Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 52


__ADS_3

Miranda berada di kamar mandi yang mengumpat penuh dengan kemarahan.


"Kurang ajar. Kenapa semuanya bisa seperti ini. Benar-benar keterlaluan," batin Miranda dengan penuh kemarahannya yang mencuci wajahnya dan menatap dirinya di cermin.


"Aku tidak akan membiarkan kejadian ini terulang lagi. Asyifa kau akan mendapatkan....


"Mendapatkan apa?" tiba-tiba ada yang memotong pembicaraan Miranda yang langsung membuat Miranda kaget saat melihat di depan cermin yang ternyata itu adalah Shofia. Miranda begitu terkejut yang mungkin jantungnya ingin copot.


"Kamu ingin Asyifa mendapatkan apa?" tanya Shofia lagi membuat Miranda menelan salivanya.


"Tante," lirih Miranda yang berbalik badan.


"Ini peringatan pertama dan terakhir untuk kamu. Untuk menjadi menantu di keluarga kamu sudah sangat tidak mungkin untukmu. Jadi jika kau sudah kehilangan Rafa. Maka kau hanya bisa mempertahankan karirmu saja. Jangan sampai kau juga kehilangan karimu," ucap Shofia yang membuat Miranda terkejut.


Kata-kata Shofia sangat simpel. Namun itu sebuah ancaman yang harus di takuti. Karena Miranda sampai detik ini hanya penuh dengan ketakutan saat mendengarnya.


"Kau seharusnya tau siapa keluarga Madison. Jadi jangan membuat suatu hal.yang memuakkan. Dan membuat kesabaran ku habis. Jadi jika mencintai karirmu. Maka berhati-hatilah," ucap Shofia yang penuh dengan penegasan dan penekanan pada Miranda.


Shofia tidak bicara apa-apa lagi. Cukup dia mengatakan hal itu dan Shofia memilih langsung pergi dari hadapan Miranda yang tidak berkutik sama sekali. Bahkan Miranda sejak tadi hanya sesak napas.


*********


Masalah dengan wartawan dapat di atasi dan tidak tau di mana Miranda. Apa lagi setelah Shofia memberinya kata-kata yang harus di pertimbangkan Miranda. Karena Shofia tidak akan main-main dengan ucapannya.


Yang jelas semuanya sudah aman terkendali. Asyifa juga kembali dengan tenang yang sekarang mereka menonton Rafa yang sedang menembak ya Rafa dan Xander sedang menembak dengan arah target mereka masing-masing.


Dengan gayanya Rafa yang sangat cool saat menembak tepat dengan sasaran yang bersaing dengan papanya yang juga sepertinya ahli dalam menembak.


"Kakek ayo lawan om Rafa," sahut Aqela bertepuk tangan dengan hebohnya. Ardi dan Shania hanya tertawa-tawa saja. Sementara Asyifa tersenyum dengan menangabadikan moment tersebut dengan mengambil foto.


"Pah Zee ingin mencoba," sahut Zee.


"Boleh kemarilah," sahut Xander. Zee tersenyum dan langsung mendekati sang papa dan Xander mengajari Zee dengan cara menembak yang benar dan fokus kemana arah sasaran. Tidak lupa Zee memakai earphone dan kaca mata.


"Asyifa kemarilah," sahut Rafa tiba-tiba yang melihat Asyifa hanya menonton saja. Rafa yang memanggilnya membuat Asyifa terkejut. Tumben-tumbenannya Rafa mau mengajaknya sampai membuat Asyifa bingung dia salah dengar atau tidak.


"Sudah sana Asyifa!" suruh Shania yang langsung mendorong Asyifa yang memasuki area penembakan dan Asyifa mendekati Rafa yang menunggunya.


"Ada apa?" tanya Asyifa yang berdiri di depan Rafa.


Rafa langsung menodongkan pistol ke kening Asyifa yang membuat Asyifa terkejut dengan kelakuan Rafa yang seperti ingin membunuhnya.


"Kenapa? takut. Jika kau menghabisimu saat ini," ucap Rafa dengan wajahnya yang menakutkan. Namun terkesan lebih mengejek Asyifa.


"Rafa kamu ini, becandaanya keterlaluan," sahut Xander menegur Rafa. Rafa menyunggingkan senyumnya dan menurunkan pistol itu dari kening Asyifa yang hanya diam saat Rafa seenak jidatnya.


