
Azka turun dari mobil yang berhenti di rumah sakit yang ternyata Azka tidak sendirian Azka bersama dengan Rachel yang mana Rachel sedang membawa keranjang buah yang berisi berbagai macam buah
Mereka pasti ingin menjenguk Asyifa yang sudah 3 hari berada di rumah sakit.
"Tidak apa-apa kan Azka jika aku hanya membawa buah ini," ucap Rachel yang merasa tidak enak.
"Ya tidak apa-apa dong Rachel. Masa iya kamu harus bawa helikopter," sahut Azka dengan candaan.
"Ya kan sekarang lagi jenguk kakak kamu. Aku merasa tidak enak aja kalau hanya bawa ini," ucap Rachel.
"Rachel mau membawa apa saja itu sama saja. Jadi tidak apa-apa sama sekali. Yang penting niatnya," sahut Azka.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Rachel.
"Ayo masuk. Itu kamar kak Asyifa," ucap Azka yang menunjukkan kamar Asyifa. Rachel menganggukkan kepalanya dan mereka langsung memasuki kamar itu.
"Assalamu'alaikum!" sapa Azka dan Rachel yang sama-sama memasuki ruangan itu.
"Walaikum salam," sahut orang-orang yang ada di ruangan itu yang ternyata sangat ramai, selain keluarga Asyifa dan Rafa ada juga keluarga Lulu yang menjenguk Asyifa.
"Hey Rachel," sahut Rania.
"Hay Tante," sahut Rachel yang langsung mencium punggung tangan Rania dan bukan hanya Rania. Rachel harus berjejer menciumi punggung tangan orang-orang yang lebih tua di sana dan semua orang tampaknya sangat welcome dengan Rachel baik dari keluarga Rafa yang tau Rachel adiknya Miranda.
"Kak Asyifa. Ini Rachel bawa buah untuk kakak," ucap Rachel.
"Ya ampun Rachel makasih sudah repot-repot," sahut Asyifa yang merasa tidak enak.
"Tidak repot kok kak Rachel justru senang bisa bawakan kakak buah-buahan. Oh iya bagaimana ke adaan kakak?" tanya Rachel.
"Alhamdulillah baik-baik aja Rachel," jawan Asyifa.
"Rachel mau gendong bayinya tidak?" tanya Lulu yang sejak tadi menggendong bayi Asyifa.
"Boleh," sahut Rachel yang sangat senang hati dan menggendong dengan hati-hati bayi mungil itu dengan Rachel yang bergerak-gerak seperti menimang-nimang.
"Rachel sangat cocok menggendong anak. Seperti seorang ibu saja," celetuk Zee.
"Namanya juga wanita Zee. Kalau sudah bertemu bayi. Pasti jiwa keibuannya akan keluar dan walaupun dia belum menikah," sahut Willo.
"Rachel kamu jangan khawatir 5 atau 6 tahun lagi Azka akan melamar kamu," sahut Rafa kalau tida menggoda Azka tidak akan puas baginya.
"Kak Rafa," tegur Azka.
"Apa sih Azka. Kamu itu harus kasih kepastian untuk Rachel. Kamu itu kan mau lanjutin pendidikan ke Luar Negri. Jadi sebelum itu kasih kepastian untuk Rachel dia perlu menunggu apa tidak," ucap Rafa.
__ADS_1
"Kak Rafa jangan seperti itu," tegur Asyifa.
Sementara keluarga itu hanya tertawa-tawa saja dengan geleng-geleng kepala. Dan Rachel yang terlihat cuek sebenarnya juga salah tingkah dengan Rafa yang menyinggung hal itu.
"Hmmmm, aku keluar sebentar ya," sahut Dedi yang tiba-tiba ingin pamit.
"Mau kemana kak Dedi?" tanya Lulu.
"Mau cari makanan. Di lihat-lihat tidak ada makanan di sini," jawab Dedi.
"Ternyata di antara kita semua Dedi yang paling peka," sahut Abian.
"Ya sudah kalau begitu aku cari dulu ya," ucap Dedi yang lainnya mengangguk dan Dedi langsung keluar dari ruangan itu untuk mencari makanan agar bibir tidak kering.
***********
Dedi keluar dari rumah sakit yang menuju mobilnya yang terparkir di parkiran rumah sakit. Namun saat ingin memasuki mobil. Dedi melihat ada ribut-ribut. Di mana Dedi yang melihat bapak-bapak yang marah-marah.
"Ada apa sih itu?" tanya Dedi dengan kebingungan dan saling penasarannya Dedi menghampiri keributan tersebut.
