Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 239


__ADS_3

Asyifa dan Rafa sampai rumah dan langsung memasuki kamar setelah seharian mereka berdua mengikuti acara pernikahan sampai selesai dan bahkan mengantarkan Syira sampai kerumah Dedi.


Rafa duduk di sofa yang membuka sepatunya sementara Asyifa yang terlihat lelah langsung naik keatas ranjang dengan membaringkan dirinya.


"Kamu cape sayang?" tanya Rafa sembari membuka sepatunya yang melihat sang istri memang sangat kelelahan.


"Iya kak Rafa ," jawab Asyifa.


Rafa berdiri dari duduknya dan menghampiri Asyifa dengan duduk di samping Asyifa yang terbaring miring dengan Rafa memegang bahu Asyifa.


"Kamu tidak mau ganti baju dulu?" tanya Rafa.


Asyifa menggelengkan kepalanya.


"Ada apa sayang apa yang sakit?" tanya Rafa yang melihat istrinya tampaknya kurang sehat .


Asyifa mengangguk, "perut Asyifa tiba-tiba sakit," keluh Asyifa.


"Kenapa bisa?" tanya Rafa panik yang tiba-tiba mendengar keluhan istrinya tersebut.


"Nggak tau kak, hanya saja sakit sekali," ucap Asyifa yang tiba-tiba mengalami kontraksi dan ini bukan saatnya Asyifa melahirkan masih harus menunggu satu bulan lagi. Karena ini baru bulan ke-8 Asyifa melahirkan.


"Kita kerumah sakit ya," ucap Rafa dengan panik.


"Tidak usah kak Rafa. Asyifa mau istirahat aja," jawab Asyifa yang memang tidak mau kerumah sakit dan sampai berurusan dengan Dokter.


"Tapi Asyifa," sahut Rafa yang khawatir.


"Asyifa mungkin capek, makanya tiba-tiba sakit. Tetapi Asyifa tidak apa-apa kok. Hanya keram saja perut Asyifa," ucap Asyifa.


"Walau tidak apa-apa kita harus kerumah sakit. Kamu harus periksa kandungan kamu. Jangan sampai terjadi sesuatu yang juga nanti akan membahayakan kamu," ucap Rafa mengingatkan Asyifa.


"Ya sudah panggil Dokter Anggi saja," ucap Asyifa yang mungkin kalau kerumah sakit dia tidak sanggup dan dia juga takut kandungannya kenapa-kenapa dan alangkah baiknya memang memanggil Dokter.


"Baiklah kalau begitu," ucap Rafa yang langsung bertindak yang keluar dari kamar meminta bantuan yang lainnya untuk memanggilkan Dokter untuk menangani sang istri.

__ADS_1


**********


Akhirnya Asyifa di periksa Dokter yang sudah di panggil keluarga Rafa dan Dokter itu memang Dokter kandungan Asyifa.


Asyifa yang berada di dalam kamar sedang di periksa oleh Dokter tersebut.


"Bagaimana Dokter keadaan istri saya?" tanya Rafa yang setia menemani istrinya saat di periksa.


"Alhamdulillah Bu Asyifa tidak apa-apa. Ini kontraksi ringan dan biasa terjadi. Tetapi untung saja saya segera di panggil. Walau ini hal yang biasa. Tetapi juga sangat bahaya jika tidak cepat di tangani," ucap Dokter.


"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Rafa yang bernapas lega.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi ya. Bu Asyifa jangan terlalu lelah ya," ucap Dokter memberi saran.


"Iya Dokter," sahut Asyifa yang sudah merasa enakan.


"Ya sudah mari pak Rafa, Bu Asyifa saya permisi dulu," ucap Dokter tersebut yang langsung berdiri dan berpamitan pulang.


"Aku antar kedepan sebentar ya sayang," Icao Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan Rafa pun mengantarkan Dokter tersebut keluar dari kamar yang di depan kamar Shofia, Xander, Ardi dan Shania sudah ada di sana.


"Alhamdulillah Asyifa tidak apa-apa mah, dia sudah baik-baik saja," jawab Rafa.


