Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 134


__ADS_3

Pagi-pagi Asyifa sedang beraktivitas di dapur yang pasti Asyifa membantu bibi untuk membuat sarapan. Apa lagi orang rumah sangat terbiasa dengan masakan Asyifa. Jadi Asyifa sering memanjakan keluarga itu dengan masakannya.


"Kak Asyifa!" sapa Zee yang menghampiri Asyifa ke yang ada di dapur.


"Hey Zee," sahut Asyifa.


"Zee bantuin ya," ucap Zee.


"Boleh," sahut Asyifa. Zee tersenyum dan berdiri di samping Asyifa, membantu apa yang bisa di masaknya.


"Kak Rafa pasti sangat beruntung punya istri yang bisa masak seperti kak Asyifa," ucap Zee yang membuat Asyifa tersenyum mendengarnya.


"Kamu itu terlalu berlebihan. Padahal tidak seperti itu,"sahut Asyifa.


"Oh iya kak Asyifa. Apa laki-laki itu memang sangat menyukai wanita yang bisa memasak?" tanya Zee.


"Kakak tidak tau. Tetapi memasak itu bukan suatu kekurangan atau kelebihan dan di jaman sekarang ini sudah banyak Restaurant, banyak jasa memasak. Jadi sepertinya memasak bukan hal yang wajib. Tetapi bukan berati kita juga tidak mau belajar," jawab Asyifa menurut pendapatnya sendiri.


"Hmmm, kakak dulu waktu kuliah di Luar Negri, waktu di Milan memasak sendiri juga?" tanya Zee.


"Kalau sempat memasak, kalau tidak beli makanan," jawab Asyifa yang apa adanya.


"Kakak tinggal di asrama atau di mana?" tanya Zee.


"Di apartemen dan kebetulan dekat juga dengan kak Abian," jawab Asyifa.


"Itu artinya kak Abian sering dong menikmati makanannya kakak," tebak Zee.


"Tidak juga sih," sahut Asyifa.


"Hmmm, apa wanita yang bersama kak Abian. Kakak kenal?" tanya Zee.


"Syira maksud kamu?" tanya Asyifa. Zee mengangguk.


"Tidak. Baru juga kemarin kenalan. Jadi tidak tau sama sekali siapa dia," jawab Asyifa. Zee terdiam yang tidak bicara lagi.


"Hmmmm, tumben sekali menanyakan hal itu," ucap Asyifa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sih kak. Mereka cocok ya kelihatannya," ucap Zee. Asyifa mengkerut dahinya dan melihat kearah Zee dan melihat Zee dengan tatapan yang penuh selidik.


"Kenapa melihat Zee seperti itu?" tanya Zee yang terlihat heran.


"Kamu suka sama kak Abian?" tanya Asyifa yang langsung to the point yang membuat Zee menelan salivanya mendengar kata-kata itu. Zee bahkan tidak mampu berkata-kata dengan menjawab pertanyaan Asyifa yang spontan.


"Kak Asyifa kenapa bertanya seperti itu, kak Asyifa ada-ada aja," ucap Zee yang mengelak.


"Tapi aku bisa melihat dari mata kamu, dari kamu memulai obralan, jika kamu sangat penasaran dengan kak Abian," ucap Asyifa yang sok tau. Dia sendiri aja belum tau apa sudah mencintai suaminya apa belum dan sekarang malah lebih mengerti perasaan Zee.


"Kak Asyifa ada-ada aja. Suka, mungkin hanya kagum saja, tidak lebih dari itu dan lagian wanita seperti aku mana mungkin bersanding dengan kak Abian yang pria di atas kesempurnaan," ucap Zee yang merendah diri.


"Kamu ini ya Zee suka merendah. Kita tidak ada yang tau jodoh. Jadi jangan mengatakan hal itu. Lagian kamu itu juga wanita yang baik dan pasti cocok dan pantas untuk siapapun," ucap Asyifa yang memberikan semangat.


"Kakak berdoa yang terbaik untuk kamu, semoga saja kamu dan kak Abian berjodoh. Karena kita tidak tau jodoh itu seperti apa," ucap Asyifa yang terang-terangan mendukung Zee. Ya dia tau saja adik iparnya itu menyukai sahabatnya.


"Zee jadi malu kak Asyifa," ucap Zee dengan wajahnya yang merah merona karena perkataan Asyifa kepadanya. Asyifa hanya tersenyum mengusap bahu Zee dan kembali melanjutkan acara memasaknya.


"Apa benar kali ya dengan apa yang di katakan kak Asyifa ya mungkin saja aku berjodoh dengan kak Abian. Kan kita tidak ada yang tau dan kak Asyifa bilang aku pantas kok," batin Zee yang kembali semangat. Apa lagi sudah mendapat dukungan dari kakak iparnya yang sangat baik itu.


"Jangan melamun Zee, katanya mau bantuin," ucap Asyifa.


"Oh iya kak Asyifa, bagaimana dengan kak Rafa?" tanya Zee.


"Bagaimana maksudnya?" tanya Zee.


