Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 105


__ADS_3

Setelah selesai makan bersama. Asyifa dan Rafa terlihat berjalan yang sudah sampai depan Apartemen Asyifa dan Zee sudah masuk terlebih dahulu sebelumnya. Wajah Rafa jangan tanya sangat di tekuk yang mungkin karena ada Abian yang telah mengacaukan moodnya. Padahal jelas tidak ada apa-apa sama sekali tadi juga pas makan Rafa banyak dengan sengaja menunjukkan keromantisannya dengan Asyifa.


Namun tetap aja ada aja yang salah bagi Rafa sampai wajah itu benar-benar di tekuk yang membuat Asyifa jadi salah.


"Kak Rafa tunggu!" Asyifa memegang lengan Rafa. Saat Rafa ingin memasuki rumah yang meninggalkan Asyifa begitu saja.


"Ada apa?" tanya Rafa dengan kesal.


"Asyifa yang seharusnya bertanya kak Rafa kenapa? kenapa cuek sekali pada Asyifa," ucap Asyifa yang merasakan perubahan suaminya.


"Kamu masih bertanya kenapa. Asyifa aku hanya meninggalkan mu sebentar. Lalu lihat bagaimana kau, bisa-bisanya kamu berbicara dengannya. Seakan-akan aku tidak ada di sana," ucap Rafa marah-marah.


"Kak Rafa. Kak Abian menyapa Asyifa dan hanya itu saja. Tidak ada pembicaraan yang panjang," ucap Asyifa yang benar apa adanya yang mencoba menjelaskan pada suaminya yang mulai cemburu.


"Kamu selalu saja memberikan jawaban yang sama. Padahal tidak seperti itu. Kamu sadar tidak. Jika kamu sudah menikah, kamu seorang wanita yang mengerti agama. Apa pantas jika kamu seorang istri yang berbicara berdua dengan laki-laki lain," ucap Rafa menekan suaranya.


"Kak Rafa salah paham," ucap Asyifa.


"Jika tidak ingin aku salah paham. Jangan pernah bicara kepadanya," ucap Rafa menekan suaranya dengan bentakan sedikit.


"Aku sudah mengatakan kepadamu Asyifa berkali-kali. Dia itu menyukaimu dan terus berusaha untuk mendekatiku. Dan ternyata iman mu tidak seberapa. Imanmu sangat cepat goyah. Aku saja yang mendekati kau terlalu banyak alasan, ini itu, tempat umum, malu segalanya. Kalau saja Pria lain rasa malu mu tidak pernah ada," umpat Rafa dengan kesal dengan amarahnya yang meninggalkan Asyifa begitu saja dan memasuki Apartemen.


Asyifa diam tertunduk pasti matanya berkaca-kaca. Kemanisan Rafa berubah menjadi amarah. Karena kecemburuan. Raga memang paling tidak menyukai Abian. Padahal banyak juga laki-laki kerab berbicara pada Asyifa. Bahkan waktu Asyifa wisuda banyak laki-laki yang menyapa Asyifa dengan ramah. Asyifa juga memperkenalkan suaminya pada teman-teman kuliahnya dan Rafa biasa aja tidak marah atau berlebihan dan bahkan tidak cemburu.


Sangat berbeda dengan Abian. Mungkin karena Abian terang-terangan mengatakan menyukai Asyifa di depan Rafa dan bahkan mengatakan dia juga akan menerima Asyifa jika di campakkan. Jadi sangat wajar Rafa sangat cemburu pada Abian.


Walau Rafa sudah jelas mendengar kalau Abian dan keluarganya melaksanakan ibadah umroh dan tidak ada sangkut pautnya dengan Asyifa dan murni karena hanya karena ketidaksengajaan. Tetapi kecemburuan membuat Rafa tidak menerima alasan apa-apa dan sekarang benar-benar marah pada Asyifa.


Rafa dengan kesal langsung menaiki anak tangga menuju kamar.

__ADS_1


"Kak Asyifa belum masuk?" tanya Zee yang melihat Rafa hanya datang sendiri dan bukannya menjawab. Rafa langsung pergi saja.


"Aneh! ditanya bukannya di jawab. Malah bicara yang lain-lain," sahut Zee dengan geleng-geleng dan di detik berikutnya Asyifa pun datang dengan lemas yang tidak bersemangat.


"Kak Asyifa kenapa?" tanya Zee yang melihat Asyifa tidak baik-baik saja.


"Tidak apa-apa," jawab Asyifa yang juga melanjutkan anak tangga dengan langkah yang tidak bersemangat.


"Pada kenapa sih ke-2nya aneh sekali. Perasaan sebelumnya mereka enjoy-enjoy aja," gumam Zee yang heran dengan kakak dan kakak iparnya itu.


