
"Mari kalian pesan makanan! kalian pasti sudah lapar," ucap Shofia dengan ramah. Rani mengangguk dan mulai memesan makanan begitu juga dengan Miranda.
"Rani bagaimana menurut kamu menantuku ini. Apa aku salah pilih?" tanya Shofia yang sepertinya sengaja mempertanyakan hal itu karena ada Miranda.
"Kamu jelas tidak salah pilih. Lihatlah dia sangat cantik dan kalau saja aku mempunyai anak laki-laki pasti sudah menikahkannya dengannya. Hanya saja keberuntungan ada pada kamu, jadi aku tidak mendapat keberuntungan itu," jawab Rani. Mendengarnya Miranda mengepal tangannya.
"Tante berlebihan bicaranya," sahut Asyifa yang pasti selalu merendah.
"Lihat Shofia. Ternyata selain cantik. Menantu kamu ini sangat rendah hati, suaranya juga sangat lembut. Kamu ini benar-benar beruntung. Kasih aku tips bagaimana caranya mendapatkan menantu sepertinya," sahut Rani yang memang tulus mengagumi Asyifa.
"Tips apa. Tidak ada tips. Memang dia menanti yang tepat," sahut Shofia.
"Ya dia pasti sangat sempurna. Kamu the best," ucap Rani tidak henti-hentinya memuji Asyifa yang baru pertama kali di temuinya.
"Aku sebenarnya tidak mau sombong dengan kamu. Tetapi bagaimana sudah kenyataannya. Apa yang terlihat di depan mata kamu ini melebihi tingkat kesempurnaan. Kamu harus tau Asyifa ini hafis Qur'an saat usia 9 tahun dan prestasinya sangat banyak. Maaf bukan pamer," ucap Shofia yang semakin meningi-ngingikan Asyifa dan sebenarnya Asyifa sangat tidak nyaman.
"Mah," tegur Asyifa dengan lembut yang tidak ingin mamanya bicara terlalu berlebihan. Walau itu memang kenyataan.
"Ya ampun benarkah. Aku jadi malu, saya saja tidak seperti itu," sahut Rani semakin takjub.
"Bagaimana dengan kamu Miranda. Apa seorang model juga pasti tidak lupa dengan agamanya bukan?" tanya Shofia yang blak-blakan pada Miranda membuat Miranda menelan salivanya mendapatkan pertanyaan itu.
"Atau jangan kamu ini tidak bisa membaca Alquran?" tanya Shofia benar-benar mengintrogasi Miranda.
"Mah!" tegur Rafa yang mulai berubah menjadi cacing kepanasan.
"Ya mana mungkin kan Miranda. Kamu pasti beribadah dengan baik juga," sahut Shofia tersenyum yang mengubah situasi yang membuat jantung Miranda di cabik-cabik.
"Iya Tante," sahut Miranda dengan suara pelannya yang padahal dia sudah menahan kekesalan yang kembali di banding- bandingkan dengan Asyifa.
"Kamu memang sangat beruntung Shofia, aku sampai tidak bisa berbicara apa-apa lagi," sahut Rani lagi. Shofia mengangguk tersenyum sembari makan.
Makanan Rani dan Miranda juga sudah datang dan tidak tau rasa apa makanan mereka itu lagi.
"Asyifa berapa usia kamu?"tanya Rani.
__ADS_1
"4 bulan lagi insyallah Asyifa usia Asyifa 20 tahun Tante," jawab Asyifa.
"Masih sangat muda ternyata. Memang sangat terlihat dari wajahnya. Malahan Tante pikir masih belasan tahun. Tetapi tidak mungkin Rafa menikahi anak di bawah umur. Apa kamu sekarang kuliah?" tanya Rani lagi.
"Asyifa tinggal menunggu Wisuda S-2 Asyifa di Mekkah," jawab Asyifa.
"Kamu sudah S-2?"tanya Rani begitu terkejutnya
"Benar Tante," jawab Asyifa menunduk.
"Ya ampun Shofia. Kamu harus ceritakan kepadaku. Menantumu ini seperti apa. Aku yakin pasti ada-ada lagi yang di milikinya," sahut Rani dengan terkejutnya.
"Asyifa ini memang anak yang baik, selain cantik, anak pintar dan memang sangat banyak prestasinya dan ya aku tidak mungkin menyebutkannya. Nanti di bilang sombong lagi dan lagian tidak cukup waktu untuk menceritakannya," sahut Shofia.
"Mah jangan bicara seperti itu," sahut Asyifa merasa tidak enak.
"Ini salah satunya. Sangat rendah hati," ucap Shofia yang terus memuji Asyifa.
"Ya Allah ini adalah kejadian yang sama dengan yang kemarin. Apa setelah ini Rafa akan marah-marah kepadaku lagi," batin Asyifa mengingat kejadian saat pertemuan dengan Lucky dan istrinya.
Di sana Rafa merusak mentalnya dan mungkin sudah terbukti membuat Asyifa jadi takut pada Rafa.
"Tidak apa-apa mah,"sahut Asyifa.
