
Karena Rafa sudah tau selama ini istrinya mengerjainya. Rafa jadi pasang mode cuek dan dingin. Dan ternyata itu membuat Asyifa jadi gelisah sendiri dan mungkin sajadah hormon hamil Asyifa. Sudah mulai mendekati hormon-hormon yang manja dan sebenarnya kebanyak ini hamil itu maunya di peluk terus suaminya dan Asyifa malah berulah yang membuat Rafa kesal dan akhirnya stres sendiri kan Asyifa yang tidak mendapatkan pelukan dari suaminya. Walau katanya itu permintaan bayi juga sih sebenarnya.
Seperti sekarang ini saja. Rafa benar-benar tidur di sofa dan tidak di tempat tidur dan alasan Rafa pasti tidak ingin Asyifa mual-mual. Ya Rafa menggunakan semua kata-kata Asyifa sekalian menyindir istrinya itu.
Asyifa jadi tidak bisa tidur jadinya dan gelisah terus bawannya sampai dia bangun dan duduk melihat suaminya yang tidur di sofa yang terlihat lelap.
"Apa Asyifa sangat menyebalkan ya. Kak Rafa sekarang kenapa jauh sekali dari Asyifa. Apa jangan-jangan kak Rafa sudah tidak peduli lagi pada Asyifa," batin Asyifa yang gelisah sendiri.
Asyifa pun menuruni ranjang dan menghampiri Rafa dengan berjongkok yang memegang pelan lengan Rafa.
"Kak Rafa!" ucap Asyifa dengan pelan yang membangunkan suaminya.
Rafa sangat mudah bangun dan membuka matanya perlahan.
"Ada apa Asyifa?" tanya Rafa.
"Kak Rafa istirahat lah di atas ranjang jangan di sini, nanti kesehatan h
kak Rafa tidak baik," ucap Asyifa memberi saran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidak ingin mengganggu kenyamanan kamu, kamu istirahat saja," ucap Rafa dengan tersenyum.
"Kak Rafa mungkin memang tidak peduli pada Asyifa lagi," batin Asyifa dengan menghela napasnya.
"Asyifa ayo istirahat. Jangan melamun," ucap Rafa dengan pelan.
"Kak Rafa Asyifa mau makan buah," ucap Asyifa yang menguji suaminya apakah masih peduli atau tidak kepadanya.
Rafa langsung duduk dengan mengusap menutup mulutnya, "kamu mau buah apa?" tanya Rafa.
"Mau Ceri," jawab Asyifa.
"Ya sudah kalau begitu akan aku ambilkan," ucap Rafa yang tidak masalah melakukannya.
"Ternyata kak Rafa masih peduli kok," batin Asyifa yang hanya ingin menguji suaminya.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini ya, aku kedapur sebentar," ucap Rafa.
"Asyifa ikut kak," sahut Asyifa yang langsung berdiri. Rafa menganggukan kepalanya dan tidak masalah membawa Asyifa.
Mereka pun tiba di dapur dan Rafa membuka kulkas untuk mengambil buah yang di inginkan istrinya.
"Asyifa buahnya lagi habis, biar aku beli di luar ya," ucap Rafa yang ternyata buah yang di inginkan Asyifa habis. Namun langsung berinisiatif untuk membelinya langsung.
"Jangan kak Rafa!" cegah Asyifa memegang lengan Rafa hal itu membuat Rafa heran, "sudah malam, kak Rafa tidak seharusnya membelinya," ucap Asyifa.
"Tapi buahnya tidak ada," ucap Rafa.
"Tidak apa-apa, Asyifa makan buah yang lain aja," sahut Asyifa yang tidak ingin suaminya harus pergi. Dan itu pasti membuat Rafa tumben sekali. Karena biasanya Asyifa akan tetap ngotot ingin apa yang dia mau.
"Hmmm begitu rupanya. Ya sudah kamu mau apa?" tanya Rafa.
"Apa aja," jawab Asyifa. Rafa mengangguk dan langsung mengambilnya, Rafa juga memotong beberapa buah sementara Asyifa hanya duduk menunggu. Sebenarnya Asyifa tidak ingin makan buah. Namun ingin dekat-dekat dengan Rafa dan melakukan cara itu. Ya Asyifa hanya terjebak dengan rencananya sendiri yang mengerjai suaminya dan berakhir seperti itu.
Rafa pun menemani Asyifa memakan buah itu. Asyifa juga menawarkan Rafa dengan menyuapinya. Tetapi Rafa menggelengkan kepalanya yang memang tidak mau.
"Kak Rafa Asyifa sudah tidak merasa bau kok dengan parfum kak Rafa dan juga tubuh kak Rafa," ucap Asyifa yang membuat Rafa lagi-lagi ingin menahan tawanya.
