
Asyifa benar-benar ngambek dan keluar dari kamar menuju kolam renang dengan wajahnya yang begitu kesal karena perbuatan suaminya yang menyebalkan. Dengan berdiri di dekat kolam renang dengan kedua tangannya yang di lipat di dadanya dan wajahnya yang cemberut.
Rafa menyusul istrinya dan melihat sang istri berdiri di dekat kolam renang membuat Rafa menghela napasnya. Harus mempersiapkan diri dan kata-kata yang pas saat melangkah mendekati istrinya untuk membujuk sang istri yang pasti ngambek parah.
"Sayang!" tegur Rafa dengan lembut memegang bahu Asyifa.
Asyifa langsung menepis tangan Rafa, "jangan sentuh Asyifa!" kesal Asyifa masih marah.
"Sayang kamu salah paham," ucap Rafa.
"Memangnya Asyifa bodoh apa. Asyifa itu S2 dan punya IQ tinggi jadi Asyifa tidak bodoh dengan kak Rafa yang mengelabui Asyifa," kesal Asyifa dengan nada menekannya.
"Iya-iya istriku yang paling pintar sedunia, maafkan kakak ya. Ya sudah sekarang Asyifa jangan ngambek lagi ya," bujuk Rafa.
"Tidak bisa. Kak Rafa itu sangat menyebalkan," geram Asyifa.
"Sayang aku minta maaf ya. Sekarang kita masuk kedalam ya. Di luar dingin dan kamu juga tidak pakai jilbab. Bagaimana jika kak Ardi tiba-tiba melihat kamu tanpa jilbab," ucap Rafa mengingatkan istrinya dan Asyifa memang baru menyadari hal itu.
"Orang Kaka Ardi lagi ke Luar Negri kok," sahut Asyifa yang memang untung saja kakak iparnya tidak ada di rumah.
"Lalu papa bagaimana, tiba-tiba lihat kamu seperti ini?" tanya Rafa.
"Papa sama mama menginap di Yogyakarta," jawab Asyifa. Rafa menghela napas yang kehabisan kata-kata.
"Kalau pekerja rumah bagaimana yang laki-laki," ucap Rafa masih ada alasannya.
"Nggak ada pekerja di sini. Ini sudah malam. Jadi tidak ada yang melihat Asyifa. Jadi kak Rafa pergi saja jangan ganggu Asyifa," kesal Rafa yang emosian dengan Rafa.
"Sayang walau tidak ada yang melihat tapi tuhan melihat loh. Kamu mau tuhan marah dengan melihat istri yang Sholeha ini masa iya memperlihatkan auratnya pada orang lain," ucap Rafa.
Asyifa tampak berpikir dan meredakan emosinya yang tidak marah-marah lagi.
Sepertinya Asyifa sudah mulai tenang dan Rafa mendekati bumil tersebut.
"Sayang maaf ya," ucap Rafa dengan lembutnya pada istrinya itu.
"Kak Rafa itu sangat menyebalkan," ucap Asyifa yang mau menangis.
__ADS_1
"Maaf sayang. Janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Rafa mengangkat ke-2 tangannya. Wajah Asyifa masih di tekuk dan benar-benar masih dongkol dengan Rafa.
"Hey, sayang jangan marah, aku benar-benar tidak ada niat untuk menyebut namanya dan lagian nama anak kita mau dari huruf apapun itu tidak masalah," ucap Rafa yang mencoba menjelaskan pada istrinya.
"Tetapi kak Rafa sangat keterlaluan. Tetap aja kak Rafa membuat Asyifa kesal," ucap Asyifa.
"Iya-iya aku minta maaf, kamu jangan marah lagi ya. Kita sekarang masuk ya," ucap Rafa.
"Tapi janji dulu sama Asyifa kak Rafa tidak akan menyebut nama itu lagi," ucap Asyifa.
"Iya sayang aku janji. Aku pernah punya niat untuk melakukan hal itu," ucap Rafa meyakinkan istrinya.
"Janji?" tanya Asyifa.
"Iya istriku yang cantik yang sekarang sangat cemburuan dan begitu sensitif," ucap Rafa.
"Ya namanya kak Rafa menyebalkan," ucap Asyifa.
