Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 209


__ADS_3

Mendengar sang kakak yang mengalami sakit parah membuat Zee pasti penuh dengan pemikiran dengan rasa khawatir yang sangat berlebihan. Namanya juga kakaknya yang mengalaminya dan bukankah itu merupakan hal yang wajar.


Abian menghampiri istrinya yang duduk di pinggir kolam renang dengan Abian yang membawakan Zee segelas air putih. Abian memegang pundak Zee dan membuat Zee menoleh kesampingnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Abian yang duduk di samping istrinya, "Rafa yang sekarang kamu pikirkan?" tanya Abian yang sudah bisa menebak pikiran sang istri.


"Kak Abian kenapa ujian pernikahan kak Rafa dan kak Asyifa begitu berat. Sakit yang di alami kak Rafa bukanlah hal main-main dan bagaimana dengan kak Asyifa Nantinya," ucap Zee yang sangat khawatir pada Rafa dan terutama pada Rafa.


"Sakit itu Rahmat Zee dan pasti ada hikmah di balik semuanya dan jika Allah kembali menguji pernikahan mereka. Itu artinya Allah sangat menyayangi Asyifa dan juga Rafa," jawab Abian dengan bijak.


"Apa kak Asyifa akan sanggup melewati semua ini dan kak Rafa juga?" tanya Zee.


"Mereka orang-orang yang hebat dan Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan mereka yang artinya Asyifa dan Rafa pasti bisa melewati semua ini," jawab Abian.


"Kita sebagai keluarga harus berdoa untuk yang terbaik dan tidak boleh terlalu cemas dengan pikiran yang kemana-mana yang sama saja hanya berprasangka buruk pada Allah. Alangkah baiknya kita serahkan kepada Allah dan pasti beliau akan memberikan yang terbaik," ucap Abian lagi yang membuat istrinya mengerti dengan semua yang terjadi.


"Aku juga berharap yang terbaik," sahut Zee.


"Ya sudah kamu jangan sedih lagi. Mama sudah sangat sedih. Kamu seharusnya menguatkan mama," ucap Abian yang sejak tadi ibu mertuanya itu hanya menangis dengan ketakutan.


"Iya kak Abian," sahut Zee dan Abian mengelus-elus pucuk kepala Zee untuk memberikan Zee kekuatan dan pasti ketenangan juga.


*********


Mentari pagi kembali tiba. Asyifa dan Rafa sedang sarapan bersama.


"Kak Rafa makan yang banyak ya," ucap Asyifa yang menyiapkannya ke piring suaminya nasi goreng yang di buatkannya pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu juga makan," sahut Rafa. Asyifa pun duduk di samping suaminya dan belum makan sama sekali yang hanya melihat suaminya makan.


"Tadi menyuruh makan yang banyak. Tetapi sekarang kamu malah bengong dan tidak makan juga," ucap Rafa dengan menaikkan 1 alisnya melihat istrinya yang ada di sampingnya itu.


"Kak Rafa maaf kan Asyifa kemari ya. Yang sudah menyuruh kak Rafa makan daging.. Asyifa baru melihat dari internet kayanya seseorang yang penderita kanker usus tidak boleh makan daging dan kak Rafa malah memakannya hanya demi Asyifa yang memaksa kak Rafa. Kak Rafa pasti kesakitan sekali dengan ulah Asyifa," ucap Asyifa yang merasa bersalah pada suaminya.


"Tidak apa-apa Asyifa itu bukan kesalahan kamu. Tetapi itu kesalahan ku dan aku tidak apa-apa sama sekali. Sakitnya juga tidak terlalu sakit. Jadi masih aman," jawab Rafa yang tidak ingin istrinya merasa bersalah.


"Tetapi tetap aja kak Rafa secara tidak langsung Asyifa sudah menyakiti kak Rafa. Pasti kak Rafa sampai muntah berdarah gara-gara kecerobohan Asyifa," ucap Asyifa lagi.


"Sudah-sudah jangan di pikirkan lagi. Aku sudah mengatakan baik-baik aja. Jadi jangan berlebihan," ucap Rafa memegang tangan istrinya sembari mengusap-usapnya punggung tangan itu dengan jarinya.


