
Rafa membuka matanya dan melihat ke arah Asyifa yang begitu serius dalam bekerja.
"Kak Rafa sudah bangun!" ucap Asyifa yang melihat Rafa sebentar di mana Rafa menegakkan posisi duduk.
"Aku tidak tidur," jawab Rafa, "bagaimana apa sudah selesai?" tanya Rafa.
"Coba kak Rafa lihat, cocok tidak?" tanya Asyifa menggeserkan laptop tersebut ke dekat Rafa dan Rafa langsung melihatnya.
"Bisa di terima," jawab Rafa.
Asyifa tersenyum mendengarnya, "tetapi kayaknya ini kurang deh," sahut Asyifa yang kembali mengetik sesuatu di laptop dan Rafa membiarkannya saja sembari menatap wajah Asyifa dengan tersenyum.
Ya wajah yang begitu dekat dengan dirinya itu membuatnya seakan bahagia. Ya tidak tau aja. Kenapa dia begitu teduh saat dekat-dekat dengan Asyifa.
"Kalau begini bagaimana?" Asyifa kembali bertanya sembari melihat ke arah Rafa dan membuat wajah mereka semakin dekat dan bahkan hidung mereka bersentuhan dengan mata yang saling menatap yang pasti napas saling menerpa dan di pastikan ada debaran-debaran di dalam sana membuat ke-2nya serentak menelan salivanya.
Rafa yang seperti tidak ingin menghilangkan kesempatan untuk tidak menempelkan bibirnya lada Kayra. Bibir yang membuatnya ketagihan dengan mengecupnya lembut membuat Asyifa memejamkan matanya dengan tangannya yang mengepal dan apa lagi setelah Rafa melepas kecupan itu.
Bukannya berhenti Rafa malah semakin melanjutkan aksinya dengan mencium semakin dalam bibir itu. Rafa benar-benar kecanduan pada bibir Asyifa. Batu hanya bibir bagaimana jika yang lainnya nanti dan Asyifa harus terbiasa dengan ciuman lembut Rafa yang bisa dikatakan membuatnya begitu bahagia.
Bruk.
Pintu ruangan Rafa terbuka tiba-tiba.
"Rafa!" pekik Miranda yang terkejut melihat Rafa dan Asyifa berciuman dan Asyifa dan Rafa juga sama-sama terkejut dengan kedatangan Miranda yang membuat mereka saling melepas tautan itu dan Asyifa langsung berdiri dari tempat duduknya yang terlihat panik.
"Rafa!" pekik Miranda dengan dadanya kembang-kempis yang panas melihat Rafa pria yang masih di cintainya berciuman dengan wanita yang pasti adalah saingannya.
"Berani sekali kau menyentuh kekasihku!" sentak Miranda yang menghampiri Asyifa yang ingin melabrak Asyifa. Namun Rafa langsung menghentikan perbuatan Miranda dengan berdiri di depan Asyifa.
"Apa yang kau lakukan Miranda?" sentak Rafa mendorong Miranda menjauh dari Asyifa yang untung saja Miranda tidak jatuh.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Apa yang sudah kau lakukan. Kau berciuman dengan dia," teriak Miranda yang tidak terima dengan apa yang di lihatnya.
"Cukup Miranda!" bentak Rafa, "mau aku berciuman atau melakukan hal apapun pada Asyifa. Itu bukan urusanmu!" tegas Rafa.
"Apa yang kau bicarakan Rafa. Aku ini adalah kekasihmu dan kau bilang itu bukan urusanku," teriak Miranda yang tidak mau kalah.
"Jangan membuat keributan di dalam kantorku. Kau keluar dari sini dan aku tegaskan kepadamu. Jika aku dan kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," tegas Rafa menunjuk tepat di wajah Miranda.
Mata Miranda melotot yang hampir keluar mendengar hal itu. Sangat tidak terduganya dengan apa yang di dengarnya dari Rafa dan bahkan mengatakan hal itu di depan Asyifa. Yang pasti harga diri Miranda sudah di injak-injak oleh Rafa yang di permalukan Rafa di depan Asyifa.
"Apa kak Rafa dan Miranda sudah benar-benar tidak ada hubungan lagi," batin Asyifa dengan penuh tanya yang memang tidak tau masalah itu. Namun iya juga memikirkan hal itu karena belakangan ini Rafa berubah sikap lebih baik kepadanya.
"Jadi sebaiknya kau keluar dari tempat ini dan jangan coba-coba untuk datang kembali ketempat ini," tegas Rafa yang kembali mengusir Miranda.
"Tidak Rafa. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Kita masih pasangan kekasih dan wanita ini adalah orang ketiga yang menghancurkan hubungan kita," tegas Miranda.
