Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 223


__ADS_3

Di restoran yang sama mobil yang berhenti di depan Restaurant dan keluarlah Dedi dan juga Syira yang tidak tau kenapa mereka bisa satu mobil dan berada di Restaurant tersebut.


"Ayo Syira!" ajak Abian.


"Tapi aku takut Dedi bertemu keluarga kamu," ucap Syira.


"Tidak apa-apa ayo masuk. Mereka semua tidak ada masalah denganmu," ucap Dedi.


Memang tidak tau bagaimana hubungan Syira dan Dedi dan bagaimana kedekatan mereka. Namun hari ini mereka satu mobil dan datang ke Restauran yang sama dengan keluarga Dedi yang ada di dalam sana.


Sangat ragu Syira mengikuti Dedi. Namun mau tidak mau dia pun ikut masuk setelah benar-benar sangat yakin.


Dari kejauhan Dedi melihat keluarganya dan melangkah menghampiri keluarganya.


"Dedi, aku tidak yakin," ucap Syira menghentikan langkah Dedi dengan memegang tangan Dedi.


"Hanya makan malam dan mereka semua manusia. Kamu tidak akan menjadi makanan mereka," ucap Dedi yang meyakinkan Syira, "ayo kita bergabung!" ajak Dedi lagi dan mau tidak mau Syira pun mengikut.


"Assalamualaikum," sapa Dedi ketika sudah sampai meja keluarganya itu.


"Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak dan melihat kearah Dedi. Cukup sangat mengejutkan karena mereka langsung melihat Syira yang menunduk yang terlihat sangat gugup.


Zee dan Abian saling melihat yang pasti heran dan bertanya-tanya kenapa Syira ada bersama dengan Dedi. Begitu juga dengan Rafa dan Asyifa yang menunjukkan wajah heran mereka dan sama dengan yang lain yang juga penuh dengan tanya.


"Dedi," sahut Willo.


"Maaf aku terlambat. Tadi aku jemput Syira dulu dan mengajaknya ikut makan bersama kita," ucap Dedi.


"Memang kalian ada hubungan apa?" tanya Shofia yang tampak tidak nyaman dengan kehadiran Syira yang mengingat Syira itu wanita yang merusak hubungan putrinya.


"Mah," ucap Shania pelan yang menegur mamanya.


"Hmmm, ayo Dedi, Syira duduk jangan hanya berdiri saja," sahut Xander yang mencairkan ketegangan dalam acara makan malam itu.

__ADS_1


"Iya Om," sahut Dedi dan Syira juga duduk di samping Dedi tepat di hadapan Abian dan Zee.


"Kamu tidak bilang sama mama Dedi. Kalau kamu bawa teman," ucap Willo.


"Iya mah. Hanya saja ini aku ingin mengajak Syira untuk makan bersama dan aku mohon untuk kalian semua tidak canggung termasuk kamu Abian dan juga Zee. Masa alangkah baiknya kita lupakan," sahut Dedi.


Zee diam saja begitu juga dengan Abian yang tidak tau harus mengatakan apa.


"Jika kamu berbicara seperti ini dan membawanya ikut makan bersama kita. Apa kalian ada hubungan special?" tanya Willo yang langsung to the point.


"Kak Willo tidak seharusnya mempertanyakan hal itu," sahut Rania.


"Tidak apa-apa Tante Rania. Tujuanku membawa Syira pasti dengan alasan yang besar dan itu karena aku dan Syira sedang tahap menuju untuk serius," ucap Dedi dengan jujur apa adanya yang membuat semua orang terkejut.


Syira hanya diam dengan kedua tangannya saling mengatup di atas pahanya dengan wajahnya yang hanya menunduk seperti tidak punya muka untuk melihat.


"Apa yang kamu katakan Dedi. Kenapa tiba-tiba?" tanya Willo yang harus menanggapi serius dengan perkataan putranya yang sangat mengejutkan itu.


"Aku sudah serius mah," sahut Dedi.