"Hanya perlu istirahat saja," sahut Dokter menambahi sedikit.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi ya. Mari!" ucap Dokter.


"Saya antar Dokter," sahut Shania. Dokter mengangguk dan Shania langsung mengantar Dokter tersebut.


"Alhamdulillah jika Asyifa baik-baik saja. Mama lega mendengarnya," ucap Rania.


"Iya mah, Rafa juga lega. Ya sudah mah kalau begitu Rafa masuk dulu ya," ucap Rafa.


"Iya kamu jaga istri kamu," ucap Shofia.


"Rafa mengangguk dan langsung memasuki kamar kembali. Asyifa masih bangun dan Rafa langsung menghampiri istrinya ke atas ranjang dengan Rafa yang langsung memeluk istrinya membuat wajah Asyifa mendarat di dada bidangnya.

__ADS_1


"Pasti kamu begitu lelahnya sampai semua ini terjadi," ucap Rafa.


"Tapi sekarang sudah tidak kok kak Rafa. Bahkan sudah tidak sakit lagi. Kak Rafa jangan khawatir," ucap Asyifa.


Rafa mengangguk dengan mencium kening Asyifa dan mengusap-usap perut buncit istrinya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu kesakitan lagi," ucap Rafa yang sangat takut istrinya kenapa-kenapa.


"Iya kak Rafa. Tau itu dan Asyifa juga tidak mau kak Rafa khawatir," ucap Asyifa.


"Ya sudah sekarang kita istirahat saja," ucap Rafa.


Asyifa menganggukkan kepalanya dan perlahan memejamkan matanya. Sudah berkurang memang rasa sakitnya dan memang Asyifa sudah tidak merasakan sakit lagi apa lagi Rafa terus mengusap-usap perutnya.


**********


Mentari pagi kembali tiba. Di kediaman Dedi. Di dalam kamar Syira yang duduk di meja rias yang sedang memperbaiki jilbabnya dan Dedi yang masuk kedalam kamar.


"Tidak adanya gunanya kau memakainya. Itu hanya topeng untuk menutupi kebusukan mu," sindir Dedi yang berjalan menuju nakas yang mencari sesuatu di dalam laci.


Syira mendengar hal itu hanya diam dan mungkin itu akan menjadi hal biasa yang akan di dengarnya setelah ini.


Setelah Dedi mendapatkan apa yang di inginkannya. Dedi langsung keluar dari kamar itu dengan menutup pintu kuat sampai Syira kaget. Air mata Syira menetes dan langsung di sekanya.


Dedi memang kerap kali menghinanya, penuh sindiran dan mengeluarkan kata-kata kasar padanya. Kebencian yang di tunjukkan Dedi memang sangat besar sampai Syira tidak bisa berkata-kata dan hanya menahan rasa sakit di hatinya dengan helaan napas yang mencoba untuk menerima semuanya.


Setelah selesai dengan apa yang di lakukannya. Syira keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Di ruang tamu ada Lulu dan Willo yang berbicara.


"Mah Lulu kekamar dulu ya," ucap Lulu yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi yang melewati Syira yang masih berada di anak tangga. Lulu begitu ketus dan bahkan tidak menyapa Syira dan Willo yang tadinya ada di ruang tamu juga pergi menuju dapur.


Mungkin saja memang mereka tidak bisa menerima Syira dan begitu melihat Syira mereka langsung pergi dan Syira hanya diam dengan wajah senduhnya yang merasa kembali sakit.


Dia benar-benar tidak di anggap di rumah itu. Sudah Dedi yang berkata ini itu dan sekarang keluarganya yang bahkan tidak bicara satu katapun padanya dan mungkin memang benar kata Dedi ini akan menjadi neraka untuk Dedi.


"Aku yang menginginkan semua ini. Tetapi apa ini pantas aku dapatkan. Perlakuan mereka, perkataan serta pandangan yang sangat hina kepadaku. Apa ini sungguh pantas ya Allah," batin Syira memegang dadanya mengusapnya dan menyebut nama Allah. Ya sudah seperti ini baru ingat Allah ya memang manusia itu seperti itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2