
Syira keluar dari kamar setelah bibi memanggilnya.
"Memang ada tamu siapa yang datang," batin Syira yang berjalan menuruni anak tangga dan sampai di ruang tamu Syira heran melihat tamu yang bicara dengan papa dan mamanya yang membuat Syira menghentikan langkahnya.
"Dedi!" batinnya dengan penuh tanya.
"Untuk apa Dedi di sini, bersama Tante Willo dan Lulu," batin Syira yang benar-benar bingung dan bahkan perasaannya sangat tidak enak.
"Syira!" tiba-tiba Syira di panggil Sahila ketika melihat ke datangan Syira.
"Iya mah," sahut Syira dengan menundukkan kepalanya.
"Ayo kemari kenapa kamu berdiri terus di sana?" tanya Sahila.
"Iya mah," Syira dengan perasaan yang gugup melangkahkan kakinya mendekati orang-orang yang ada di ruang tamu itu.
"Tante," Syira dengan sopan mencium punggung tangan Willo. Dan Willo tersenyum tipis kepada Syira.
"Ayo Syira kamu duduk!" ucap Sahila. Syira mengangguk dan mengambil tempat duduk di samping Sahila.
"Ada apa ya ini. Kenapa kalian semua datang ketempat ini?" tanya Syira dengan gugup.
"Kamu jangan gugup seperti itu Syira. Kedatangan kita kemari tidak untuk membuat masalah," ucap Willo.
"Memang ada apa ya Tante apa ada hal yang belum selesai?" tanya Syira.
"Iya pasti karena belum ada yang selesai di antara kamu dan keluarga kami," ucap Willo mendengar hal itu malah membuat Syira kaget.
"Memang apa yang belum selesai? Apa lagi yang Syira lakukan sehingga sampai membuat kalian datang kemari," tanya Syira dengan panik
"Syira kamu jangan tegang- tegang seperti itu. Kami datang kemari ingin menjemput kamu," ucap Willo.
"Maksudnya?" tanya Syira heran dengan wajah bingungnya.
"Syira aku ingin membawa kamu kembali pulang. Kita kembali memperbaiki pernikahan kita," sahut Dedi yang menjelaskan maksud dan tujuannya datang ketempat itu yang membuat Syira benar-benar terkejut yang pasti tidak percaya dengan apa yang di katakan Dedi.
__ADS_1
Syira melihat ke-2 orang tuanya dan orang tuanya tersenyum kepadanya dengan anggukan kepala mereka.
"Kamu ingin aku tetap menjadi istrimu?" tanya Syira.
"Iya kita sama sekali belum berpisah aku belum mengucapkan kata apapun kepadamu dan aku hanya menengakan diri selama 1 Minggu lebih ini dan aku memutuskan semuanya untuk kita kembali menjalin pernikahan kita. Memperbaiki segalanya," ucap Dedi.
"Dengan keadaan ku?" tanya Syira dengan matanya berkaca-kaca.
"Sebelum itu aku juga tau keadaan mu dan aku marah padamu. Karena kamu hanya memanfaatkan ku dan aku kembali menarik kepada diriku. Jika aku berada di posisimu belum tentu aku bisa sekuat kamu. Kamu menghadapi semuanya sendirian, menghadapi pria sendirian dengan berbagai ancaman dan kamu juga mengalami tekanan di rumahku dan aku juga adalah orang yang bersalah dalam pernikahan kita," ucap Dedi.
"Syira kembalilah kepadaku dan kita perbaiki semuanya," ucap Dedi.
Mendengar hal itu membuat air mata Syira jatuh.
"Keluarga kami minta maaf Syira dengan semua yang keluarga kami lakukan kepada kamu. Kami sangat jahat Syira kepada kamu. Kamu. Mungkin kami tidak ada niat. Tetapi secara tidak langsung pasti kamu tersakiti. Maafkan kami Syira," ucap Willo.
"Aku juga Syira yang kurang dewasa mengahadapi permasalahan ini. Kau juga meminta maaf Syira untuk semua ini," sahut Lulu.
Syira menyeka air matanya dengan memejamkan matanya dan membukanya kembali.
"Bagaimana Syira kamu ikut pulangkan bersamaku?" tanya Dedi.
