Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 43


__ADS_3

Pelayan tokoh yang bekerja di tokoh kue tersebut melihat Asyifa dan Rafa dengan tatapan yang aneh yang seperti ada sesuatu yang membuat Asyifa heran dengan cara menatap pelayanan tokoh tersebut.


"Maaf mbak apa ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan?" tanya Asyifa yang melihat pelayan itu tampak ingin bertanya tetapi seperti takut-takut.


"Hmmmm, oh tidak mbak. Saya melihat masnya seperti tidak asing dan kalau mbak kan sudah saya kenal langganan di tokoh kami. Bahkan pernah sangat baik memberikan pesanan cake strawberry pada orang lain, padahal mbak yang duluan menunggu," ucap wanita itu yang memang mengenal Asyifa dan bahkan memori yang pernah terjadi teringat dan itu bersangkutan dengan Rafa.


Mendengar hal itu membuat Rafa tampak berpikir. Yang merasa apa yang di katakan pelayan itu seperti ada di dalam kehidupannya yang pernah terjadi sebelumnya.


Mata Rafa langsung berkeliling melihat tempat tersebut. Jelas Rafa pernah berada di sana dan bahkan Rafa mengingat dia juga sempat berdebat dengan salah satu pelayan karena kue yang di inginkannya tidak ada dan tiba-tiba menjadi ada. Karena ada yang memberikannya.


"Dan masnya sepertinya tidak asing gitu ya bagi saya. Tapi saya tidak tau, mungkin hanya pikiran saya saja," sahut wanita itu lagi.


Asyifa hanya tersenyum yang tidak tau harus menanggapi apa dengan kata-kata wanita itu.


"Begitu rupanya," hanya itu yang bisa di katakan Asyifa.


"Ayo sudah selesai," sahut Rafa dengan dingin yang selesai melakukan pembayaran. Asyifa mengangguk.


"Kami permisi mbak!" ucap Asyifa pamit dengan ramah yang menyusul Rafa yang berjalan dengan cepat.


"Aduh siapa ya pria itu kayak sangat tidak asing," ucap pelayan itu yang terus mengingat-ingat.


Rafa dan Asyifa sudah memasuki mobil dan Asyifa meletakkan keu yang di pesannya di bangku belakang.


"Makasih ya kak sudah membantu Asyifa," ucap Asyifa yang mengucapkan terima kasih pada Rafa dengan begitu tulisnya dan jangan harap di tanggapi Rafa dia langsung menyetir mobilnya dan Asyifa tidak masalah karena sudah biasa bagi Asyifa.


*********


Mobil Asyifa dan Rafa berhenti di lampu merah, Asyifa yang duduk di sebelah Rafa melihat ke arah jendela di sebelahnya. Namun Rafa sepertinya memikirkan sesuatu yang melihat Asyifa sebentar dan sepertinya ada yang menggangu pikirannya.


Rafa membuka laci di mobilnya dan menemukan kartu ucapan yang pernah di simpannya dengan sembarangan. Kartu ucapan dari toko kue yang barusan mereka kunjungi. Tidak tau kenapa Rafa harus peduli karena perkataan wanita yang menjadi pelayan toko itu.


Yang benar saja. Rafa membuka kartu ucapan itu dan melihat paling bawah yang dugaannya benar ada nama Asyifa di sana yang berarti wanita yang memberikan cake coklat strawberry yang mengalah padanya waktu itu adalah Asyifa.


Rafa melihat ke arah Asyifa dan terbayang pada kejadian di toko itu di mana Rafa melihat Asyifa yang menyebrangi jalan dan hanya melihat punggungnya saja dan teksturnya sama dengan tubuh Asyifa yang ada di sampingnya.


"Ada apa kak Rafa?" tanya Asyifa dengan tiba-tiba melihat ke arah Rafa yang masih melamun dan pertanyaan Asyifa membuat Rafa terkejut dan buru-buru menutup laci tersebut dan membuang napasnya kedepan.


"Kak Rafa!" tegur Asyifa yang melihat Rafa seperti orang linglung.