********


Rafa yang memasuki kamar terlihat mengambil handuk dan langsung memasuki kamar mandi dan Asyifa yang tiba di kamar hanya menghela napas saja dengan marahnya suaminya yang tidak tau akan sampai kapan.


"Ya Allah apa yang harus Asyifa lakukan," batin Asyifa yang bingung sendiri.


Dia pasti akan berusaha untuk meredahkan emosi suaminya agar suaminya tidak marah lagi kepadanya.


"Arggh tapi tidak apa-apa. Makan malam juga belum," gumam Asyifa yang melanjutkan niatnya untuk menyiapkan makan. Siapa tau dengan cara itu suaminya akan kembali luluh. Asyifa hanya berusaha saja. Sisanya dia menyerahkan pada sang maha kuasa.


**********


Asyifa berada di dapur yang sibuk dengan menyiapkan makanan. Tiba-tiba Rafa memasuki dapur.


"Kak Rafa butuh sesuatu?" tanya Asyifa. Rafa diam yang tidak peduli dengan Asyifa yang berbicara dan Rafa menuju kulkas yang mengambil apa yang di inginkannya dan Asyifa hanya menghela napasnya saja dengan Rafa yang cuek kepadanya.


Rafa terlihat mengambil jus jeruk dan mencari gelas.


"Biar Asyifa tuangkan," sahut Asyifa lagi yang berusaha untuk mendekati suaminya. Lagi-lagi Rafa tidak peduli. Lebih baik kesulitan mencari gelas dari pada Asyifa menuangkannya. Asyifa kembali menghela napasnya dan berbalik badan menghadap meja yang kembali memotong sayuran.

__ADS_1


Asyifa sebaiknya memberi waktu dulu untuk suaminya yang harus meredakan emosinya. Walau Asyifa akan kepikiran terus sampai tidak fokus memotong sayur yang membuat jarinya terkena pisau.


"Auhhhh," lirih Asyifa menggoyang-goyangkan jarinya dan darahnya menetes kelantai. Rafa yang melihat hal itu langsung kaget dan berlari menghampiri Asyifa.


"Papa yabg terjadi," Rafa dengan panik langsung memegang tangan Asyifa dengan mengisap darah di jari Asyifa dengan wajah paniknya yang membuat Asyifa menatap terus suaminya yang Asyifa merasa kalau rasa sakitnya telah hilang.


"Kenapa ceroboh sekali," ucap Rafa dengan kesal yang langsung mengambil kotak obat dan langsung mengobati luka tersebut.


"Makanya kalau bekerja itu fokus," ucap Rafa marah-marah dengan bawelnya pada Asyifa yang membuat Asyifa tersenyum dan sampai Rafa selesai mengobati luka itu dan melihat Asyifa.


"Kak Rafa khawatir pada Asyifa?" tanya Asyifa, Rafa ingin pergi dari hadapan Asyifa yang masih kesal pada Asyifa. Namun apa yang di katakan Asyifa benar jika dia sangat mengkhawatirkan Asyifa.


"Kak Rafa!" lirih Asyifa menahan Rafa, "maafkan Asyifa," ucap Asyifa yang mengakui salahnya dengan wajah sendunya di depan Rafa yang meminta maaf.


"Minta maaf, setelah itu mengulangi lagi," desis Rafa.


"Asyifa khilaf kak Rafa. Maafkan Asyifa," ucap Asyifa.


"Sudahlah lupakan, jangan memasak lagi. Jarimu masih luka," sahut Rafa dengan suara rendahnya yang sepertinya ingin baikan aja dengan Asyifa.


"Kak Rafa memaafkan Asyifa?" tanya Asyifa ingin memastikan.


"Iya," jawab Rafa membuat Asyifa tersenyum selalu ada hikmah dari kejadian. Karena tangannya terluka melihat kepedulian Rafa dan khawatirnya Rafa kepadanya dan bahkan sudah memaafkannya.


"Makasih ya kak Rafa," ucap Asyifa. Rafa hanya mengangguk saja dan ingin pergi dari hadapan Asyifa. Namun Asyifa menahan Rafa lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Rafa. Asyifa melihat di kiri dan kanannya. Lalu Asyifa berjinjit dan mencium pipi Rafa, "makasih kak Rafa," ucap Asyifa yang langsung pergi berlari.


Mendapat ciuman itu jelas membuat Rafa kaget. Namun Rafa mendengus dengan tersenyum miring. Ya pasti sangat tidak di duganya Asyifa akan berani menciumnya. Biasanya dia yang memulai dan sekarang Asyifa semakin lama semakin menjadi-jadi. Tetapi Rafa tampaknya senang dengan apa yang di berikan istrinya yang membuatnya sampai sekarang tersenyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2