"Tidak akan lagi," ucap Rafa menegaskan.
"Baiklah kalau begitu, awas aja kalau seperti itu lagi. Asyifa tidak akan mau bicara dengan Kaka Rafa," ucap Asyifa dengan ancaman.
"Ya sudah sekarang jangan marah lagi. Ayo kita masuk!" bujuk Rafa.
"Mau di gendong," sahut Asyifa dengan manjanya.
Rafa tersenyum mendengarnya dan tidak masalah menggendong istrinya yang hamil tua itu. Menggendong ala bridal style. Jangan di tanya berat pasti berat. Tapi Rafa tidak boleh mengeluh yang nantinya akan menambah masalah. Istrinya itu lagi sensitif parah. Jadi Rafa harus hati-hati bicara jangan sampai istrinya marah-marah.
"Jangan ngambek lagi," ucap Rafa pada istrinya yang ada di gendongannya itu.
"Iya kak Rafa," jawan Asyifa yang sekarang sudah bisa tersenyum.
********
Kediaman Willo.
Pagi-pagi seperti biasanya sarapan di kediaman Willo bersama anak-anaknya dan juga menantunya yang juga ada Syira di sana. Seperti biasa tidak akan ada pembicaraan. Ada pembicaraan tetapi Syira tidak di ajak ikut membahas yang sekarang di bicarakan mereka di meja makan itu.
__ADS_1
"Jadi bagaimana Rony apa belakangan ini pekerjaan sangat menyulitkan?" tanya Willo.
"Lumayan mah, tapi untuk belakangan ini saya memang harus banyak-banyak istirahat dan tidak mengambil pekerjaan di Luar Negri dulu. Karena katanya Lulu ingin program," ucap Rony.
"Itu ide bagus. Mama doakan yang terbaik untuk kamu dan semoga saja usaha kalian dapat di permudah," ucap Willo.
"Amin mah doain yang terbaik ya," sahut Lulu.
Eheg.
Tiba-tiba Syira ingin memuntahkan makanannya dan mencuri perhatian semua orang. Dedi hanya melirik saja ke arah Syira yang sudah menutup mulutnya yang takut muntahannya jatuh.
"Syira bukannya di rumah ini ada kamar mandi," sindir Willo.
"Maaf," ucap Syira yang kembali mual. Namun langsung berlari ke kamar mandi dengan buru-buru.
Willo geleng-geleng kepala dengan Syira yang pasti sangat mengganggu selera makan dan semua orang juga tau Syira hamil dan mual-mual seperti itu bukan yang pertama kalinya di perdengarkan.
"Makan sudah tidak selera," ucap Lulu yang memang selera makannya sudah tidak ada.
Dedi tidak bicara sama sekali tidak berbicara apa-apa.
*********
Syira berada di dalam kamar yang terlihat sangat lemah yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan mengelus-elus perutnya yang mana Syira sejak tadi mual-mual terus dan maknanya terasa lemas.
Ceklek.
Dedi memasuki kamar dan tampak jutek yang mengambil sesuatu dari lemari.
"Aku boleh minta tolong tidak," ucap Syira dengan suara lemahnya. Dedi tidak peduli dan tetap mengambil jaket kulitnya dari dalam lemari dan memakainya.
"Dedi tolong belikan aku obat mual. Aku benar-benar mual dan tidak bisa makan," ucap Syira dengan suara memohonnya yang terlihat sangat lemah.
"Aku bukan pesuruh mu," jawab Dedi dengan ketus dan langsung keluar kamar yang benar-benar tidak peduli dengan Syira.
Mata Syira berkaca-kaca mendengar kata-kata Dedi dan memang semua orang yang ada di rumah itu tidak ada yang peduli kepadanya dan bahkan seperti Dedi yang bicara begitu kasar kepadanya baik dari perkataan maupun dari yang lainnya.
__ADS_1
Dedi keluar dari kamar. Namun melihat ke arah pintu kamar yang sudah tertutup. Dia berhenti seperti ada yang di pikirkannya dan mungkin saja tidak tega dengan Syira. Masih ada empati. Tetapi ternyata tidak Dedi tetap pergi meninggalkan tempat itu dan tidak peduli dengan Syira yang seperti apa di dalam kamar tersebut.
Bersambung