"Apa lagi sih," sahut Rafa kesal.


"Lampunya sudah hijau," sahut Asyifa yang hanya ingin memberitahu hal itu. Rafa langsung melihat ke arah lampu yang memang sudah berganti dia tidak menyadari hal itu karena asyik melamun saja.


"Kenapa tidak bilang dari tadi," ucap Rafa dengan kesal yang langsung menyetir.


"Bukannya aku sudah mengatakannya dan kak Rafa malah melamun dan langsung marah," sahut Asyifa geleng-geleng.

__ADS_1


"Jangan di perpanjang," ucap Rafa kesal. Asyifa mengangkat ke-2 bahunya.


"Apa mungkin itu dia wanita itu?" batin Rafa yang kepikiran masalah kue dan kartu ucapan itu.


*********


Tidak lama akhirnya Asyifa dan Rafa sampai di rumah orang tuanya dan mereka sudah tau kedatangan Asyifa dan benar-benar di tunggu di depan rumah.


Asyifa tersenyum yang buru-buru keluar dari mobil dan berlari menghampiri ibunya yang di rindukannya itu dan Rafa harus membawa oleh-oleh yang sudah di siapkan Asyifa untuk keluarganya.


"Assalamualaikum ayah, ibu," ucap Asyifa yang memeluk erat ibunya.


"Walaikum salam," sahut Rania dan Rendy, dan Rendy juga langsung memeluk Rafa menantunya itu.


"Asyifa merindukan ibu," ucap Asyifa yang tidak mau melepas pelukan dari ibunya.


"Ibu juga Asyifa," sahut Rania dengan punggung Asyifa dan mereka saling melepas pelukannya.


"Kenapa menangis Asyifa?" tanya Rania yang panik melihat air mata Asyifa keluar dan Rafa juga langsung menoleh ke arah Asyifa.


"Apa terjadi sesuatu sayang?" tanya Rania. Asyifa menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Padahal banyak yang terjadi. Tetapi mana mungkin dia menceritakannya dan Rafa do sampingnya hanya terus melihat Asyifa. Tidak tau apakah Rafa ada sedikit penyesalan atau tidak sama sekali dengan Asyifa yang harus menahan lukanya sendiri.


"Asyifa hanya merindukan ibu dan ayah," sahut Asyifa yang harus berbohong.


"Asyifa kamu ini bukan sekali ini tidak di rumah. Biasanya juga sering tinggal di Luar Negri dan tidak pernah pulang menangis," sahut Rendy yang memang melihat perbedaan pada putrinya itu dan juga membuatnya khawatir.


"Tapi ini rindunya rindu berat," sahut Asyifa tersenyum yang harus berbohong.


"Ayo nak Rafa," sahut Rendy.


"Iya Dokter," sahut Rafa dengan mengangguk yang sedikit canggung dengan keluarga dari istrinya itu. Karena setelah menikah ini pertama kali Rafa ke rumah itu.


***********


Asyifa dan keluarganya itu terlihat makan siang bersama yang masakannya sudah di siapkan oleh Rania sebelumnya. Asyifa dan Rafa duduk bersebelahan Rania dan Rendy duduk bersebelahan dan saling berhadapan dengan Asyifa dan Rafa.


"Kita makan siang bersama, semua masakan ini khusus untuk Asyifa dan Rafa," ucap Rania.


"Ibu yang masak semua ini?" tanya Asyifa.


"Iya dong sayang ibu yang masak dan semoga Rafa menyukainya," sahut Rania tersenyum pada Rafa.


"Terima kasih Tante," sahut Rafa. Ya dia tidak memanggil Rania ataupun Rendy dengan sebutan apa yang di panggil Asyifa. Rania maupun Rendy tidak mempermasalahkan itu. Karena mungkin Rafa belum terbiasa.


"Ya sudah sekarang kita makan ayo!" ajak Rendy.


Asyifa mengangguk dan juga melayani suaminya dengan menuangkan nasi ke piring Rafa. Rafa tidak menolak. Ya dia harus jaga sikap di depan orang tua Asyifa.

