
Asyifa dan yang lainnya masih menikmati liburan mereka bersama di desa tersebut. Banyak pelajaran yang mereka dapatkan dan juga bahkan banyak tempat-tempat yang begitu indah yang mereka kunjungi yang tidak bisa di katakan seperti apa tempatnya. Karena benar-benar begitu indah.
Sama seperti sekarang ini, Asyifa, Rafa, Zee, Abian, Lulu, Roni Dedi masih saja di temani Syira untuk berkeliling di desa tersebut.
"Di sana!" tunjuk Risya menunjuk ke arah bukit yang mana semua orang melihatnya.
"Ada apa di sana?" tanya Lulu.
"Di sana bisa melihat matahari terbenam. Tapi harus mendaki dan itu sangat jauh," jawab Syira.
"Sangat indah jika kita bisa melihat matahari terbenam," ucap Asyifa.
"Kamu mau ke atas?" tanya Rafa.
"Masih siang kak Rafa. Jadi percuma saja kalau ke atas. Mataharinya belum terbenam," sahut Asyifa yang mengundang tawa semua orang.
"Benar kak Rafa. Masih siang yang ada panas-panasan kalau ada di sana," sahut Zee paling senang ikut-ikutan kalau masalah membuly sang kakak.
"Iya tapi nggak usah di perjelas juga kali," sahut Rafa. Asyifa hanya tersenyum saja mendengarnya.
"Ya sudah bagaimana kalau sekarang kita ke sawah!" ajak Syira.
"Sawah," sahut Lulu.
"Iya kita ke sawah sekalian makan siang," jawab Syira.
"Boleh!" sahut Roni.
"Ya sudah mari silahkan!" Syira yang begitu ramah dan tidak pernah bosan untuk mengajak tamu-tamunya untuk jalan-jalan.
Ternyata di sawah di pondok yang di sediakan. Sudah ada orang tua Syira, orang tua Asyifa, orang tua Rafa dan Shania, Aqela dan Ardi sendiri.
"Mereka semua ada di sana?" tanya Abian.
"Iya Abian. Kita makan siang di sana," jawab Syira.
"Asyifa, ayo kemari kita makan!" ajak Rania.
"Iya ibu," jawab Asyifa.
"Ya sudah mari," sahut Syira yang langsung menghampiri pondok untuk menikmati makan malam yang seadanya.
"Ayo-ayo kita nikmati makan siang kita," ajak Danu yang pasti menjamu dengan baik.
__ADS_1
Mereka semua mulai mengambil tempat duduk dan mulai menikmati makan siang mereka dan Asyifa pasti melayani suaminya dulu sebelum dirinya sendiri.
"Kak Rafa mau apa?" tanya Asyifa.
"Sama saja dengan apa yang di piring kamu," jawab Rafa.
"Baik kak Rafa," Asyifa langsung menyiapkan lauk dan lainnya di piring suaminya dan mulai makan sembari mengobrol dengan keluarga Danu.
"Kalian semua tidak menyesalkan datang ke desa kami?" tanya Sarah.
"Menyesal kenapa harus menyesal? Kita justru begitu senang. Karena bisa diberi kesempatan untuk datang ketempat ini dan ini sangat membahagiakan pastinya sangat menyenangkan," sahut Shofia yang bicara apa adanya dan sama sekali tidak di lebih-lebih kan.
"Kalau kami undang sekali lagi pasti masih mau datang kan?" tanya Danu.
"Pasti pak Danu," sahut Xander.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Danu.
"Kami sangat bahagia Pak Danu dengan undangan Pak Danu. Makasih ya pak Danu sudah membantu kasus putri saya sampai selesai dan makasih untuk undangannya seharusnya kami yang menjamu pak Danu..Ini malah sebaliknya," ucap Rendy.
"Jangan berlebihan Pak Rendy. Kita ini keluarga dan saling menyambut itu adalah hal yang sangat biasa," sahut Danu dengan santai.
"Sudah-sudah sekarang kita nikmati lagi makan siangnya," sahut Sarah.
