
Asyifa masih jadi penonton dalam melihat suaminya yang memasak dengan wajah Asyifa yang tersenyum lebar. Namun Asyifa tiba-tiba turun dari atas meja dan mendekati Rafa yang sangat usil pada Rafa dengan sangaja memeluk Rafa dengan erat dari belakang membuat Rafa nengok dengan kepahanya.
"Kamu mau apa lagi?" tanya Rafa dengan alisnya terangkat.
"Mau cobain," jawan Asyifa.
"Kan belum masak sayang," ucap Rafa.
"Tapi pengen coba," sahut Asyifa. Rafa menghela napasnya dan mau tidak mau harus memberikan keinginan istrinya dengan mengambil makanan itu menggunakan sendok makan dan sebelum memberinya pada istrinya Rafa wajib meniupnya terlebih dahulu.
"Bagaimana apa enak?" tanya Rafa.
"Tidak enak," jawab Asyifa terlalu jujur membuat wajah Rafa terlihat begitu kecewa.
Cup Asyifa langsung mencium pipi Rafa. Agar wajah itu tidak di tekuk terus, "bagaimana mau enak kan belum masak. Kak Rafa juga belum buat bumbunya," ucap Asyifa dengan tersenyum tanpa dosa.
"Bukannya tadi aku sudah mengatakan. Kalau memang belum masak. Tetapi kamu tetap saja ingin memakannya," ucap Rafa gemas melihat istrinya tersenyum tanpa dosa dengan Rafa geleng-geleng sembari mengusap-usap pucuk kepala istrinya.
"Kembali duduk di tempat biar aku selesai memasakkan untuk kamu," ucap Rafa.
"Baik kak Rafa," sahut Asyifa lagi yang memang hanya menganggu Rafa saja dalam pekerjaannya. Rafa bukannya kesal karena di ganggu tetapi Rafa malah sangat senang yang di ganggu istrinya yang mulai jahil kepada-nya.
"Ya Allah terima kasih sudah menitipkan pada Asyifa suami sebaik kak Rafa. Sangat peduli pada Asyifa. Terima kasih ya Allah untuk anugrah yang terindah yang kau berikan," batin Asyifa tidak akan berhenti bersyukur dengan kebahagiaan yang di dapatkannya.
Rafa menoleh kearah Asyifa dan Rafa tersenyum melihat istrinya itu, "aku akan berusaha semampuku untuk bertanggung jawab kepadamu," batin Rafa dengan terus melihat sang istri.
**********
Akhirnya Asyifa dan Rafa selesai beraktivitas di dapur dan mereka makan di taman yang langsung melihat ke lautan yang indah. Tadi Rafa yang memasak dan sekarang Asyifa juga yang makan dan Rafa tidak makan sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa kak Rafa tidak makan. Bukannya ini sangat enak. Ini juga bumbunya sangat pas dan dagingnya juga lembut kak Rafa bahkan tidak mencobanya," ucap Asyifa dengan mulutnya yang mengoceh sambil mengunyah.
"Untuk saat ini kamu jangan makan daging ya Rafa, itu sangat tidak baik untuk kesehatan kamu," ucap Rendy yang memberikan saran pada menantunya itu.
"Kak Rafa kenapa malah diam? tanya Asyifa, " kak Rafa dari tadi tidak makan Asyifa terus yang makan. Jadi apa salahnya kalau kak rafa makan," ucap Asyifa dengan wajah senduhnya yang sangat sedih dengan Rafa yang tidak makan sama sekali.
Rafa tersenyum, "siapa bilang tidak mau makan, aku harus melihat kamu kenyang dulu. Baru aku yang makan. Karena laki-laki itu lebih kuat dari wanita," ucap Rafa.
"Tapikan kita tidak kekurangan. Jadi kalau mau makan ya makan. Kalau tidak ya tidak," sahut Asyifa.
"Baik sayang jangan di perpanjang. Aku akan memakannya dan sekarang kamu harus menyuapiku," sahut Rafa yang membuka mulutnya dan langsung makan. Asyifa tersenyum mendengarnya dan langsung menyuapi suaminya dengan senang hati.
Rafa pun memakan apa yang di masaknya badan walau Rafa tau itu pantangan. Namun demi istrinya yang bahagia dia rela melakukannya dan pasti Rafa akan menahan rasa sakit.
"Enak?" tanya Asyifa.
"Ini masakanku jadi jelas rasanya sangat enak," sahut Rafa.
Acara makan berdua mereka dengan romantis akhirnya selesai dengan ke-2nya yang sama-sama bahagia dan Asyifa sekarang sendirian di taman dan tidak tau di mana Rafa berada.