__ADS_1


"Kakak mau ayam kecap atau ayam bakar?" tanya Asyifa.


"Terserah," sahut Rafa dengan dingin. Asyifa mengangguk dan memberikan ayam bakar saja. Dia juga belum terlalu tau apa-apa saja yang di sukai Rafa.


"Rafa apa Bu Shofia ke adaannya baik-baik saja. Apa kolesterolnya sering kambuh lagi?" tanya Rendy di sela-sela makannya.


"Tidak Dokter, mama baik-baik saja dan selalu menjaga makannya. Jadi tidak pernah kambuh," jawab Rafa.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga mama kamu bisa sehat selalu ya," sahut Rendy. Rafa hanya mengangguk saja dengan melanjutkan makannya.


"Azka belum pulang Ibu?" yang Asyifa yang tidak melihat adik bungsunya itu.


"Belum Asyifa mungkin sebentar lagi. Kalau tidak ada kegiatan ekstrakurikuler biasanya jam segini sudah pulang," jawab Rania.


"Assalamualaikum!" sapa Azka yang begitu namanya di sebut dia langsung datang.


"Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak.


"Panjang umur," ucap Rendy tersenyum.


"Ya ampun ada kakak ku yang cantik di sini," sahut Azka yang buru-buru ke meja makan dan langsung mencium punggung tangan kakaknya itu dan memeluknya dengan erat yang sedikit mengganggu mata Rafa yang makan di samping Asyifa.


"Kamu baru pulang sekolah?" tanya Asyifa yang melepas pelukan dari adiknya itu.


"Sudah pasti kakak dan iya apa kakak sedang menungguku?" tanya Azka dengan menebak.


"Kegeeran siapa yang menunggumu," sahut Asyifa mengelak.


"Sudahlah kakak jujur saja. Jangan berbohong. Bohong itu dosa," ucap Rafa.


"Iya-iya, Azka kakak mu ini sangat merindukanmu dan memang menunggumu," sahut Asyifa membuat Rendy dan Rania sama-sama tersenyum.


"Begitu dong kak Asyifa yang cantik dan iya karena sudah jujur pada Azka. Azka punya hadiah untuk kakak," ucap Azka.


"Apa hadiahnya?" tanya Asyifa heran.


Azka langsung mengeluarkannya sesuatu dari dalam tasnya yang ternyata minuman dengan rasa strawberry membuat mata Asyifa langsung berbinar melihat minuman kesukaannya itu.


"For you," ucap Azka.


"Ya ampun Azka, kamu itu tau aja kemauan kakak. Makasih Azka kamu memang yang terbaik. Kakak sudah lama sekali tidak meminum, minuman ini," ucap Asyifa begitu bahagianya hanya karena minuman kesukaannya yang di berikan adiknya dan Azka tersenyum melihat kakaknya yang langsung meminum, minuman tersebut.


"Apa kakak ipar tidak pernah memberikan kakak minuman ini?" tanya Azka yang langsung melihat ke arah Rafa yang di sebelahnya dan Rafa berhenti mengunyah ketika mendengar pertanyaan Azka.


"Jangan-jangan kakak ipar. Tidak pernah lagi memperhatikan kak Asyifa sampai tidak tau ini adalah kesukaan kakak," tebak Azka membuat Asyifa yang malah terkejut mendengarnya dan mendadak panik dengan perkataan adiknya yang seperti mengintimidasi Rafa.


"Aku melihat kakak agak kurusan. Apa kakak tidak bahagia dengan pernikahan kakak?" tanya Azka yang begitu serius yang membuat Rafa diam dan tidak berkutik sama sekali dengan tangannya memegang kuat sendok dan garfu.

__ADS_1


Suasana menjadi tegang dengan Azka yang berbicara sangat serius dan Rafa juga diam dengan menahan kesal, panik yang bercampur aduk seperti dia sedang di proses dalam hukum.


Bersambung


__ADS_2