Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 91


__ADS_3

Melihat Asyifa yang tertawa terus lama-lama membuat Rafa lama-lama games dengan Asyifa dan Rafa langsung mengambil surat itu dari tangan Asyifa dengan menatap Asyifa dengan serius yang membuat Asyifa menyadari hal itu sampai tawanya langsung hilang seketika dari wajahnya. Ketika mendapat tatapan tersebut dari Rafa.


"Kenapa kamu sangat menyebalkan hari ini Asyifa," ucap Rafa dengan suara beratnya, "bukan hanya hari tadi dari tadi malam kamu sungguh menyebalkan," ucap Rafa yang tidak melepas tatapan itu dari Asyifa.


"A_apa maksud kak Rafa?" tanya Asyifa dengan gugup.


"Kamu sudah tau sebelum berangkat kerja aku mengatakan sesuatu dan seharusnya kamu mengerti dan menungguku dan bukan malah tertidur, aku menyiapkannya segalanya. Tapi kamu terlihat tidak mengharapkannya dan seperti menghindariku," ucap Rafa sembari mengusap-usap pipi Asyifa yang membuat Asyifa sekarang baru dek-dekan.


"Asyifa tidak menghindari kak Rafa. Maaf jika tadi malam Asyifa ketiduran dan tidak menunggu kak Rafa pulang sampai Asyifa tidak menyiapkan makan dan lain sebagainya, Asyifa hanya kelelahan dan sangat mengantuk," ucap Asyifa memberikan alasannya pada Rafa. Alasannya yang memang apa adanya.


"Jadi kamu tidak menghindariku?" tanya Rafa yang ingin memastikan. Asyifa menganggukkan kepalanya mendengarnya.


"Kalau begitu kamu siapa dengan apa yang Seharusnya kita lakukan?" tanya Rafa yang bicara langsung to the point


Asyifa terdiam yang tidak tau harus menjawab apa-apa. Jika di katakan iya. Maka dia akan terlalu murah sekali. Namun jika di katakan tidak Asyifa juga takut Rafa marah.


"Aku haru ada pekerjaan penting di kantor. Tapi aku tidak peduli dengan pekerjaan itu hanya peduli dengan kamu yang harus aku miliki. Aku sudah bersabar selama ini dan sudah menahannya dan ini tidak akan gagal lagi," ucap Rafa yang berterus terang yang membuat Asyifa diam membisu yang tidak tau harus mengatakan apa dari kata-kata Rafa.


Rafa juga sepertinya akan menghabiskan paginya bersama istrinya saat ini dan tidak akan ada kata gagal-gagal lagi. Diamnya Asyifa membuat posisi Rafa yang sangat mudah langsung meraih bibir Asyifa yang membuat Asyifa memejamkan matanya saat suaminya menciumnya dengan lembut.


"Rafa mama....."


Ciuman itu terhenti menjadi kekuatan saat Shofia tiba-tiba masuk kamar mereka. Dan Shofia membalikkan tubuhnya dengan cepat saat melihat adegan itu. Dan Asyifa refleks mendorong Rafa yang kaget dengan kedatangan Shofia tiba-tiba.


"Kalian kenapa tidak tutup pintu sih!" oceh Shofia yang kesal dengan kelakuan sang mama. Namun Rafa berdecak kesal karena lagi-lagi harus gagal. Sementara Asyifa yang malu karena tertangkap jadi salah tingkah saat dirinya sudah terduduk.


"Mama ngapain sih?" tanya Rafa kesal.


"Mama hanya panggil Asyifa, Dokter Rendy dan istrinya datang. Lagian kalian berdua bukannya tutup pintu," ucap Shofia yang masih berbalik badan.


"Ya seharusnya mama kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu," sahut Rafa dengan kesalnya.


"Iya-iya mama salah, orang nggak lihat apa-apa juga kok, ya sudah buruan Asyifa kamu turun, orang tua kamu sudah menunggu," ucap Shofia.


"Iya mah," sahut Asyifa yang gugup yang benar-benar salah tingkah karena mamanya yang memasuki kamarnya.


"Mama tunggu di bawah. Lain kali tutup pintu. Masih lagi juga," ucap Shofia yang langsung pergi. Namun pasti Shofia sebenarnya menahan tawa dengan melihat kelakukan Asyifa dan Rafa yang ketangkep berciuman dan mungkin jika dia tidak datang pasti berlanjut.

__ADS_1


Setelah kepergiannya Shofia Asyifa dan Rafa malah sama-sama canggung dan saat ke-2nya saling melihat malah serentak dengan cepat mengalihkan pandangan mereka.


"Hmmm, apa Asyifa harus menemui ayah ibu dulu, atau bagaimana?" tanya Asyifa dengan gugup.


"Ayo kita temui, kamu pakai jilbablah," sahut Rafa dengan menghela napas.


Memang harus di temui. Karena kalau tidak di temui mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kan mereka melanjutkan apa yang tertunda sementara ada orang penting yang menunggu mereka.