"Lama sekali kak Rafa menyimpan piringnya," gumam Asyifa yang satunya Rafa tadi pamit menyimpan piring dan bahkan tidak kembali sampai sekarang yang membuat Asyifa heran.
Asyifa juga melihat ke arah dapur dan tidak ada suaminya di sana membuat Asyifa semakin bingung.
"Kemana sih kak Rafa," gumam Asyifa cemas dan langsung berdiri dari tempat duduknya dan juga langsung pergi.
Yang ternyata Rafa berada di kamar mandi yang batuk-batuk dengan memuntahkan makanannya yang barusan saja di makannya. Terasa sangat perih dan bahkan muntahan itu bercampur darah. Mata Rafa berkaca-kaca dengan wajahnya yang pucat yang pasti begitu kesakitan dengan apa yang di rasakannya. Dia rela tersiksa asal istrinya tidak sedih mungkin tingkat rasa cinta Rafa sudah sangat besar pada Asyifa sampai tidak peduli lagi dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Suara napas Rafa yang naik turun sangat terdengar jelas dengan Rafa mematikan keran air yang sudah sedikit lega dengan dia yang membuang isi makanan di perutnya.
__ADS_1
"Sampai kapan semuanya akan seperti ini," gumam Rafa melihat dirinya di cermin yang terlihat sudah sangat lelah dengan apa yang terjadi dan tidak mampu membuatnya bertahan lagi.
Rafa mencoba untuk menenangkan dirinya dan langsung keluar dari kamar mandi. Namun Rafa langsung di kejutkan dengan berdirinya Asyifa di depan pintu kamar mandi.
"Asyifa!" lirih Rafa.
"Kenapa lama sekali?" tanya Asyifa. Rafa terdiam mendengarnya dan Asyifa mendekati Rafa dengan memegang pipi Rafa.
"Kenapa ada darah di mulut kak Rafa?" tanya Asyifa yang melihat bekas darah di bagian mulut Rafa yang pasti Rafa lupa untuk membersihkannya.
"Oh ini tidak apa-apa Asyifa," sahut Rafa yang panik dan langsung membersihkan mulutnya dengan tangannya dan Asyifa pasti menatap aneh suaminya itu.
"Sayang tidak apa-apa. Palingan dari gigiku yang berdarah," ucap Rafa memberi alasan dan alasan itu selalu masuk akal. Asyifa pun langsung memeluk Rafa dengan erat yang membuat Rafa heran dengan istrinya yang tiba-tiba seperti itu.
"Asyifa sangat takut terjadi sesuatu dalam pernikahan kita. Selama ini kita menikah dengan baik dan kita belakangan ini sangat bahagia dengan cara kita berdua. Namun tetap saja Asyifa takut. Jika Allah memberi ujian dalam pernikahan kita. Jadi Asyifa mohon untuk kak Rafa jangan menyembunyikan apa-apa dari Asyifa. Jujur kak Rafa perasaan Asyifa tidak pernah tenang dan seperti ada rasa ketakutan yang tidak bisa di jelaskan," ucap Asyifa dengan lembut.
"Apa yang kamu bicara Asyifa. Jangan terlalu serius tidak ada apa-apa Asyifa dalam pernikahan kita," ucap Rafa yang hanya terus menerus mengatakan hal yang sama tanpa jujur pada istrinya.
*********
Asyifa dan Rafa menikmati kehidupan mereka berdua di tempat yang special yang di berikan Rafa kepadanya. Sama dengan kali ini di mana ke-2nya yang sekarang berjalan-jalan melewati pohon pinus dengan tangan mereka yang bergandengan dengan mata yang melihat ke setiap arah melihat keindahan ciptaan tuhan yang tidak bisa di katakan seperti apa kebahagiaan yang di rasakan keduanya.
"Asyifa sebelum menikah denganku. Kamu adalah orang yang sangat mandiri dan bisa segalanya tanpa aku. Jadi tetaplah menjadi orang seperti itu ada dan tidak adanya aku di dekat mu," ucap Rafa tiba-tiba dalam langkahnya bersama istrinya.
"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Asyifa melihat Rafa.
"Aku sangat mencintaimu Asyifa. Namun bukannya kita juga tidak bisa saling bergantung terus dan aku juga tidak mau kamu sampai mengeluarkan statemen Tidka bisa hidup tanpaku. Karena menurutku kamu wanita yang hebat dan pasti bisa hidup tanpaku," ucap Rafa yang bicara sangat serius.
"Kak Rafa sebenarnya ingin bicara kearah mana sih. Kenapa Asyifa jadi bingung dengan kata-kata kak Rafa?" tanya Asyifa heran.
__ADS_1
"Tidak bicara kemana-mana ayo jalan lagi. Jangan segala sesuatu harus di anggap serius," ucap Rafa yang tersenyum membuat Asyifa heran.
Bersambung