
"Oh iya," sahut Lulu dan Zee tiba-tiba serentak dan membuat semua orang melihat Zee dan Lulu.
"Kalian kompak sekali," sahut Willo.
"Oh, ya sudah Zee saja yang duluan," sahut Lulu.
"Tidak usah kak Lulu. Kak Lulu saja yang duluan," sahut Zee.
"Kamu saja Zee," sahut Lulu.
"Sebenarnya apa yang mau Zee dan Lulu bicara. Kenapa malah tidak ada yang mau bicara," sahut Lulu.
"Biar Zee aja yang duluan mah," sahut Lulu.
"Kakak saja yang lebih tua," sahut Zee.
"Ya sudah Lulu kamu ingin bicara apa?" tanya Rania.
Lulu membuang napasnya perlahan ke depan.
"Sebenarnya aku ingin menyampaikan kabar bahagia. Ya kebetulan keluarga ada di sini," ucap Lulu.
"Apa itu Lulu?" tanya Dedi.
"Alhamdulillah aku dan mas Rony sudah di beri kepercayaan dari Allah dengan di hadirkannya buah hati di rahimku," sahut Lulu menyampaikan kabar bahagia itu yang membuat semua orang tersenyum dengan mengucap syukur.
"Alhamdulillah," sahut semuanya.
"Ini sungguh Lulu?" tanya Willo.
"Iya mah, aku sedang mengandung," jawab Lulu.
"Alhamdulillah kak Lulu Asyifa doakan kak Lulu dan bayinya sehat-sehat ya," sahut Asyifa.
"Terima kasih Asyifa," sahut Lulu.
"Selamat ya Rony," sahut Rafa.
"Makasih Rafa.
"Selamat juga Rony jaga Lulu baik-baik ya," sahut Dedi.
"Pasti kak Dedi," sahut Rony.
"Alhamdulillah Tante berdoa yang terbaik untuk kamu ya Lulu. Lagi-lagi kita berikan kabar yang bahagia," sahut Willo.
"Iya Tante makasih," sahut Lulu yang tersenyum melihat kearah suaminya. Sudah cukup lama mereka menikah lebih 1 tahun dan Lulu akhirnya mengandung anak pertama mereka.
"Oh iya Zee kamu tadi mau mengatakan apa?" tanya Vanya.
__ADS_1
"Hmmmm," Zee dan Abian saling melihat membuat semua orang penasaran dengan apa yang ingin di sampaikan Zee.
"Zee ada apa?" tangan Vanya lagi.
"Aku sebenarnya ingin menyampaikan pada mama dan semuanya. Jika sama dengan kak Lulu," ucap Zee dengan pelan.
"Kamu hamil?" sahut Shania yang langsung menebak.
Zee menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulilah," sahut semuanya dengan serentak yang juga ikut bahagia mendengar kabar dari Zee.
"Ini sungguh Zee?" tanya Vanya yang masih tidak percaya.
"Iya mah. Mama dan papa sebentar lagi akan di karuniai cucu pertama," sahut Abian yang menambahi sedikit.
"Ya Allah terimah kasih," sahut Vanya yang begitu eksaitit dengan menantunya yang hamil.
"Alhamdulillah papa senang mendengar kabar ini Abian. Kamu jaga istri kamu dengan baik dan juga calon bayi kalian," ucap Lucky yang memberikan pesan.
"Itu pasti pah," sahut Abian.
"Alhamdulillah hari ini benar-benar penuh dengan kebahagiaan sangat tidak di percaya dengan keluarga kita yang di berikan banyak berkah dengan Lulu yang mengandung. Lalu lalu Zee dan Syira juga yang sedang mengandung. Ini sungguh berkah yang sangat besar," ucap Willo.
"Dan saya sangat berterima kasih untuk keluarga ini atas kebaikan kalian dan ketulusan kalian," sahut Sahila.
"Semua itu sama saja mbak, tidak ada yang perlu berterima kasih dan sekarang Allah sudah memberikan berkahnya itu artinya kita harus mensyukurinya," sahut Rania.
"Iya semua itu benar. Kita hanya tinggal banyak-banyak bersyukur," sahut Rendy.
"Oh iya, Syira, Lulu dan kamu Zee harus sering-sering ngobrol sama Asyifa masalah kehamilan dia sudah berpengalaman," sahut Shofia.
"Itu pasti," sahut Lulu, Syira dan Zee serentak.
Mereka semua tertawa-tawa dengan saling melihat pasangan masing-masing yang penuh dengan senyum kebahagiaan dan juga cinta.