"Tenang pah. Aku tidak akan membunuh menantu papa," sahut Rafa.


"Kau jangan main-main pistol, kau ini benar-benar," ucap Xander dengan kesal.


Asyifa hanya diam melihat Rafa dengan kesal. Ya Rafa sangat sering mengancam dirinya dengan kematian. Padahal Asyifa tidak takut. Namun becandaan itu terlihat menakutkan dan lagian sangat pamali bermain dengan nyawa.


"Tau nih kak Rafa. Yang adanya tuh kak Asyifa kali yang ingin membunuh kakak, mengingat kelakuan kakak," sahut Zee ikutan kesal dengan Rafa.


Rafa melihat Abian yang memasuki lapangan tembak. Asyifa yang merasa hanya di kerjai oleh Rafa langsung pergi dari hadapan Rafa. Dan Rafa langsung menarik tangannya membuat Asyifa terkejut yang sekarang berada di dekat Rafa dengan Rafa yang di belakang Asyifa memeluk Asyifa dengan membuat pistol tersebut di pegang Asyifa yang pastinya Rafa yang sedang mengajari Asyifa menembak.


Berdiri di belakang Asyifa dengan tangan mereka saling menyatu dan mereka juga saling melihat.

__ADS_1


"Kau harus bisa menembak, suapaya suatu saat kau bisa membalas dendammu padaku dengan menembang jantungku," bisik Rafa tepat di telinga Asyifa dengan tangan rafa yang menyatu dengan Asyifa dan pistol yang mengarah pada bidik tujuan dan Asyifa hanya melihat Rafa yang mengeluarkan aura dinginnya.


Dor.


Asyifa yang belum siap terkejut dengan ulah Rafa yang seenaknya menarik pelatuk pistol membuat Asyifa tersentak kaget dan Rafa menikmati hal itu melihat wajah kaget istrinya itu.


"Kak Rafa," tegur Asyifa menahan kekesalannya melihat ke arah Rafa.


"Makanya fokus jangan melihat yang lain. Fokus pada bidikanmu bukan pada Pria lain," cicit Rafa yang tau Asyifa sedang melihat Abian.


Begitu juga dengan Abian yang melihat Rafa dan Asyifa dan sepertinya Rafa sengaja dekat-dekat dengan Asyifa dan sangat mesra yang nempel-nempel seperti itu. Untuk membuat Abian sadar jika Asyifa adalah istrinya dan hanya miliknya. Sepertinya Rafa sudah mulai goyah. Karena ada laki-laki yang mendekati istrinya. Mungkinkah dia ada ketakutan tersendiri. Karena apa yang di lakukannya barusan bukanlah dirinya yang sebenarnya.


"Lihat kedepan dan fokuskan pada arahnya," ucap Rafa memberikan arahan pada Asyifa dengan terus memegang tangan Asyifa dan memeluknya yang membuat mereka begitu dekat dan tidak tau apa ke-2nya saling dek-dekan atau tidak.


Asyifa menoleh kearah Rafa dan Rafa masih fokus melihat kearah depan. Kemudian melihat kearah Asyifa yang membuat mata mereka saling bertemu.


Pemandangan yang sangat manis itu membuat Shofia melihatnya tersenyum lebar. Sangat jarang pemandangan itu terlihat dan Asyifa dan Rafa begitu sweet dan di abadikan Shofia dengan mengambil foto pasangan suami istri tersebut.


"Jangan mihatku. Fokus pada tembakanmu," ucap Rafa dengan suara seraknya. Asyifa pun langsung kembali melihat kearah depan. Arah tembakan.


Dorrr


Dan langsung menembak. Lagi-lagi Asyifa terkejut. Karena Rafa tidak memberi aba-aba padanya. Dan menembak sendiri membuat Asyifa kesal dan Rafa menyunggingkan senyumnya.


"Itu kesalahanmu. Aku menyuruhmu fokus," sahut Rafa dengan santainya yang melepas pelukannya dari Asyifa.


"Asyifa menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan perlahan kedepan yang melihat Rafa senyum-senyum seperti sedang mengejeknya.


"Tembak sendiri. Aku ingin melihat keahlianmu. Bukannya kau itu sangat suka pamer keahlian. Nih!" ucap Rafa melempar tembak itu pada Asyifa. Dan Asyifa menangkap dengan cantik.