"Makan lagi Asyifa. Kamu cobain sup kacang merah ini sangat enak," sahut Xander menghibur menantunya yang pasti tidak nyaman.
"Maaf pah, Asyifa alergi makan kacang merah," jawab Asyifa.
"Kamu tidak suka kacang merah," sahut Shofia.
"Benar mah," jawab Asyifa.
"Ya ampun mama baru tau. Kamu sama seperti Rafa yang juga tidak menyukainya. Memang ya kalau jodoh itu tidak kemana. Ya seperti ini," sahut Shofia yang tidak menyangka dan itu satu pion untuk Shofia.
Miranda mendengarnya semakin kesal. Dia sedari tadi hanya menahan amarah saja di dalam hatinya yang di banding- bandingkan dan bahkan Asyifa dan Rafa mempunyai kesamaan yang membuat Miranda semakin kesal.
__ADS_1
"Kamu itu sangat beruntung Shofia. Aku berdoa semoga pernikahan Asyifa dan Rafa selalu di beri kebahagiaan dan terus bersama sampai menua nanti," sahut Rani dengan tulus memberikan doanya.
"Terima kasih Rani. Aku juga berharap seperti itu. Makasih ya Rafa sudah memberikan mama menantu seperti Asyifa," sahut Shofia tersenyum pada Rafa. Dan Rafa hanya menanggapi dengan ekspresi datar.
"Semoga tidak ada orang ke-3 dalam hubungan mereka. Karena wanita jaman sekarang sangat aneh. Sudah tau pria itu memiliki istri. Tetapi bisa-bisanya masih mengejar-ngejar suami orang. Argggghhh sangat aneh," sahut Rani yang secara tidak langsung menyindir Miranda. Shofia mendengarnya tersenyum.
"Bukan aku yang menjadi orang ketiga. Tetapi wanita itu," batin Miranda mengepal tangannya.
"Terkadang prianya juga seperti itu Rani. Sudah tau ada istri masih saja bersama wanita yang tidak layak. Padahal istrinya seperti berlian dan menginginkan sampah," sahut Shofia memberi sindiran kepada Rafa. Bahkan Shofia tidak segan-segan menatap Rafa dengan senyuman.
"Mama benar-benar keterlaluan," batin Rafa dengan kesal.
"Miranda kamu jangan seperti itu ya. Jangan menjadi duri dalam pernikahan orang lain," ucap Shofia terus terang mengingatkan Miranda.
"Kenapa Tante bicara seperti itu. Apa menurut Tante saya orang seperti itu. Walau seorang model dan tidak berpakaian tertutup seperti menantu tante. Tetapi saya tidak pernah menjadi orang ke-3 dan mungkin saja orang yang tertutup seperti dia yang menjadi orang ke-3 dalam hubungan seseorang," sahut Miranda sinis.
Sejak tadi dia sudah tidak tahan dan rasanya tidak ada gunanya mencari perhatian di depan orang tua Rafa.
"Apa Asyifa mengganggu kamu?" tanya Shofia langsung pada intinya.
Ketegangan terjadi dan Rani bingung dengan pertanyaan temannya itu.
"Shofia kenapa bertanya seperti itu," sahut Rani.
"Aku tidak tau Rani. Aku merasa Miranda ini seperti sedang mengalami sesuatu hal. Aku hanya memberi ingat kepadanya. Jika seseorang yang baik di jahati. Maka akan ada kejahatan lain yang akan berbalik kepada kita dan sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerima dan memaafkan wanita yang berusaha untuk masuk kedalam pernikahan putra saya," tegas Shofia yang sangat serius dengan saling menatap dengan Miranda yang seperti menantang. Rani hanya bingung dengan kata-kata Shofia.
"Shofia ayo makan lagi," sahut Xander menghentikan Shofia yang semakin terpancing.
"Ya ampun Shofia aku juga akan seperti itu. Kalau ada mengganggu keluargaku," sahut Rani yang menanggapi segala sesuatu dengan santai.
"Iya kamu benar. Jadi Asyifa sudah sangat layak menjadi menantu di rumah kami. Jadi orang yang masuk tidak akan bisa. Karena saya memilih siapa yang layak dan tidak layak," tegas Shofia. Miranda hanya mengepal tangannya mendengar kata-kata pedasnya.
"Aku ke toilet sebentar," sahut Rafa yang langsung berdiri dan langsung pergi.
"Aku hanya mengingatkanmu Miranda. Kalau kamu memang tidak pernah pantas menjadi menantu di rumahku. Kau wanita yang sangat tidak punya etika, tidak bermoral," batin Shofia.
__ADS_1
"Aku benar-benar di permalukan kembali. Dan kembali di depan wanita itu. Dia pasti merasa paling sempurna yang merasa menang yang di bela dan di bangga- banggakan. Selagi kau tidak bisa memliki Rafa. Maka kau belum menjadi pemenangnya Asyifa," batin Miranda yang menatap tajam Asyifa, sementara Asyifa makan dengan tenang walau perasannya tidak tenang.
Bersambung