Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 68


__ADS_3

Jauh-jauh ke New Zealand untuk berbulan madu ternyata tidak ada artinya. Bukannya bukan madu yang di dapatkan lebih tepatnya hati yang terluka.


Tidak sekarang ini masih berada di Jakarta. Di pantai yang Rafa dan istri juga keluarganya kunjungi. Mampu membuat Asyifa dan Rafa bertahan. Mungkin lebih tepatnya ini yang di namakan bukan madu. Karena sampai detik ini mereka juga masih tidak pulang sama sekali. Yang masih menikmati kebersamaan mereka berdua.


Mereka juga tadi sarapan bersama dan setelah selesai sarapan Asyifa dan Rafa tidak langsung pulang. mereka masih menikmati di tempat tersebut dengan berjalan-jalan di pantai yang terlihat begitu menyenangkan.


Langkah mereka yang serentak yang berjalan di pinggir pantai yang kalau pagi-pagi begini banyak juga orang-orang yang berkunjung ke pantai.


"Kaki mu benar-benar sudah tidak apa-apa?" tanya Rafa menoleh ke arah Kayra.


"Tidak apa-apa kak. Sudah sembuh. Lagian sudah lebih satu hari juga. Dan kemarin bukannya kita juga kemarin sudah melakukan banyak hal, sudah beraktivitas banyam. Jadi jelas sudah sembuh," ucap Asyifa.


"Baguslah kalau begitu," sahut Rafa.


"Makasih ya kak sudah mengobatinya," ucap Asyifa.


"Mau berapa kali mengucapkan terima kasih," sahut Rafa yang mungkin sudah mendengar entah beberapa kali.


"Sampai kak Rafa menjawab sama-sama," sahut Asyifa.


Rafa menghela napasnya dan kembali melihat lurus kedepan yang sepertinya tidak akan mengeluarkan kata-kata tersebut. Namun Asyifa tidak mendesaknya dia hanya tersenyum tipis. Cara Rafa yang seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. Rafa yang begitu berubah yang terlihat sekarang lebih dekat padanya dan bahkan mengajaknya berbicara.


Padahal Rafa sendiri yang sebelumnya mengatakan dia benar-benar marah dengan perbuatan Asyifa selama berada di tempat itu. Tidak di sangka Amarah Rafa tiba-tiba menghilang dan lebih manis sekarang kepadanya. Mungkin saja Rafa di rasuki penghuni laut. Makanya berubah dengan tiba-tiba.


"Hmmm lalu bagaimana dengan kak Rafa. Apa kak Rafa sudah baik-baik saja?" tanya Asyifa yang suaminya juga terluka.


"Aku tidak apa-apa. Luka kemarin tidak terasa sama sekali," jawab Rafa menyombongkan dirinya membuat Asyifa tersenyum.


"Lain kali hati-hati kalau naik Jets Ki," ucap Asyifa memberi saran.


"Aku tidak pernah kecelakaan dalam mengendarai Jest Ki dan baru kemarin. Bagaimana kamu mau tidak naik lagi?" tanya Rafa.


"Tidak!" jawab Asyifa dengan cepat yang menolak Rafa membuat Rafa menyunggingkan senyumnya yang melihat ke panikan di wajah Asyifa. Baru saja di ajak sudah panik.


"Kak Rafa kenapa tertawa?" tanya Asyifa.


"Bagaimana tidak tertawa melihatmu seperti itu. Kau itu takut sekali. Takut muntah lagi," ejek Rafa lagi.


"Siapa juga yang takut muntah. Orang itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," sahut Asyifa. Rafa tidak menanggapinya. Dia hanya menggedikkan bahu nya saja.


"Hmmm, kak Rafa tidak mau surfing lagi?" tanya Asyifa.


"Tidak. Bagaimana kalau kita daiving," sahut Rafa yang menawarkannya pada Asyifa untuk menyelam ke lautan.


"Tapi Asyifa tidak terlalu jago untuk barengan," jawab Asyifa.


"Katanya suka lautan, dalam laut, dan berhubungan dengan laut. Daiving aja harus mikir-mikir aneh," ucap Rafa dengan geleng-geleng yang sepertinya meremehkan Asyifa.


"Bukan seperti itu kak Rafa. Hanya saja Asyifa tidak terlalu bisa menyelam. Lagian Asyifa sekarang lagi malas untuk berenang. Lain kali saja," sahut Asyifa yang ada saja alasannya.

__ADS_1


"Ya terserah. Aku hanya mengajak saja," sahut Rafa. Asyifa mengangguk. Dia memang sangat malas untuk daifing. Namun sangat senang ketika Rafa mengajaknya.


