Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 44


__ADS_3

"Azka kamu ini bicara apa sih, jangan bicara yang aneh-aneh," sahut Asyifa yang kelihatan tidak ingin ada yang tau masalah rumah tangganya dan justru dia yang dek-dekan di sana.


Bahkan Asyifa sangat panik dengan Azka dan Rafa yang saling melihat dengan tatapan yang serius. Ada tatapan aneh dari Azka pada kakak iparnya itu. Dan Rafa juga sangat terlihat menahan amarahnya.


"Aku hanya bercanda kak," sahut Azka yang tiba-tiba tersenyum, membuat Asyifa bernapas lega.


"Mana mungkin kakak iparku yang tampan ini tidak membahagiakan kakak ku. Jadi Azka hanya bercanda. Karena itu tidak mungkin kan kakak ipar," ucap Azka tersenyum pada Rafa, bahkan memukul-mukul pundak Rafa dan Rafa pasti hanya diam dengan menahan kekesalannya pada Azka yang berani membuatnya takut.


"Kaka ipar kenapa diam. Kaka membahagiakan kak Asyifa kan, tidak membuat kak Asyifa menangis kan?" tanya Azka yang menatap Rafa dengan selidik.


Azka berhasil mengobrak-abrik perasaan Rafa dan terlihat tidak ada harga diri yang tersisah yang seperti orang yang penuh dengan kesalahan.


"Azka sudah!" tegur Asyifa.


"Becanda," sahut Azka lagi yang tertawa di atas jantung Rafa yang dug-dag-dug


"Azka kamu ini benar-benar ya, sudah sana kamu ganti baju dan ikut makan bersama kita. sahut Rania dengan geleng-geleng kepala.


"Baik ibu. Azka ke atas dulu dan akan turun makan bersama ibu dan yang lainnya," sahut Azka tersenyum namun masih melihat Rafa yang seakan Azka ini sangat menantang Rafa yang ada di depan kakaknya.


Azka punya firasat jika memang benar dugaan Azka Rafa tidak membahagiakan kakaknya dan mungkin jika Azka mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Rafa akan berhadapan dengan bocah SMA itu.


"Berani sekali dia berbicara seperti itu. Apa dia sedang berusaha untuk menantangku," batin Rafa yang terlihat tidak terima.


"Sudah Rafa ayo lanjutkan makannya. Azka itu memang orangnya sangat suka bercanda," sahut Rendy.


Rafa hanya mengangguk yang sebenarnya Rafa sedang menahan amarahnya, karena perkataan Azka yang membuatnya seperti orang bodoh yang di penuhi rasa bersalah. Ya tidak tau kenapa dia tiba-tiba takut pada Azka. Hal itu yang membuat Rafa marah yang seolah tidak ada harga dirinya.


Asyifa juga yang ada di dalam situasi itu begitu panik dan penuh dengan keterkejutan dengan pertanyaan Azka yang seolah-olah. Tau apa yang terjadi.


"Semoga kak Rafa tidak tersinggung dengan kata-kata Azka, ya Allah aku juga tidak tau kenapa Azka tiba-tiba mengatakan hal itu," batin Asyifa yang terus melihat ke arah Rafa yang mana sangat jelas Rafa sedang marah.


***********


Dari rumah sudah janji kalau Asyifa dan Azka hanya makan siang bersama saja. Namun orang tau Asyifa menahan-nahan Asyifa dan Rafa. Rafa ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda dan akhirnya Asyifa tetap tinggal di rumah itu dan nanti Rafa akan menjemputnya.


Asyifa mengantarkan Rafa ke mobil yang pasti Rafa harus kembali ke perusahaan.

__ADS_1


"Kau sudah mengingkari janjimu. Makan siang apanya dan sekarang lihat. Apa ini hanya makan siang saja," desis Rafa dengan kesal membuka pintu mobilnya.


"Maaf kak Rafa, ayah ibu mungkin masih merindukan Asyifa," sahut Asyifa yang menunduk.


"Simpan maafmu. Aku akan menjemputmu nanti sore. Jangan ada alasan lagi untuk tidak pulang," ucap Rafa yang ingin memasuki mobil. Namun Asyifa langsung menghentikannya dengan memegang tangan Rafa.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Maaf tentang perkataan Azka tadi saat makan siang," ucap Asyifa.


"Aku tidak heran dengan hal itu. Karena kau dan dia sama saja. Jadi tidak heran dengan lancangnya bicaranya dan aku tidak bisa terima dengan kata-katanya yang seakan memojokkan ku di depan orang tuamu," ucap Rafa dengan sinis yang melepas tangannya dari Asyifa.


"Asyifa minta maaf dengan apa yang terjadi tadi. Azka pasti tidak sengaja dan tidak ada niat untuk menyinggung kak Rafa ucap Asyifa.


"Sudahlah, aku pergi. Tidak ada waktu untuk bicara denganmu dan sebaiknya kau itu mengajari adikmu," ucap Rafa yang langsung memasuki mobilnya dan pergi langsung.