"Hey kau wanita sialan, kemari kau wanita sialan," Miranda ingin menarik jilbab Asyifa. Namun Rafa langsung mencegahnya dan dengan emosi Rafa yang meningkat menghadapi Miranda langsung mendorong Miranda dengan kuat dan barulah Miranda terjatuh dengan terduduk di lantai yang benar-benar menunjukkan Miranda sudah tidak punya harga diri lagi.
"Aku sudah mengingatkanmu untuk pergi. Jadi kau pergilah. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi dan pembicaraan kita kemarin sudah menjadi kejelasannya. Kau jangan pernah mengganggu dan aku peringatkan kau untuk tidak macam pada Asyifa. Aku bisa melakukan hal yang lebih parah lagi nanti kepadamu," tegas Rafa dengan penuh ancaman membuat Miranda mengepal ke-2 tangannya dengan menatap Rafa dengan penuh amarah dan terselubung dendam.
Namun Asyifa sendiri sepanjang suaminya berbicara. Asyifa hanya melihat saja yang tidak percaya. Jika Rafa akan mengatakan itu.
"Kau belum pergi juga. Baiklah kau ternyata lebih menginginkan di seret scurity dari ruanganku," sahut Rafa yang langsung menelpon seseorang untuk membawa Miranda pergi.
"Rafa kau benar-benar keterlaluan Rafa. Kau Keterlaluan melakukan semua ini kepadaku. Aku tidak akan memaafkan Raga kau ingat itu. Aku akan membalas kalian ber-2. Aku tidak akan terima di perlakuan seperti ini. Kalian berdua harus membayar semua ini," tegas Miranda dengan penuh emosi pada Asyifa dan Rafa.
Miranda juga berdiri yang benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi di hadapan Asyifa dan lebih baik pergi dari ruangan itu dari pada akan di seret dan pasti lebih di permalukan lagi.
Asyifa menghela napasnya dengan perlahan kedepan saat melihat kepergian Miranda.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rafa. Asyifa menggelangkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa kak Rafa dan Miranda sudah tida ada hubungan apa-apa lagi?" tanya Asyifa yang ingin tau.
"Lupakan masalah itu. Kamu sebaiknya istirahat, pekerjaan ku akan selesai sebentar lagi," ucap Rafa dengan memegang bahu Asyifa. Asyifa pun mengangguk. Seharunya tidak perlu di jawab Rafa. Asyifa sudah tau jawabannya. Memang tidak ada hubungan di antara mereka ber-2.
**********
Pekerjaan Rafa selesai malam hari dan barulah dia dan Asyifa pulang kerumah dan mobil itu sudah sampai depan rumah. Rafa mematikan mesin mobil dan melihat kearah Asyifa yang ternyata Asyifa tertidur. Pantesan saja suara itu tidak terdengar sejak tadi rupanya Asyifa sudah tidur.
"Asyifa bangunlah kita sudah sampai," ucap Rafa dengan lembut sembari membuka seat belt nya. Namun ternyata Asyifa tidak terbangun sama sekali dan tetap tertidur.
Rafa menghela napasnya dan kembali membangunkan Asyifa. Asyifa tidak juga bangun membuat Rafa tidak tega dengan istrinya itu yang kelihatannya juga sangat lelah.
Rafa menghela napasnya kembali dan keluar dari mobilnya. Dari pada membangunkan Asyifa. Rafa memilih untuk mengendong Asyifa.
Dengan sangat berhati-hati Rafa membuka sabuk pengaman Asyifa dan langsung menggendong Asyifa ala bridal style memasuki rumah dan Asyifa bisa-bisanya tidak terbangun yang mungkin memang sangat lelah.
Di ruang tamu ada Shofia, Xander, Shania, Zee dan Ardi yang heran melihat Rafa yang memasuki rumah dengan Asyifa di dalam gendongannya.
"Asyifa kenapa?" tanya Shofia begitu cepat panik bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Dia tidak kenapa-kenapa. Asyifa hanya tertidur," jawab Rafa.
"Kamu jangan bohongi mama," sahut Shofia yang tidak percaya.
"Mah, sudahlah. Asyifa hanya tertidur, kenapa jadi berpikiran yang aneh-aneh," sahut Xander. Rafa geleng-geleng dan langsung pergi dari pada mendapatkan tuduhan dari mamanya.
"Mama itu seharunya tidak meragukan kak Rafa. Zee lihat belakangan ini kak Rafa sangat baik pada kak Asyifa," sahut Zee.
"Shania sependapat dengan Zee mah. Rafa sepertinya sudah mulai sadar dan menerima statusnya dan mama juga seharunya memberi kak Rafa kesempatan. Jangan terus-terusan menuduh Rafa. Kasihan juga Rafa kalau di perlakuan seperti itu," sahut Shania menambahi.
"Mama itu seharusnya dengarkan kata anak-anak kita. Kita berdoa saja yang terbaik untuk Rafa dan Asyifa," sahut Xander juga menambahi. Shofia hanya mengangguk saja walau Shofia pasti sangat ragu dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
Bersambung