Tidak tau siapa yang harus di salahkan dalam hal ini. Yang jelas lagi-lagi rencana Rafa gagal. Ya ternyata sangat sulit untuk mendapatkan istrinya yang padahal sudah sah sebagai istrinya. Tapi ada saja yang menjadi penghalangnya.


*********


Asyifa dan Rafa pun akhirnya keluar dari kamar untuk menemui keluarga Asyifa yang mana Azka juga ikut ternyata yang keluarga Asyifa sudah menunggu di ruang tamu.


"Ibu, ayah," sahut Asyifa yang langsung menyalam ke-2 orang tuanya itu. Rendy juga ikut pastinya.


"Maaf ibu ayah sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Asyifa yang merasa tidak enak yang duduk di samping Rafa.


"Tidak apa-apa Asyifa, ibu sama ayah juga baru sampai," jawab Rania.


"Maklum mbak Rania, mereka ini pasti sedang...."


"Iya-iya, takut amat," sahut Shofia. Rafa hanya menghela napasnya saja.


"Oh iya ada apa ya, ibu sama ayah datang tiba-tiba pagi-pagi sekali?" tanya Asyifa heran.


"Memang tidak boleh ya kak kita berkunjung kerumah kakak," sahut Azka.


"Bukan begitu Azka, kakak hanya kaget saja dan tidak menghubungi kakak dulu," ucap Asyifa.


"Asyifa kedatangan ibu dan ayah kemari hanya membawakan kamu beberapa makanan dan hal-hal penting selama kamu di Mekkah nanti," sahut Rania yang menjelaskan maksud kedatangan mereka.


Asyifa memang akan wisuda Minggu depan dan harus berangkat besok. Karena sebelum Wisuda masih banyak yang harus di urus Asyifa di Mekkah. Makanya berangkatnya lebih awal.


"Ya ampun ibu makasih ya, Asyifa jadi merepotkan ibu," ucap Asyifa yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa sayang ini makanan dan keperluan yang kamu butuhkan, jadi ibu menyiapkan semua ini untuk kamu, supaya kamu hanya fokus pada persiapan wisuda kamu saja," ucap Rania.

__ADS_1


Xander dan Shofia saling melihat yang tersenyum melihat manisnya keluarga itu yang selalu menciptakan rasa asam.


"Makasih ayah, ibu," ucap Asyifa.


"Lalu bagaimana dengan kamu Rafa. Kamu menemani Asyifa?" tanya Rendy.


"Saya akan menyusul Asyifa. Saya tidak bisa berangkat bersama-sama. Karena pekerjaan yang sangat banyak. Tetapi sebelum Asyifa wisuda saya pastikan sudah ada di sana," ucap Rafa.


Sebelumnya dia juga mengatakan itu pada Asyifa. Keberangkatan Asyifa memang di percepat. Jadi Rafa juga tidak sempat menyelesaikan pekerjaannya dan tidak mungkin libur sampai seminggu.


"Baiklah kalau begitu, kami senang mendengarnya," sahut Rendy.


"Dokter Rendy jangan jangan khawatir. Asyifa tidak berangkat sendiri kok. Kebetulan Zee akan menemaninya," sahut Shofia.


"Benar Dokter Rendy, putri kami akan mendampingi Asyifa," sahut Xander.


"Iya tidak apa-apa Bu Shofia dan Pak Xander. Terima kasih untuk kepedulian kalian. Mohon maaf jika kami sangat merepotkan," ucap Rendy yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Dokter, Asyifa ini menantu kami dan dia juga tanggung jawab kami. Jadi dengan sebisanya kami akan melakukan apa saja untuknya," sahut Shofia.


"Kami sangat mengucapkan banyak terima kasih," sahut Rania


"Sama-sama," sahut Xander dan Shofia.


"Kak Asyifa sebenarnya Azka ingin menemani kakak. Tapi Azka harus sekolah dan pas kakak wisuda juga kebetulan Azka ada pertandingan renang. Jadi tidak bisa menemani kakak," ucap Azka yang merasa sedih.


"Tidak apa-apa Azka. Kamu lakukan saja kegiatan kamu. Lagian kakak juga sangat biasa tinggal di Luar Negri," sahut Asyifa.


"Asyifa semoga semuanya lancar ya nak," ucap Rania.


"Insyallah ibu," sahut Asyifa dengan tersenyum mengangguk.


"Asyifa juga sangat berharap semuanya di beri kelancaran dan kak Rafa menepati janjinya untuk menemani Asyifa wisuda," batin Asyifa dengan bahagianya.


Walau Rafa tidak bisa pergi bersamanya. Tidak apa-apa. Karena Asyifa juga tau pekerjaan Rafa yang begitu banyak dan tidak mungkin meninggalkan selama 1 Minggu dan mungkin bisa saja lebih.


Dengan hadir pada hari intinya, sudah membuat Asyifa bahagia. Karena memang itu yang di inginkannya. Kehadiran Rafa di hari terpentingnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2