
Setelah makan malam selesai Asyifa dan Rafa juga pulang kerumah dan langsung memasuki kamar.
"Kamu tau hubungan Dedi dan anaknya pak Danu?" tanya Rafa pada istrinya.
"Asyifa tidak tau kak Rafa dan baru tau tadi dan Asyifa juga tidak tau tentang mereka," jawan Asyifa melepas jilbabnya yang duduk di meja rias.
"Aku juga lumayan kaget mendengarnya. Tau-tau dia sudah datang bersama Syira dan mama pasti tidak nyaman dengan hal itu, terlihat dari cara mama tadi bereksperesi," ucap Rafa.
"Asyifa juga melihat hal itu kak Rafa dan mungkin ini karena berhubungan dengan masalah Zee dan Syira waktu itu tentang masalah kak Abian," ucap Asyifa.
"Iya sayang kamu benar, aku jadi bingung," sahut Rafa yang menghela napasnya dengan perlahan kedepan.
Asyifa berdiri dan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti untuk mereka tertidur.
"Ini kak Rafa ganti baju dulu," ucap Asyifa yang menghampiri suaminya yang berdiri di depan suaminya itu.
Rafa mengambilnya. Lalu berdiri dan membuka kancing kemejanya membuat Asyifa kaget dan refleks menutup matanya dengan ke-2 tangannya.
"Kak Rafa kenapa ganti di depan Asyifa," sahut Asyifa dengan suara manjanya.
"Masih aja malu. Padahal sudah sering melihatnya," goda Rafa yang melepas tangan istrinya dari wajah istrinya itu.
"Issss kak Rafa, jangan seperti itu,"rengek Asyifa yang menutup matanya walau pergelangan tangannya sudah di pegang Rafa.
"Sayang buka mata nya, aku ini suami kamu Lo," ucap Rafa yang begitu jahil pada istrinya itu.
"Ohhhh, ada yang mau durhaka nih, tidak menuruti kata-kata suaminya," ucap Rafa dengan alisnya yang terangkat dan Asyifa pun terpaksa membuka matanya karena suaminya itu. Padahal Rafa sudah selesai memakai pakaiannya.
"Isss kak Rafa jahat," ucap Asyifa dengan kesal. Rafa tersenyum miring dan bertambah jahil dengan menggendong istrinya ala bridal style.
"Kak Rafa mau apa?" tanya Asyifa panik dengan wajah kagetnya.
"Mau kamu," jawab Rafa membuat Asyifa tersenyum.
"Issss dasar," sahut Asyifa dengan wajah cemberutnya. Namun masih aja tersenyum. Rafa pun tersenyum dan membawa istrinya keatas ranjang dengan membaringkan perlahan istrinya itu. Wajah ke-2nya yang saling berdekatan dengan mata yang saling menatap.
"Boleh tidak aku malam ini mengunjungi anak kita?" tanya Rafa meminta izin dulu pada istrinya.
__ADS_1
"Boleh tapi Asyifa ganti baju dulu ya, bersih-bersih supaya harum," ucap Asyifa.
"Tidak perlu. Kamu itu sudah sangat harum, sangat bersih. Jadi tidak perlu bersih-bersih," ucap Rafa.
"Kak Rafa. Kalau sudah maunya pasti akan mengeluarkan kata-kata mautnya," ucap Asyifa.
"Protes mulu," ucap Rafa yang menggelitik istrinya dan kelemahan Asyifa adalah hal itu yang pasti kalah dengan suaminya kalau sudah main gelitik sana gelitik sini dan Asyifa hanya meminta ampun pada suaminya yang kegelian parah.
**********
"Kamu tidak sedang bercanda kan Dedi menjalin hubungan dengan Syira dan apa lagi dengan kata-kata serius?" tanya Willo yang akhirnya membahas hal itu setelah mereka pulang kerumah. Bukan hanya Dedi yang ada di sana dan di interogasi Willo. Ada juga Lulu dan Rony.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya ma, aku serius dengan Syira," ucap Dedi.
"Dedi kami tau sendiri Syira itu bagaimana dan kamu juga tau Syira seperti apa dan keluarga kita sudah menyatu dengan keluarga Rafa. Bagaimana mungkin kamu melangkah sejauh itu tanpa memikirkan hal itu," ucap Willo yang sudah menjelaskan dia tidak menyukai Syira dan tidak merestui anaknya dengan Syira.
"Semua orang punya masa lalu mah dan semua itu sudah selesai dan sekarang Syira juga sudah mengakui kesalahannya," ucap Dedi yang membela Syira.
"Tapi kak Dedi Syira tidak pernah sama sekali minta maaf pada Zee atau bahkan mengakui salah dan bahkan Syira juga tidak bicara langsung pada Zee dan bagaimana mungkin kak Dedi bisa mengatakan kalau Syira sudah berubah. Karena dia saja seakan-akan bertindak tidak pernah bersalah," sahut Lulu yang ambil suara untuk bicara. Lulu juga kalau di lihat-lihat tidak setuju dengan Dedi yang tiba-tiba ingin serius dengan Syira tanpa ada angin dan hujan.