"Asyifa!" tiba-tiba ada yang memanggil Asyifa membuat Asyifa menoleh kebelakang yang ternyata adalah Bram yang kemarin malam membuatnya terluka. Rafa juga menoleh kebelakangnya melihat siapa yang memanggil istrinya.


"Om Bram, kenapa dia menghampiri Asyifa?" batin Asyifa yang terlihat sangat gugup.


Rafa melihat pria itu dengan tatapan menelisik. Namun Bram tersenyum pada Rafa. Senyum penuh arti yang Rafa sudah merasa ada yang tidak beres dengan Pria itu. Apa lagi Rafa menoleh ke arah Asyifa terlihat gugup dan juga takut. Dan Rafa juga mengingat bahwa Pria itu melihat Asyifa dan dia berpelukan dan pria itu langsung pergi saat malam itu.


"Asyifa!" tegur Bram lagi yang melihat Asyifa bengong.


"Kau mengenalnya?" tanya Rafa.


"Saya Bram omnya Asyifa," sahut Bram mengambil alih menjawab dengan memperkenalkan dirinya dengan menjulurkan tangannya.


Rafa tidak menjabat uluran tangan itu yang masih melihat Asyifa seakan mempertanyakan kebenarannya.


"Asyifa kamu tidak mengenakkan Om padanya?" tanya Bram.


"Iya kak Rafa. Ini papanya kak Lulu," sahut Asyifa yang membenarkan apa adanya. Namun dari bicaranya Asyifa memang sangat kelihatan Asyifa begitu gugup.


"Siapa dia Asyifa?" tanya Bram yang kembali menarik tangannya karena Rafa tidak menyambut sama sekali uluran tangannya saat berkenalan.


"Ini kak Rafa suami Asyifa," jawab Asyifa.


"Oh ternyata ini suami kamu," sahut Bram dengan senyum-senyum. Lagi dan lagi senyum-senyum pada Rafa. Rafa sendiri sangat mencurigai pria itu dari caranya melihat Asyifa bukan seperti tatapan biasa.


"Kenapa aku merasa pria ada sesuatu. Dan Asyifa terlihat takut. Siapa sebenarnya dia," batin Rafa dengan kesalnya melihat Pria yang senyum-senyum pada istrinya.


"Oh iya Asyifa!" sahut Bram maju selangkah membuat Asyifa refleks mundur, "Asyifa Om hanya ingin menayakan ke adaan Lulu dan Dedi," ucap Bram.


"Me_mereka baik-baik aja," sahut Asyifa dengan terbata-bata.


"Begitu rupanya. Om senang bisa bertemu dengan kamu. Karena mereka sudah lama tidak mengunjungi Om dan Om merindukan mereka," ucap Bram, "Asyifa kamu sampaikan ya salam Om pada mereka," ucap Bram.


"Nanti Om, Asyifa tanyakan pada mereka kabar Meraka dan kenapa tidak mengunjungi Om. Asyifa juga akan sampaikan lam Om pada mereka," sahut Asyifa yang berbicara terlihat sangat tidak tenang.


"Iya Om senang sekali mendengarnya," sahut Bram.


"Ayo Asyifa kita pergi!" ajak Rafa yang langsung menarik tangan Asyifa yang membawa Asyifa pergi dari Bram. Dia tidak ingin istrinya banyak bicara dengan Pria yang memperhatikan sang istri dengan sangat berbeda.


Bram mengusap mulutnya yang melihat kepergian itu yang merasa ada sesuatu yang membuatnya sangat kesal.


"Suaminya, pantesan tadi malam Asyifa memeluknya. Hanya suami saja belagu, dia pikir mentang-mentang suami bisa menguasai Asyifa. Tidak akan sama sekali," batin Bram yang terus melihat Asyifa dan Rafa.


Dan Rafa juga sampai melihat kembali kebelakang dan melihat Bram dan Bram sendiri langsung tersenyum ketika mendapat tatapan dari Rafa.


Asyifa dan Rafa yang berjalan berduaan yang sudah sangat jauh dari Bram yang tadi membuat Asyifa sangat jelas tidak nyaman


"Apa kau bersamanya kemarin malam?" tanya Rafa to the point membuat Asyifa menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Rafa yang mana Rafa juga langsung menghadap Asyifa.

__ADS_1


"Maksud kak Rafa?" tanya Asyifa.


"Aku melihat dia sepertinya menyukaimu," lanjut Rafa lagi yang sudah bisa membaca isi otak Bram, dari caranya melihat istrinya memang bisa di pastikan Pria itu sangat menyukai Asyifa.