"Ayo Asyifa kamu makan yang banyak," sahut Shofia tidak akan lupa dengan menantu kesayangannya itu.
"Hanya kak Asyifa saja yang di tawari makan. Zee tidak," sahut Zee yang cemburuan.
"Kamu ini ya Zee, kamu juga makan," sahut Shofia dan yang lain tertawa-tawa melihatnya dengan mereka yang sama-sama tersenyum.
"Ini Zee kamu coba sayur ikan asem ini sangat enak," sahut Abian yang menawarkan Zee dan bahkan membuat ke dalam piring Zee sampai membuat Zee merasa tidak enak.
"Makasih kak," ucap Zee yang merasa canggung.
"Sama-sama," sahut Abian tersenyum, "cobalah," ucap Abian. Zee mengangguk dan mulai memakan apa yang di berikan Abian.
"Enak?" tanya Abian. Zee menganggukkan kepalanya yang memang sangat nikmat makanan itu.
Ternyata lagi-lagi Syira melihat kedekatan itu. Dan Syira pasti merasa janggal dengan dekatnya ke-2 orang itu. Namun saat Syira melihat Abian dan Zee. Zee juga melihat ke arah Syira dengan mereka yang saling menatap dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran kak Abian. Aku tidak mengerti dengan semua yang di lakukan kak Abian yang sangat jujur begitu sulit untuk di pahami," batin Zee yang lagi-lagi mendapatkan perhatian dari Abian. Dan semua itu membuatnya bingung apalagi Syira melihat mereka berdua.
"Aqeela makan juga yang banyak supaya cepat besar," ucap Ardi.
__ADS_1
"Baik pah," sahut Aqela dengan Anggukan kepala.
"Mbak Sarah warga di sini ramah-ramah ya," ucap Willo.
"Kalau itu pasti mbak Willo. Seluruh warga di sini sangat ramah dan juga sangat kental dengan adat-istiadat di sini," sahut Sarah menjelaskan sedikit.
"Alhamdulillah kalau begitu. Jadi apa-apa semuanya masih terjaga dengan baik," sahut Rania.
"Iya benar sekali," sahut Sarah.
"Desa ini sepertinya mengalami perkembangan yang begitu pesat. Walau desa tetapi masyarakatnya juga modern. Namun tetap menjunjung budaya yang kental," sahut Shofia.
"Budaya, moral dan etika sudah menjadi nomor satu. Jadi semuanya sudah di tetapkan sejak dulu dan kami juga kalau pulang kampung ke desa ini juga pasti menyesuaikan dengan lingkungan di desa ini," sahut Shofia.
"Ya semoga saja kita desa ini tetap maju," sahut Shofia.
"Amin," sahut semuanya dengan serentak yang membuat semuanya tersenyum dan melanjutkan makan mereka.
**********
Zee yang terlihat keluar dari rumah dan Abian yang melihatnya.
"Zee!" panggil Abian membuat Zee menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang.
"Kak Abian! ada apa kak?" tanya Zee.
"Kamu mau kemana?" tanya Abian.
"Tidak ada hanya jalan-jalan sore saja menyusul yang lainnya yang juga sedang jalan-jalan sore," jawab Zee.
"Kemarin aku mengatakan ingin mengajak kamu ke rumah aku yang ada di sini. Dan kamu mau tidak kalau pergi sekarang?" tanya Abian yang menawarkan.
"Oh boleh kak Abian. Kenapa tidak," sahut Zee.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo!" ajak Abian.
"Iya kak," sahut Zee, " rumahnya jauh dari sini kak?" tanya Zee.
"Tidak jauh Zee," jawab Abian.
"Ya sudah kalau begitu. Zee sangat senang kalau kak Abian mengajak Zee untuk datang ke rumah kak Abian," ucap Zee yang sambil berjalan dengan Abian.
"Aku justru yang senang dengan mengajak kamu. Tetapi kalau berantakan tidak apa-apa ya. Karena tau sendiri rumahnya tidak ada yang menempati," ucap Abian.
__ADS_1
"Tidak masalah kak Abian," sahut Zee.
Bersambung