Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode.


__ADS_3

Asyifa dan Rafa berjalan-jalan hanya berduaan dengan keliling desa dengan tangan mereka yang bergandengan.


"Mau melihat matahari terbenam?" tanya Rafa menawarkan sang istri. Karena tadi sepertinya istrinya ingin melihat matahari terbenam.


"Boleh," jawab Asyifa yang tidak menolak.


"Ayo!" ajak Rafa. Asyifa mengangguk dan mereka langsung pergi ke tempat matahari terbenam dengan berjalan kaki yang pasti mendaki bukit dan Rafa pasti sangat menjaga istrinya dengan memegang tangan sendiri.


"Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh," ucap Rafa yang menggunakan kata-kata mautnya. Rafa kadang-kadang juga mau suka-sukanya memanggil Asyifa sayang, kadang tidak. Namun kalau Rafa manggilnya sayang membuat Rafa sangat bahagia mendengarnya.


"Kenapa tersenyum, ada yang lucu?" tanya Rafa.


"Kak Rafa menggemaskan," jawan Asyifa membuat Rafa mendengus dengan tersenyum dengan istrinya yang bisa-bisanya mengatakan dirinya menggemaskan.


"Ya sudah sekarang ayo kita lanjut jalan. Kamu mau di gendong tidak?" tanya Rafa menawarkan tenaganya untuk sang istri.


"Tidak usah kak Rafa. Sudah mau sampai kok," jawab Asyifa yang tidak mau membuat suaminya sedih.


"Ya sudah ayo kita lanjut sayang," ucap Rafa yang kembali memanggang sang istri sayang membuat Asyifa tersenyum saja.


Tidak lama akhirnya Asyifa dan Rafa sampai di bukit. Tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu melelahkan.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga," ucap Asyifa yang bisa menghela napas.


"Minum dulu!" ucap Rafa memberikan Asyifa minuman yang memang tadi di bawa Rafa.


"Makasih kak Rafa," ucap Asyifa yang langsung meminumnya, "Hmmm ada pondok juga!" tunjuk Asyifa melihat pondok kecil yang terbuka.


"Sepertinya ada juga orang yang sering melihat matahari terbenam. Jadi bisa sekalian istirahat kalau sudah sampai," sahut Rafa.


"Iya juga sih," sahut Asyifa.


"Kamu mau duduk di sana?" tanya Rafa

__ADS_1


"Tidak mau di sana saja biar bisa melihat kebawah," jawab Asyifa.


"Baiklah," sahut Rafa.


Setelah itu Rafa dan Asyifa duduk di pinggir tebing dengan kepala mereka yang berkeliling melihat ke sekitar mereka dengan melihat lebih indah lagi desa tersebut yang begitu indah.


"Masya Allah, tempatnya begitu indah kak Rafa. Desa ini sangat sejuk," ucap Asyifa yang memuji tempat itu.


"Kamu benar Asyifa dan lihat itu!" tunjuk Rafa pada matahari yang ingin terbenam. Asyifa tersenyum berseri-seri melihat ke indahan itu.


"Alhamdulillah kak Rafa. Kita masih bisa di beri Kesempatan untuk bisa melihat tempat ini. Melihat matahari terbenam," ucap Asyifa. Rafa mengangguk dengan tersenyum dengan mata mereka yang sama-sama melihat matahari terbenam. Wajah mereka pun ikut tersorot cahayanya matahari.


"Kak Rafa makasih ya kak Rafa selalu menuruti apa yang Asyifa mau," ucap Asyifa.


"Bukannya itu suatu kewajiban," ucap Rafa dengan tersenyum.


"Apa Asyifa sangat merepotkan kak Rafa?" tanya Asyifa.


"Karena melihat ayah dan ibu yang bahagia dalam pernikahan membuat Asyifa ingin menikah muda dan mengabdi pada suami Asyifa," ucap Asyifa.


"Dan kamu sudah melakukan itu Asyifa. Kamu selalu mengabdi pada ku, sangat sabar menjadi istriku. Seperti yang sering aku katakan. Kamu menjadi istri yang sempurna untukku," ucap Rafa yang membuat Asyifa tersenyum.


"Sekarang yang aku inginkan adalah kesehatan untuk kamu. Di beri kelancaran dalam kehamilan kamu. Hanya itu yang aku inginkan," ucap Rafa.


"Sebisanya Asyifa akan menjaganya kak Rafa," ucap Asyifa dengan tersenyum membuat Rafa mengelus kepala istrinya.


"Asyifa sangat bahagia kak Rafa dengan kak Rafa yang menjadi suami Asyifa. Makasih kak Rafa untuk kebaikan kak Rafa selama ini kepada Asyifa," ucap Asyifa. Rafa hanya mengangguk saja.


"Kak Rafa mau tau sesuatu tidak?" tanya Asyifa.


"Memang apa?" tanya Rafa melihat ke arah Asyifa.


"Kak Rafa mau tau tidak bagaimana cerita saat pertama kali Asyifa bertemu dengan kak Rafa?" tanya Asyifa.

__ADS_1


"Memang bagaimana ceritanya dan aku juga ingin tau bagaimana sih tanggapan kamu saat pertama kali bertemu denganku," ucap Rafa yang memang belum pernah mendengar cerita sang istri.


