
Makan malam di kediaman Rafa yang kebetulan Zee dan suaminya juga sedang berkunjung rumah mamanya.
"Bagaimana Asyifa. Proses lamarannya kemarin?" tanya Xander.
"Aduh pah ngapain sih mengungkit hal itu. Nggak penting tau," sahut Shofia.
"Mah, kan papa hanya bertanya saja," sahut Shania.
"Alhamdulillah semuanya lancar mah," sahut Asyifa.
"Kalau lancar bukan Alhamdulillah. Justru menjadi masalah besar. Bagaimana mungkin bisa selancar itu. Padahal jelas-jelas Dedi tidak bersalah," cicit Shofia.
"Ma tidak boleh seperti itu," sahut Ardi.
"Ya mama hanya kasihan saja dengan sepupu Asyifa. Dia anaknya baik dan harus mendapatkan hal seperti itu hanya karena wanita yang sangat egois dan kamu Abian seharusnya bersyukur. Kamu tidak jadi terjebak dengan wanita itu," ucap Shofia membawa-bawa Abian.
"Apa sih mah bawa-bawa nama kak Abian. Apa yang terjadi nggak ada urusannya sama kak Abian," sahut Zee.
"Mama tidak bilang ada urusannya Zee. Mama hanya mengatakan Abian harusnya bersyukur. Pernikahan kalian berdua di selamatkan dari wanita itu," ucap Shofia.
"Tapi mama juga tidak boleh menjudge seseorang buruk. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya dan kita sebagai keluarga harus memberikan suport yang baik untuk Dedi," ucap Rafa dengan bijak.
"Mama itu pasti memberikan suport yang terbaik untuk Dedi. Hanya saja mama sangat menyayangkan dengan Willo yang tidak memeberikan kesempatan putranya untuk membuktikan kebenarannya. Kalau sudah begini wanita itu yang untuk dengan siapa hamil dan siapa yang bertanggung jawab," ucap Shofia.
"Sudahlah mah jangan membahas masalah itu lagi," sahut Xander.
"Orang papa yang mengungkit masalah itu kok," sahut Rania yang terlihat santai-santai saja.
"Iya papa yang salah. Jadi sudah ya jangan mengungkit hal itu lagi. Jangan membicarakan mereka. Kita doakan saja yang terbaik," ucap Xander dengan bijak.
"Iya mah, Asyifa juga berharap semuanya bisa baik-baik saja," sahut Asyifa.
__ADS_1
"Kita sebaiknya melanjutkan makan lagi," ucap Xander yang tidak mau membicarakan hal lain dalam makan malam mereka.
*********
Akhirnya hari pernikahan Syira dan Abian terjadi juga. Tidak ada yang bisa menghentikan pernikahan itu. Pernikahan yang di adakan di rumah Syira dan memang hanya pernikahan saja tanpa banyak-banyak mengundang orang lain.
Karena ini pernikahan. Keluarga Rafa ikut semua hadir, teruma Shofia dan Xander, juga Abian dan Zee bahkan orang tua Abian juga hadir. Ya mau tidak mau Shofia yang begitu malas datang harus mengenyampingkan egonya. Untuk menghormati keluarga menantunya.
Tamu undangan yang hadir sudah menduduki kursi yang di sediakan karena acara sebentar lagi akan dimulai. Abian juga yang memakai jas putih senada dengan celananya juga sudah duduk di dekat keluarganya yang hanya tinggal menunggu Syira yang belum datang.
Dek-dekan pasti bagi Dedi. Pernikahan yang pasti tidak di inginkannya. Menyukai Syira belum tentu ada rencana untuk menikah secepatnya. Namun sekarang ceritanya sudah berbeda dia harus menikahi wanita yang hamil dan bukan dia pelakunya. Perasaan nya yang penuh dengan amarah hanya bisa di simpannya saja dan terlihat Dedi lebih pasrah sekarang.
