berusaha untuk menjelaskan pada suaminya agar sang suami mengerti dengan apa yang di katakannya.


"Panggilan lain, memang panggilan apa?" tanya Rafa yang benar-benar penasaran. Dia juga tidak tau apakah pura-pura tidak tau apa memang tidak ingat sama sekali.


"Issss masa iya kak Rafa lupa dengan apa yang di katakannya tadi. Kan jelas-jelas kak Rafa memanggil Asyifa dengan panggilan sayang," batin Asyifa yang bingung menjelaskan harus dari mana. Karena dia ingin memastikan apakah itu di sengaja atau hanya spontanitas saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2