"Yanga pasti Asyifa sangat gugup saat pertama kali bertemu dengan kak Rafa. Asyifa melihat kak Rafa sosok Pria yang tampan dan sangat dingin. Asyifa hanya bertanya di dalam hati Asyifa. Apa ini calon suami Asyifa. Asyifa harus bersikap seperti bapa untuk pria di depan Asyifa yang menjadi imam Asyifa ini. Apa yang harus Asyifa lakukan dan Asyifa banyak takutnya dan kebingungan saat bersama bertemu dengan kak Rafa," jelas Asyifa.


"Lalu apa yang membuat kamu yakin untuk menikah?" tanya Rafa.


"Asyifa sholat Istikorah dan jawaban itu membuat Asyifa yakin dengan pernikahan itu," jawab Asyifa.


"Di awal kita menikah semuanya masih terasa sangat aneh. Asyifa kaget. Namun Asyifa hanya berusaha untuk menyesuaikan diri Asyifa dengan kak Rafa," ucap Asyifa.


"Aku terlalu kasar padamu saat itu Asyifa," ucap Rafa yang mengingat kesalahannya dengan menatap sang istri dengan rasa bersalah. Mau sampai kapanpun pasti dosa-dosa yang di lakukan Rafa pada Asyifa tidak bisa di lupakan Rafa. Walau Asyifa sudah mengatakan beribu maaf.


"Kak Rafa tidak perlu merasa bersalah akan hal itu. Itu hal yang biasa. Kita yang tidak saling mengenal. Bahkan juga tidak ada proses ta'aruf yang kita jalani. Jadi saat menikah sangat wajar itu terjadi. Asyifa sang memakluminya," sahut Asyifa.


"Asyifa apa saat-saat itu kami pernah ingin menyerah dengan pernikahan kita?" tanya Rafa.


" Jujur iya Asyifa ingin menyerah, karena shock dengan pernikahan yang Asyifa jalani. Namun balik lagi tujuan Asyifa menikah hanya untuk bisa ke surga bersama suami Asyifa. Jadi untuk apa menyerah dengan pernikahan itu," ucap Asyifa.


"Dan setiap doa yang Asyifa panjatkan sekarang di jabah sama Allah. Bahkan Allah memberi kebahagiaan yang tidak pernah Asyifa bayangkan. Kak Rafa telah imam yang baik buat Asyifa, menjadikan Asyifa istri yang yang seutuhnya dan memberikan Asyifa kesempatan untuk mengandung," ucap Asyifa dengan matanya berkaca-kaca.


"Kak Rafa juga mencintai Asyifa dan itu tidak pernah Asyifa bayangkan di dalam hidup Asyifa. Asyifa sangat bahagia dengan pernikahan ini," ucap Asyifa.


"Kak Rafa Asyifa mungkin sangat jauh dari istri orang-orang di luar sana. Istri yang tidak gengsian, istri yang selalu mengucapkan cinta pada suaminya. Asyifa juga tidak romantis, karena Asyifa tidak pernah berpacaran dan tidak tau caranya seperti apa kepada suami. Tetapi Asyifa hanya ingin mengatakan kak Rafa. Setiap kak Rafa, menatap dan menyentuh Asyifa. Jantung Asyifa tidak pernah berhenti untuk berdetak. Perasaan itu ada sejak awal kita menikah," ucap Asyifa yang membuat Rafa hanya terus menatap istrinya dan mendengarkan istrinya yang berbicara.


"Dan jika kak Rafa tanya dan menunggu jawaban Asyifa. Apa kah Asyifa mencintai kak Rafa atau tidak. Maka jawabannya iya. Karena Asyifa yakin debaran jantung Asyifa itu pertanda jatuh cinta pada kak Rafa dan itu semenjak kak Rafa mengucapkan ijab kabul saat menikahi Asyifa," ucap Asyifa yang akhirnya menyatakan perasaannya kepada suaminya yang membuat Rafa tersenyum dengan matanya berkaca-kaca dengan perkataan Asyifa.


Rafa mendekatkan wajahnya pada Asyifa dengan memegang pipi Asyifa, "seharusnya aku tau dari tatapan matamu. Jika hanya ada aku di dalam hatimu. Seharusnya aku sadar jika kamu pasti mencintaiku," ucap Rafa dengan lembut mencium kening Asyifa membuat Asyifa menutup matanya.


Rafa juga ingin mencium bibir Asyifa. Namun tidak jadi. Mungkin Rafa tau pasti Asyifa akan menolak. Karena tempat itu tempat terbuka yang membuat mereka hanya saling menatap dengan napas yang saling menerpa. Namun tanpa di duga tiba-tiba mengecup bibir Rafa sekilas dan pasti membuat Rafa kaget.


"Asyifa mencintai kak Rafa," ucap Asyifa selesai mencium Rafa. Rafa tidak berkata-kata apa-apa lagi dan langsung mencium bibir istrinya dan iya Asyifa tidak ada protes dan memejamkan matanya menerima ciuman lembut dari suami dengan matahari yang terbenam. Namun wajah ke-2nya masih di sinari cahayanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2