"Coba saja kak Asyifa. Kak Rafa sangat sombong sekali, padahal dia juga biasa aja. sahut Zee yang begitu kesal dengan kakaknya itu.


"Aku tidak sombong. Aku hanya tidak perlu pamer sana sini untuk membuktikan kemampuanku," sahut Rafa, " kenapa diam tembak pada sasaran mu," sahut Rafa yang terus menantang Asyifa.


Asyifa bukannya melihat ke arah depan yang mana ada lingkaran sasaran tembak. Tetapi malah melangkah mendekati Rafa sehingga sudah berada di depan Rafa. Dengan perlahan Asyifa mengangkat pistol itu dan mengarahkan pada dada Rafa.


"Sasaranku hanya kamu," ucap Asyifa yang seperti wanita pembunuh berdarah dingin.


Rafa pasti terkejut dengan tindakan dan ucapan Asyifa yang berani kepadanya. Menodongkan pistol pada dadanya seakan membalas apa yang di lakukan Rafa tadi sebelumnya yang coba main-main.


"Kau semakin lama semakin berani kepada ku Asyifa," ucap Rafa dengan dingin.


"Bukannya tadi kak Rafa yang menyuruhku untuk menembak pada sasaran dan sasaran ku adalah kak Rafa. Kak Rafa saja ingin membunuhku 2 kali dan sekarang bagaimana jika aku melakukannya. Peluru ini akan masuk kedalam jantung kak Rafa. Maka semuanya akan berakhir bukan," ucap Asyifa yang berbicara sangat santai yang sepertinya sangat serius dengan ucapannya.


"Kau benar-benar ingin membunuhku?" tanya Rafa dengan tersenyum mengejek Asyifa, "kalau begitu lakukan. Aku ingin melihat apakah pelurumu tepat sasaran pada jantungku. Walau pistol itu sudah menyentuh dadaku," sahut Rafa dengan menantang Asyifa. Asyifa membalas dengan tersenyum miring kepada Rafa.


"Mereka ber-2 kenapa sih mah?" tanya Shania yang panik.


"Mama juga berharap. Asyifa menembak Rafa. Biar anak itu pindah alam sekalian," sahut Shofia yang mendukung menantunya.


"Mama ini bicara apa sih. Itu bukan main-main mah, itu masalah nyawa," sahut Shania panik sendiri dan mamanya malah sangat santai.


Bagaimana tidak panik dengan adiknya dan adik iparnya yang saling menatap dengab tajam dan Asyifa menodongkan pistol pada Rafa tepat di dada Rafa. Seperti film-film Holywood yang sudah ingin melenyapkan musuhnya.


Asyifa dan Rafa masih terus saling melihat dengan sama-sama tajam, sementara Zee, Xander, Shofia, Ardi dan Shania bisa di katakan ikut tegang melihat hal itu.


Dorrrr

__ADS_1


"Aaaaaaa," tiba-tiba terdengar suara tembakan membuat Zee berteriak dengan ke-2 tangannya menutup telinganya.


"Rafa!!


Shania juga dan Shofia, Ardi dan Shania terkejut dengan mata mereka yang melotot mendengar tembakan dari Asyifa


Sama dengan Rafa yang juga kaget dengan Asyifa yang menembak dadanya. Namun dia tidak merasakan apa-apa sama sekali. Karena Asyifa menjatuhkan pelurunya dari pistol tersebut.


Wajah Rafa begitu terkejut dengan tindakan Asyifa yang membuatnya benar-benar takut. Seperti Pria yang menghadapi malaikat pencabut nyawa. Namun Asyifa tersenyum melihat ketakutan Rafa bahkan sampai pucat yang berhasil di kelabui Asyifa dan membuat Rafa ketakutan.


"Untung hanya satu peluru di dalam pistolnya. Karena Asyifa belum mempelajari. Mengeluarkan peluru banyak sembari menembak. Jadi kak Rafa masih selamat di tangan Asyifa," ucap Asyifa dengan tersenyum mengejek Rafa.


"Kenapa Asyifa mengarahkan pistol pada dada kak Rafa. Itu karena kak Rafa membuat Asyifa selalu dalam masalah, menyalahkan Asyifa dan kasar pada Asyifa dan mungkin tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Asyifa akan melakukan hal itu tanpa menjatuhkan peluru," ucap Asyifa tersenyum dan Rafa hanya diam saja mendengarkan kata-kata Asyifa.