"Apa kak Asyifa masih membuat kak Rafa kesal. Tadi malam Zee melihat kak Asyifa dan kak Rafa keluar rumah, itu pasti karena kak Asyifa mengerjai kak Rafa lagi ya," ucap Zee yang bisa menebak.


Asyifa hanya tersenyum mendengarnya.


"Tadi malam memang lagi pengen aja makan nasi goreng gila. Tapi tidak ada maksud untuk membuat kak Rafa kesal atau mengganggunya," jawab Asyifa apa adanya.


"Kalau begitu kak Asyifa harus lanjutkan lagi misi kita untuk melihat seberapa pedulinya kak Rafa pada kak Asyifa. Minta yang aneh-aneh lagi seperti di Bali kemarin," ucap Zee yang memberikan saran.


"Tapikan kasihan Zee, kalau seperti itu terus kakak juga tidak tega dengan kak Rafa. Dia pasti ingin marah sebenarnya. Tetapi menahannya," ucap Asyifa yang tidak tega dengan suaminya.


"Tidak apa-apa kak Asyifa, lucu tau lihat wajah kak Rafa yang sangat tertekan," ucap Zee yang benar-benar sangat menikmati penderitaan kakaknya.

__ADS_1


"Pokoknya kak Asyifa tidak mau aja dekat-dekat dengan kak Rafa, jangan mau di peluk, jangan mau di cium, bikin kak Rafa stress sendiri," ucap Zee yang memberikan saran pada kakak iparnya itu.


"Iya-iya Zee," sahut Asyifa yang tersenyum geleng-geleng dengan saran Zee.


Namun di sisi lain Rafa yang berkacak pinggang yang di depan pintu dapur yang mendengus kasar dengan tersenyum miring.


"Oh jadi ini hanya kerjasama antara mereka berdua. Wah benar-benar ya kau Asyifa, sengaja melakukan semua ini. Oke baiklah Asyifa kita lihat Asyifa sampai mana kau tahan dengan semu dramamu ini," gerutu Rafa di dalam hatinya yang emosi tingkat dewa dengan istrinya.


Ternyata tingkah Asyifa yang selama ini aneh dan menguji kesabaran Rafa adalah idenya Zee yang menyuruh Asyifa untuk memanfaatkan kehamilannya dan mereka ingin melihat tingkat kepedulian Rafa. Ya Rafa memang pedulinya berlebihan. Pantesan kadang-kadang apa yang di inginkan Asyifa tidak masuk akal ternyata ada skenario yang sudah di rencanakan.


**********


Asyifa dan Rafa berada di dalam kamar dan Asyifa memberikan tas kerja suaminya.


"Ini kak Rafa!" ucap Asyifa.


"Makasih ya, aku berangkat dulu," ucap Rafa Asyifa mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya dan Rafa langsung pergi.


"Kak Rafa tunggu!" panggil Asyifa.


"Ada apa?" tanya Rafa dengan alisnya yang terangkat.


"Kak Rafa melupakan sesuatu?" tanya Asyifa.


"Apa itu?" Rafa kembali bertanya.


"Kok tidak cium kening Asyifa?" tanya Asyifa dengan pelan. Rafa mendengarnya mau tersenyum tetapi di tahannya dengan menunjukkan ekspresi datar dengan aura dingin.


"Di cium juga kamu akan menghindar. Parfum yang aku gunakan parfum yang biasa dan kamu tidak suka. Dari pada kamu mual-mual lebih baik kita agak berjauhan, kasihan nanti bayi kita kenapa-kenapa," jawab Rafa membuat Asyifa terdiam dengan menelan salivanya yang sepertinya tidak setuju dengan Rafa.


"Ya sudah Asyifa aku berangkat ya, assalamualaikum," sahut Rafa yang langsung pamit keluar dari kamar dan Asyifa masih diam di tempatnya dengan wajahnya yang tampak lesu.


"Kok bisa gitu sih, kemarin aku menghindar kak Rafa juga masih berusaha. Sekarang kok malah menyerah dan putus asa seperti itu," batin Asyifa yang panik sendiri karena suaminya jelas-jelas mengatakan akan jaga jarak demi kebaikannya.


Sementara Rafa yang berada di dalam mobilnya baru melepaskan tawanya yang sejak tadi di tahan.


"Siapa suruh mengerjaiku. Asyifa-Asyifa, wajah kamu itu tidak bisa bohong. Jika kamu begitu sedih aku tidak menciummu. Kita lihat Asyifa sampai mana kamu bisa bertahan, kamu mengerjaiku dengan mengatur permainan dan dengan senang hati aku meladenimu Asyifa mengikuti permainan mu," ucap Rafa yang sekarang ingin membalas dendam pada istrinya.

__ADS_1


Rafa memang sempat frustasi beberapa hari ini perkara sang istri, jangankan untuk di sentuh, di peluk dan di cium saja Asyifa tidak mau dan bagaimana tidak frustasi. Rafa memaklumi itu karena memang mitos-mitos wanita hamil itu seperti itu. Tapi ternyata dia sedang di kerjain.


Bersambung


__ADS_2