"Apa yang kak Rafa katakan?" tanya Asyifa.


"Jika aku bertanya maka di jawab bukan bertanya lagi, apa dia yang bersamamu kemarin malam," sahut Rafa yang kembali menunjukkan wajah sangarnya.


"Asyifa menghela napasnya kedepan, " iya kemarin malam saat Asyifa mencari kak Rafa. Asyifa bertemu dengan Om Bram yang juga tidak tau kenapa dia ada di sini. Karena Asyifa tidak bertanya terlalu jauh dan langsung pergi. Asyifa buru-buru pergi dan merasa di ikuti dan itu juga yang membuat Asyifa jatuh dan terluka," jelas Asyifa apa adanya yang menceritakan kronologi kejadiannya.


"Jadi benar dia mengikutimu. Aku juga melihatnya dan dia pergi begitu saja setelah dia melihatku bersamamu," sahut Rafa.


"Kak Rafa melihatnya?" tanya Asyifa lagi.


"Iya aku melihatnya. Jadi bagaimana hubunganmu dengannya sebenarnya. Aku juga melihat kau sangat takut kepadanya. Apa dia sering mengganggumu?" tanya Rafa dengan pertanyaan yang mengintimidasi pada Asyifa.


"Om Bram itu mantan narapidana dan dia dan Tante Willo sudah bercerai lama dan bahkan saat kak Lulu masih 7 tahun. Dan Asyifa jarang bertemu dengannya. Asyifa tidak mengerti apakah itu di maksud dengan menggangu atau tidak. Tetapi seperti yang kak Rafa katakan dia memang menatap Asyifa seperti itu dan memang Asyifa tidak nyaman dengan perlakukannya," jelas Asyifa apa adanya.


"Kalau begitu jangan mendekatinya. Jika dia mendekatimu maka pergilah. Dia juga tidak ada hubungan lagi saudara denganmu. Jadi jangan sok akrab dan lebih baik menjauh. Apa yang aku katakan demi kebaikanmu dari pada terjadi sesuatu nanti padamu," ucap Rafa yang berbicara yang begitu peduli pada Asyifa membuat Asyifa tersenyum mendengarnya.


"Apa kata-kata ku ada yang lucu?"tanya Rafa. Asyifa langsung menggelengkan kepalannya.


"Jika tidak ada yang lucu. Lalu kenapa kau malah senyum-senyum. Aku ini bicara dengan serius," tegas Rafa dengan wajah seriusnya.


"Asyifa juga serius kak Rafa. Asyifa hanya senang dengan kak Rafa yang mengkhawatirkan Asyifa," ucap Asyifa.


"Siapa juga yang mengkhawatirkanmu, aku hanya mengingatkan," sahut Rafa yang mengelak dan langsung pergi dari hadapan Asyifa membuat Asyifa tersenyum melihat gengsinya Rafa.


"Kak Rafa tunggu!" panggil Asyifa yang berjalan dengan buru-buru yang membuat Asyifa kesandung dan hampir jatuh jika tidak Rafa menangkap dirinya yang hampir saja mencium pasir pantai.


"Apa kau tidak bisa pelan-pelan berjalan," ucap Rafa dengan marah dengan tangannya yang memegang ke-2 tangan Asyifa.


"Maaf kak Rafa," ucap Asyifa yang berdiri tegak.


"Selalu saja minta maaf. Tetapi tidak mau memperbaiki kesalahan. Ayo cepat kembali ke hotel kita harus pulang," tegas Rafa.


"Baiklah kak," sahut Asyifa mengangguk dan Rafa tidak berjalan agar Asyifa tidak mengejarnya lagi. Karena nanti Asyifa mungkin akan benar-benar jatuh.


Saat Asyifa dan Rafa ingin kembali ke hotel tiba-tiba Asyifa melihat minuman kesukaannya yang ada di salah satu kedai yang membuat Asyifa tersenyum.


"Kak Rafa tunggu!" Asyifa menarik tangan Rafa membuat Rafa heran.


"Ada apa lagi?" tanya Rafa.


"Asyifa mau beli minum dulu!" ucap Asyifa.


"Ya sudah biar aku yang beli. Tunggu sini," sahut Rafa yang langsing ke mini market tersebut.


"Tapi yang susu strawberry," teriak Asyifa.

__ADS_1


"Iya," sahut Rafa dari kejauhan dan sudah memasuki mini market tersebut dan Asyifa menunggu di luar dengan semangatnya. Hanya karena minumannya yang ada yang di belikan suaminya. Ya biasanya Azka yang membelikannya dan kali ini Rafa mau melakukannya.


Bersambung


__ADS_2