"Lulu tetapi semua masalah bukan kesalahan Syira dan Syira juga adalah korban," sahut Dedi yang membela Lulu.
"Itu karena mama tidak memberi Syira kesempatan untuk bicara," ucap Dedi yang malah menyalahkan mamanya.
"Kenapa jadi nyalahin mama sih kak," ucap Lulu dengan kesal.
"Karena itu memang kenyataan. Semua orang di sana sangat tidak menghargai aku membawa Syira. Kalian semua menganggap Syira begitu buruk," ucap Dedi.
"Tidak ada yang menganggap buruk kak Dedi dan mungkin orang-orang yang ada saat makan malam itu hanya berpendapat seperti apa yang di katakan Lulu. Karena Seakan Syira tidak pernah mengakui kesalahannya dan bahkan seperti orang yang tidak bersalah," sahut Rony yang ikut bicara.
"Mama tidak tau harus mengatakan apa lagi. Tetapi jelas semua ini membuat mama sangat kaget dan mama tidak bisa menerima keputusan kamu begitu saja. Karena banyak pertimbangan yang harus di pikirkan," ucap Willo yang jujur dengan perkataannya.
"Mah aku janji akan membuktikan pada mama atau pada semua orang kalau Syira itu memang baik mah, dan kita juga bisa melihat dari agama dan juga penampilannya," ucap Dedi.
"Penampilan tidak mencerminkan sifat orang lain," ucap Willo yang langsung meninggalkan tempat itu.
"Mah!" panggil Dedi. Namun Willo tetap pergi tanpa menggubris Puttranya itu. Lulu dan Rony pun ikut pergi dan hanya tinggal Dedi dengan menghela napas berat sembari mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya dan mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
*********
Rumah sakit.
Hari ini Rafa menemani istrinya untuk periksa kandungan yang memasuki bulan ke-8 dan Rafa memang tidak pernah absen lagi kalau masalah kandungan istrinya. Tidak lama mereka melakukan pemeriksaan dan mereka sudah keluar dari ruangan Dokter kandungan Asyifa.
"Ya sudah sayang kamu tunggu di sini ya, biar aku tebus obat dulu ke apotik," ucap Rafa.
"Ya sudah kak Rafa. Kak Rafa jangan lama-lama ya," ucap Asyifa.
"Iya sayang yang tidak mau di tinggal lama-lama," ucap Rafa yang membuat Asyifa tersenyum lebar dan Rafa pun langsung pergi untuk menebus obat. Sementara Asyifa duduk menunggu suaminya. Kalau perut sudah membesar memang lebih cocok untuk duduk dari pada berdiri. Karena pasti Asyifa tidak tahan.
"Asyifa!" tiba-tiba ada yang menyapa Asyifa membuat Asyifa melihat ke arah suara tersebut.
"Tante Willo," sahut Asyifa yang ternyata adalah Willo.
Asyifa hendak berdiri. Namun Willo langsung menghentikannya, "tidak usah Asyifa kamu duduk aja," cegah Willo yang tidak mau Asyifa kesulitan dan Willo yang duduk di sampingnya.
"Tante kenapa ada di rumah sakit?" tanya Asyifa.
"Biasa cek kesehatan," jawab Willo, "kamu sendiri cek kandungan di sini?" tebak Willo.
"Oh iya benar Tante," jawab Asyifa.
"Sama siapa sayang?" tanya Asyifa.
"Sama kak Rafa. Kak Rafa lagi menebus obat," ucap Asyifa.
"Oh begitu ternyata, semoga saja bayinya sehat terus ya," ucap Willo sembari mengelus perut buncit Asyifa. Asyifa hanya tersenyum mendengarnya.
Asyifa dan Willo mengobrol-ngobrol sambil menunggu Rafa. Ternyata di tempat yang sama ada juga Syira yang berjalan dengan matanya yang fokus pada kertas yang di bacanya. Di mana Syira tampak sangat serius tanpa milihat orang di sekitarnya dan Asyifa dan Willo juga tidak melihat Syira karena asyik mengobrol padahal Syira akan lewat di depan mereka.
Dari arah Syira tiba-tiba ada anak kecil yang lari-lari dan sampai menabrak Syira.
"Auhhhh!" ucap Syira yang terjatuh dan terduduk dan Willo dan Asyifa kaget dengan seseorang yang jatuh di depan mereka dan kertas yang di pegang Syira jatuh di kaki Willo yang membuat Willo tunduk lalu mengambilnya.
"Ya ampun Syira," sahut Asyifa yang menyadari itu Syira langsung membantu Syira untuk berdiri. Sementara Willo yang membaca tulisan di kertas itu tampak sangat terkejut.
__ADS_1
"Kamu hamil!" pekik Willo yang melihat ke arah Syira yang membuat Syira terkejut dengan wajah paniknya saat di tanya Willo berdasarkan apa yang di bacanya. Sementara Asyifa bingung dengan apa yang di katakan tantenya itu.
Bersambung