"Terima kasih untuk kebaikan kalian semua. Terima kasih menerima kekuranganku dan menjadikan ku sebagai manusi yang masih mempunyai kehidupan. Aku akan jauh lebih baik kedepannya nanti. Aku akan belajar untuk menjadi lebih baik nanti," ucap Syira dengan air matanya yang tidak dapat di bendungnya.
"Alhamdulillah sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Kita akan menjadi keluarga kecil dengan penuh kebahagiaan," sahut Lulu.
"Terima kasih Bu Willo untuk kemuliaan hati kalian untuk menerima putri kami. Kami benar-benar tidak tau lagi harus mengatakan apa," sahut Danu.
"Benar kata suami saya ini berkah yang sangat kuat biasa," sahut Sahila yang juga ikut terharu.
"Jangan berterima kasih berlebihan semua ini demi kebaikan keluarga kita dan kebaikan anak-anak kita. Tidak ada manusia yang tidak bersalah dan sama dengan Dedi dan Syira mereka 2 manusi yang mau memperbaiki diri kedepannya," sahut Willo
Danu dan Sahila mengangguk-angguk dengan suatu berkah yang mereka dapatkan dan Syira juga sangat bahagia yang saling melihat dengan Dedi.
Sangat mulia sekali hati Dedi yang telah memberikannya kesempatan menjadi seorang istri dan sangat menyesal sekali Syira yang pernah menjadikan Dedi bahan fitnah.
__ADS_1
************
Malam hari di kediaman Rafa. Sudah larut malam. Asyifa yang belum tidur yang masih berdiri dengan menggendong bayi mereka yang menangis malam-malam.
"Shut-shut, shut," Asyifa berusaha menidurkan putri mereka yang masih rewel sampai membuat Rafa terbangun dan melihat istrinya yang kesulitan.
"Sayang kenapa tidak membangunkanku," sahut Rafa yang turun dari ranjang.
"Tidak apa-apa kak Rafa. Asyifa bisa sendiri kok. Kak Rafa tidur aja lagi. Kak Rafa juga capek kerja seharian," ucap Asyifa yang begitu perhatian pada suaminya.
"Tidak sayang kamu saja yang istirahat, berikan Afiza pada ku," sahut Rafa yang langsung mengambil dari tangan Asyifa.
"Kak Rafa tapi...." Asyifa sama sekali tidak bisa mencegah karena suaminya sudah menggendong anak mereka.
"Sekarang kami yang tidur biar Asyifa aku yang tidurkan," ucap Rafa.
"Tapi kak Rafa," Asyifa merasa tidak enak.
"Jangan tapi-tapi sayang. Ayo cepat kamu tidur. Kita gantian. Lihat mata kamu seperti mata panda," ucap Rafa.
"Baiklah kak Rafa," sahut Asyifa yang tidak punya pilihan lain dan Asyifa pun menaiki tempat tidur dengan melihat suaminya yang menidurkan putri mereka.
Lama kelamaan Asyifa juga memejamkan matanya karena melihat Rafa terus. Pasti ibu yang baru melahirkan itu akan kurang tidur sama dengan Asyifa yang belakangan kurang tidur dan makanya Rafa akan membantu istrinya dan sangat kasihan dengan istiranya. Rafa benar-benar suami idaman yang menjadi papa stand by untuk anak mereka.
**********
Syira dan Dedi yang sama-sama berada di atas ranjang yang berbanding lurus dengan menatap langit-langit kamar mereka. Sudah larut malam pasangan itu masih sama-sama belum tidur.
"Aku jadi canggung saat kembali kerumah ini," ucap Syira melihat ke langit-langit kamar.
"Nanti juga kamu akan biasa .Jadi tidak perlu canggung," sahut Dedi.
"Makasih ya Dedi kamu sudah menerima ku," ucap Syira menoleh kearah Dedi.
Tangan Dedi yang di bawah sana meraih tangan Syira dan menggenggamnya dan Dedi juga melihat ke arah Syira dengan mata mereka yang saling bertemu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu berterima kasih mungkin semua ini sudah jalan dari Allah," ucap Dedi yang membuat Syira tersenyum dengan ke-2nyanya yang masih betah saling melihat satu sama lain dengan perasaan yang sama-sama hangat.
Bersambung