"Kak Rafa jujur pada Asyifa apa setiap batuk-batuk kak Rafa pasti mengeluarkan darah?" tanya Asyifa. Rafa menghela napasnya dengan mengangguk yang memang benar apa adanya.


"Apa sakit?" tanya Asyifa.


"Sudah ya sayang kita sarapan saja sebaiknya. Jangan bertanya lagi," ucap Rafa yang tidak ingin istrinya semakin sedih. Asyifa mengangguk-anggukkan kepalanya dan mereka kembali sarapan.


Namun beberapa sendok Rafa memakan nasi goreng itu tiba-tiba Rafa memegang perutnya dan terlihat menahan rasa sakit.


"Kak Rafa kenapa?" tanya Asyifa memegang tangan suaminya yang bergetar dan sangat dingin.


"Tidak apa-apa Asyifa," jawab Rafa yang bisa-bisanya berbohong padahal sangat jelas Rafa kesakitan yang terlihat dari wajahnya pucat dan bahkan sampai keringat dingin.


"Tidak apa-apa bagaimana kak. Kak Rafa sangat pucat. Apa yang sakit kak Rafa?" tanya Asyifa panik.


"Aku sudah selesai makan dan sebaiknya istirahat saja," ucap Rafa dengan suara sesak di dadanya yang sangat jelas Rafa sangat sulit untuk bernapas.

__ADS_1


"Kalau begitu biar Asyifa antar kekamar," sahut Asyifa yang langsung bertindak cepat dengan Asyifa memopong suaminya untuk cepat-cepat memasuki kamar mereka agar Rafa bisa beristirahat.


Sesampainya di kamar Asyifa langsung membaringkan suaminya perlahan di atas tempat tidur.


"Sudah Asyifa aku tidak apa-apa," ucap Rafa.


"Kak Rafa yakin?" tanya Asyifa khawatir. Rafa menganggukkan kepalanya dengan memegang tangan istrinya.


"Jika kamu tidak ingin kemana-mana, di sini lah bersamaku, aku ingin mendengarmu bercerita," ucap Rafa dengan lembut.


Asyifa mengangguk-anggukkan kepalanya dan langsung berbaring di dekat suaminya yang Rafa bersandar di kepala ranjang dan membawa Asyifa kedalam pelukannya sembari mengelus-elus pucuk kepala Asyifa.


"Aku merasa lebih tenang dengan seperti ini. Dengan kamu yang terus berada di sisiku. Sakitnya benar-benar tidak terasa," ucap Rafa.


"Jika itu bisa mengurangi sakit kak Rafa. Maka peluk saja Asyifa dengan semau kak Rafa. Asyifa tidak apa-apa kok," ucap Asyifa.


"Makasih ya sayang sudah menjadi obat untukku," ucap Rafa.


"Iya kak Rafa," jawab Asyifa, "Oh iya kak Rafa pengen Asyifa cerita apa?" tanya Asyifa.


"Cerita kepadaku bagaimana perasaan mu saat menjadi istriku," jawab Rafa.


"Bukannya Asyifa sudah pernak mengatakannya?" tanya Asyifa yang sangat nyaman di dada bidang suaminya yang di bawah ceruk leher Rafa.


"Aku masih ingin mendengarnya," jawab Rafa dengan suara seraknya.


"Tidak ada yang berubah kak Rafa dengan apa yang Asyifa ceritakan dulu pada kak Rafa. Semua sama saja kak Rafa. Saat itu hati Asyifa langsung bergetar saat pertama kali bertemu kak Rafa. Asyifa tidak berani langsung menilai kak Rafa. Karena itu bukan hal Asyifa. Namun Asyifa sangat bahagia dengan pernikahan kita yang semakin lama semakin berubah dan semakin berwarna," ucap Asyifa dalam ceritanya. Asyifa bercerita dengan lembut yang membuat Rafa memejamkan matanya tanpa di ketahui Asyifa. Bukan hanya itu darah juga keluar dari hidung Rafa dan sudah menetes pucuk kepala Asyifa. Namun Asyifa tidak sadar karena hanya bercerita terus.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2