"Kami ini bagaimana sih, makannya bawa mobil itu hati-hati. Lihat apa yang kamu lakukan. Mundur tidak lihat-lihat mobil bagian depan saya jadi lecet parah," ucap prianya yang berbadan besar itu dengan kepala botaknya yang marah-marah sembari menunjuk-nunjuk wanita yang berdiri di hadapannya.
Yang tak lain wanita itu adalah Syira yang tampak cemas karena dia yang di marahi
"Minta maaf tidak akan menyelesaikan masalah. Kamu ini benar-benar!" Pria itu mendorong Syira dan hampir saja Syira jatuh dan untungnya punggungnya tertahan bidang dada dengan bahunya yang di pegang erat dari belakang.
Syira menoleh melihat siapa yang menahan tubuhnya yang ternyata Dedi yang datang tepat waktu dan Dedi langsung menegakkan tubuh Syira yang mana Syira terlihat sangat pucat.
"Ada apa ini?" tanya Dedi dengan suara dinginnya.
"Jangan ikut campur ini urusan saya dengan wanita bodoh ini!" tunjuk Pria itu.
Dedi langsung menangkap tangan yang menunjuk tepat di wajah Syira itu dan menjatuhkan tangan itu dengan kasar.
"Jangan berani-beraninya menunjuknya dan mengatainya bodoh," ucap Dedi dengan wajah sangarnya yang matanya melotot.
"Siapa kamu berani-beraninya menegur saya," sahut Pria itu tidak terima.
"Saya suaminya," tegas Dedi dengan menatap tajam pria itu
Deg.
Syiria begitu terkejut mendengar kata suami yang keluar dari mulut Dedi. Di mana Dedi masih menganggap istrinya bicara.
"Jadi saya minta sama anda untuk hati-hati dalam berbicara. Jika tidak saya bisa melakukan hal yang lebih parah yang anda lakukan kepada istri saya," tegas Dedi.
__ADS_1
Syira semakin dek-dekan dengan kata-kata itu dan Sepenjang Dedi berbicara Syira hanya melihat Dedi yang berbicara dengan aura dinginnya.
"Begini tuan. Saya tidak bermaksud untuk mengatasi istri anda. Tetapi istri anda sudah menabrak mobil saya dan lecet. Jadi saya hanya meminta ganti rugi," tegas pria itu.
"Jika ingin minta ganti rugi. Maka minta baik-baik tidak perlu teriak-teriak atau mendorongnya," tegas Dedi.
Dedi mengeluarkan sesuatu dari dompetnya yang ternyata kartu nama.
"Saya akan bawa mobil anda ke bengkel untuk di perbaiki dan jika perlu yang lainnya hubungi saja," ucap Dedi memberikan kartu nama itu pada Pria itu dan Pria itu mengambilnya.
"Jadi tidak perlu marah-marah dan buat kehebohan di tempat ini," tegas Dedi yang memegang tangan Syira dan membawanya langsung pergi dari hadapan Pria itu tanpa pria itu mengatakan apa-apa lagi.
*********
Setelah lolos dari pria itu. Syira duduk di salah satu bangku yang ada di rumah sakit dan tidak lama Dedi datang dengan memberinya air mineral dan Syira mengambilnya. Lalu Dedi duduk di samping Syira.
"Kamu sudah merasa baikan?" tanya Dedi.
"Iya," jawan Syira.
"Kamu kenapa ada di rumah sakit?" tanya Dedi.
"Aku lagi periksa kandunganku dan tadi saat ingin pulang aku tidak sengaja menabrak mobil bapak itu," jawab Syira.
"Lalu bagaimana dengan kandungan kamu?" tanya Dedi yang tampak perhatian.
"Baik-baik aja kok, tadi hanya minta obat mual saja," jawab Syira.
"Oh iya kamu sendiri kenapa ada di rumah sakit?" tanya Syira.
"Asyifa kemarin di bawa kerumah sakit. Dia sudah melahirkan," jawan Dedi.
"Alhamdulillah, bagaimana keadaannya?" tanya Syira yang ikut bahagia.
"Dia dan anaknya baik-baik aja," jawab Dedi.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Syira yang kelihatannya sangat senang dengan lahirannya Asyifa.
"Oh iya Dedi makasih ya kamu sudah membantuku tadi," ucap Syira.
"Iya sama-sama. Aku hanya kebetulan melihat saja," jawab Dedi.
Syira tersenyum tipis. Dia tidak percaya sikap Dedi bisa selembut itu kepadanya sangat berbeda saat mereka tinggal satu rumah.
Bersambung
__ADS_1