"Hmmm, jadi kalau misalnya tidur di atas tempat tidur berdua, Asyifa nyaman kok, dan kalau mau di_ di_" Asyifa sangat sulit melanjutkan kalimatnya yang mana dia menelan salivanya dan Rafa sangat menunggu lanjutan kalimat itu dengan alisnya yang terangkat.
"Di apa Asyifa?" tanya Rafa.
"Ya seperti biasa yang kak Rafa lakukan," jawab Asyifa menunduk yang malu untuk bicara.
"Ohhh, begitu," sahut Rafa yang lagi-lagi jawaban itu sangat simpel.
"Kak Rafa kenapa jadi cuek banget sama Asyifa. Asyifa juga kenapa sih, riasanya pengen banget di peluk kak Rafa dan di elus-elus rambutnya," batin Asyifa yang galau sendiri dengan jarak antara dia dan suaminya. Sekarang dia yang sangat merindukan suaminya itu sampai tidak bisa berkata-kata lagi dan sejak tadi hanya memberi banyak kode untuk suaminya itu.
*********
Pagi hari kembali tiba Rafa siap-siap di dalam kamar yang sekarang berdiri memakai dasinya di depan cermin. Asyifa yang keluar dari kamar mandi yang melihat suaminya memakai dasi Asyifa langsung menghampirinya Rafa.
__ADS_1
"Biar Asyifa yang melakukannya, Asyifa sudah belajar," ucap Asyifa yang langsung memakaikan pada suaminya. Rafa hanya membiarkan dengan tersenyum melihat wanita cantik itu yang memasangkan dasinya.
"Rapi kan?" tanya Asyifa.
"Iya makasih ya," ucap Rafa. Asyifa tersenyum, "ya sudah kalau begitu aku pergi dulu," ucap Rafa yang ingin beralih dari hadapan Asyifa. Namun Asyifa langsung memeluk Rafa dengan erat yang membuat Rafa tersenyum yang mendapatkan pelukan itu. Tetapi Rafa tidak membalasnya dan sepertinya sengaja.
"Kak Rafa Asyifa boleh tidak ikut kekantor?" tanya Asyifa.
"Untuk apa?" tanya Rafa.
"Pengen ikut aja," jawab Asyifa yang mungkin tidak tahan jauh-jauh dari Rafa.
"Bukannya kamu tidak mau dekat-dekat denganku ya?" tanah Rafa
"Itu kan dulu, sekarang tidak kak Rafa malah yang jauh dari Asyifa, kan Asyifa sudah bilang, Asyifa sudah tidak merasa bau lagi pada tubuh kak Rafa. Mungkin selama ini hidung Asyifa bermasalah," ucap Asyifa dengan polosnya yang memberikan alasan itu.
"Hmmm, begitu rupanya," sahut Rafa. Asyifa melonggarkan pelukannya dan mengangkat kepalanya melihat suaminya.
"Asyifa boleh ikut kekantor?" tanya Asyifa yang ingin kepastian.
"Baiklah," sahut Rafa yang memberi izin. Dia tau Asyifa sebenarnya hanya ingin terus dekat-dekat dengannya, dan mungkin karena bawaan bayi di kandungannya. Namun Rafa juga masih mengerjai Asyifa. Tetapi dia juga kadang tidak tega. Jadi hanya mengerjai yang seadanya saja.
"Asyifa siap-siap sebentar ya," ucap Asyifa dengan lembut. Rafa menganggukkan kepalanya dan Asyifa langsung bersiap-siap yang pasti sangat bahagia yang telah di berikan izin untuk ikut kekantor.
*********
Di dalam mobil Asyifa dan Rafa duduk berduaan dengan Rafa yang menyetir dan memang tidak menggunakan supir hari ini.
"Kak Rafa Asyifa mengantuk boleh tidak bersandar di bahu kak Rafa," ucap Asyifa. Mendengarnya membuat Rafa mendengus dengan senyuman.
"Tidak boleh ya?" tanya Asyifa yang mana belum mendapatkan respon.
"Boleh Asyifa. Lakukan saja," sahut Rafa yang membuat Asyifa tersenyum dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Rafa dengan memeluk tangan Rafa.
"Sudah kuduga Asyifa. Kamu tidak akan tahan dengan semua ini dan sekarang kamu malah menyerah sendiri. Sekarang gantian aku akan melihat seberapa besar usahamu," batin Rafa yang masih ingin melanjutkan misinya.
__ADS_1
"Apa salahnya coba mengelus rambut Asyifa," batin Asyifa yang ternyata menginginkan sesuatu dari Rafa. Namun Rafa bulannya tidak peka dan tidak mau melakukannya. Hanya saja kembali lagi dengan yang ada dalam pikirannya yang ingin membalas Asyifa.
Bersambung