"Ya Allah aku benar-benar sangat beruntung berada di tengah-tengah keluarga ini," batin Rachel yang melihat di sekitarnya melihat orang-orang yang sangat tulus. Termasuk Pria yang duduk di sebelahnya Azka yang membawanya dalam kehidupan yang hangat.
***********
Azka dan Rachel yang duduk di pinggir kolam renang dengan kaki Rachel yang masuk kedalam air sembari di ayun-ayun dan Azka yang duduk di sampingnya yang bersilah kaki.
"Azka kamu jadi ke kuliah di Luar Negri?" tanya Rachel.
"Iya," jawab Azka. Wajah Rachel tampak sedih mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Azka.
"Tidak apa-apa," jawab Rachel.
__ADS_1
"Kamu bagaimana jadi mengambil jurusan kedokteran?" tanya Azka pada Rachel.
"Hmmm, jadi Om Rendy banyak membantuku. Doain aku ya. Biar aku lulus," ucap Rachel.
"Aku pasti mendoakanmu. Semoga saat aku pulang dari Luar Negri kamu sudah menjadi Dokter hebat," ucap Azka.
"Amin," sahut Rachel.
"Oh iya Azka ada yang ingin aku berikan kepadamu," ucap Rachel.
"Apa?" tanya Azka.
Rachel mengeluarkan dari sakunya yang berupa gelang berwarna hitam.
Rachel mengambil tangan Azka dan memakaikan kepada Azka di lengan Azka.
"Aku berterima kasih dengan semua kebaikan kamu kepadaku. Kamu sangat baik yang sudah membuat hidupku jauh lebih baik. Aku benar-benar seperti anak yang baru lahir yang di perkenalan dunia yang sangat indah dan semua itu dari kamu," ucap Rachel yang memakaikan gelang itu pada Azka.
"Jujur Azka aku sangat sedih kamu harus ke Luar Negri. Aku takut jika aku tidak akan ada lagi orang yang mengingatkan ku dan mengabariku banyak hal. Tetapi aku harus sadar dan harus mandiri dan insyallah aku tidak akan berubah dan akan menjadi Rachel yang kamu ketahui," ucap Rachel yang berbicara menahan air matanya.
Azka tersenyum dan meraih tangan Rachael menggengam tangan itu yang membuat Rachel melihat ke arah Azka.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Azka dengan tatapannya yang dalam.
"Apa?" tanya Rachel.
"Kita masih remaja dan sekarang ingin melangkah untuk mewujudkan impian. Mungkin kita tidak akan bersama-sama seperti biasanya. Aku harus ke Luar Negri beberapa tahun untuk cita-cita ku dan kamu juga harus fokus untuk cita-cita mu menjadi Dokter hebat,"
"Jadi Rachel bolehkah saat aku pulang nanti. Kamu bukan hanya menjadi Rachel yang aku kenal. Tetapi juga Rachel yang masih sendiri tanpa ada pria lain," ucap Azka yang membuat Rachel mendengarnya terkejut.
Tidak tau apa maksud Azka apakah Azka ingin Rachel menunggunya.
"Berpacaran denganku bukannya hanya membuang waktu dan menghilangkan fokus kita. Kita sama-sama dewasa dan sama-sama mengerti perasaan kita yang kita bangun bersama yang tumbuh dengan sendirinya. Aku tidak mengikatmu atau mencuri kebebasan mu. Tetapi insyaallah jika kita berjodoh kita akan bersama," ucap Azka.
"Rachel mari saling menunggu dan menjaga hati tanpa ada paksaan," lanjut Azka yang membuat Rachel tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca.
Sudah jelas dengan apa yang di katakan Azka. Menyatakan perasaan pada wanita yang di sukainya mempunyai cara lain tanpa harus berpacaran. Karena mereka punya mimpi masing-masing yang harus di raih.
"Kita bisa melakukannya?" tanya Azka.
"Iya," sahut Rachel dengan mengangguk yang membuat Azka tersenyum.
"Biarkan aku yang menjemputmu di Bandara nanti," ucap Rachel. Azka menganggukkan kepalanya.
Azka terlalu manis untuk ungkapan hati yang tidak perlu mengatakan I love you. Ya Rachel memahami segalanya dan cara Azka benar-benar membuat Rachel bahagia dengan mereka yang terus saling melihat satu sama lain dengan senyuman penuh dengan ketulusan di antara ke-2nya.
Bersambung
__ADS_1