Asyifa hanya menghelus dada dengan Rafa yang tidak pernah bersikap baik kepadanya dan tidak tau sampai kapan dia akan bertahan dengan hal itu.


"Ya Allah kak Rafa terus saja cuek dan aku tidak tau apa hal ini akan terus berlanjut," batin Asyifa dengan wajah senduhnya.


*********


"Azka!" tegur Asyifa.


"Eh, kakak. Ada apa kak? Masuk!" ucap Azka.


Asyifa menghela napasnya dan langsung menghampiri Azka, berdiri di belakang Azka.


"Ada apa kak Asyifa?" tanya Azka menoleh sebentar ke arah kakaknya.


"Kakak tidak mau kamu mengulangi apa yang terjadi tadi," ucap Asyifa membuat Azka heran dan berhenti bermain game dan langsung memutarkan kursinya menghadap sang kakak.


"Maksudnya?" tanya Azka.


"Apa yang kamu katakan pada kak Rafa itu sangat tidak baik. Kamu sudah menyinggung kak Rafa," ucap Asyifa yang memberikan teguran untuk adiknya.


"Yang mana kak?" tanya Azka heran.

__ADS_1


"Tadi saat makan. Kamu tidak seharusnya mengatakan hal itu pada kak Rafa. Itu sangat berlebihan Azka," jawab Asyifa.


"Memang ada yang salah dengan perkataan Azka dan iya. Kalau kak Rafa tersinggung. Itu artinya dia memang seperti itu?" tebak Azka dengan matanya melihat serius kakaknya itu. Tangan Asyifa terlihat saling bertautan yang begitu gugup dengan apa yang di katakan Azka.


"Tidak seperti itu kan kak?" tanya Azka menebak.


"Azka permasalahan rumah tangga itu sangat berbeda Azka dengan apa yang terjadi tidak bisa harus di campuri. Bukan itu benar atau salahnya. Tetapi apa yang kamu katakan tetap tidak benar dan itu sangat menyinggung kak Rafa dan apa terjadi dalam rumah tangga kakak. Kamu juga tidak berhak untuk turut campur," jelas Asyifa dengan lembut untuk membuat adiknya itu mengerti dengan apa yang di maksudnya sebenarnya.


Azka menarik napasnya dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu memegang ke-2 tangan kakaknya dan di rasakannya tangan kakaknya itu sangat dingin.


"Baik kak. Aku minta maaf dengan apa yang Azka katakan tadi pada kak Rafa dan Azka tidak bermaksud apa-apa. Apa lagi untuk menyinggung kak Rafa," ucap Azka yang tidak masalah mengakui kesalahan.


Karena memang itu didikan dari orang tuanya. Jika salah harus meminta maaf.


"Minta maaflah pada kak Rafa jangan kepada kakak," ucap Asyifa dengan tersenyum.


"Tidak masalah. Jika memang harus meminta maaf pada kak Rafa. Nanti Azka akan meminta maaf," sahut Azka dengan tersenyum.w


"Makasih ya Azka," ucap Asyifa.


"Kak Asyifa. Azka akan meminta maaf pada kak Rafa dan tidak akan melakukan hal itu lagi. Jadi kakak jangan khawatir. Dan iya kak Asyifa jika ada sesuatu yang terjadi pada kakak. Kakak harus memberitahu Azka. Azka tidak ingin kakak sampai kenapa-kenapa," ucap Azka.


"Iya Azka pasti," sahut Asyifa tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Azka.


"Kakak sangat beruntung punya adik sangat baik seperti kamu," ucap Asyifa dengan tersenyum.


"Azka lebih beruntung punya kakak yang sangat cantik, lembut dan sangat baik," sahut Azka membuat Asyifa tersenyum.


Namun Azka melihat sang kakak dengan tatapan yang aneh di mana Azka merasa jika Asyifa menyembunyikan sesuatu darinya yang tidak di ketahuinya apa itu. Tawa sang kakak bahkan mengartikan hal lain yang membuat Azka sangat penasaran sebenarnya. Namun dia tidak mungkin ikut campur terlalu dalam dan hanya bisa berdoa semoga kakaknya itu tidak kenapa-kenapa.


**********


Rafa berada di dalam mobilnya yang menyetir. Malam hari ini di penuhi dengan hujan yang deras dengan sambaran petir yang kuat.


Rafa yang menyetir kelihatan sekali penuh dengan pemikiran yang terasa berat. Karena beberapa kali Azka memijat kepalanya.


"Harus menjemputnya lagi. Tidak mungkin tidak di jemput mama bisa-bisanya marah dan menyuruhnya pulang sendiri yang ada orang tuanya akan bertanya-tanya," ucap Rafa yang dengan terpaksa harus menjemput istrinya.

__ADS_1


Dia meeting seharian dan sebenarnya harus pulang sore. Tapi karena banyak pekerjaan. Jadi Rafa harus pulang malam dan dia masih meninggalkan istrinya di rumah orang tuanya yang mau tidak mau harus di jemputnya.


Bersambung


__ADS_2