
Mendengar suara barang yang jatuh membuat Rafa langsung berlari ke dapur dan Rafa begitu terkejutnya saat melihat Asyifa yang sudah tergelatak di pantai.
"Asyifa!" pekik Rafa yang langsung menghampiri Asyifa dan melihat kondisi istrinya yang tidak sadarkan saja.
"Asyifa bangun! Asyifa apa yang terjadi pada kamu," ucap Rafa menepuk-nepuk pipi Asyifa.
"Kak Asyifa kenapa kak Rafa?" tanya Zee yang tiba-tiba datang yang pasti Zee juga sangat terkejut dengan Asyifa yang sudah tergeletak yang tidak sadarkan diri.
Zee juga menghampiri Asyifa, "kak Abian jangan masuk kak Asyifa tidak pakai jilbab," ucap Zee yang mengingatkan terlebih dahulu dan Abian yang mau masuk ke area dapur langsung menghentikan langkahnya yang memang sangat tau Asyifa seperti apa dan tidak mungkin melihat Asyifa tanpa hijab dan Rafa langsung membawa Asyifa pergi dari dapur yang membawa Asyifa ke dalam kamar.
Zee juga mengikuti Rafa yang masuk kedalam kamar.
"Kamu cepat panggil Dokter!" suruh Rafa dengan panik.
"Baik kak," sahut Zee yang langsung menganggukan dan langsung keluar dari kamar dan bertemu dengan Abian.
"Bagaimana Zee? apa yang terjadi pada Asyifa?" tanya Abian dengan wajahnya yang penuh dengan ke khawatiran.
"Kak Asyifa tiba-tiba pingsan, Zee mau hubungi Dokter. Tetapi Dokter siapa ya?" tanya Zee yang penuh kebingungan yang memang tidak mengenal ada Dokter.
"Kamu tenang saja aku punya kenalan, biar aku yang telpon," sahut Abian yang langsung mengambil tindakan.
"Iya kak," sahut Zee dan Abian langsung menelpon Dokter kenalannya yang ada di Bali untuk memeriksa Asyifa.
Asyifa memang sudah tidak baik-baik saja. Awalnya namun tetap saja Asyifa keras kepala dan berapa kali Rafa ingin mengajaknya ke Dokter. Namun Asyifa tidak mau dan bahkan tadi memasak padahal jelas-jelas Rafa masih melihat kondisinya yang tidak baik.
********
Rafa berada di dalam kamar bersama dengan Asyifa yang masih tidak sadarkan diri yang mana berbaring di atas ranjang dengan Rafa yang duduk di sampingnya dengan memegang tangan istrinya dengan erat.
Dengan perlahan Asyifa membuka matanya.. Pandangan Asyifa tidak terlalu jelas yang melihat kearah suaminya sampai akhirnya pandangan itu jelas.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa dengan suara lemahnya yang mana dia memang masih begitu lemah.
__ADS_1
"Asyifa!" ucap Rafa lembut dengan mendekati Asyifa dengan memegang pipi Asyifa.
"Asyifa kenapa bisa ada di kamar?" tanya Asyifa.
"Tadi kamu pingsan, bagaimana perasaan mu apa da yang sakit?" tanya Rafa dengan begitu khawatir pada istrinya.
"Tidak ada yang sakit kak Rafa. Hanya kepala Asyifa sedikit pusing," jawab Asyifa yang ingin duduk dan Rafa langsung membantu Asyifa duduk.
"Kamu mau minum?" tanya Rafa. Asyifa menganggukan kepalannya dan Rafa langsung memberi istri minum dengan perlahan.
"Apa kamu sudah merasa lebih enak?" tanya Rafa yang selesai memberikan minum dan meletakkan kembali gelas pada tempatnya.
"Apa yang terjadi pada Asyifa?" tanya Asyifa.
"Kamu tadi pingsan dan mungkin ke lelahan dan Dokter tadi sudah memeriksa kamu," jawab Rafa.
"Sampai panggil Dokter," ucap Asyifa yang sedikit terkejut.
"Benar Asyifa," ucap Rafa dengan memegang pipi istrinya.
"Kamu baik-baik aja Asyifa. Semua yang kamu alami karena kamu sedang hamil," ucap Rafa yang membuat Asyifa terkejut mendengar kata hamil.
"Hamil!" pekik Asyifa yang benar-benar terkejut. Rafa mengangguk tersenyum yang mana terlihat begitu bahagia dengan kehamilan istrinya.
"Ini sungguh kak Rafa?" tanya Asyifa tidak percaya.
"Iya Asyifa kamu hamil anak kita," ucap Rafa dengan matanya yang berkaca-kaca. Asyifa juga berkaca-kaca yang ingin menangis saat mendengar dirinya yang telah hamil.