"Lama sekali sih acaranya," cicit Shofia yang sudah tidak sabaran ingin cepat-cepat pergi dari acara tersebut.
"Mah sabar," bisik Shania.
"Lagian juga dia itu tidak tau malu. Masa iya sudah hamil mau menikah di lihat oleh banyak orang. Nggak malu apa jadi bahan gunjingan saja," cicit Shofia yang sejak tadi mulutnya tidak bisa diam.
Tidak lama akhirnya pengantin wanita yang sejak tadi di tunggu itu akhirnya datang. Pakaian yang di kenakan Syira Sanga simple hanya menggunakan kebaya putih dan pasti dengan balutan hijabnya.
Biasanya pengantin pria begitu calon istrinya datang akan melihat calon istrinya. Namun sekarang tidak. Dedi rasanya menatapnya saja jijik dan lebih baik tidak melihatnya.
"Dedi ayo maju. Kamu haru melaksanakan ijab kabul!" titah Rendy.
"Baik Om," sahut Dedi mengangguk berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Syira yang sudah duduk di mana Dedi langsung duduk di samping Syira tanpa melihat Syira sedikitpun. Dan Syira masih sempat tadi menoleh sebentar.
Sahila penutupkan selendang di atas kepala 2 orang itu. Agar acaranya secepatnya di mulai.
"Apa sudah bisa kita mulai acaranya?" tanya bapak penghulu.
"Mari silahkan pak," sahut Danu.
__ADS_1
"Baiklah kita mulai saja," sahut penghulu dan langsung berjabat tangan dengan Dedi.
"Saudaraku Dedi Arman Bramana saya nikahkan engkau dengan anak saudari Syira Aisya binti Danu widason dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai,"
Kalimat itu tidak langsung di jawab Dedi dan pasti membuat semua orang menunggu-nunggu dan Syira juga takut Dedi tidak jadi menikahinya.
"Dedi!" tegur Sahila, "kamu kenapa diam saja. Ini pernikahan kamu. Jangan membuat ulah," tegas Sahila.
"Saya ulangi sekali lagi ya," ucap penghulu.
"Saudaraku Dedi Arman Bramana saya nikahkan engkau dengan anak saudari Syira Aisya binti Danu widason dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai,"
"Saya terima nikahnya Syira Aisya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," jawab Dedi dengan satu napas.
"Bagaimana saksi sah?"
"Sah,"
"Alhamdulillah," sahut penghulu yang langsung memimpin doa.
Syira pun lega dengan pernikahan itu yang akhirnya terjadi dan sah. Mereka semua berdoa dalam pemikiran masing-masing. Namun Willo dalam doanya air matanya menetes ke telapak tangannya. Rania yang duduk di sampingnya memegang lengan sang kakak menguatkan kakaknya itu.
Willo pasti sangat kecewa dengan pernikahan sang anak yang harus dengan cara seperti itu. Willo juga merasa gagal sebagai seorang ibu yang tidak bisa mendidik anaknya.
Mungkin rasa kecewa yang di alami Willo tersampaikan pada Dedi yang dengan matanya berkaca-kaca. Bukan terharu karena menikah dengan Syira. Namun sangat menyayangkan kejadian itu dan membuat orang yang paling di hormatinya kecewa.
Namun Syira lah orang yang lebih mementingkan egonya yang bernapas lega dengan pernikahan itu. Baginya yang penting ada yang bertanggung jawab atas kehamilannya tanpa peduli apa yang terjadi.
"Ya Allah mungkin ini jalan darimu. Hambah hanya bisa berharap yang terbaik dalam pernikahan kak Dedi dan juga Syira," batin Asyifa yang pasti hanya bisa berdoa dengan positif.
"Untunglah dia menikah. Paling tidak akan jauh-jauh dari suamiku," batin Zee yang masih saja ada untungnya dari setiap kejadian yang terjadi dan pasti dalam kejadian ada yang di rugikan dan ada yang di untungkan.
__ADS_1
Bersambung