"Kak Rafa, kakak tadi salah pergerakan saat mengajari Asyifa. Karena yang Asyifa pelajari tidak seperti itu," ucap Asyifa.


"Ya ampun kak Asyifa. Kakak bikin jantung Zee copot," sahut Zee mengusap-usap dadanya. Xander tersenyum dengan Asyifa yang ternyata punya kemampuan lagi dalam menembak.


"Asyifa kamu keren sekali!" teriak Shofia yang sangat menikmati wajah pucat putranya yang hampir end di tangan Asyifa.


Asyifa kembali tersenyum dan memberikan pistol pada Rafa meletakkan di tangan Rafa.


"Nanti bisa minta ajari pada Asyifa bagaimana melakukan trik tadi. Sangat bagus bukan untuk menakuti orang jahat," bisik Asyifa dengan tersenyum dan langsung pergi dari hadapan Rafa.


Rafa mengepal tangannya yang habis-habisan di kerjai istrinya. Sangat berhasil memang karena Rafa sudah jantungan yang dia tidak menyangka Asyifa memang menembaknya. Namun dengan keahlian Asyifa. Bisa menembak sambil menjatuhkan peluru. Wau sangat ekstrim memang dan berhasil membuat dada Rafa sampai sekarang kembang kempis.


Xander pun mendekati Rafa dengan menepuk bahu Rafa, "istrimu sangat the best. Ternyata dia lebih jago dari papa. Triknya sangat bagus. Jangan tegang Rafa. Kamu belum mati. Tadi hanya teguran saja untukmu, bertobatlah," ucap Xander tersenyum mengejek Rafa.


Membuat Rafa semakin tidak ada harga dirinya karena perbuatan Asyifa. Rafa melihat kearah mamanya dan meliaht sang mama mengacungkan 2 jempol ke bawah yang lagi-lagi mengejek Rafa.


Mata Rafa berpindah pada Abian yang berbicara pada Asyifa dengan Abian yang mengajungkan 2 jempol pada Asyifa seolah sangat mengagumi Asyifa.


"Kurang ajar kau Asyifa berani sekali kau mempermainkan ku," umpat Rafa di dalam hatinya yang penuh dengan kemarahan kepada istrinya.


Gara-gara istrinya itu harga dirinya sudah tidak ada lagi dan benar-benar di injak-injak dan bahkan Rafa sudah tidak punya muka lagi dan bisa-bisanya sampai sekarang dia masih schock dan dadanya masih kembang kempis. Rafa masih berpikiran jika dia benar-benar di tembak.


**********


Rafa berada di kamar mandi yang berdiri di depan wastafel yang mencuci wajahnya sampai kerambutnya dan setelah itu melihat ke arah kaca. Dengan matany yang melotot yang seperti menahan amarah. Tangan Rafa masih terkepal yang menunjukkan kekesalannya.


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan Rafa melihat dari cermin yang ternyata itu adalah Miranda.


"Aku merindukanmu Rafa," ucap Miranda memeluk erat Miranda.


"Lepas Miranda!" ucap Rafa yang langsung melepas tangan Miranda dari pinggangnya dan menghadap Miranda namun Miranda kembali memeluknya yang sekarang dari depan.


"Miranda apa yang kau lakukan. Aku bilang lepas!" tegas Rafa yang kembali melepaskan Miranda dari pelukannya yang sepertinya Rafa sangat kesal dengan Miranda.


"Rafa kamu kenapa seperti ini? Apa kamu tidak merindukanku hah!" ucap Miranda dengan kesal yang mendapat penolakan dari Rafa.


"Miranda ini tempat umum. Dan apa yang kau lakukan. Masuk kamar mandi pria," sahut Rafa.


"Rafa aku sudah mengatakan sangat merindukanmu dan ingin bermesraan denganmu. Walaupun hanya di tempat ini. Karena aku ingin menggunakan kesempatan yang sekecil ini. Rafa suasana hatiku sedang tidak baik. Jadi jangan menolakku. Aku mencintaimu," ucap Miranda yang ingin mencium bibir Rafa. Namun Rafa langsung mengalihkan wajahnya yang menolak di cium Miranda dan Miranda bertambah kesal.


"Jangan menggangguku. Aku sedang stres. Pergilah dari sini!" usir Rafa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2