"Kamu bahagia?" tanya Rafa.
"Kak Rafa, kalau Asyifa hamil. Apa itu artinya Asyifa akan menjadi seorang ibu?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya yang memang benar apa adanya.
"Tapi apa Asyifa sudah pantas menjadi seorang ibu!" tanya Asyifa lagi yang merasa belum pantas jika memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu.
__ADS_1
"Kamu itu wanita yang baik Asyifa, wanita yang tulus dan berhati lembut. Mana mungkin kamu tidak pantas menjadi seorang ibu. Semua anak di dunia ini pasti sangat ingin jika kamu menjadi ibu mereka. Kamu istri yang baik yang sabar, tulus dan Sholeh kamu sangat pantas menjadi seorang ibu dari anak-anakku," ucap Rafa dengan lembut yang berbicara menatap sang istri membuat Asyifa meneteskan air matanya.
Rafa jarang mengeluarkan kata-kata bijak dan pujiannya. Sekali keluar mampu membuat air mata Asyifa jatuh dan Rafa langsung memeluk Asyifa dengan erat.
"Terima kasih Asyifa kamu sudah menjadi istriku, kamu begitu sabar menghadapi ku terima kasih Asyifa untuk pernikahan yang indah ini dan hadiah yang paling terbesar yang kamu berikan. Makasih Asyifa menjadikan ku orang yang lebih berarti dan aku merasa sempurna. Karena kamu telah menjadikan seorang ayah. Terima kasih Asyifa, aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, makasih Asyifa," ucap Rafa yang terlihat sangat tulus yang beberapa kali mengucapkan terima kasih pada istrinya.
Asyifa mendengar kata-kata Rafa sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Jangan tanya seberapa bahagianya dirinya. Pasti sangat bahagia. Dia terus menangis di pelukan suaminya dengan bahu Rafa yang di pastikan sudah banjir air mata.
Dia juga sangat bahagia dengan kehamilannya yang menjadikan dirinya wanita yang lebih sempurna. Belum lagi melihat suaminya yang sangat bahagia dan berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya dan belum lagi juga mengatakan cinta padanya. Jadi jelas ini kebahagiaan Asyifa yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
***********
Asyifa dan Rafa masih berada di dalam kamar yang sekarang Rafa sedang menyuapi istrinya dengan bubur yang mana tadi permintaan Asyifa ingin bubur ayam. Karena Rafa sudah berbicara serius dengan Dokter dan Dokter menjelaskan semua masalah istri yang hamil seperti apa. Jadi Rafa tau apa yang harus di lakukannya dan menuruti semua yang di inginkan Asyifa dan pasti Rafa sedikit lebay.
"Kak Rafa kenapa ayamnya tidak ada kan namanya bubur ayam," protes Asyifa dengan mulutnya yang terus mengunyah.
"Asyifa bukannya tadi kamu bilang mau bubur ayam. Tetapi tidak pakai ayam. Jadi ayamnya tidak ada," jawab Rafa.
"Tapi kok rasanya aneh ya. Tidak enak juga kalau tidak pakai ayam," keluh Asyifa.
"Tidak enak juga kamu sudah makan banyak," ucap Rafa yang memang Asyifa sejak tadi terus makan.
"Tetapi tetap saja tidak enak kak Rafa, ada yang hilang gitu, kurang lengkap kalau tanpa ayam," ucap Asyifa dengan wajahnya yang tidak bersemangat.
"Jadi apa aku harus membeli lagi?" tanya Rafa dengan perasaannya yang tidak enak.
"Hmmm, kak Rafa bukannya di kulkas ada ayam. Bagaimana kalau di goreng sebentar dan di suir kedalam buburnya," ucap Asyifa menemukan ide membuat Rafa menghela napasnya yang harus pasrah dengan Asyifa yang permintaannya yang aneh-aneh.
"Asyifa tadi ingin makan bubur tanpa ayam dan sekarang mau ayam dan di suruh menggoreng lagi. Kenapa jika ada yang mudah harus yang sulit Asyifa," ucap Rafa yang terlihat menahan kesabaran untuk istrinya.
"Ya kak Rafa juga salah. Seharusnya kalau Asyifa tidak bilang pakai ayam kak Rafa seharusnya mengasingkan ayamnya. Jadi kejadiannya tidak akan seperti ini," ucap Asyifa dengan santainya menyalahkan suaminya
"Jadi ini salahku?" tanya Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya membuat Rafa hanya membuang napasnya yang sebenarnya di sini lah kehidupan Rafa di uji dengan istrinya yang luar biasa menguji kesabarannya.
__ADS_1
Bersambung