"Kita bicarakan ini di rumah dan ini makan malam keluarga yang penuh tawa. Jangan karena ulah kamu yang tiba-tiba seperti ini mengubah suasana malam malam ini," tegas Willo.


"Tante maafkan saya," sahut Syira yang baru berani bicara.


"Tidak perlu minta maaf. Namun ini sangat mengejutkan dan saya juga tidak tau apa yang terjadi di antara kalian yang tiba-tiba saja berkata mau serius. Nanti kita akan bicara tapi jangan di sini," ucap Willo dengan tegas. Tidak dapat di baca eksperesi Willo apakah menyetujui putranya itu atau tidak bersama dengan wanita pilihannya.


"Ayo kita lanjutkan makan. Maaf dengan suasana ini," ucap Willo yang merasa tidak enak. Namun tetap tersenyum untuk melanjutkan makan mereka dan yang lain pun melanjutkan makan. Walau suasana sudah cukup tegang dengan kacau karena pertanyaan Dedi yang secara tiba-tiba.


***********


Di dalam mobil Syira dan Dedi yang duduk bersebelahan dengan Dedi yang menyetir.


"Aku terlalu buruk sampai tidak akan yang menyukaiku dan termasuk mamamu yang juga sangat terlihat jelas tidak menyukaiku," ucap Syira dengan suara senduhnya.

__ADS_1


"Mama hanya kaget Syira dan tidak terjadi apa-apa. Percayalah setelah aku bicara dengan kepala dingin mama akan mengerti," ucap Dedi meyakinkan Syira.


"Apa kamu mengatakan yang sebenarnya?" tanya Syira.


"Tidak tau. Tapi aku akan berusaha untuk membuat mama percaya kepadaku," ucap Dedi.


"Dedi. Kamu sekarang terlibat dengan keluarga Zee dan aku juga melihat keluarga Zee belum bisa menerima ku dan masih ketus kepadaku. Dan sepertinya ini hanya sia-sia saja," ucap Syira yang menyadari hal tadi.


"Jangan berpikiran terlalu jauh. Aku kan menyakinkan mama dan untuk yang lainnya kita tidak ada hubungannya dan pelan-pelan semuanya akan baik-baik saja. Ini hanya butuh waktu saja," jelas Dedi yang berbicara hanya lembut.


"Aku tidak tau. Kenapa kamu sebaik ini kepadaku," sahut Syira yang melihat kearah Dedi.


"Aku juga tidak tau kenapa aku melakukan banyak hal untukmu," sahut Dedi yang juga melihat ke arah Syira.


**********


Di mobil yang berbeda juga ada Zee dan Abian dan Zee terlihat sendu dengan melihat ke arah jendela. Abian memegang tangannya membuat Zee menoleh kearah Abian.


"Ada apa?" tanya Abian.


"Hanya kepikiran saja dengan Syira dan Dedi. Kenapa mereka bisa tiba-tiba bersama," ucap Zee.


"Lalu kamu sendiri bagaimana? apa kamu takut dengan hal itu?" tanya Abian.


"Aku sudah percaya untuk pernikahan kita dan juga percaya kepadamu. Aku tidak takut apapun dan mungkin saja itu takdir sehingga mereka berdua bisa bertemu dan dan tiba-tiba ada hubungan dan aku tidak punya hak untuk suka atau tidak. Karena mereka yang menjalaninya," ucap Zee yang berbicara begitu dewasa.


"Zee kita sebaiknya tidak ikut campur. Aku dan Syira sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dan kita berdua sudah saling percaya dan alangkah baiknya masalah Dedi dan Syira mau seperti apapun itu tidak perlu kita ikut campuri," ucap Abian dengan bijak.


"Iya kak Abian, Zee juga tidak perlu memikirkan hal itu. Alangkah baiknya fokus pada pernikahan kita saja," ucap Zee.


Abian mengangguk tersenyum dengan mencium punggung tangan istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2